
Sejak tadi pagi, Leon sudah sibuk mempersiapkan segala kebutuhannya untuk pergi ke rumah sakit. Memastikan kembali jika hari ini dia memang ada jadwal shift di rumah sakit. Akan sangat memalukan jika seandainya dia datang ke tempat kerjanya, tetapi ternyata hari ini dia libur bekerja. Rekan sejawat akan habis-habis menertawakannya.
"Masih ada waktu banyak, sebaiknya gue mampir dulu ke indekos Lulu, ngasih sarapan untuk dia. Gue yakin jam segini dia udah bangun." Leon memasukan ponsel ke dalam tas kerja, lalu meraih snelli putih yang baru saja selesai disetrikanya.
Saking sibuknya, Leon sampai tidak sempat sarapan. Jam dinding sudah menunjukan pukul tujuh pagi dan jika dia tak segera berangkat maka akan terjebak macet. Karena itulah, dia memutuskan untuk tak sarapan saja.
"Ma, aku pergi dulu." Leon melangkah dengan langkah panjang bahkan dia melewati dua undakan anak tangga terakhir agar bisa segera turun ke lantai satu.
Menaruh piring ke atas meja makan. “Leon, kamu tidak sarapan, Nak? Ini mama sudah siapkan roti selai strawberry dan jus alpukat less sugar untukmu." Ayu sedikit bingung melihat Leon yang pagi ini tampak grusa-grusu seperti dikejar sesuatu.
Leon menghentikan sebentar langkahnya, lalu membalikan badan hingga posisinya berhadapan dengan sang mama. “Aku lagi ada urusan, Ma, makanya harus cepat-cepat berangkat, takut kena macet."
“Tapi, kamu harus sarapan, Nak. Mama sudah pernah bilang, sesibuk apa pun, jangan sampai melewatkan sarapan. Lagi pula, apa susahnya memasukan sedikit makanan ke perutmu, toh yang masak dan menyiapkan semuanya adalah mama dibantu Bik Eha. Kamu tinggal menyuapkan saja semua makanan ini." Bu Ayu tampak tidak senang dengan keputusan anaknya untuk pergi begitu saja sedangkan segala hidangan tersedia di depan mata.
'Mending gue turutin aja kemauan Mama daripada kena semprot lagi kayak semalam. Telinga gue lama kelamaan bisa lebar kebanyakan dijewer nyokap,' ucap Leon dalam hati.
Setelah menimbang, akhirnya Leon putuskan untuk sarapan terlebih dulu sebelum pergi ke rumah sakit.
“Iya deh. Aku makan sarapannya.” Leon mencomot roti dari meja makan. “Aku pergi dulu ya, Ma. Assalamu a'laikum." Sambil menggigit roti, Leon mencium pipi sebelah kanan lalu melesat pergi ke area garasi untuk mengendarai mobilnya.
"Wa'alaikum salam." Bu Ayu cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya. Entah kenapa dia mencium gelagat mencurigakan dari sikap Leon. Sepertinya ada sesuatu yang sedang Leon sembunyikan dirinya.
"Jangan-jangan Leon mau menemui kekasihnya sampai dia buru-buru pergi dari sini. Semakin mencurigakan saja," kata Bu Ayu.
Leon sudah lama sekali tidak membahas soal perempuan usai jalinan kasihnya kandas di tengah jalan. Anak bungsunya itu jadi lebih tertutup urusan percintaan dan saat Leon menunjukan gelagat aneh, tidak heran jika bu Ayu jadi penasaran, ingin tahu siapa gadis yang kelak menjadi menantunya itu.
[Gimana, apa kamu sudah mendapat informasi mengenai gadis yang tengah dekat dengan puteraku? Aku menunggu kabar darimu dengan segera.] Pesan itu berhasil terkirim. Kini bu Ayu tinggal menunggu balasan dari orang yang dipercayanya.
***
Benar saja, Leon terjebak macet saat hendak pergi ke indekos Lulu. Leon menggerutu sambil mengumpat kasar. Mobilnya stuck di jalan, sama sekali tak bisa maju ataupun mundur.
