Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Pesan dari Yogi


__ADS_3

"Apa? T-tidak mungkin, bukannya Mas Ghani dalam keadaan baik-baik saja sebelum pergi ke Makasar? Lalu kenapa sekarang dia terluka," sahut Queensha saat mendapat telepon dari Yogi.


Di seberang sana Yogi berkata, "Memang benar. Hanya saja saat target sudah dibawa, rupanya Sarman berhasil meloloskan diri dan melukai Dokter Ghani sehingga beliau kini dilarikan ke rumah sakit. Beliau-"


"Cukup! Aku tidak mau mendengar apa pun lagi dari kamu. Aku akan mencari tiket penerbangan tercepat untuk bisa sampai di sana." Lantas Queensha mematikan sambungan telepon lalu membuka aplikasi pemesanan tiket secara online.


Akan tetapi, saat Queensha tegah sibuk memilih dering ponselnya kembali berbunyi. Melihat nama Arumi terpampang di layar handphone ia bergegas menggeser tombol hijau.


"Halo, Bun," ucap Queensha saat sambungan telepon terhubung.


"Sha, apa kamu sudah mendapat berita tentang Ghani yang dilarikan di rumah sakit?" tanya Arumi. Nada suara wanita itu sarat akan penuh kekhawatiran.


Bagaimana tidak khawatir, anak tertuanya kini berada di rumah sakit dan Arumi belum mengetahui kondisi terkini putera pertamanya itu. Yogi hanya menyampaikan jika Ghani dirawat di rumah sakit tanpa memberitahu keadaan sang putera.


Queensha mengangguk cepat. "Sudah. Baru saja Yogi menghubungiku dan aku berencana mencari penerbangan tercepat agar bisa sampai tujuan dengan cepat. Kalau boleh tahu, ada apa, Bunda menghubungiku?"


"Batalkan pemesanan tiketmu karena bunda sudah memesankan satu tiket untukmu. Sekarang kamu bersiap, sepuluh menit lagi bunda sampai tempatmu bekerja. Kita bersama-sama ke bandara."


Queensha cukup terkejut mendengar ucapan Arumi. Hanya saja ia tak mempunyai banyak waktu untuk mengajukan pertanyaan pada calon ibu mertuanya itu.


"Baik, Bun. Kalau begitu aku mau minta izin atasanku dulu. Nanti aku tunggu di depan pintu masuk restoran." Sambungan telepon pun berakhir. Queensha memasukan kembali telepon genggam ke dalam saku celana, kemudian pergi mencari Rama untuk meminta izin kepada atasannya tersebut.


Mengetuk daun pintu dan setelah dipersilakan masuk barulah Queensha menghampiri Rama yang sedang memeriksa beberapa laporan keuangan restoran.


"Permisi, Pak Rama." Kedua telapak tangannya saling meremas satu sama lain. Keringat dingin bercucuran membasahi punggung. Queensha gugup sebab entah sudah berapa kali ia meminta izin cuti bekerja maupun pulang lebih awal dari biasanya.

__ADS_1


Rama mendongakan kepala kala mendengar suara merdu dari sang pujaan hati. Tersenyum manis ketika sepasang matanya menatap iris coklat indah milik Queensha.


"Iya, ada apa? Tumben sekali menemui saya di ruangan. Apa ada hal penting yang ingin dibicarakan secara empat mata?" Rama memulai percakapan mereka.


"Saya ...." Queensha berusaha melanjutkan kalimat ini, tetapi tenggorokan terasa seperti ada kaktus menyangkut di sana.


"Katakan saja, jangan ragu!"


"Saya ada urusan keluarga dan ingin meminta izin pulang lebih awal, Pak. Ini urgent sekali dan tidak bisa ditinggalkan."


Dengan kepala menunduk dan kedua genggaman tangan saling mencengkeram satu sama lain menanti jawaban Rama. Akankah pria itu memberinya izin kembali setelah berkali-kali ia meminta tukar shift dengan Lulu maupun temannya yang lain.


"Memangnya hal urgent apa sehingga membuatmu meminta izin lagi kepada saya, Sha?" Rama sedikit penasaran karena semenjak Queensha kembali bekerja, wanita itu sering sekali meminta izin padahal dulu dia rajin bekerja tak pernah bolos ataupun menukar shift dengan yang lain.


"Apakah ini ada hubungannya dengan pria yang tempo hari datang ke sini lalu menghajar saya tanpa alasan jelas?" tebak Rama dengan tatapan penuh selidik.


