
Saat ini Aurora susah berada di antara Queensha-Ghani, Lulu, dan Leon. Keempat orang dewasa beserta satu balita sedang berjalan beriringan menyusuri jalanan yang akan membawa mereka menuju parkiran.
Queensha melirik jam tangan branded kado pernikahan adik iparnya, Zahira. Jarum jam menunjukan pukul satu siang dan sudah waktunya dia makan siang, mengisi perutnya yang mulai keroncongan.
"Mas, perutku lapar. Boleh tidak kita mampir ke mall untuk makan siang. Aku sedang ingin makan sushi dan ramen," kata Queensha pada suaminya.
"Kamu ngidam, Sayang?"
Queensha mengelus perutnya yang mulai membuncit dengan perlahan. "Sepertinya begitu. Boleh tidak, Mas?"
Ghani menyunginggkan senyuman di depan sang istri. "Tentu saja. Habis dari sini kita cari restoran Jepang, membeli makanan yang diinginkan calon anak-anak kita. Jangan sampai ketiga jagoanku ileran karena keinginannya tidak dikabulkan."
Aurora yang berada di antara papa dan mamanya segera mendongak kala mendengar Ghani yang akan membawa mama tercinta makan di restoran Jepang. "Apa Papa juga akan ajak Rora pergi bersama?" Sepasang mata bundar mengerjap. Ada kekhawatiran dalam diri jika dirinya diminta pulang duluan bersama Leon dan Lulu, sementara kedua orang tuanya bersenang-senang tanpa kehadirannya.
"Of course. Papa pasti ajak Rora, kok. Benar, 'kan, Pa?" Queensha berkata seraya melirik ke arah Ghani. Mengetahui ketakutan yang tengah dirasakan anak pertamanya.
Ghani tak menjawab. Dia hanya tersenyum lalu mencium sebelah pipi kanan putri tercinta. Dengan begitu seharusnya Aurora tahu bahwa dia akan mengajak semua orang ikut, makan siang bersama guna menyingkirkan rasa lapar di perut masing-masing.
"Lo mau ke mana?" tegur Ghani saat melihat Leon berjalan mendekat ke arah pintu kursi belakang.
Leon menghentikan jari tangannya yang baru saja hendak menyentuh pegangan pintu mobil. Menyatukan kedua alis petanda bingung. "Ya gue mau masuk mobillah. Lo pikir mau ke mana. Kita ke sini bareng jadi pulangnya pun harus bareng. Ogah banget kalau gue disuruh naik taxi online, ngabisin duit aja."
Berdecak kesal akan jawaban sang sahabat. "Yang nyuruh lo naik taxi online siapa, Kampret! Gue cuma nanya, lo mau ngapain duduk di belakang."
Mendengar kata umpatan terucap di bibir Ghani, Queensha refleks menyenggol perut suaminya menggunakan ujung siku. Dengan mata melotot wanita itu berkata, "Mas Ghani, jaga bicaramu. Jangan ucapkan kata-kata kasar di depan Rora! Tidak baik."
__ADS_1
Merasa dibela sedemikian rupa, Leon tersenyum jumawa. Dagu terangkat ke atas dan membusungkan dada ke depan. "Kapok, emang enak diomelin bini. Kebiasaan sih ngomelin gue jadi sekarang kena karmanya."
Ghani mengepal kedua tangan di samping badan hingga memperlihatkan urat halus di punggung tangan. 'Sialan si Leon. Mentang-mentang dibelain Queensha jadi besar kepala dia. Awas, gue balas lo ntar.'
Memasang wajah semanis mungkin dan berkata dengan nada yang dibuat-buat. "Iya Sayang, maaf. Mulutku keceplosan."
Lalu Ghani mengalihkan pandangan pada pria di hadapannya. "Tadi gue yang nyetir, sekarang giliran lo. Duduk di depan dan jadilah sopir pribadi gue. Anterin gue ke restoran Jepang terenak di kota ini karena bini gue lagi ngidam sushi dan ramen."
Tanpa membuang waktu terlalu lama, Ghani berjalan mendekati Leon lalu menyenggol bahu sahabatnya dengan kencang. "Enggak ada alasan buat nolak kalau enggak mau kerjaan lo gue tambahin dua kali lipat!" ujarnya dengan nada mengancam. Menggunakan jabatan yang dimiliki demi menekan Leon.
"Lu, kamu juga ikut bersama kami, kita makan bareng sebelum kembali ke rumah. Oh ya satu lagi. Kamu duduk di depan saja sebelahnya Leon. Biar aku, Queensha, dan juga Rora duduk di belakang."
Mulut Lulu terbuka hendak berkata, tetapi Leon dengan cepat menyambar sebelum gadis itu berucap. "Tenang aja, gue jinak. Enggak bakal nerkam lo kalau lo duduk deket gue."
