Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
"Apa Aku Memang Tidak Pantas?"


__ADS_3

Setelah berbicara secara empat mata dengan putera sulungnya, Rayyan meninggalkan ruangan. Niat hati ingin membesuk cucu ketiganya, tetapi ia membatalkan rencana tersebut saat menyadari bahwa suasana hati semua orang sedang tidak baik-baik saja. Berjalan keluar ruang perawatan VVIP yang secara khusus disediakan bagi para anggota keluarga dari pemilik rumah sakit.


Dari jarak satu meter, Rayyan dapat melihat Arumi yang sedang sibuk mengatur napas. Mungkin akibat kejadian tadi membuat dada wanita itu terasa sesak hingga pasokan oksigen dalam paru-paru berkurang.


Mempercepat langkah sebab sangat mengkhawatirkan kondisi istri tercinta. "Apa dadamu masih sesak? Kalau iya, aku antar memeriksakan kondisimu terlebih dulu sebelum pulang ke rumah," ucap Rayyan dengan penuh cemas. Ia benar-benar takut apabila terjadi hal buruk menimpa wanita yang telah menemaninya selama hampir tiga puluh dua tahun.


Arumi melambaikan tangan ke udara, memberi kode bahwa ia baik-baik saja. "Tidak perlu, Honey. Kondisku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya," sahut wanita itu.


"Omong-omong, apa kamu sudah menasihati putera kita? Aku tidak mau loh kalau kejadian ini terulang kembali. Kalau sampai aku mendengar Ghani berkata begitu lagi, entah harus dengan cara apa menyadarkan anak itu bahwa perkataannya telah menyakiti perasaan menantu kita."


Menghela napas panjang dan berat. "Nanti saja aku ceritakan. Lebih baik sekarang kita pulang ke rumah. Aku lelah dan ingin istirahat," jawab Rayyan. Ia sengaja mengajak Arumi pergi meninggalkan rumah sakit. Selain karena tubuhnya terasa lelah, ia pun tak mau membahas masalah Ghani di depan Queensha. Biarlah percakapan itu menjadi rahasia mereka berdua.


Mengerti ada makna tersendiri di balik ucapan sang suami, Arumi menoleh ke sebelah kiri di mana menantunya duduk. "Sha, bunda dan Ayah mau pulang ke rumah. Kamu mau ikut bersama kami?" tawarnya kepada menantu perempuan pertama di keluarga Wijaya Kusuma.


Dengan cepat Queensha menjawab, "Tidak perlu, Bunda. Aku mau di sini saja. Kasihan Rora kalau sampai terbangun lalu tak mendapatiku di sisinya, dia pasti menangis kencang seperti biasanya."


"Namun, kamu akan tidur di mana, Sha? Ghani saja tak mengizinkanmu masuk ke ruang perawatan? Ehm ... atau gini saja. Bunda minta perawat siapkan satu kamar di sebelah ruang perawatan Rora khusus untuk kamu, ya? Jadi kamu bisa istirahat dan membersihkan tubuhmu di kamar sebelah."


"Bunda tidak mau kamu jatuh sakit dengan memaksakan diri tidur di kursi tunggu. Di sini tuh banyak nyamuk dan udara sekitar sini pun cukup dingin, nanti yang ada tubuhmu malah nge-drop. Kalau kamu sakit, bagaimana dengan Rora? Dia pasti sedih melihat Mamanya ikutan sakit." Arumi mencoba membujuk Queensha agar wanita itu menerima sarannya.

__ADS_1


Jika Queensha menolak opsi pertama, setidaknya ada opsi kedua yang Arumi tawarkan kepada menantunya itu. Berharap Queensha dapat memilih satu dari dua pilihan yang ditawarkan.


"Tapi, Bun. Aku tidak enak hati kalau sampai merepotkan orang lain." Menundukan kepala sambil mencengkeram tangan satu sama lain.


Dari sejak kecil, Queensha sudah terbiasa hidup mandiri, melakukan apa pun sendiri tanpa bantuan siapa pun. Sehingga wanita itu merasa tidak sampai hati bila harus menyusahkan orang lain. Terlebih itu adalah Arumi, ibu mertua yang amat sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri.


