Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Tugas dan Tanggung Jawab Sebagai Calon Istri


__ADS_3

Duduk di tepian ranjang, tangan Queensha tengah sibuk mengupas buah apel yang ia beli dari toko buah dekat rumah sakit. Dengan sangat hati-hati ia mengupas kulit buah apel tersebut menggunakan pisau dapur yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Setelah semua kulit terkupas barulah ia memberikannya kepada Ghani.


"Terima kasih, Sayang," ucap Ghani seraya menerima potongan buah apel yang disuapkan Queensha.


"Tidak perlu sungkan toh ini adalah tugas dan kewajibanku sebagai calon istrimu. Merawat dan mengurusimu merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku, Mas," jawab Queensha. Ia menatap Ghani sebentar, kemudian menundukan wajah dan menggigit bibir bawahnya. Dadanya berdebar lembut saat tanpa sengaja melihat pantulan sinar matahari mengenai wajah rupawan sang calon suami. Wajah pria itu amat sangat tampan membuat jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


Ghani mengulum senyum. Ia merasa beruntung bisa dipertemukan dengan Qheensha. Wanita itu tidak hanya layak menjadi ibu kandung Aurora, tetapi juga pantas menjadi pendamping hidup yang kelak akan melangkah bersama menuju surga-Nya. Yah, Ghani ingin rumah tangga mereka kelak menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah yang kekal abadi untuk selamanya.


"Oh ya, Sayang, kamu belum cerita kepadaku bagaimana bisa datang bersamaan kedua orang tuaku? Apakah mereka yang memberitahumu kalau aku dilarikan ke rumah sakit?" tanya Ghani. Terlalu menghayati perannya sebagai bayi besar bagi Queensha, ia sampai lupa menanyakan hal penting ini kepada calon istrinya. Jadi ia mengajukan pertanyaan ini selagi mengingatnya.


Queensha membawa piring kotor ke westafel lalu mencucinya menggunakan sabun pencuci piring. Sambil mencuci ia menjawab pertanyaan Ghani. "Bukan Ayah dan Bunda yang memberitahuku melainkan Yogi. Dia segera menghubungiku sesaat setelah kamu ditangani dokter."


"Usai mendapat kabar dari Yogi, aku segera mencari tiket pesawat lewat aplikasi pesan online. Namun, baru saja mencari jadwal penerbangan tercepat, Bunda Arumi menghubungiku dan bertanya apakah sudah mendapat berita tentangmu yang tengah dirawat di rumah sakit. Aku jawab sudah dan Bunda memintaku membatalkan pesanan tiket saat mengetahui diriku yang sedang mencari tiket pesawat agar dapat menyusulmu."

__ADS_1


"Sepanjang perjalanan, kami begitu mencemaskanmu, Mas. Aku serta kedua orang tuamu khawatir hal buruk menimpamu sebab Yogi tak memberitahu apa yang membuatmu sampai dirawat ke rumah sakit. Namun, beruntungnya Tuhan masih menjagamu sehingga kami dapat bernapas lega dan tersenyum kembali seperti sedia kala."


Ghani membulatkan mulutnya membentuk huruf O. "Jadi kamu mengkhawatirkanmu, iya? Ehm, kupikir kamu akan cuek saja saat mendengar aku dilarikan ke rumah sakit. Eh, tak tahunya kamu sama cemasnya seperti kedua orang tuaku."


"Omong kosong!" seru Queensha, mendelik sebentar karena kesal. Bagaimana Ghani bisa berpikir kalau ia tak mencemaskan calom suaminya itu.


"Tentu saja aku mencemaskanmu, Mas. Kamu itu ayah dari putriku, calon suami dan lelaki yang sangat kucintai. Jadi berhentilah berbicara omong kosong seperti tadi. Jika tidak ... aku akan bilang kepada Xavier kalau kamu menindasku. Biar dia menghajarmu habis-habisan," ujar Queensha sedikit mengancam. Wajah wanita itu terlihat lebih serius dari sebelumnya.


"Haha, baik-baiklah. Aku tidak akan macam-macam denganmu lagi." Ghani menganggukan kepala memberi isyarat pada Queensha untuk mendekat. Setelah keduanya berada dalam jarak yang cukup dekat, Ghani kembali berkata, "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, My, Queen." Lalu ia mencium pipi kanan Queensha dengan penuh cinta.


Queensha tersenyum kecil. Suasana hati yang sempat berantakan akibat tingkah Ghani yang usil kepadanya perlahan berangsur-angsur membaik. Dentuman di dalam dada mendadak meningkat pulihan kali lipat saat merasakan hangatnya bibir Ghani di permukaan kulit wajahnya.


Wajah yang tadi sempat kesal, mendadak berubah ceria kembali. Senyuman samar terlukis di sudut bibir wanita itu. Hati berbunga-bunga bagai bunga sakura bermekaran di musim semi. Usai mengalami serentet kejadian pahit di masa lalu, akhirnya Queensha mendapat kebahagiaan yang ia pikir hanyalah angan belaka. Bersama Ghani, ia menemukan apa itu artinya kebahagiaan.

__ADS_1


***


"Sha?"


"Hhm. Ada apa, Mas? Kamu butuh sesuatu?" tanya Queensha. Usai menyuapi Ghani dan membantu calon suaminya minum obat, ia memutuskan melanjutkan bertukar pesan dengan Lulu. Kebetulan sahabatnya itu sedang libur sehingga mereka punya banyak waktu untuk mengobrol lewat aplikasi WhatsApps.


Ghani menggeleng. "Aku tidak membutuhkan apa pun. Hanya saja, aku masih penasaran bagaimana kamu bisa mendapat izin dari atasanmu sedangkan kita semua tahu jika wanita jahat itu tak menyukaimu. Apa sebelum berangkat ke sini dia sempat memarahimu? Apa ... dia melontarkan kata-kata pedas yang membuatmu sakit hati?" tanyanya penuh selidik.


"Kali ini aku tidak menemui Mbak Puji, Mas. Aku langsung menemui Pak Rama di ruangannya guna meminta izin kepadanya."


"Apa? Jadi ... kamu pergi menemuinya? Kamu berbicara dengannya hanya berduaan saja di ruangan yang sepi dan sunyi itu?" tanya Ghani dengan napas tersengal.


...***...

__ADS_1


__ADS_2