Pria pemilik lesung pipi mengakhiri kalimatnya dengan memberi sebuah senyuman memabukan, membuat Lulu seakan terhipnotis dan menuruti apa yang dikatakan sang lelaki.
Duduk berhadapan di salah satu kursi pengunjung dekat jendela besar dengan pemandangan kolam ikan koi. Sengaja memilih tempat itu karena dirasa tempatnya lebih menyenangkan dibanding kursi yang lain sebab dapat melihat tumbuhan hijau serta mendengarkan gemericik air mancur kolam ikan koi.
"Kalian boleh pilih makanan apa pun yang kalian suka, terserah mau apa saja, bebas. Jangan pedulikan soal harga karena aku memang berniat mentraktir kalian berdua. Ya, anggaplah sebagai ucapan terima kasih karena kalian bersedia meluangkan waktu demi menyaksikan Rora pentas," kata Ghani sembari menatap wajah Lulu dan Leon secara bergantian.
Lulu mengambil buku menu yang disodorkan pelayan kepadanya. Alangkah syoknya dia saat melihat harga yang tertera di sana. 'Gila, satu mangkok kecil begini aja harganya sampe ratusan ribu. Bisa kejang-kejang kalau gue makan di sini pake duit sendiri.'
Leon mendekatkan wajahnya di telinga Lulu. Embusan hawa panas berasal dari hidung pria itu menerpa pipi Lulu, membuat pipi tirus bersemu merah muda.
"Jangan dilihatin mulu harganya, ntar yang ada perut lo keburu kenyang sebelum makan semua makanan ini. Mending lo pesen aja apa yang lo mau, Lu. Ehm, atau mau gue pilihin makanan yang paling enak di sini? Kebetulan beberapa kali gue pernah makan di sini bareng bonyok dan kakak perempuan gue, Leony."
__ADS_1
Lulu tak bisa berkutik. Jangankan untuk bergerak, menoleh saja tidak sanggup sebab jarak Leon dengannya begitu dekat hanya sekitar satu jengkal saja. Jantungnya kembali berdegup kencang seakan tengah berparade ria di dalam sana.
"Ya elah, dia malah bengong. Gimana, mau bantu pesenin kagak?"
Suara magnetis itu membuat Lulu refleks menjauhi Leon. Dia berkedip cepat guna menetralkan degup jantung yang tidak beraturan.
'Rileks, Lu. Jangan grogi kayak tadi di depan Leon. Biasanya juga lo santai lalu kenapa jadi salting begini.'
Menarik napas, mengembuskan perlahan dan menjawab, "Enggak usah, gue bisa sendiri."
Lalu Lulu berkata pada pelayan berseragam di sebelahnya. "Aku pesan A5 level prime wagyu sirloin steak, ice lemon tea, dan air mineral aja satu."
"Bapak sendiri, pesan apa?"
"Samain aja sama punya dia, Mbak. Tapi minumannya aku minta buatkan ice mochacinno dan mineral water dingin."
Queensha dan Ghani ikut menyebutkan hidangan apa yang ingin mereka makan siang kali ini. Pelayan wanita itu menulis semua pesanan keempat pelanggannya lalu meng-cross check kembali sebelum meninggalkan meja tersebut.
Sambil menunggu pesanan diantar, mereka isi waktu yang ada dengan berbincang. Banyak topik percakapan yang meluncur dari bibir masing-masing membuat keempat orang dewasa itu semakin akrab. Namun, percakapan harus terhenti saat Aurora mengadu ingin pergi ke toilet.
"Biar gue aja yang temenin. Lo tunggu aja di sini," sergah Lulu ketika Queensha hendak bangkit dari kursi. Dengan kondisi Queensha yang sedang hamil, tentu saja dia tidak tega membiarkan sahabatnya kesusahan maka dia putuskan untuk mengambil alih, mengantarkan Aurora ke toilet.
"Lulu emang tipe istri idaman. Keibuan, mandiri, dan juga baik hati. Aku yakin, Haidar pasti suka kalau aku kenalkan dengan Lulu."
Entah apa maksud Ghani berbicara demikian, tetapi satu hal yang pasti, Leon yang memang merasa jengkel mendengar ucapan sang sahabat telah membulatkan tekad untuk mendekati Lulu kendati dia sendiri belum tahu bagaimana perasaannya terhadap.
__ADS_1
'Enggak akan gue biarin ada satu cowok pun yang ngedeketin Lulu. Entah itu sepupunya Ghani, Zavier ataupun si Berengsek Andri, mereka enggak bisa deket-deket dengan Lulu. Enggak akan pernah bisa. Lulu cuma boleh deket dengan gue. Titik!' batin Leon seolah ingin menegaskan bahwa Lulu hanyalah untuk dirinya seorang.
...***...