
Dua hari setelah tiba di Jakarta, Ghani membuat janji temu dengan petugas fisioterapi di rumah sakit peninggalan mendiang sang nenek. Semangat pria itu untuk sembuh semakin meningkat drastis tatkala Rayyan mendesaknya untuk segera menikahi Queensha guna menghindari suatu hal yang tidak diinginkan. Ghani yang memang sudah tidak sabar ingin segera memiliki Queensha seutuhnya langsung setuju dan berjanji akan mempersiapkan segalanya dalam waktu dekat.
"Sayang, kamu tidak keberatan, 'kan, kalau pernikahan kita digelar akhir bulan ini? Urusan ibu tirimu sudah selesai dan Cassandra pun tak lagi datang mengganggumu jadi kupikir inilah waktu yang tepat bagi kita melangsungkan pernikahan untuk kedua kali. Aku mau kita tinggal satu atap dengan status yang jelas bukan seperti sekarang, setiap malam kamu pulang ke indekos meninggalkanku dengan Rora."
"Kamu tahu tidak berpisah denganmu selama kurang lebih sebelas jam, rasanya seperti satu abad. Aku ingin matahari segera terbit dan menyinari bumi agar dapat bertemu lagi denganmu, Sha. Karena alasan itulah saat ayah mendesakku, tanpa pikir panjang aku langsung mengatakan akan menikahi dalam waktu dekat di depan semua orang."
Ghani menyentuh telapak tangan Queensha yang ada di atas pangkuan. "Maafkan aku jika kamu merasa diriku terlalu tergesa-gesa. Namun, aku tak punya niatan lain selain ingin segera menghalalkamu, Sha. Aku mau kita hidup bersama, mewujudkan semua impian yang belum sempat terlaksana."
Queensha melirik Ghani sebentar, lalu senyum mengembang di bibir sang wanita. Dadanya berdebar lembut membayangkan apa yang akan terjadi usai ikrar suci pernikahan kembali diucap untuk kedua kali. Ada perasaan bahagia diam-diam menelusup ke relung hatinya yang terdalam.
Menggeleng kepala lemah dan berkata, "Sama sekali tidak keberatan, Mas. Aku menghargai niat baikmu ini walau keadaanmu masih kurang sehat, tetapi bersedia mengemban tanggung jawab untuk menjadikanku sebagai istrimu. Terima kasih, Kokoku sayang."
"Jangan katakan itu. Memang sepantasnya aku bertanggung jawab kepadamu bahkan seharusnya sudah kulakukan lima tahun lalu. Namun, karena suatu hal aku baru dapat mempertanggung jawabkannya sekarang. Ke depannya, mohon bantuan dan kerjasamamu untuk membangun rumah tangga harmonis sampai ajal menjemput." Ghani mengakhiri kalimatnya dengan membungkukan sedikit punggungnya di hadapan Queensha. Pun begitu dengan Queensha. Keduanya saling membungkuk satu sama lain.
Kegiatan mereka terhenti saat sopir kediaman keluarga Wijaya Kusuma menghentikan mesin kendaraan tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Pria yang duduk di balik kemudi segera turun, memutar mobil mewah tersebut lalu membukakan pintu untuk Queensha.
Queensha turun terlebih dulu dengan membawa kruk milik Ghani di tangan sementara sopir pribadi yang ditugaskan mengantar jemput anak tertua Arumi membantu putera majikannya turun dari atas mobil.
__ADS_1
"Mang Aceng, berhubung ini pertama kalinya Mas Ghani terapi, saya tidak tahu akan berapa lama di dalam ruang fisioterapi jadi sebaiknya Mamang kembali saja ke rumah biar nanti saya pulang pakai taxi online saja. Daripada Mamang nunggu terlalu lama sebaiknya pulang ke rumah khawatir Bunda atau Ayah membutuhkan Mamang untuk mengantar mereka pergi ke suatu tempat."
"Tidak masalah, Mbak, biar mamang tunggu saja di sini. Tadi Bu Arumi berpesan agar mamang menunggu sampai terapi Den Ghani selesai."
Queensha melirik ke arah Ghani, seakan ingin meminta pendapat pria itu. Ghani mengerti arti tatapan mata itu lantas menjawab, "Mamang pulang saja ke rumah, kebetulan setelah selesai terapi saya ingin mengajak Queensha pergi ke suatu tempat. Saya ... sedang ingin berduaan dengan calon istri saya, Mang."
