Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Siuman


__ADS_3

Sementara itu, Ghani sedang duduk di samping tempat tidur pasien. Sejak dipindahkan ke ruang perawatan, tak pernah sekalipun meninggalkan Queensha yang masih betah memejamkan mata di atas pembaringan. Urusan pekerjaan diserahkan sepenuhnya kepada wakil direktur rumah sakit dan juga Leon, yang saat ini menjabat sebagai ketua tim di bangsal Bougenville. Dia menyerahkan seluruh tanggung jawabnya sementara waktu karena ingin fokus mengurusi Queensha.


"Sayang, mau sampai kapan kamu memejamkan mata? Ini sudah dua hari kamu tertidur. Tidakkah kamu merindukanku dan juga Rora? Aku dan putri kita sangat merindukanmu bahkan Rora sering merengek ingin bertemu denganmu. Katanya ingi peluk kamu dan minta dibacakan dongeng sebelum tidur," ucap Ghani sambil membasuh tangan Queensha menggunakan handuk kecil. Tangan Ghani memeras handuk tersebut lalu mengelap leher Queensha yang jenjang. Dia begitu telaten merawat istrinya yang belum sadarkan diri.


"Bangunlah, Sha, aku sangat membutuhkanmu. Aku dan juga Rora rindu masakanmu, Sayang." Ghani meletakkan ember kecil di bawah ranjang pasien. Kemudian menyemprotkan parfum di leher sang istri agar istrinya selalu dalam keadaan wangi walau belum siuman.


Ghani mengusap pipi kanan Queensha seraya menatap sendu wanitanya. "Aku janji kalau kamu bangun nanti, akan kuturuti semua kemauanmu termasuk membelikan es kocok durian kesukaanmu." Lalu pria itu beralih menggenggam tangan istrinya.


Ketika kulit tangan Ghani menyentuh permukaan kulit Queensha, sebuah kedutan pelan membuat jemari lentik itu bergerak pelan, membuat tubuh sang lelaki tersentak dibuatnya. Refleks dia melepas jemari tangan Queensha begitu saja hingga terjatuh ke atas pembaringan.


Memusatkan perhatiannya pada jemari lentik yang tidak terkena jarum infus. "Sha, apa kamu bisa mendengarku? Coba gerakkan jari tanganmu kalau kamu bisa mendengarnya," kata Ghani sesaat setelah dia sadar dari keterkejutannya.


Mata masih terpejam, tetapi Queensha berusaha keras untuk melakukan apa yang dikatakan suaminya. Satu per satu menggerakan jemari lentik sampai pada jari terakhir yaitu jari kelingking, isak tangis mulai terdengar di ruang perawatan VVIP. Ghani menangis haru sebab kini istrinya telah sadarkan diri.


"Ya Tuhan. Alhamdulillah ... kamu ... kamu sudah siuman, Sayang. Tunggu, aku panggilkan Zahira dulu, biar dia memeriksa kondisimu terlebih dulu."


Tanpa membuang waktu, Ghani menekan tombol di sisi ranjang pasien dan tak lama kemudian Zahira serta satu orang perawat wanita datang ke ruang perawatan.


"Dek, barusan jari tangan Kakak Iparmu bergerak. Dia ... dia ... sudah sadarkan diri. Cepat periksa!" Ghani sangat antusias menyambut kedatangan Queensha ke dunia ini lagi. Saking antusiasnya dia bahkan menangis sebagai ungkapan kebahagiaannya.


"Iya iya, aku periksa sekarang. Kakak Pertama tunggu saja di sana, jangan menggangguku saat sedang memeriksa kondisi Kakak Ipar. Aku tidak mau konsentrasiku terganggu akibat tangisanmu." Ada nada sindiran dari perkataan Zahira. Lelaki dingin mirip lemari es 12 pintu ternyata bisa juga menangis.


Zahira berjalan perlahan mendekati ranjang pasien. Usia kandungan memasuki trimester terakhir membuat ruang geraknya terbatas. Karena itulah dia diberi tanggung jawab hanya merawat Queensha saja.


"Kakak Ipar, apa kamu bisa dengar suaraku? Kalau bisa, tolong gerakan lagi jari tanganmu."


Queensha menarik napas panjang, mengerahkan sisa tenaga yang ada lalu mengangkat jari telunjuknya.

__ADS_1


Zahira tersenyum. Queensha meresponnya dengan cepat.


"Hmm, bagus." Kemudian adik ipar Queensha mengeluarkan senter dari saku snelli lalu membuka kelopak mata kakak iparnya dan mengarahkan benda kecil tersebut, membuat pupil mata sang pasien bergerak mengecil dan melebar karena terkena rangsang cahaya. Dia pula memeriksa bagian dada menggunakan stetoskop.


"Kondisi organ vital Kakak Ipar cukup bagus. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja aku sarankan Kakak Ipar untuk bed rest total selama kurang lebih seminggu sampai dua mingguan, mengingat kondisi Kak Queensha masih lemah. Setelah seminggu atau dua minggu, Kakak Pertama bisa ajak Kakak Ipar periksa ke dokter kandungan," papar Zahira panjang lebar.


