Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Berbicara Secara Empat Mata


__ADS_3

"Aku tidak pernah sekalipun melupakan nasihat Ayah dan Bunda. Setiap nasihat yang kalian ucapkan telah kurekam jelas di memori ingatan. Namun, apa yang kukatakan tadi benar adanya. Kalau tahu Queensha tidak becus menjalankan tugasnya sebagai seorang Ibu, untuk apa aku menikahinya. Sementara kita semua tahu bahwa aku menikahinya hanya karena Aurora, bukan karena kucinta dia," tandas Ghani seraya menatap tajam pada wanita di depannya.


Queensha semakin menunduk dan meremas jarinya dengan kencang. Tak dapat dipungkiri ia memang turut andil dalam insiden penculikan ini karena tak bisa menjaga Aurora dengan baik. Padahal semua orang mempercayakan si gadis bermata bulat kepadanya.


Melotot dengan kesal pada si sulung. "Muhammad Ghani Hanan, jangan bicara begitu kepada istrimu! Bagaimanapun juga dia adalah istrimu yang patut kamu jaga perasaannya." Arumi benar-benar tak habis pikir bagaimana Ghani bisa tega berkata begitu di depan Queensha.


"Tapi itu memang kenyataannya, Bun. Perempuan ini memang tidak pantas menjadi seorang Ibu. Dia ... cuma bisa membawa musibah kepada keluarga ini!" amuk Ghani terdengar sangat geram hingga dadanya kembang kempis.


"Aku sudah percaya kepadanya bahkan rela menikahi perempuan yang sama sekali tak kucintai, tapi apa yang kudapatkan? Dia hanya memberi nasib buruk kepada Rora, Bun. Dia itu perempuan pembawa sial!"


Queensha diam, tidak membantah atau membela diri. Semua julukan yang ditujukan kepadanya, siap diterima. Dia memang pantas untuk dihina oleh suaminya sendiri.


Akan tetapi, tidak bagi Arumi. Ibu empat orang anak itu segera melayangkan sebuah tamparan keras di pipi sebelah kanan Ghani sampai-sampai bekas tamparan itu membekas di wajah si pria. Sementara Rayyan hanya membeku di tempat, membiarkan sang istri meluapkan kekesalannya kepada putra sulung mereka.


"Jangan pernah berkata begitu kepada Queensha, Ghani! Bunda dan Ayah tidak pernah mengajarimu untuk berlaku tak baik kepada Istrimu!"


Ghani tertegun. Ia menelan salivanya sendiri dengan susah payah. Memang perkataannya barusan telah melukai perasaan seorang wanita yang berstatuskan sebagai istrinya. Namun, bukankah hal wajar jika ia melakukan itu hanya demi menyalurkan betapa kecewanya dia terhadap Queensha.


Rasa sakit akibat terkena tamparan yang dilayangkan sang bunda tidak sebanding dengan rasa sakit saat melihat putri tercinta terbaring lemah, tak sadarkan diri di atas pembaringan. Memang betul Aurora bukanlah putrinya, tetapi rasa kasih sayang kepada gadis kecil itu bagaikan rasa sayang seorang ayah kepada anak kandungnya sendiri.


Rayyan maju beberapa langkah ke depan, menyentuh pundak Arumi dengan pelan. "Sabar, Bun. Jangan karena emosi, kamu sampai tega menyakiti darah dagingmu sendiri. Ingat, bagaimana dulu perjuanganmu untuk bisa hamil. Lalu sekarang setelah kamu diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk bisa melahirkan, kamu justru melukai perasaan anakmu sendiri," ucap pria itu mencoba menenangkan istrinya.


Napas Arumi masih tersengal hebat saat telapak tangan kekar itu menyentuh permukaan kulit. Kesabaran yang sejak tadi ditahan akhirnya tak dapat dibendung lagi.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu keluar, biar aku yang berbicara dengan Ghani." Lalu Rayyan menatap dingin pada sang menantu yang sedari tadi menundukan kepala menatap bayangan dirinya di lantai. "Queensha, tolong temani sebentar Istri saya di luar. Sebelum saya selesai berbicara dengan suamimu, jangan pernah meninggalkannya walau hanya sekejap saja."


Queensha mengangguk patuh. "Ayo, Bun, kita keluar sekarang."


"Ya, sebaiknya kita memang keluar saja dari sini. Bunda merasa pengap bila terus menerus berdekatan dengan suami yang tak pernah menghargai perasaan istrinya." Arumi melangkah gontai mendekati daun pintu dengan Queensha memapahnya perlahan. Kedua wanita itu meninggalkan ruangan dan memberi ruang kepada Ghani dan Rayyan agar bisa berbicara dari hati ke hati.


Sampai pintu ruangan itu tertutup rapat, barulah Rayyan kembali membuka suara. "Kamu dan aku perlu berbicara serius!" desis pria itu kepada putera tertuanya.


Masih menyentuh pipi yang terasa panas, Ghani menjawab, "Baik, Ayah. Aku mengerti." Mengangguk patuh pada sang ayah. Tahu setelah ini akan diceramahi habis-habisan karena telah melukai perasaan seorang wanita. Padahal Rayyan selalu mewanti-wanti kepada anak lelakinya untuk tidak menyakiti fisik maupun hati perempuan di keluarga Wijaya Kusuma. Pamali hukumnya!


"Duduk!" perintah Rayyan tegas.


Menuruti apa yang diperintahkan sang ayah, Ghani duduk menarik kursi yang berada di sebelah ranjang Aurora.


