Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Home Sweet Home


__ADS_3

“Kamu bisa datang kan, Lu? Bisa ya? Kalau tidak bisa aku paksa terus sampai bisa.”


Lulu terkikik mendengar permintaan Queensha yang berupa paksaan itu di telepon. “Iya, iya, gue pasti datang. Lo butuh apa, biar sekalian gue beliin. Mumpung sahabat gue udah jadi horang kaya, gue bisa minta pajak sebagai upahnya."


Queensha mencibir dan memutar bola mata malas. "Yang kaya tuh suamiku, bukan aku. Oh ya, aku titip belikan sikat kloset, bisa tidak?"


“Hah? Buat apa?” Sepasang mata Lulu terbelalak sempurna mendengar permintaan sang sahabat.


“Ya buat bersihin kloset lah. Pihak developer lupa tidak menyediakan sikat kloset. Mungkin mereka pikir kloset rumah ini akan bersih selamanya.”


Lulu ketawa. “Yah, itu sih harusnya jadi kesadaran pemilik rumah baru buat beli sendiri. Jangan apa-apa menggantungkan developer dong.”


“Iya deh.” Queensha manyun. “Oke, aku tunggu di sini, ya. Jangan lupa belikan sikatnya.” Queensha pun menutup telepon.


Sebenarnya, alasan Queensha meminta Lulu datang ke rumah barunya adalah untuk memberikan oleh-oleh pada sahabatnya itu. Queensha ingin memberi kejutan. Dia sengaja tidak bilang alasan sesungguhnya, biarlah menjadi kejutan untuk sahabat tersayang.


Untuk masalah sikat kloset, tentu saja Queensha tak mengada-ada. Jadi, dia tak sepenuhnya berbohong pada Lulu, bukan?


Sebelum Lulu datang, Queensha sempat membersihkan ruangan tempat bermain Aurora. Aurora selalu malas memberesan mainannya. Mau tak mau, Queensha lah yang membereskan.


“Aku harus lebih bisa mendisiplinkan Aurora. Apalagi ini mainannya sendiri,” pikir Queensha.


Saat ini Aurora sedang tidur siang. Dia tak mau mengganggu putrinya itu, jadi dia biarkan anak pertamanya tidur dengan nyenyak. Setelah bangun nanti, dia akan memberi pengertian pada Aurora kalau dia harus membereskan mainannya sendiri mulai sekarang.


Sebelumnya, Arumi dengan senang hati akan membantu Aurora. Tapi, kini dia tak tinggal dengan ibu mertuanya. Queensha ingin putrinya belajar mandiri mulai dari hal-hal kecil. Perlahan, dia ingin menanamkan hal itu dalam benak sang putri.


Tak lama kemudian, terdengar bel pintu berbunyi. Queensha yang sedang memasak air di atas kompor segera meninggalkan dapur dan bergegas membukakan pintu untuk sang tamu.


“Ayo, masuk,” ucap Queensha begitu dilihatnya Lulu sudah ada di depan pintu rumahnya.


“Eh, kayaknya ada yang lupa. Apa ya?” Lulu menggaruk jidatnya, seperti melupakan sesuatu.


“Ya ampun, kamu lupa beli sikat kloset?” Queensha manyun, padahal dia ingin segera membersihkan kloset, tapi belum sempat keluar rumah untuk beli alat itu.


“Oh iya! Pantas tadi di jalan kayak ada yang mengganjal.” Lulu nyengir. “Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Ajak Aurora sekalian. Nanti gue traktir es krim.”


“Aurora sedang tidur siang.”


“Hmm, kalau begitu kita pergi berdua saja. Cuma sebentar kok. Di dekat situ ada minimarket yang menjual makanan, minuman sampai perabotan rumah tangga," cetus Lulu memberi ide.


“Oke deh. Tunggu sebentar, aku mau izin dulu kepada Mas Ghani sekalian matiin kompor dan nitip Rora. Rora pasti nangis kalau tahu aku tidak ada di rumah."

__ADS_1


Lulu menggangguk. Dia menunggu Queensha di depan pintu masuk unit apartemen milik sahabatnya.


***


Benar kata Lulu, minimarket yang diaebutkan sahabatnya tak jauh dari gedung apartemen Queensha. Mereka hanya butuh jalan kaki kira-kira sepuluh menit untuk sampai sana. Ditambah memilih sikat kloset, kira-kira lima menit. Pulang lagi sepuluh menit. Jadi totalnya membutuhkan waktu dua puluh lima menit.


“Akhirnya sampai juga,” ucap Queensha sambil membuka pintu unit apartemennya. Tak perlu menekan bel pintu sebab dia mengetahui kata sandi kediamannya.


Lulu ikut masuk. Ini pertama kalinya dia melihat hunian baru Queensha. Mulutnya sedikit ternganga melihat betapa indahnya kediaman Queensha yang berkonsep minimalis, tapi sangat apik itu.


“Guen enggak mau menebak-nebak. Tapi pasti harga unit apartemen ini mahal. Ayo ngaku!” cetus Lulu blak-blakan.


Queensha hanya tertawa. “Jangan ngomongin masalah harga. Itu bukan kapasitasku. Yang memilih rumah ini adalah Mas Ghani. Aku cuma ikut aja.”


Lulu manggut-manggut. “Selera Dokter Ghani bagus. Gue kerasan di sini.” Tanpa permisi, Lulu mendaratkan tubuhnya ke sofa ruang tamu sambil menepuk-nepuk permukaannya yang halus.


"Oh ya, ada sesuatu yang mau aku kasih ke kamu. Sebenarnya itu alasanku mengundangmu ke sini.”


