Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Kejanggalan


__ADS_3

Duduk bersebelahan sambil menatap langit-langit ruang kerja Ghani, kedua pria tampan berwajah oriental larut dalam pikiran masing-masing. Sudah lebih dari lima menit mereka terdiam tanpa membuka suara. Suasana ruangan pun sepi hanya terdengar bunyi detak jam dinding yang terus berputar.


"Ghani, lo ngerasa aneh enggak sih dengan sikap si Alvin sewaktu kita party dulu? Kenapa dia bersikeras memaksa lo minum sementara kita semua tahu kalau sejak dulu lo enggak terbiasa minum minuman beralkohol. Jangankan sake, bir aja yang kandungan alkoholnya paling rendah lo enggak pernah menyentuhnya, tapi Alvin mencari seribu macam cara untuk memaksa lo minum. Apa itu enggak mencurigakan?" celetuk Leon di tengah keheningan. Pikiran itu terlintas begitu saja di benak sahabat Ghani.


Kedua tangan menumpu kepala yang diletakan di sandaran sofa. Pandangan mata pria itu masih menatap langit-langit ruangan. "Gue sempat curiga juga sama dia saat semua kebenaran berada dalam genggaman tangan gue. Namun, gue berpikir untuk apa dia menjebak gue. Bukankah selama ini kita enggak pernah ada masalah? Gue selalu bersikap baik padanya, begitu pun sebaliknya. Jadi apa yang melatarbelakangi Alvin hingga tega melakukan perbuatan terkutuk itu?"


"Ehm ... apa mungkin ada seseorang yang memaksa Alvin hingga dia terpaksa melakukan perbuatan tersebut? Bukannya gue membela dia, jika melihat prilakunya selama ini rasanya mustahil kalau Alvin tega menjebak lo, Ghan."


Yogi yang sedari tadi terdiam turut menyampaikan pendapatnya di hadapan Ghani. "Mohon maaf jika saya terkesan lancang. Namun, saya tidak bisa lagi memendam apa yang tengah ada dalam benakku saat ini, Dok," sergahnya cepat.


"Jika mendengar semua cerita yang disampaikan Dokter Leon, saya sependapat dengannya bahwa ada orang lain di balik semua kejadian ini. Mana mungkin orang sebaik Pak Alvin tega melakukan perbuatan tidak terpuji kepada teman dekatnya sendiri. Terlebih Dokter Ghani begitu baik kepadanya selama kalian berada di negeri seberang."


Seketika Leon bangkit dari posisinya saat ini. Ia menatap serius kepada Ghani. "Tuh denger, gue juga bilang apa kalau si Alvin tuh berada di bawah kendali seseorang. Jadi, tugas lo sekarang mencari dalang yang sebenarnya. Setelah itu lo buat perhitungan kepada orang itu."


Yogi mengangguk setuju. "Saya setuju dengan saran Dokter Leon. Jika Dokter Ghani masih membutuhkan bantuan, saya bersedia membantu Anda."


Memijit pelipis yang terasa pening akibat memikirkan masalah ini. Urusan pekerjaannya saja belum selesai dan kini ia dihadapkan pada sebuah kenyataan yang menyatakan bahwa ada seseorang yang berniat jahat kepadanya, menggunakan cara licik untuk menjerumuskannya. Benar-benar kejam.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, Gi. Aku tak dapat berpikir dengan jernih saat ini. Namun, aku minta jika informasi tersebut sudah ada, segera beritahu aku. Mengerti?"


Dengan penuh keyakinan Yogi menjawab, "Mengerti, Dok. Kalau tidak ada kepentingan lagi, saya undur diri dulu. Selamat siang." Lantas pria itu melangkah menuju pintu dan meninggalkan Ghani serta Leon yang masih duduk santai di sofa.


***


Di sebuah restoran yang sebentar lagi akan tutup, seorang wanita berseragam abu-abu dipadu rok warna hitam di bawah lutut sedang membawa plastik sampah berukuran sangat besar menuju bak sampah yang berada di belakang gedung.


"Lelet banget sih! Udah buruan, seret plastik sampah itu ke belakang. Restoran sebentar lagi tutup dan aku tidak mau kalau sampai telat sampai rumah hanya gara-gara harus nungguin kamu!" keluh Puji saat ia berpapasan dengan Queensha yang saat itu sedang berjalan sembari menarik plastik sampah berukuran besar menyusuri lorong penghubung antara ruangan khusus karyawan dengan pintu keluar restoran.


