
"Tidak ... mung-"
Belum usai bu Tania menyelesaikan kalimatnya, tubuh renta itu melorot ke bawah, nyaris menyentuh permukaan lantai dingin rumah sakit jika tidak segera ditangkap pak Hardi. Pria yang usianya telah mencapai setengah abad lebih begitu sigap menopang tubuh lunglai istrinya. Tubuh bu Tania lemas dan akhirnya roboh tidak berdaya.
Bu Tania pingsan usai mendengar kalimat yang diucapkan anak kesayangannya itu. Dia cukup terpukul akan berita yang baru saja didengarnya. Ternyata selama ini Andri tidak sebaik yang dia bayangkan.
"Mama, bangun!" Pak Hardi menepuk pelan pipi Bu Tania, mencoba mengembalikan kesadaran istrinya. Namun, kelopak mata itu terus terpejam sehingga membuat Pak Hardi mau tak mau berteriak meminta tolong pada dua orang polisi yang berjaga di depan pintu kamar perawatan.
Suasana ruang perawatan berubah ricuh. Pak Hardi dibantu satu orang petugas kepolisian membawa tubuh bu Tania ke atas sofa, sementara satu lagi berjaga di depan kamar, khawatir jika insiden ini hanya rencana Andri dan keluarga agar bisa melarikan diri dari jerat hukum yang menunggu.
"Bu Tania hanya syok saja, Pak. Paling sebentar lagi siuman. Sementara waktu, biarkan Bu Tania beristirahat. Tampaknya dia kelelahan karena terlalu capek mengurusi Saudara Andri," ucap Dokter Haikal sesaat setelah memerika kondisi pasien. Pria itu langsung bergegas ke kamar Andri setelah mendapat laporan bahwa bu Tania jatuh pingsan.
Terdengar helaan napas lega, begitu dokter mengatakan bahwa istrinya baik-baik saja. "Terima kasih, Dokter Haikal."
"Jangan sungkan. Ini sudah jadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang dokter. Jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan, saya permisi dulu. Masih banyak pekerjaan yang mesti dikerjakan."
Andri yang terbaring di brankar ikut mengembuskan napas lega sebab bu Tania tak mengidap penyakit apa pun. Dia hanya terkejut sampai tak sadarkan diri.
"Syukurlah Mama baik-baik aja," kata Andri lirih. Matanya nanar menatap bu Tania dari jarak tiga meter, wajah wanita itu terlihat pucat bagaikan mayat. Rasa bersalah muncul ke permukaan tatkala teringat bagaimana dirinya dengan begitu mahir membohongi mama tercinta.
'Anak kurang ajar, bisa-bisanya dia membohongiku selama ini. Pantas saja dia memilih menetap di Amerika, rupanya dia ingin bergaul bebas tanpa merasa diawasi siapa pun.' Wajah Pak Hardi memerah, kedua tangannya mengepal erat. Merasa ditipu habis-habisan oleh sang putera.
__ADS_1
"Keterlaluan! Bisa-bisanya kamu melakukan perbuatan bejad itu, Ndri. Apa kamu tidak takut dosa, hah? Berbuat zina merupakan perbuatan dosa besar dan kamu malah melakukannya. Apa nasihat yang selama ini papa berikan kepadamu tidak pernah kamu cerna dengan baik?" sembur Pak Hardi, melangkah cepat mendekati ranjang pasien.
"Sudah banyak berapa perempuan yang telah kamu nodai? Jawab papa, Ndri! Tidakkah kamu berpikir dampak yang ditimbulkan dari seringnya gonta ganti pasangan. Kamu tidak takut terkena penyakit terkutuk itu, hah!" Suara Pak Hardi menggelegar ke segala penjuru. Tidak peduli jika suara lengkingan itu mengganggu pasien lain di ruangan sebelah.
Bola mata Andri bergerak ke sana kemari. Otak berusaha keras, menghitung berapa banyak perempuan yang telah dia perkosa.