"Untuk tidak melukai perasaan Bunda, adik perempuanku, anak serta istriku bila di kemudian hari aku dan Zavier menikah," sergah Ghani sebelum Rayyan menyelesaikan ucapannya.


"Aku tahu soal itu, Ayah. Tanpa Ayah ataupun Bunda beritahu, aku pun sudah mengetahuinya. Sebagai seorang lelaki sejati, pantang bagi kami berkata kasar maupun melakukan tindakan kekerasan kepada kaum Hawa di keluarga Wijaya Kusuma. Namun, aku tak bisa mengendalikan diri bila netraku ini melihat wajah Queensha. Aku membayangkan betapa menderitanya Rora saat disekap oleh Ibu serta Adik Tiri Queensha," kata Ghani mulai menceritakan.


Kedua mata sipit itu terbelalak mendengar penuturan Ghani. "Jadi maksudmu, Cucuku baru saja diculik. Begitu?"


Mengangguk cepat. "Benar, Yah. Penculik itu meminta uang tebusan sebesar seratus juta rupiah. Queensha menggunakan sebagian tabungan dari rekening yang kuberikan kepadanya. Aku sengaja memberi kartu ATM serta buku tabunganku sebagai nafkahku kepadanya. Namun, dia menggunakan uang itu untuk menebus Rora."


Menghela napas panjang dan berat, lalu menatap nanar pada sosok gadis kecil yang masih setia tertidur di pembaringan. "Sebetulnya aku tak mempermasalahkan uang yang digunakan Queensha, hanya saja aku merasa tidak dihargai sebagai seorang suami. Pernikahan kami memang tak dilandasi cinta, tapi bukan berarti dia bisa bertindak sesuka hati tanpa melibatkan aku, Yah."

__ADS_1


"Aku marah karena sebagai kepala keluarga merasa tak dihargai oleh istriku sendiri. Seandainya dia memberitahuku tentang Rora yang diculik, aku pasti menjebloskan mereka ke penjara."


Rayyan memijat pelipisnya sambil menggelengkan kepala, teringat kejadian tiga puluh satu tahun lalu saat dirinya memarahi Arumi karena sang istri mempersilakan pria lain masuk ke apartemen mereka tanpa meminta izin terlebih dulu kepadanya. Walaupun saat itu Arumi tidak sendirian di rumah karena ada asisten rumah tangga mereka, tetap saja Rayyan merasa kehadirannya tidak dianggap oleh istrinya itu.


"Ayah bisa mengerti kenapa kamu sampai marah begini. Merasa kehadiran kita tidak dianggap oleh istri memang terasa menyakitkan, ayah pun pernah merasakan apa yang kamu rasakan saat ini."


Ghani mengalihkan pandangannya pada pria tampan yang rambutnya mulai keperakan. "Maksud Ayah, bagaimana?" tanyanya penasaran.


Arumi dan Rayyan memang tak pernah menceritakan secara detail tentang masa lalu mereka. Hanya bercerita bahwa dulu sang bunda dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri hanya karena belum juga hamil. Namun, untuk masalah Mahesa yang sempat koma akibat kecelakaan, Nayla yang masuk rumah sakit jiwa dan Kayla yang dinyatakan infertil karena rahimnya diangkat, mereka memutuskan untuk tutup mulut sebab bagi pasangan suami istri, itu merupakan aib yang tak seharusnya diumbar kepada orang lain.


Biarkan hanya mereka serta Rini dan Rio yang tahu. Triplet, Shaka dan juga Shakeela, tak perlu mengetahui kejadian itu.


"Dulu, saat awal pernikahan kami, Bundamu pernah melakukan kesalahan dengan memasukan seorang lelaki ke apartemen tanpa meminta izin terlebih dulu pada ayah. Saat itu ayah marah besar karena merasa tak dianggap oleh Bundamu. Sampai ayah berkata kasar, meninggikan nada suara di depan Bundamu. Itu semua ayah lakukan karena ayah tak mau kalau sampai lelaki itu menyakiti Bundamu untuk kesekian kali."


Kening Ghani mengerut hingga memperlihatkan kerutan halus di sana. Mencoba menebak siapakah lelaki yang sedang dibicarakan oleh sang ayah. Namun, detik selanjutnya dia mulai menduga jika orang itu adalah Putra, mantan papa mertua ibunda tercinta.


"Lalu, apa yang Ayah lakukan terhadap Bunda?"


Rayyan melirik sekilas kepada putera tertuanya kemudian menyenderkan punggung di sandarana sofa. "Ayah mendiamkan Bundamu selama beberapa hari, berharap Bundamu sadar dan jera, tak mengulangi kesalahan yang sama."


"Namun, ayah sadar tidak seharusnya berbuat seperti itu kepada Bundamu. Jika memang istri kita salah, bisa dinasihati baik-baik tanpa perlu menggunakan kekerasan apalagi sampai melukai perasaan wanita yang kita cintai." Rayyan menepuk bahu Ghani dan kembali berkata, "Ada banyak cara menasihati mereka tanpa harus mengeluarkan urat."


"Dan untuk masalahmu dengan Queensha, ayah harap kamu tak menyesal karena telah berkata kasar kepadanya. Sekalipun dia salah, tidak sepantasnya kamu berkata begitu kepada Queensha. Hanya itu yang bisa ayah sampaikan padamu. Terserah mau menerima nasihat ayah atau tidak, itu urusanmu. Namun, ayah harap kamu tidak akan pernah menyesal di kemudian hari."

__ADS_1


...***...


__ADS_2