Perhatian yang diberikan Arumi kepadanya membuat Queensha seakan melihat mendiang ibu kandungnya dalam diri wanita paruh baya itu. Arumi memperlakukan Queensha dengan baik seperti anaknya sendiri meski ia hanya menantu di keluarga itu, tetapi wanita berparas cantik jelita tak sekalipun membandingkannya dengan Zahira maupun Shakeela.


"Hush, ngomong apa sih, Sha. Bunda sama sekali tak merasa direpotkan olehmu. Justru bunda senang kalau kamu menerima opsi yang kedua. Nanti bunda minta Ijah mengantarkan pakaianmu dan Ghani ke sini. Jadi kalian bisa mengganti pakaian tanpa perlu pulang ke rumah."


"Baiklah. Kalau Bunda maunya begitu, aku tak akan menolaknya. Terima kasih, ya, Bun." Queensha memaksakan diri tersenyum lebar meski perasaan wanita itu campur aduk antara sedih, kecewa dan marah. Namun, ia mencoba memberi senyuman kepada Arumi dan Rayyan.


Berada dalam dekapan seorang ibu, Queensha seolah tengah merasa seperti sedang dipeluk oleh mendiang ibu kandungnya yang telah lama meninggal dunia. Detak jantung Arumi bagaikan melodi indah yang menenangkan kalbu. Kelembutan dan ketulusan hati sang mertua membuat Queensha tak kuasa menahan debaran halus yang sama seperti saat ibu kandungnya masih berada di sisinya.


Tanpa sadar, Queensha meneteskan air mata. Ia tak sanggup membendung lagi buliran kristal itu untuk tidak jatuh membasahi pipi.


Jemari lentik itu menghapus air mata di sudut mata Queensha. "Jangan menangis lagi. Selama bunda masih hidup, tak akan kubiarkan ada orang lain menghinamu. Sekalipun itu adalah Ghani, bunda akan membelamu. Jadi, jangan pernah merasa sendiri karena bunda selalu berada di sisimu."


Sedari tadi hanya diam, Rayyan membuka suara. "Kita pulang sekarang, sebelum terjadi kemacetan di mana-mana." Pria itu menyodorkan tangan kemudian disambut hangat oleh Arumi. Lalu kedua insan manusia itu melangkah pergi meninggalkan Queensha setelah berpamitan kepada menantu mereka.

__ADS_1


Mata sayu menatap daun pintu yang tertutup rapat. Di dalam sana ada suami yang sangat membencinya. Namun, ada sosok gadis kecil yang begitu ia sayangi.


Berbicara soal Ghani, Queensha teringat bagaimana pria itu menghinanya dengan kata-kata pedas.


Queensha tidak becus menjalankan tugasnya sebagai seorang Ibu!


Dia ... cuma bisa membawa musibah kepada keluarga ini!


Dia itu perempuan pembawa sial!


Itulah kalimat yang mampu menghancurkan hati Queensha menjadi berkeping-keping. Hati wanita itu remuk redam seperti vas bunga yang dilempar ke lantai. Hancur menjadi beberapa kepingan. Istri mana yang tak sakit hati bila suami yang menikahinya tega berkata begitu di depan ayah dan ibu mertuanya.


"Ya Tuhan, apa benar yang dikatakan Pak Ghani, kalau aku memang tak pantas menjadi seorang Ibu? Pertama, Engkau ambil kembali putriku dan apakah kali ini aku pun harus berpisah dengan Rora, putri sambungku? Sungguh, aku tak sanggup bila harus kehilangan putriku untuk kedua kali."


Membayangkan itu semua membuat tubuh Queensha lemas dan tak bertenaga. Kepingan kejadian masa lalu kembali terlintas di benak wanita itu. Kembali merasa sesak setiap kali ingat kejadian lima tahun lalu.


Menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak. Pak Ghani tidak boleh memisahkanku dengan Rora. Aku tidak mau kalau sampai berpisah dengan putri sambungku. Ya, aku harus melakukan apa pun asalkan tetap diizinkan berada di sisi Rora."


...***...

__ADS_1


__ADS_2