
Ghani menyentuh pagar pembatas yang memisahkan antara daratan dengan danau buatan yang terdapat di depan hotel tempatnya menginap. Pikiran pria itu kosong seakan tengah memikirkan sesuatu.
Ketika mendengar suara pintu ditutup seseorang, Ghani menoleh kemudian menaikan kedua sudut bibir saat melihat calon istrinya melangkah ke arahnya.
"Apa Rora sudah tidur?" tanya Ghani saat Queensha berhasil menuruni anak tangga terakhir dengan selamat.
Guyuran air hujan membasahi bumi membuat jalanan sekitar licin sehingga para pengunjung diminta lebih berhati-hati agar tidak tergelincir saat sedang melangkah. Untuk itulah Ghani mengulurkan tangan menyambut kedatangan Queensha agar calon istrinya tidak terjatuh saat sedang menuruni anak tangga.
"Sudah, Mas. Mungkin karena kecapekan membuatnya mudah tertidur, padahal biasanya dia baru akan terlelap setelah aku selesai membacakan dongeng Putri Salju." Queensha menoleh beberapa detik ke arah Ghani sebelum akhirnya memandangi keindahan cahaya rembulan dari pantulan air danau buatan di depan sana.
"Bagaimana tidak lelah, sejak turun dari mobil sampai pukul empat sore, dia berlari ke sana kemari tanpa mengenal lelah. Setiap sudut tempat dia jelajahi sampai membuat kita berdua kewalahan mengawasainya."
"Yeah, kamu benar, Mas. Di saat kita berdua kelelahan, dia justru semakin bersemangat bahkan lebih bersemangat dari anak seusianya." Queensha terkekeh bahagia mengingat betapa energic-nya Aurora ketika mereka bertamasya, mengunjungi dua tempat wisata berbeda dalam waktu hampir bersamaan.
Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada satu orang pun membuka suara. Sepasang mantan suami istri yang sepakat rujuk kembali tampak sedang menikmati keindahan sekitar di malam hari.
Suara air mancur, hamparan bintang di atas langit serta semilir angin di malam hari membuat suasana malam ini begitu syahdu. Ghani dan Queensha larut dalam suasana suka cita.
Wajah cantik kembali memandangi sosok pria tampan di sebelahnya. Queensha baru menyadari jika Ghani mempunyai fitur wajah yang cukup tampan tidak kalah tampan dibanding dengan mantan pesonil boyband Unine asal negeri Tiongkok, Guan Yue. Alisnya tebal melengkung indah di atas sepasang mata sipit. Hidungnya mancung, tampak serasi dengan segaris bibir tipis yang sensual. Walaupun jarang sekali menebarkan senyum, tetapi aura ketampanan pria itu terus pencar hingga membuat Queensha terpesona.
__ADS_1
"Apakah saya begitu tampan sampai kamu terus memandangi wajah calon suamimu ini?" celetuk Ghani.
Suara bariton itu membuat Queensha tersentak dari lamunannya. Ia berkedip cepat kemudian memalingkan wajah ke sembarang arah. Dalam hati merutuki kebodohannya karena terlalu asyik mengagumi keindahan salah satu ciptaan Tuhan yang terpampang nyata di depannya.
Bagaimana jika Ghani ke-PD-an karena dia secara diam-diam memuji ketampanan calon suaminya itu? Akankah Ghani berpikir kalau dirinya
adalah perempuan murahan karena terus memandangi calon suaminya tanpa mengedipkan mata sedikit pun?
Ghani terkekeh pelan. Saat melihat semburat rona merah jambu di kedua pipi Queensha. Ia rengkuh pundak calon istrinya sehingga kepala sang wanita berada di dadanya yang bidang.
"Jangan berpikiran yang macam-macam, My Queen! Saya sama sekali tidak berpikir kalau kamu itu wanita murahan. Justru saya merasa senang karena terus dipandangi oleh wanita cantik seperti kamu," kata Ghani seakan mengetahui isi kepala Queensha.
Walaupun mereka pernah hidup satu atap selama kurang lebih tiga bulan lamanya, tetapi dua insan manusia itu tak banyak menceritakan kehidupan masing-masing apalagi bercerita tentang kisah masa lalu mereka. Selain tak ingin melanggar aturan perjanjian kontrak pernikahan, baik Queensha maupun Ghani berpikir, biarlah itu menjadi urusan privasi masing-masing, tak boleh ada satu orang pun mengetahui bagaimana mereka di masa lalu.