Wajah Queensha merah merona seperti buah tomat segar. Ia pula menggigit bibir bawahnya. Semakin hari sikap Ghani semakin romantis membuat wanit itu bak seorang gadis remaja yang sedang jatuh cinta.
Mang Aceng ikut tersenyum melihat sikap malu-malu Queensha. Tak ingin mengganggu pasangan yang sedang dimabuk cinta, ia mengangguk patuh dan menuruti permintaan putera sang majikan.
***
"Kasihan sekali, ya, Dokter Ghani. Hanya demi membela istrinya dia sampai terluka. Seandainya saja dia tak membalaskan dendam istrinya itu pasti saat ini dia berada di tengah kita, membantu para pasien dan menolong orang yang membutuhkan."
"Benar sekali. Jika dibandingkan dengan yang lain, kemampuan Dokter Ghani lebih menonjol bahkan dia bisa memecahkan masalah yang tak dapat dipecahkan dokter ahli bedah lainnya. Namun sayang, karena kondisinya saat ini dia tak bisa bergabung dengan tim medis di ruang operasi dan itu semua disebabkan oleh wanita itu."
Ketika mengucap kalimat terakhir, wanita berseragam perawat melirik tajam ke arah wanita yang ada di sebelah Ghani. Merasa kesal karena ulah Queensha, dia tak lagi dapat melihat Ghani bersliweran di rumah sakit. Bagi wanita itu, Ghani seperti pelangi yang muncul setelah hujan reda, memberi kebahagiaan tersendiri di saat tubuh lelah akibat seharian bekerja.
__ADS_1
Ghani hendak mengayunkan kruknya yang menempel di ketiak mendekati dua perawat itu. Ia dapat mendengar jelas percakapan mereka walaupun kedua perawat itu berbisik lirih bagai desau angin di musim gugur.
Queensha menahan pergerakan Ghani, tahu betul apa yang akan dilakukan pria itu. "Biar saja mereka berbicara sesuka hati mungkin dengan begitu beban kerja sedikit berkurang. Kamu pasti tahu betapa melelahkannya bekerja di rumah sakit karena bertemu dengan banyaknya pasien dengan watak, sifat dan latar belakang yang berbeda. Jadi anggap saja kita tak mendengar apa pun."
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi menemui Pak Panji agar kamu segera dapat melakukan terapi. Kalau sudah sembuh kita bisa pergi ke mana pun dengan leluasa. Ingat, kamu punya janji kepadaku dan Aurora, mengajak kami berdua berlibur ke Jepang," ucap Queensha membelai pundak calon suami tercinta. Mencoba menenangkan Ghani agar tidak tersulut emosi.
Ghani menghela napas berat. Terpaksa menuruti permintaan Queensha. Namun, dalam hati berjanji akan melakukan sesuatu kepada dua perawat itu sebagai balasan karena sudah membicarakan hal buruk tentang wanitanya.
'Awas kalian, akan kuminta Zahira untuk memecat kalian berdua karena berani menggunjingkan Queensha di saat jam kerja. Biarlah aku dianggap kejam dan jahat daripada membiarkan rumah sakit ini penuh dengan penggosip seperti kalian.' Yah, Ghani berjanji membereskan kedua perawat wanita itu usai menjalankan terapi pada kakinya yang cidera.
"Ya sudah, ayo! Aku mau secepatnya melakukan terapi agar kakiku dapat berjalan lagi seperti semula." Queensha mengangguk dan tersenyum lebar, sedikit lega sebab usahanya membujuk Ghani berhasil. Akan tetapi, sepertinya Queensha tidak tahu jika diam-diam Ghani telah menyusun rencana untuk mendepak dua wanita dalam balutan seragam perawat.
Maka dua insan manusia berbeda jenis kelamin itu melangkah masuk menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai lima. Tanpa disadari oleh keduanya, seorang wanita bersembunyi di antara pot bunga berukuran orang dewasa. Ia meninju tiang tersebut menggunakan kepalan tangannya.
"Sialan! Kenapa mesti wanita sialan itu, sih? Kenapa bukan gue yang ada di sisi Ghani saat dia sedang terluka begini?" Cassandra menggeram. Ia semakin mengepalkan telapak tangannya di atas tiang penyangga. Rahangnya pun mengeras saat tanpa sengaja melihat tatapan mata penuh cinta ditujukan Ghani kepada Queensha.
"Gue harus melakukan sesuatu. Pokoknya gue enggak akan membiarkan Queensha mendapatkan Ghani sepenuhnya."
__ADS_1
...***...