"Andri, enggak tau, Pa. Tapi yang pasti, lebih dari 15 perempuan berhasil Andri ajak naik ke atas ranjang," kata Andri dengan tubuh menggigil. Tempramental pak Hardi tidak bisa dianggap remeh, emosinya mudah meledak-ledak bagai bom waktu yang mampu menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.
"Ya Tuhan. Dosa apa yang pernah kulakukan di masa lalu sampai Engkau menitipkan anak sialan ini kepadaku. Susah payah aku membesarkannya dengan penuh kasih sayang, tapi ketika dewasa, dia justru melempar kotoran ke wajahku. Tau begini, lebih baik aku tidak punya anak lelaki daripada membuat nama baik keluarga hancur karena ulahnya."
Pak Hardi mengusap wajah kasar. Anak yang diharapkan dapat membanggakan keluarga, membawa kejayaan bagi keluarga Dinata, rupanya tidak lebih dari seekor binatang buas yang gemar memburu mangsa untuk diajak naik ke atas ranjang.
"Perbuatan pun sulit untuk dimaafkan. Pantas saja kamu bersikeras minta tinggal di Amerika, jadi ternyata kamu ingin kehidupan liar seperti seekor binatang agar kami tidak mengawasimu. Iya?"
Andri terdiam. Apa yang dikatakan papanya adalah benar, dia ingin hidup bebas, melakukan apa pun tanpa perlu ditegur orang tuanya.
"Papa benar-benar tidak menyangka kamu bakal nekad melakukan ini, Ndri. Jika memang kamu tak bisa lagi mampu mengendalikan hawa napsu kenapa tidak minta kami mencarikan calon istri untukmu. Papa dan Mama pasti mencarikan perempuan baik untuk kamu nikahi."
"Tapi, kamu malah memilih menodai anak gadis orang. Di mana hati nuranimu sebagai seorang manusia? Tidakkah kamu merasa kasihan pada gadis yang kamu renggut kesuciannya. Mereka pasti putus asa karena masa depannya telah kamu hancurkan."
"Maaf, Pa," jawab Andri lirih.
__ADS_1
Terduduk lemas dengan punggung menyender ke sandaran sofa. Rasa bersalah semakin hadir kala ekor matanya menatap wajah bu Tania yang masih terpejam.
"Papa kecewa sama kamu, Ndri. Benar-benar sangat kecewa."
"Papa, tolong maafin Andri. Andri menyesal sekarang. Enggak seharusnya Andri melakukan perbuatan tercela itu kepada peremuan, sosok yang seharusnya kita lindungi dari pandangan mata para kaum lelaki, aku malah merusak masa depan mereka semua."
Pak Hardi menghela napas kasar. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur dan kejadian yang telah berlalu tak lagi dapat diulang kembali.
"Lantas, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Bersedia diseret polisi ke balik jeruji besi?" tanya Pak Hardi penasaran dengan rencana masa depan Andri.
Andri berucap dengan mantap. "Andri ingin bertemu dengan korban yang pernah kudorong tempo hari. Aku ingin minta maaf padanya, pada Lulu, dan juga para wanita yang kehormatannya berhasil Andri renggut. Setelah itu, Andri ikhlas jika memang harus mendekam di penjara untuk jangka waktu lama."
Seulas senyum menghiasi bibir pak Hardi. Setidaknya Andri masih punya sedikit rasa bersalah karena telah merugikan banyak orang. "Baiklah, papa akan bantuin kamu menemui perempuan yang pernah kamu perkosa. Papa juga akan minta orang kepercayaan untuk mencari identitas ibu hamil itu sampai ketemu."
Kepala Andri manggut-manggut. Rasanya hati pria itu jadi lebih ringan usai mengatakan hal demikian.
"Dalam waktu dekat papa usahakan informasi wanita itu sudah didapat. Sementara ini, kamu beristirahatlah dengan tenang. Kalau misal ada informasti terbaru, papa akan memberitahumu."
Andri menarik napas dalam-dalam, menghirup udara sekitar bercampur bau karbol ruangan. Lantas dia menyunggingkan senyuman di bibirnya. "Terima kasih, Pa. Papa memang orang tua terbaik yang pernah Tuhan titipkan kepadaku."
...***...
__ADS_1