Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Jauhi Ghani


__ADS_3

Hari semakin siang, matahari pun semakin cerah bersinar menyinari bumi. Usai mendapat semua informasi tentang Queensha, Cassandra memutuskan menemui rivalnya itu di restoran cepat saji tempat wanita itu bekerja. Dari Adrian juga ia mendapat berita bahwa hari ini Queensha bekerja sampai restoran tersebut tutup sehingga ia mempunyai banyak waktu untuk berbincang dengan mantan istri Ghani.


"Pokoknya gue harus memisahkan mereka. Jangan sampai Ghani tahu bahwa wanita yang dia perkosa adalah mantan istrinya sendiri! Gue enggak rela perempuan itu hidup bahagia bersama lelaki yang gue sukai." Cassandra semakin mempercepat langkah kaki menuju parkiran rumah sakit.


Saat tiba di parkiran mobil, Cassandra membuka pintu lalu menutupnya dengan kencang. Ia harus segera menemui Queensha sebelum kebenaran terungkap.


Menerobos lalu lintas kota Jakarta, akhirnya Cassandra tiba di restoran. Gadis itu mengedarkan pandangan, mencari sosok wanita yang ingin ditemuinya.


Akan tetapi, Cassandra tak menemukan Queensha di mana pun. Mungkin saja wanita itu sedang sibuk mengerjakan sesuatu di belakang. Begitu yang dipikirkan gadis itu.


Gelagat aneh Cassandra menarik perhatian Puji. "Sedang apa wanita itu di sini? Kenapa tingkah lakunya terlihat mencurigakan," gumamnya lirih. "Sebaiknya aku hampiri dia dan mencari tahu tujuannya datang ke sini. Gue yakin dia ke sini bukan hanya ingin makan, tetapi juga ada tujuan lain."


Wanita yang terkenal akan mulutnya yang pedas berjalan mendekati salah satu pengunjungnya itu. "Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" sapanya ramah sambil mengulum senyum di bibir. Jika melihat secara sekilas, orang lain pasti tak menduga jika wanita itu mempunyai perangai kurang baik. Iri, dengki dan sering berbicara sinis menjadi ciri khas Puji. Hampir semua pegawai restoran pernah menjadi korbannya.


Memasang wajah masam, Cassandra menjawab, "Saya ingin bertemu Queensha, salah satu pelayan di restoran ini. Apa bisa kamu panggilkan dia?" ucapnya to the point.


Mata memicing tajam, mencoba mencari tahu ada hubungan apa antara Cassandra dengan Queensha sebab seingatnya ini kali pertama ada seseorang yang ingin bertemu dengan bawahannya.


"Kalau boleh tahu, ada keperluan apa Nona mencarinya?" tanya Puji penuh selidik. "Maaf, bukannya saya ikut campur dalam urusan pribadi Anda. Hanya saja saat ini semua pelayan masih sibuk bekerja, mereka tidak dapat sembarangan menerima tamu. Akan menimbulkan kerugian besar bagi restoran jika salah satu dari mereka lepas tanggung jawab."


"Sebagai salah satu orang yang dipercaya Bos, saya tidak mau mengecewakannya. Jadi, kalau tidak ada hal urgent, Nona bisa menemui Queensha saat shift-nya selesai. Nona dapat dengan leluasa berbincang dengan wanita itu tanpa perlu khawatir diganggu saya maupun rekan kerja yang lain."


Mendengkus kesal karena merasa Puji mempersulitnya. "Jika memang kehadiran saya merugikan restoran ini maka saya siap membeli waktu yang terbuang." Melipat kedua tangan di depan dada. "Katakan, berapa nominal yang harus kubayar untuk dapat berbicara empat mata dengan Queensha?"


"Berapa pun?" tandas Puji memastikan.

__ADS_1


"Benar. Berapa pun, saya sanggup membayarnya."


Sudut bibir Puji tertarik sebelah saat terlintas sebuah ide untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kapan lagi ia mendapat untung besar jika tidak sekarang.


"Sepuluh juta rupiah untuk tiga puluh menit, bagaimana? Saya rasa tiga puluh menit cukup bagi kalian untuk berbicara secara empat mata."


'Dasar mata duitan! Kalau bukan karena gue butuh bantuannya, mana mungkin sudi mengeluarkan uang sebanyak itu demi berbicara dengan Queensha. Susah payah nyari duit, dia seenaknya saja meminta nominal besar. Tidak tahu malu!' gerutu Cassandra dalam hati.