“Udah gue duga bakalan macet. Harusnya gue berangkat lebih pagi lagi. Aah, andai masih di Jepang, gue enggak akan pernah ngalamin yang namanya macet."
Leon berdecak. Dia benar-benar ingin segera bertemu Lulu untuk memastikan keadaan gadis itu. Haruskah dia meneleponnya? Leon memikirkan opsi itu. Tapi, dia takut akan mengganggu istirahat Lulu.
Akhirnya Leon mengurungkan niatnya untuk menelepon Lulu. Lebih baik dia langsung datang saja. Kalaupun Lulu tidur lagi maka dia bisa langsung pergi ke rumah sakit untuk bekerja.
Karena suntuk gara-gara terjebak macet, Leon jadi banyak melamun. Diiringi lagu-lagu yang diputar audio mobilnya, dia jadi memikirkan Lulu terus. Apalagi lagu yang diputar kebanyakan berisi tentang seseorang yang sedang jatuh cinta.
Memandangmu seperti aku memandang bulan
Ingin kuraih, ingin kurengkuh
Betapa indah, betapa cantik parasmu
Tapi, kau jauh sekali seperti bulan di langit malam
Bilamana aku bintang, aku akan menemanimu
Wahai, kekasihku .…
Leon tak tahu lagu siapa yang mengalun itu. Tapi, lagu itu jadi mengingatkannya akan Lulu, juga perasaannya yang masih abu-abu terhadap gadis itu.
***
__ADS_1
Setelah lama terjebak macet, akhirnya mobil Leon bisa bergerak juga. Saat melewati kedai bubur ayam, Leon segera menepikan mobilnya. Dia berencana membeli bubur itu supaya bisa dimakan Lulu saat dia terbangun nanti.
Turun dari mobil, Leon mendekati tukang parkir mengenai rompi orange. "Bang, titip mobil bentar. Saya mau beli buryam di sana." Pria itu menunjuk gerobak bubur ayam yang tampak terlihat ramai pembeli. Dia berasumsi kalau gerobak ataupun warung ramai, makanan yang dijajakan pasti lezat dan nikmat. Oleh karena itu, dia memutuskan mampir sebentar untuk membeli sarapan.
Pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun mengangkat tangan ke udara. "Siap, Bos! Mobil Bapak aman bersama saya."
Leon tersenyum lalu berjalan meninggalkan tempat di mana dia memarkirkan kendaraan roda empat miliknya.
“Mang, bubur ayamnya dua. Dibungkus, ya." Leon duduk di kursi plastik yang telah disediakan. Beruntungnya saat dia tiba di sana, suasana mulai sepi hanya ada dua pembeli saja yang sedang mengantri.
“Yang biasa apa spesial, Bang?” tanya penjual bubur.
“Spesial, Mang.”
“Oke deh. Spesial buat sang kekasih ya, Bang?” Penjual bubur itu mencoba bercanda.
“Boleh, Mang.” Leon ikutan tertawa. Hubungannya dengan Lulu memang masih sebatas teman, tetapi entah besok atau lusa, mungkin hubungan pertemanan mereka berubah jadi cinta.
Bubur ayam sudah siap. Vitamin untuk Lulu pun sudah siap. Leon menghela napas panjang. Kini, dia sudah ada di depan indekos Lulu, siap untuk menjenguk gadis itu.
"Permisi!" Leon mengetuk daun pintu dengan cukup kencang, berharap salah satu penghuni indekos ataupun pemilik rumah keluar dan membukakan pintu bagi sang tamu.
Dengan berjalan tergopoh, pemilik indekos melangkah mendekati daun pintu. Dia membuka pintu tersebut hingga memperlihatkan sosok Leon berdiri dengan gagah berani.
"Lah, Mas-nya yang kemarin ke sini, 'kan?" ujar wanita paruh baya itu.
Leon tersenyum. Rupanya pemilik indekos masih mengingat dirinya.
"Benar, Bu. Apa boleh saya ketemu Lulu? Kebetulan saya bawakan sarapan serta vitamin untuk dia."
"Masuklah ke dalam, tapi jangan lupa pintunya dibuka agar tak menimbulkan fitnah. Saya tidak mau terjadi huru hara di antara penghuni indekos. Ributnya para kamu Hawa lebih menakutkan dibanding apa pun, ngeri-ngeri sedap, Mas. Daripada puyeng mending cari aman."