Sedikit kesal sebab sejak dirinya mulai bekerja kembali di restoran itu, Puji selalu saja mencari kesempatan untuk menindasnya. Walaupun Lulu dan juga Rama sudah menegur, Puji tetap saja tak menggubris ucapan mereka. Wanita itu justru semakin menjadi-jadi dengan melakukan berbagai macam cara mengusir Queensha secara perlahan.


"Kenapa? Kamu sudah tak sanggup bekerja di sini? Jika iya, silakan mengurus surat pengunduran diri dan meninggalkan restoran ini. Masih banyak orang yang ingin bekerja di sini jika memang kamu sudah tak mau diperintah ini dan itu." Puji menyeringai, cuek sama sekali tidak mendengar keluh kesah terucap dari bibir ranum alami milik Queensha.


"Mengundurkan diri? Jangan harap aku akan keluar dari sini hanya karena masalah sepele. Bekerja di bawah pengawasan Mbak memang terkadang membuat tensi darahku naik, tapi bukan berarti nyaliku menciut begitu saja. Justru aku semakin semangat bekerja dan ingin melihat siapakah yang bertahan untuk tetap bekerja di sini, aku atau Mbak."


"Walaupun Mbak Puji adalah senior dan atasanku, bukan berarti aku takut. Selama ini aku diam ketika Mbak tindas, bukan karena aku tidak berani melawanmu. Hanya saja aku berpikir untuk apa menghabiskan energiku untuk sesuatu yang sia-sia. Lebih baik menyimpan tenaga itu, melayani pelanggan dengan tetap memberi senyuman kepada mereka daripada meladenin orang yang mempunyai penyakit hati macam Mbak," sindir Queensha halus. Sudah amat jengah mendengar ocehan tak berfaedah dari bibir Puji. Kini saatnya ia unjuk gigi agar tidak dianggap lemah oleh atasannya sekaligus seniornya itu.

__ADS_1


Jari telunjuk Puji mengarah kepada Queensha. "Kamu ... berani-beraninya berbicara begitu kepadaku. Tidak takut aku laporkan kepada si Bos, heh?"


Queensha menyunggingkan senyuman mengejek di sudut bibir. "Untuk apa takut toh aku tidak bersalah. Selama bekerja, aku melakukan tugasku dengan baik, tidak ada complaint dari para pelanggan. Itu artinya mereka merasa puas atas pelayananku."


"Omong-omong, seharusnya yang merasa takut itu adalah Mbak. Memangnya Mbak tidak takut akan ada balasan dari Tuhan karena Mbak sering sekali menindas orang lain. Bisa saja 'kan salah satu dari kami merasa sakit hati lalu mengadukan perlakuan Mbak kepada si Bos. Jika sampai si Bos tahu, jabatan yang selama ini dibanggakan olehmu dapat hilang dalam sesaat."


Semua ucapan Queensha menohok di dalam hati Puji, menamparnya dengan sangat keras. Apa yang dikatakan Queensha memanglah benar, selama ini ia selalu mencari letak kesalahan semua pegawai restoran hingga tak jarang membentak, memarahi dan menegur bawahannya dengan tidak berperasaan. Akan tetapi, ia tidak terpikirkan sama sekali jika perbuatannya itu menjadi senjata untuknya.


"Kenapa diam saja? Takut ya, Mbak, kalau jabatannya diambil kembali oleh si Bos? Makanya sebelum terjadi sebaiknya Mbak lebih berhati-hati dalam bersikap, jangan sampai memancing emosi orang lain! Sangat disayangkan jabatan yang selama ini dibanggakan mesti direbut dan diberikan kepada orang lain," sambung Queensha dengan senyuman dingin.


"Aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu sebelum malam semakin larut."


Selesai mengucap, Queensha membalikan badan, lalu mengayunkan kembali langkah kakinya yang sempat terhenti beberapa saat. Menarik plastik sampah meninggalkan sang atasan.


'Sial, kenapa gue bisa tak berkutik di depan Queensha. Padahal biasanya gue bisa mengintimidasi dia, tapi kenapa sekarang keadaan berbalik. Apa yang membuat dia berubah drastis seperti ini?' batin Puji seraya menatap kesal pada sosok wanita di depan sana.


...***...

__ADS_1


__ADS_2