Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Ancaman Ghani


__ADS_3

"Yeah, betul sekali. Gue suami dari perempuan yang nyaris nyawanya lo renggut. Kenapa? Kaget? Enggak nyangka kalau gue bakalan datang ke sini buat nemuin lo, iya?" cerocos Ghani tanpa henti.


Pria kelahiran 33 tahun silam menarik benda bundar terbuat dari kayu, lalu mendudukkan bokongnya di kursi. Kedua kaki yang dibungkus sepatu casual dia naikkan ke atas pembaringan, di tepian ranjang pasien di sisi sebelah kanan Andri. Tangan bersedekap seraya memberi tatapan tajam pada Andri.


"Kalau lo pikir gue akan diem aja setelah tau apa yang lo lakuin kepada istri dan calon anak-anak gue, lo salah besar, Ndri, sebab gue enggak akan pernah biarin orang yang udah celakai istri gue hidup tenang. Gue akan buat perhitungan sampe orang itu sadar atas kesalahannya," sambung Ghani.


"Perhitung apa? Gue enggak salah, kok. Gue ngelakuin itu karena dia yang duluan cari masalah sama gue. Andai dia enggak terlalu ikut campur dalam urusan pribadi gue maka kejadian itu enggak akan pernah terjadi, istri dan bayi dalam kandungannya baik-baik aja." Andri kembali berkelit meski tau dirinya bersalah.


Ghani tertawa dipaksakan dan entah kenapa suara tawa pria itu terdengar begitu mengerikan di telinga Andri. Suara dokter tampan itu laksana sangkakala yang ditiup malaikat Israfil.


'Sebetulnya dia siapa? Kenapa nyali gue menciut saat berhadapan dengan lelaki ini? Di mana Andri yang pemberani, dan tak pernah takut terhadap apa pun?' Andri bermonolog. Tatapan mata tajam berhasil mengintimidasi membuat tubuhnya seakan tak dapat berkutik sedikit pun.


"Terlalu ikut campur? Heh, Sialan! Lo pikir istri gue bakalan diem aja ngelihat sahabatnya dianiaya lelaki berengsek macam lo? Enggak, Ndri. Istri gue berhati malaikat, enggak akan pernah tega ngelihat kejahatan ada di depan mata. Tapi naas, dia malah celaka karena kepingin nolongin sahabatnya yang sedang kesusahan. Dan itu semua gara-gara lo, Berengsek!"


"Lo udah buat dia kehilangan banyak darah. Lo hampir misahin gue dari orang yang sangat gue cintai. Lo hampir jadiin anak gue piatu karena terpisah dari ibunya. Di mana hati nurani lo sebagai manusia, Sialan!" bentak Ghani dengan suara menggelegar. Dada kembang kempis, napas memburu hebat, dan tangan mengepal erat di samping badan. Untung saja dia tak sampai menendang tangan Andri yang dipasang jarum infus, jika tidak mungkin lelaki sialan itu akan menjerit kesakitan karena benda tajam itu mengenai pembuluh darahnya.


"Tapi, gue enggak salah. Gue-"


"Diam! Gue enggak mau dengar apa pun lagi dari mulut busuk lo itu! Lo pikir gue buta sampe enggak tau kronologi dari kejadian itu?" Ghani menurunkan kakinya ke lantai, kemudian berdiri mendekati ranjang pasien lalu membungkukkan kepalanya dan kembali berkata, "Lo bisa aja berbohong di depan nyokap dan bokap lo, tapi di depan gue, enggak. Gue tau apa yang udah lo perbuat selama ini. Semua rahasia yang lo simpan rapat dari semua orang."


"Lo?" Suara Andri tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Benar-benar tidak menyangka akan ada orang yang tahu bagaimana kelakuannya selama ini. Sudah bermain cantik, tetap saja tak mampu menyembunyikan rahasia itu dari hadapan Ghani.


Kesal melihat muka sialan Andri, Ghani menekan pangkal tenggorokan musuhnya kuat-kuat. Seringai bengis muncul di wajahnya, penuh dengan keinginan untuk melenyapkan nyawa seseorang.


"Sehebat apa pun lo dalam menyimpan sebuah rahasia, di hadapan gue kehebatan lo enggak ada apa-apanya, Ndri. Karena apa? Karena gue punya orang kepercayaan yang bisa tau apa pun tentang kebusukan lo." Ghani semakin menekan hingga wajah Andri mulai memerah karena mulai kehabisan oksigen.

__ADS_1


Andri meronta. Kaki yang tidak digips menghentak-hentak di atas ranjang pasien. Begitu pun tangan yang terkena jarum infus mencoba melepaskan cekalan di leher. Akan tetapi, tangan Ghani seperti ada lemnya yang menempel erat dan tidak bisa dilepaskan.


'Sial, susah sekali. Terbuat dari apa manusia satu ini?' kata Andri dalam hati. Benar-benar frustrasi dengan keadaannya saat ini. Wajah mulai terasa mengeras, kehabisan napas.


Ghani semakin bahagia, menyaksikan sendiri penderitaan Andri. Baginya, apa yang dia lakukan sekarang tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Queensha beberapa hari lalu.