"Lagi pula, kalau pintu dibuka lebar, pas Masnya ataupun Lulu kentut, tidak terperangkap di dalam terus udaranya itu. Mana tau baunya sedap." Pemilik indekos terkekeh pelan karena geli sendiri dengan ucapannya.
Leon pun ikutan tertawa. Dia tahu maksud pemilik indekos itu baik. Biasanya jika ada dua orang dewasa beda jenis kelamin dan berada dalam ruangan yang sama, akan ada setan di antara mereka. Setan itu pasti menggoda iman keduanya. Oleh karena itu, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, wanita paruh baya itu meminta Leon membuka pintu kamar sampai terbuka lebar.
Leon mengangguk kecil sambil mengacungkan jempol, tanda dia tak akan lupa untuk membuka pintu kamar Lulu nanti kalau dia sudah ada di sana.
Sebelum masuk kamar, Leon mengetuk pintu kamar terlebih dulu, berjaga-jaga jika Lulu sedang berganti pakaian. Tak enak rasanya jika masuk kamar orang tanpa permisi terlebih dulu.
Tak berapa lama, Lulu datang sambil membuka pintu kamar kosnya. "Leon? Lo di sini lagi?" tanyanya tak percaya. Dia pikir sedang bermimpi melihat Leon berdiri di hadapannya.
Melihat wajah Lulu yang tak sepucat kemarin, perasaan lega segera menggelayut di dada Leon. Cemas yang sedari kemarin dia rasakan entah menguap ke mana. Apalagi melihat senyum cerah di wajah Lulu, membuat Leon merasa senang dibuatnya.
"Iya, ini gue. Gue ganggu waktu istirahat lo, ya?"
Menggeleng kepala cepat. “Enggak sama sekali. Ya udah, masuk gih. Tapi sorry, kamarnya masih berantakan. Gue belum sempet beberes kamar,” ucap Lulu sambil membuka lebar pintu kamarnya.
“Gimana kabar lo? Udah baikan?” tanya Leon.
“Yah, gitu deh. Lo lihatnya gimana?” Lulu menunjuk dirinya yang masih memakai piyama.
“Yah, belum sepenuhnya sehat sih. Masih belum fresh. Tapi dibanding kemarin keadaan lo jauh lebih baik sekarang."
“Nah, itu tahu.” Lulu tersenyum. Dia pun duduk di tepi tempat tidur.
__ADS_1
Leon jadi merasa canggung. Dia tak mungkin duduk di samping Lulu. Dengan mata melirik ke kanan dan kiri, Leon akhirnya menemukan bangku kosong dekat meja belajar. Dia menyeret bangku itu agar dekat dengan Lulu dan mendudukinya.
“Ehm, gue bawa bubur ayam buat lo. Nanti dimakan. Ini bubur ayam spesial, khusus gue beli untuk lo. Awas, kalau enggak dimakan, gue laporin lo ke Queensha!" kata Leon sedikit mengancam. Dia mengangsurkan bungkusan yang dibawanya.
Lulu melongok ke dalam bungkusan itu. “Lo mau gue makan dua bungkus bubur ini? Jangan gila, dong. Perut gue bukan terbuat dari karet yang bisa nampung banyak makanan."
“Ngaco, lo! Yang satu bungkusan lagi buat gue. Gue cuma sarapan roti tadi. Pagi ini gue ada operasi kecil, butuh asupan makanan biar enggak pingsan pas lagi tindakan.” Leon nyengir. Dia segera mengambil jatah bubur ayam miliknya untuk dimakan kalau sampai di rumah sakit nanti.
Lulu seketika tertawa melihat kelakuan Leon yang ajaib itu. “Dasar enggak jelas banget hidup lo. Kirain dua-duanya buat gue. Gue emang belum terlalu sehat, tapi kalau disuruh makan dua bungkus bubur ayam dalam wsktu bersamaan, bisa meledak perut gue nanti.”
“Iya, sorry.” Leon nyegir lagi. Entah kenapa dia jadi grogi begini, padahal hanya masalah bubur ayam saja.