Ghani mencubit ujung hidung Queensha dengan gemas. Sikap polosnya ini mirip sekali dengan Aurora, putri tercinta. "Saya cuma manusia biasa, tidak punya kelebihan untuk dapat membaca pikiran orang lain. Melihat ekspresi wajahmu yang terlihat kebingungan membuat saya menebak sendiri apa yang sekiranya ada dalam benakmu."
"Queensha, dengarkan saya. Saya sama sekali tidak pernah berpikir kalau kamu wanita murahan. Di mata saya, kamu adalah wanita baik-baik yang mampu menjaga kesuciannya dari pandangan pria lain. Buktinya saat saya menjamahmu, kamu masih dalam keadaan suci belum pernah dijamah oleh siapa pun. Itu membuktikan bahwa calon istriku ini adalah wanita baik-baik, yang tidak mudah disentuh oleh siapa pun."
"Kamu tahu, Sha, bagaimana perasaanku ketika bercinta denganmu malam itu? Luar biasa bahagia karena keinginanku untuk memberikan sentuhan pertama pada seorang wanita yang masih per*wan bisa tercapai. Itulah sebabnya kenapa saya berusaha mati-matian mencari keberadaanmu karena saya ingin menikah wanita yang kesuciannya telah kurenggut. Sayalah pria pertama yang telah merenggut kesucian wanita itu maka saya pulalah yang harus mempertanggung jawabkannya."
__ADS_1
"Jadi selama lima tahun ini Mas Ghani mencari keberadaanku, begitu?" tanya Queensha masih belum percaya jika Ghani mencarinya selama ini. Ia pikir lelaki itu pura-pura lupa dan menganggap tak terjadi apa pun di malam itu. Namun ternyata, Ghani justru mencarinya selama lima tahun ini.
Menangkup wajah Queensha, kemudian mengusap lembut pipi wanita itu dengan penuh cinta. "Kamu pikir saya pria berengsek yang akan mudah melupakan begitu saja kejadian yang pernah kita lalui bersama? Kedua orang tuaku mendidik saya dan Zavier agar menjadi lelaki yang bertanggung jawab, menerima segala konsekuensi atas apa yang telah diperbuat. Jadi, saat saya memperkosamu maka saya harus menikahimu sebagai bentuk pertanggungjawaban."
"Lalu, kenapa selama ini Mas Ghani tidak menemukan petunjuk apa pun, padahal jika melihat dari segi finansial tampaknya kamu dapat dengan mudah mencari keberadaanku."
Ghani mendesaah pelan mendengar pertanyaan Queensha. Gamang, haruskan ia menjawab pertanyaan itu dengan sejujurnya atau menyembunyikan semua kebenaran itu dari calon istrinya?
"Mas Ghani, kenapa diam saja? Apa ada hal yang tidak bisa kamu ceritakan kepadaku?" Bola mata Queensha bergerak, mencoba mencari penyebab dari semua keraguan dalam diri pria itu.
Ghani menurunkan kedua tangan dari wajah Queensha. Kemudian berjalan beberapa langkah ke depan dan berdiri membelakangi ibu dari putri tersayang.
"Semuanya terlalu rumit untuk dijelaskan. Saya rasa masalah ini belum bisa diceritakan kepadamu. Namun, saya berjanji kalau segala sesuatunya sudah diselesaikan saya sendiri yang akan memberitahumu. Akan saya ceritakan tanpa ada satu hal pun yang terlewatkan."
Ada perasaan kecewa singgah dalam diri Queensha. Akan tetapi, ia tak dapat memaksa Ghani bila seandainya pria itu tidak bersedia menceritakan apa pun kepadanya.
Mencoba mengukir senyum di wajah. Disentuhnya punggung gagah calon suaminya dengan perlahan. "Tidak masalah jika Mas Ghani belum mau bercerita kepadaku. Sudah ya, jangan dipikirkan lagi. Aku tidak mau masalah ini merusak suasana kita."
Merangkum jemari tangan, menempelkannya di pipi lalu mengecup keharuman aroma segar bernuansa buah-buahan bersumber dari kulit lembut sang wanita. "Terima kasih karena mau mengerti keadaanku, Sha. Kamu memang wanita istimewa, My Queen."
__ADS_1
...***...