“Lo mau kasih gue apa? Berlian ya?” Mata Lulu penuh harap.


“Berlian dari Hongkong. Udah, tunggu aja di sini. Aku ke kamar sebentar.” Queensha menghilang ke dalam kamarnya untuk mengambil oleh-oleh yang dia persiapkan untuk Lulu.


Karena Lulu adalah teman terdekatnya, Queensha sengaja memberikan oleh-oleh yang disukai sahabatnya itu. Dia pilih aneka pernak-pernik yang sedikit bling-bling yang bisa dikenakan Lulu.


“Wow. Kotaknya eksklusif banget. Kalau dijual pasti dapat duit banyak." Mata Lulu berbinar melihat kotak itu. Saat membuka isinya, matanya makin berbinar melihat apa yang diberikan oleh Queensha padanya.


“Amazing! Ini bagus banget. Thanks banget lho. Lo tau aja selera gue, Sha.” Lulu meraih gelang dalam kotak.


Queensha tersenyum lebar. "Pasti, dong. Kita sahabatan udah lama jadi aku tahu pasti apa kesukaanmu. Kamu menyukainya, 'kan?"


“Tentu aja. Ini semua akan gue simpan seumur hidup." Lulu mendekat. Dia pun memeluk bahu Queensha, sahabat yang sangat dia sayangi itu.


Queensha balas memeluk Lulu. Betapa senang dirinya memiliki sahabat seperti Lulu yang selalu ada di pihaknya, apa pun yang terjadi.


“Omong-omong, ada kabar apa nih selama aku keluar dari restoran?" tanya Queensha. Dia menaruh sikat kloset yang tadi dibeli di kamar mandi, lalu kembali ke ruang tengah untuk ngobrol dengan Lulu.


“Ya ampun, aku lupa bilang. Ada kabar hot soal Puji lho.”


“Hah? Mbak Puji? Ada apa sama dia?” Seketika Queensha teringat sosok Puji yang dia temui di restoran bersama Ghani.


Jujur, Queensha benci sekali pada Puji. Menurutnya sikap Puji sangat buruk padanya. Bekerja di restoran tentunya butuh keramahtamahan. Sayang, sikap Puji jauh dari kata ramah. Wajah yang judes membuat siapa pun enggan berurusan dengannya.

__ADS_1


“Hmm, Puji sudah dipecat dari restoran lho,” lanjut Lulu.


“Hah! Yang bener?” Tak urung, Queensha terkejut juga.


Yah, dengan sifat Puji yang seperti itu, tak mengherankan kalau orang itu dipecat. Sikapnya memang keterlaluan pada Queensha dan Ghani. Kalau saja sikapnya baik, tentu Queensha tak perlu merasa berang atau dendam pada Puji.


“Pihak restoran merasa Puji sudah mencoreng nama baik restoran. Dia sudah berlaku buruk, makanya lebih baik dipecat.”


“Rasakan!” Queensha mengangguk puas. “Salah sendiri sikapnya menyebalkan. Kena akibatnya dia.”


“Orang seperti itu memang harus ditegur agar enggak bersikap seenaknya. Untung sudah dipecat sekarang. Kalau setelah ini sikapnya enggak berubah, hmm ... dia enggak akan bertahan bekerja di mana-mana."


“Aku setuju.”


Queensha dan Lulu sibuk menggosipkan Puji. Topik pembicaraan mereka berpindah-pindah. Dari Puji, Ghani, bahkan Arumi. Tentu saja Queensha menceritakan hal-hal baik yang dilakukan Arumi untuk keluarganya. Pada dasarnya, ibu mertuanya itu amat baik, jadi dia tak bisa menceritakan hal buruk mengenai Arumi pada orang lain.


Tak terasa, hari menjelang sore. Aurora sudah bangun setelah tidur siang selama kurang lebih satu jam setengah.


"Rora sayang, kamu main sebentar dengan Ayah. Setelah itu baru mama bantu kamu mandi."


Dengan patuh Aurora menjawab, "Oke, Mama."


Sementara itu, karena Lulu masih ada acara, dia pun berpamitan pada Queensha. "Sha, gue balik dulu. Kapan-kapan main lagi ke sini."


“Pintu rumah ini terbuka lebar untukmu, Lu. Yuk, kuantar ke depan,” ajak Queensha.


Lulu mengikuti Queensha keluar rumah dan berjalan menuju lift. Saat lift terbuka, Lulu melakukan cipika-cipiki dengan Queensha, lalu masuk ke dalam lift.


“Hubungi aku kalau ada apa-apa ya. Salam untuk Dokter Ghani dan sekali lagi, makasih oleh-olehnya."


“Nope. Makasih juga mau datang ke rumah baruku.” Queensha melambaikan tangan saat pintu lift perlahan menutup.


Begitu pintu lift benar-benar tertutup, pintu lift di sebelah mendadak terbuka. Queensha menoleh. Saat itulah, sepasang kaki melangkah keluar dari sana.


“Mas Leon? Sedang apa di sini?” sapa Queensha begitu sadar yang datang adalah Leon.


Leon segera mendekati Queensha. “Hai, Queensha. Aku datang mau melihat rumah baru kalian, sekalian ada laporan yang harus diperiksa suamimu."


"Aku sudah mengirimkan pesan kepada Ghani, dan dia memintaku untuk datang ke sini."


“Oh, begitu. Mas Ghani ada di dalam. Yuk masuk, nanti aku panggilkan Mas Ghani." Queensha tersenyum sembari mengajak Leon ke rumah barunya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2