"L-lepasin g-gue. G-gue ... janji a-akan ngelakuin a-apa pun asalkan lo mau b-bebasin gue." Mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk mengiba pada Ghani. Hanya dengan cara itu, dia bisa terbebas dari penderitaannya ini.


"Lo ngomong apa, gue enggak denger." Ghani pura-pura tuli meski telinganya masih berfungsi dengan baik. Bermain-main sebentar dengan Andri, sepertinya bukan ide yang buruk.


Kapan lagi Ghani bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Hampir seminggu dia stress mengurusi Queensha dan ketika hiburan gratis ada di depan mata maka dia akan menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.


"T-tolong l-lepasin gue."


"Oke, gue lepasin lo. Tapi inget dengan ucapan lo barusan."


Ketika tangan kokoh itu terlepas, Andri meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Dia terbatuk, merasa dadanya sakit sekali.


'Cowok sialan! Kalau tangan dan kaki gue masih berfungsi dengan baik, udah gue habisi dia sekarang juga.'


Ghani duduk tegak di tempatnya semula. Tersenyum mengejek pada lelaki sialan di depannya.


"Gue udah lepasin lo dan sekarang saatnya lo turutin apa yang gue perintah. Pertama, lo mesti minta maaf sama istri gue dan juga Lulu, karena lo udah nyakitin mereka berdua. Kedua, katakan yang sejujurnya pada nyokap dan bokap lo kalau lo emang bersalah, udah dorong istri gue sampai dirawat di rumah sakit. Akui semua kesalahan lo di depan semua orang kalau enggak ...."


Ghani mengeluarkan suntikan yang disembunyikan dari balik jaket kulit yang dia kenakan. Membuka penutupnya lalu menaikkan ke udara. "Gue bakalan menyuntikan racun dosis tinggi ini ke tubuh lo dan selamanya lo enggak akan pernah bisa lagi ngelihat keindahan dunia ini."

__ADS_1


"Enggak! Lo enggak mungkin ngelakuin itu ke gue. Itu tindakan ilegal. Lo bisa dipenjara kalau sampe ketauan."


Ghani tertawa terbahak melihat ekspresi Andri. Wajah pria itu pucat sekali dan Ghani dapat melihat keringat dingin mulai muncul ke permukaan.


"Bodo amat! Gue enggak peduli. Kalau emang mesti dipenjara, gue rela asalkan dendam dalam diri istri gue terbalaskan."


Dengan gerakan cepat ayah satu orang anak berdiri dan kini berada di sebelah Andri dengan posisi tangan mengacungkan ujung jarum lancip ke leher musuhnya. "Gimana, lo setuju enggak dengan tawaran gue barusan. Cuma bilang yang sejujurnya maka lo bisa berumur panjang. Ya, walaupun mendekam di penjara, tapi setidaknya lo masih bisa menghirup udara segar daripada mati, dan lo bakalan langsung masuk neraka karena selama hidup selalu nimbun dosa."


Napas Andri ngos-ngosan, seperti orang yang sedang dikejar-kejar setan. Jantung berdegup sangat kencang ketika matanya melirik pada benda tajam yang menempel di leher.


"Jangan bunuh gue dengan racun itu. Oke, gue terima tawaran lo. Gue bakal bilang yang sebenarnya pada semua orang asalkan lo enggak main-main dengan jarum itu." Menatap horor pada benda kecil dengan ujung yang tajam.


Ghani menutup ujung jarum di tangan, kemudian memasukkannya pada sebuah kotak berukuran panjang. Setelah itu, menepuk-nepuk pipi Andri dengan pelan. "Deal! Gue harap lo enggak ingkar janji sebab gue punya banyak mata-mata di mana-mana. Jangan ada niatan untuk nipu gue kalau enggak mau jarum berisi racun masuk ke tubuh lo!"


Menuangkan sanitizer ke telapak tangan, mengusapnya hingga tersebar ke permukaan kulit. Tak sudi kotoran pada diri Andri menempel di tubuhnya.


Queensha sedang mengandung, jangan sampai ketiga jagoannya mempunyai sifat berengsek macam Andri.


"Urusan kita udah selesai. Gue tunggu berita terbaru seputar kasus istri gue. Ingat, jangan pernah coba macam-macam sama gue karena gue enggak segan untuk lenyapin lo!" tandas Ghani sedikit mengancam.


Ghani membalikan badan, berjalan santai menuju pintu. Terdengar bunyi siulan, petanda bahwa Ghani amat bahagia karena rencananya berhasil. Dia berhasil menyerang sebelum bu Tania dan Andri bertindak.


"Muhammad Ghani Hanan dilawan. Lo salah cari musuh, Ndri," kata Ghani sambil melangkah melewati dua petugas kepolisian yang setia berjaga di depan ruang perawatan.


Ghani melirik sebentar kepada Yogi dan berbisik, "Perintahkan mata-mata kita untuk mengawasi Andri. Kalau dia berbohong langsung berikan racun itu kepadanya."

__ADS_1


"Baik, Dokter Ghani. Saya akan jalankan tugas sesuai perintah Anda," sahut Yogi patuh.


...***...


__ADS_2