Ghani mendengar penjelasan Zahira dengan seksama. Walaupun profesinya juga seorang dokter, tetapi dia tetap menghargai saran dari rekan sejawat sekaligus adik kembarnya itu.


"Untuk lebih jelasnya lagi, nanti aku minta dokter kandungan yang bertanggung jawab terhadap Kak Queensha datang kemari guna memeriksa keadaan calon keponakanku. Karena tidak ada lagi yang perlu kujelaskan, aku permisi dulu."


Zahira menatap Queensha beberapa detik sambil berkata, "Kakak Ipar, selamat datang kembali. Aku senang bisa melihatmu lagi."


Queensha hanya tersenyum sebagai balasannya.


Setelah pintu ruang perawatan tertutup, Ghani duduk kembali di kursinya semula. Sisa air mata masih menggendang di sudut mata.


Perlahan mata Queensha terbuka demi melihat wajah pria yang dia rindukan.


Ketika mata indah itu terbuka sempurna, satu butir kristal kembali meluncur di wajah sang suami. Dan itu membuat hati Queensha terasa seperti disayat-sayat. "Mas, kamu menangis?" katanya lemah. Baru saja siuman, dia justru disuguhkan pemandangan langka macam begini. Dia jadi merasa bersalah sudah membuat Ghani khawatir.


Ghani meraih tangan Queensha yang tidak dipasangi jarum infus dan menciumnya berulang kali. Kepala menggeleng sambil terus meneteskan air mata.


"Aku menangis bahagia, Sayang. Aku bahagia akhirnya bisa berkumpul lagi denganmu. Tak tau akan bagaimana jadinya kalau kamu pergi meninggalkanku."


Lama kelamaan tangisan Ghani berubah jadi sesegukan. Dia menangis hingga hampir kehabisan napas.


"Mas, kok kamu ngomongnya gitu. Mana mungkin aku tinggalin kamu dan juga Rora. Aku, 'kan, udah janji akan selalu ada di sisimu selamanya."

__ADS_1


Suara Queensha lirih, tetapi Ghani dapat mendengarnya dengan jelas. Dia mengatupkan bibir, menahan tangis agar tak lagi pecah.


"Ya, kamu benar. Kamu memang berjanji padaku untuk selalu ada di sisiku. Jadi, kamu tak boleh pergi ke mana-mana tanpa izin dariku." Ghani mengusap kening istrinya. "Terima kasih sudah kembali kepadaku dengan membawa ketiga anak-anak kita. Aku mencintaimu, Sha. Sangat sangat mencintaimu."


"Sekarang kamu istirahatlah. Aku akan menjagamu."


Ghani mengusap-usap kepala Queensha, memperlakukan istrinya layaknya anak kecil. "Tidurlah Sayang, aku akan menjaga kalian dengan baik."


Queensha tersenyum samar. Lalu mencoba memejamkan matanya lagi. Belaian lembut Ghani membuatnya merasa tenang, dia seperti tengah dinina bobokan Daniah, mama tersayang.


Tak lama kemudian rasa kantuk datang menghadang, lalu perlahan bunyi dengkuran halus terdengar petanda bahwa Queensha telah kembali ke alam mimpi.


Tanpa disadari Ghani ataupun Queensha, pasangan suami istri lanjut usia berdiri sambil memperhatikan keromantisan mereka dari jendela pintu ruang rawat inap. Arumi bahkan tak kuasan menahan diri untuk tidak menangis, terharu akan kisah hidup perjalanan anak dan menantunya.


"Syukurlah semuanya baik-baik saja. Aku pikir Queensha tak akan bangun lagi dari tidurnya."


"Tidak mungkin. Queensha tuh sayang banget pada Ghani dan Rora, dia pasti kembali untuk suami dan anaknya," sahut Rayyan. "Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke rumah. Biarkan Ghani berduaan dengan Queensha. Sore atau malam baru datang lagi ke sini, sekalian ajak Rora. Dia pasti senang melihat Mamanya siuman."


Arumi mengangguk. Dia dan suami memutuskan pulang ke rumah, memberi ruang pada Ghani dan Queensha untuk melepas rindu.


Tadi, sesaat setelah mendapat kabar dari Zahira tentang Queensha yang sudah sadarkan diri, Arumi bergegas pergi ke rumah sakit. Dengan ditemani suami tercinta, dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit sepi menuju kamar perawatan VVIP, yang diperuntukkan khusus bagi anggota keluarga Rayyan. Niat hati ingin melihat kondisi menantu tersayang, dia diberi suguhan menarik yang membuatnya teringat akan masa mudanya dulu.


Perhatian dan kasih sayang yang diberikan Ghani kepada Queensha, mengingatkannya pada sosok lelaki di sebelahnya. Sikap Rayyan sejak dulu hingga sekarang tak pernah berubah, selalu menyayangi dan mencintai meski usia mereka telah mencapai setengah abad.


Mungkin, karena sering melihat prilaku sang ayah, bagaimana Rayyan memperlakukan Arumi dengan baik, Ghani mencontoh ayahnya itu. Jadi tak heran jika Ghani tumbuh menjadi pria gentle, begitu perhatian dan pengertian pada istrinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2