Kendati demikian, Cassandra terpaksa menerima permintaan Puji karena hanya dengan cara itu bisa bertemu Queensha.


"Done! Jadi apakah saya dapat berbicara dengan Queensha saat ini juga? Waktu saya terbatas jadi tidak bisa terlalu lama meninggalkan rumah sakit," kata Cassandra setelah selesai mengirim uang ke rekening Puji.


Memukul gawai ke telapak tangan. Sudut bibir terus mengulum senyum sebab hati merasa bahagia karena baru saja mendapat rezeki tak terduga.


Cassandra menuruti perintah Puji dengan patuh. Ia duduk di kursi sambil menatap punggung atasan Queensha dengan tatapan kesal. Bagaimana tidak, baru delapan jam terbangun, ia sudah kehilangan uang sepuluh juta rupiah.


Tak berselang lama, tampaklah Queensha masuk ke dalam ruangan. Terkesiap selama beberapa saat ketika melihat siapakah gerangan yang tengah menunggunya di depan sana.


Menoleh ke belakang, menatap penuh tanda tanya pada Puji. Puji yang mengerti arti tatapan itu segera berkata, "Temuilah dia dan jangan sampai meninggalkannya sebelum masalah antara kalian selesai!" Usai mengucap kalimat itu, ia meninggalkan Queensha yang masih membeku di tempat.


Queensha mendekat dan berdiri di seberang Cassandra. Jarak antara mereka hanya dipisahkan satu buah meja berbentuk segi empat.


"Permisi, apa Nona mencari saya?" tanya Queensha.


"Benar. Duduklah karena kita akan berbincang cukup lama. Saya tidak mau kamu jatuh pingsan setelah mengetahui tujuan kedatangan saya ke sini."

__ADS_1


"Sebelumnya kenalkan nama saya adalah Cassandra, adik tingkat Ghani sewaktu masih kuliah dulu. Saya adalah-"


"Kekasih Pak Ghani. Itu 'kan yang mau Nona sampaikan pada saya," sergah Queensha cepat.


Cassandra tertegun mendengar ucapan Queensha. Tidak menduga jika rivalnya itu menganggap dirinya adalah seseorang yang spesial dalam hidup Ghani. Banyak pertanyaan muncul dalam benak wanita itu. Namun, sebuah kesadaran muncul ke permukaan. Bukankah ini merupakan kesempatan bagus untuk menjauhkan Queensha dari kehidupan Ghani selamanya?


Sedetik kemudian Cassandra tersenyum smirk dan menaikan dagu ke atas. Kedua tangan terlipat di depan dada. "Oh, ternyata kamu sudah tahu rupanya. Apa Ghani yang memberitahumu tentang hubungan kami?"


Melihat sikap angkuh Cassandra, Queensha yakin jika wanita di hadapannya ini tipe perempuan sombong dan selalu meremehkan orang lain.


'Jadi seperti ini wanita idaman mantan suamiku? Kuakui dia memang cantik, berkelas dan anggun. Namun sayang, perangainya jelek. Entah dari segi mana Pak Ghani menyukai wanita ini. Apa karena dia anak orang kaya dan berpendidikan tinggi hingga mantan suamiku itu mencintainya?' Queensha bermonolog.


Jika dibandingkan dengan Cassandra, Queensha memang tidak ada apa-apanya. Kedua wanita itu bagaikan langit dan bumi jadi sangat wajar jika Ghani lebih memilih Cassandra daripada Queensha.


"Itu tidaklah penting!" sahut Queensha menahan emosi. Membayangkan statusnya sebagai nyonya Ghani segera diseger, muncul percikan api cemburu dalam diri wanita itu.


"Katakan, apa sebenarnya yang ingin Nona katakan kepada saya? Saya masih punya banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Jadi tidak bisa terlalu lama menemani Anda di sini," sambung Queensha.


"Sok sibuk! Hanya seorang pelayan saja sudah sombong, bagaimana kalau kamu bekerja di rumah sakit. Tidakkah waktu seorang dokter itu lebih berharga daripada pelayan rendahan sepertimu!" sembur Cassandra yang napas tersengal. Jengah dengan sikap sombong yang ditujukan kepadanya.


Menghela napas panjang dan berat. "Baik, kalau begitu to the point saja agar waktu kita tidak terbuang sia-sia."


Cassandra menyilangkan kedua kaki kemudian menopang dagu menggunakan punggung tangan. "Saya mau kamu pergi jauh dari kehidupan Ghani dan jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi di depan kekasihku!" ujarnya tegas.


...***...

__ADS_1


__ADS_2