“Oh iya, di situ ada vitamin juga. Nanti jangan lupa diminum biar lo cepat vit lagi,” lanjut Leon.
“Duh, gue ngerasa enggak enak hati banget sama lo. Jadi ngerepotin begini." Lulu tertunduk malu. Berada di dekat Leon membuat wajahnya memerah. Bukan karena suhu tubuh meninggakat, melainkan karena hal lain yang dia sendiri tidak mengetahuinya.
Leon yang melihat Lulu tersipu malu mencoba bersikap biasa saja, meski jantungnya seperti berlompatan di dalam sana. Jujur, dia amat senang karena Lulu menghargai apa yang dia lakukan untuknya. Itu membuat Leon merasa dihargai sebagai laki-laki.
'Ya Tuhan, sikap Lulu kalau lagi jinak begini bikin gue gemes sendiri. Pingin gue cubit aja tuh pipinya yang tirus,' raung Leon sambil terus memperhatikan sikap malu-malu kucing Lulu.
"Habis ini lo mau ke rumah sakit?” tanya Lulu, mengagetkan Leon.
Leon tersentak. Buru-buru memalingkan wajah ke arah lain saat tanpa sengaja mereka bersdu tatap. 'Hampir ketauan kalau gue perhatiin dia.'
"Iya. Hari ini gue kebagian shift siang, tapi mau ketemu Ghani dulu. Ada urusan sama tuh orang. Lo sendiri, gimana? Mau berangkat kerja?"
“Gue masih agak pusing. Mungkin karena efek semalam. Setelah makan, gue mau lanjut istirahat aja." Lulu menghela napas berat, teringat akan pakaian kotor yang sudah tiga hari belum dia cuci. "Kayaknya habis tidur gue mau nyuci baju sebentar. Ada seragam restoran yang belum sempat gue cuci."
Leon menegakkan tubuhnya. Matanya melotot mendengar ucapan Lulu. “Cuci baju? Enggak di-laundry aja? Kondisi badan lo masih belum fit, jangan banyak gerak dulu."
Lulu menggeleng. “Enggak, ah. Buat apa ke tukang laundy kalau bisa dicuci sendiri. Lebih hemat, tauk. Maklum, anak perantauan mesti pintar ngatur duit biar bisa ngirim ortu di kampung."
Leon manggut-manggut. "Bener juga yang lo omongin. Dulu, gue juga waktu masih kuliah di Jepang mesti ngirit biar bisa bertahan hidup. Bahkan gue mesti kerja part time supaya duit kiriman bokap cukup untuk kebutuhan sehari-hari."
"Nah, itu lo tau. Makanya, untuk urusan remeh temeh macam nyuci baju, gue mutusin untuk nyuci aja sendiri. Lumayan, duitnya bisa dipake beli gincu." Lulu terkekeh dengan leluconnya. Leon pun ikut tertawa melihat rona kebahagiaan terlihat di wajah sang gadis.
Leon melirik jam tangan. Dia harus segera pergi, karena harus segera menemui Ghani sebelum sang sahabat sibuk dengan tugasnya sebagai direktur rumah sakit.
“Gue mesti cabut, nih. Enggak masalah gue tinggal, 'kan?"
“Enggak. Lo pergi aja.”
Leon bangkit berdiri. Saat hendak pergi, Lulu memanggil Leon.
“Yon, tunggu!" sergah Lulu cepat.
“Ya?” Leon menoleh ke belakang.
“Thanks, atas semua yang lo lakuin buat gue. Selamanya gue enggak akan pernah lupain kebaikan lo."
Leon sedikit ternganga mendengar ucapan terima kasih yang tulus itu keluar dari mulut Lulu. Leon tersenyum. Dia menghampiri Lulu, lalu mengacak rambut gadis itu.
“Sama-sama. Itu emang udah tugas gue sebagai sesama manusia. Udah, gue pergi dulu. Habis selesai kerja, gue mampir lagi ke sini. Bye, Lu!" Leon kini benar-benar pergi, meninggalkan Lulu yang menatap punggung Leon dengan jantung berdebar kencang di dadanya.
"Ada apa dengan jantung gue? Kenapa dia berdebar-debar kencang?"
__ADS_1
...***...