"Benar, Pak. Namanya adalah Mas Ghani dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu, saya harus pergi menemuinya segera."


Terlihat raut wajah penuh kecemasan terpancar dari paras cantik jelita. Hal itu membuat Rama semakin penasaran akan hubungan Queensha dan pria yang bernama Ghani.


Rama bangkit dari kursi dan berdiri di sebelah Queensha. Tangan pria itu mencengkeram kedua pundak sang wanita dengan erat. "Sha, katakan dengan jujur apakah yang dikatakan pria itu benar bahwa kamu adalah ... istrinya? Kamu dan dia ... pasangan suami istri."


Queensha melepaskan kedua tangan Rama perlahan. Lalu menggeser tubuhnya ke samping demi menjaga jarak, merasa risih bila berdekatan dengan pria selain sang pujaan hati.


"Apa yang dikatakan Mas Ghani memang benar jika saya adalah istrinya. Kami menikah tiga bulan yang lalu. Namun, pernikahan kami memang tidak digelar secara meriah. Karena alasan itulah mengapa tak ada seorang pun tahu jika status saya bukan lagi single melainkan wanita bersuami."

__ADS_1


Lemas sudah tungkai Rama mendengarnya. Tubuh pria itu pun terasa tak bertulang kala Queensha mengatakan bahwa dia sudah menjadi milik orang. Harapan dan impiannya untuk membina rumah tangga bahagia dengan Queensha, pupus begitu saja.


Berjalan perlahan, berpegangan pada benda di sekitar. Lalu Rama duduk di kursi dengan perasaan campur aduk. Ada perasaan sakit, sedih dan marah hadir dalam waktu bersamaan. Sekian lama menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, ternyata ia kalah start dari Ghani.


"Berarti saat saya mengantarkanmu ke indekos Lulu, kamu sebetulnya sudah menikah dengan pria itu?" Memandang dengan tatapan nanar. Hati Rama sakit seperti ditusuk ribuan jarum oleh tangan tak kasat mata. Membayangkan Queensha duduk berduaan di pelaminan bersama Ghani semakin membuat dada terasa sesak.


Lagi dan lagi Queensha mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Rama. Tidak tahan bila terus menyembunyikan status hubungannya dengan lelaki yang tak lain adalah ayah dari anak kandungnya, Aurora.


"Lantas kenapa kamu justru tinggal di kamar kontrakan Lulu? Dan ... kenapa kamu masih mau bekerja di sini, sedangkan yang saya lihat jika suamimu dari keluarga berada? Apakah kalian sedang ada masalah sampai kamu memutuskan pergi dari rumah?"


Queensha memandang tidak suka kepada Rama. Merasa pria itu terlalu ikut campur dalam urusannya. Mereka memang cukup dekat, tapi bukan berarti Rama berhak mengetahui segalanya tentang kehidupan pribadinya.


"Mohon maaf, Pak Rama. Untuk urusan itu saya tidak dapat menjawabnya. Saya rasa itu adalah privasiku dan Pak Rama tidak berhak tau apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tanggaku," jawab Queensha. Walaupun kesal akan sikap Rama yang seakan tengah menginterogasinya, ia tetap bersikap sopan tanpa ingin melukai perasaan orang lain.


Teringat akan tujuannya datang menemui Rama, Queensha menanyakan pertanyaan yang sama kepada atasannya itu. "Jadi bagaimana, Pak, apakah saya diberi izin pulang lebih dulu?"


Rama benar-benar kecewa kenapa Queensha lebih memilih Ghani daripada dirinya, padahal selama ini yang selalu membelanya di depan Puji adalah dirinya bukan pria arogan dan dingin macam Ghani.


Memalingkan wajah ke arah lain demi meredam amarah dalam diri. Khawatir Rama tak dapat mengendalikan diri hingga tega melakukan hal buruk kepada wanita yang amat dicintainya.


"Pergilah! Kerjakan urusanmu sampai benar-benar selesai. Setelah itu kamu boleh bekerja lagi di sini."


"Baik, terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Queensha bergegas meninggalkan ruangan Rama menuju loker, tempat di mana ia menyimpan barang bawaannya.


Rama menatap punggung Queensha dengan perasaan sedih. "Tidakkah ada harapan sedikit pun bagiku untuk bisa memilikimu? Tuhan, haruskan aku melepaskan Queensha, melepaskan wanita yang kucintai agar hidup bahagia dengan lelaki lain?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2