
Setelah kepulangan Juragan Tatang dari rumah orang tuanya, Lulu langsung marah-marah dengan ibunya. Bagaimana tidak. Fatimah menjadikan dirinya sebagai jaminan pelunas utang. Pantas saja selama ini sang ibu bersikeras meminta dirinya pulang ke kampung karena ternyata berniat menikahkan dirinya dengan rentenir yang doyan daun muda.
"Ibu keterlaluan! Kenapa tega jadiin aku jaminan utangnya ibu pada Juragan Tatang? Emangnya selama ini uang kirimanku berikut gaji Bapak dan Ibu jadi buruh di kebun Pak Haji Kasman tidak cukup memenuhi kebutuhan di dapur sampai pinjam ke rentenir buaya darat model Juragan Tatang." Lulu menatap sendu pada sosok Bu Fatimah. Ibunya yang selama ini dia anggap sebagai panutan dan dia hormati tega menjadikannya jaminan pelunas utang.
Dengan bibir gemetar, menahan rasa bersalah dalam dada, Bu Fatimah berkata, "Lu, maafin, ibu. Saat itu ibu tidak tahu harus melakukan apa selain jadiin kamu jaminan. Ibu menyesal telah menyodorkanmu pada tua bangka macam Juragan Tatang."
Bu Fatimah tidak pernah berpikir akibat kebodohannya hubungannya dengan Lulu akan semakin renggang. Anak yang dikandungnya selama 9 bulan justru membenci dirinya.
Mengepalkan tangan di samping badan dan menjawab, "Maaf Ibu bilang? Segampang itu Ibu bilang maaf padaku setelah apa yang terjadi hari ini. Coba Ibu bayangkan, apa jadi padaku jika seandainya Mas Leon tidak ada di sini. Bisa dipastikan saat ini aku dipaksa menikah dengan lelaki yang tak pernah kucintai. Ibu tega melihatku hidup menderita seumur hidup?" Lulu tak lagi dapat menahan diri untuk tidak memarahi sang ibu. Kali ini sikap ibunya telah melampui batas dan Lulu tak lagi dapat mentolerirnya lagi.
"Lulu kecewa sama Ibu. Bisa-bisanya menjerumuskan Lulu dalam jurang penderitaan. Apa di mata Ibu, Lulu tidak punya arti apa-apa sampai tega menyodorkanku pada lelaki hidung belang? Selama ini Lulu berusaha menjadi anak yang baik demi membahagiakan Ibu dan Bapak, tapi apa yang kudapat. Ibu malah tega menjual anak sendiri. Lulu benci, Ibu!" Tanpa terasa air mata Lulu meluncur begitu saja. Dada gadis itu terasa sesak seakan ada lempengan besar menghimpit dadanya.
Bagai mendapat sebuah tamparan keras mendengar penuturan sang putri. "Lu, maafin ibu. Ibu mengaku salah. Tolong maafkan ibu, Nak." Bu Fatimah meraih tangan Lulu, tetapi dihempaskan begitu saja oleh anak semata wayangnya itu.
Lelehan air mata terus berjatuhan, membuat Bu Fatimah ikut merasakan bagaimana sedihnya hati Lulu.
"Jadi ini alasannya kenapa Ibu setiap kali nelepon Lulu untuk cepat pulang, ternyata Ibu mau menikahkanku dengan laki-laki hidung belang. Astaga Ibu, tega ya sama Lulu." Lulu meraup wajahnya menggunakan telapak tangan. Dia frustrasi sekali dengan kenyataan yang ada di depan mata.
"Lu—"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Lulu telah lebih dulu menyergah. "Lulu benci, Ibu! Sangat membenci Ibu!" Lulu terlihat kecewa, meninggalkan kamar ibunya setelah meluapkan semua kekesalannya pada ibunya itu.
Bu Fatimah yang melihat putrinya pergi begitu saja diliputi rasa bersalah. Sungguh, dia menyesal karena dengan bodohnya menyerahkan buah cintanya bersama suami tercinta.
Leon tanpa sengaja mendengar pertengkaran itu segera menyusul kekasihnya menuju teras rumah. Didekatinya Lulu yag sedang duduk menangis seorang diri.
"Neko-chan," panggil Leon dengan sebutan kesayangan. Dia mengelus pundak kekasihnya agar sang wanita tenang kembali.
__ADS_1
"Mas, aku bener-bener enggak paham kenapa Ibu sampai tega ngelakuin itu sama aku. Kamu pasti tau gimana perjuanganku selama ini demi kedua orang tuaku. Aku rela kerja lembur bahkan menerima double shift agar bisa mendapat uang tambahan untuk bisa kukirimkan ke kampung halaman. Namun, apa yang kudapatkan. Ibu malah memperlakukanku dengan tidak adil."
"Tanpa sepengetahuanku, Ibu malah minjem uang ke rentenir dan jadiin aku jaminan. Kenapa, Mas?" Lulu terisak di dada bidang sang kekasih. Dia luapkan segala kesedihan di hadapan pria yang amat dicintainya itu.
Leon mendekap tubuh ringkih itu dalam pelukan. "Sst, udah, jangan nangis lagi."
Namun, tampaknya Lulu masih ingin menangis karena dia benar-benar kecewa akan perlakuan sang ibu kepadanya. "Aku salah apa sih, selama ini? Kenapa tega jadiin aku jaminan. Kalau aja tadi enggak ada kamu, gimana nasib aku, Mas? Aku bakal jadi istri Juragan Tatang yang kelima. Enggak terbayang, gimana sialnya aku nikah dengan tua bangka macam dia," ucap Lulu. Membayangkan saja sudah membuat Lulu takut apalagi sampai hal itu terjadi.
Leon menyentuh bahu Lulu. Lalu dia pandangi sepasang mata bundar yang tengah mengeluarkan air mata. "Memangislah jika memang itu membuatmu tenang." Maka Lulu menangis kembali tanpa merasa malu sedikit pun
Beberapa menit kemudian, Lulu sudah sedikit tenang, Leon mulai menasihati calon istrinya itu. "Lu aku tahu kamu marah. Tapi, seharusnya kamu tidak marah-marah ke Ibu kamu seperti tadi. Tidak baik memarahi dan mengatakan hal yang buruk kepada ibumu sendiri."
"Aku kecewa banget sama Ibu, Mas. Jadi wajar dong kalau marah-marah sama beliau." Lulu melepaskan diri dari pelukan Leon. Bisa-bisanya Leon membela ibunya padahal bu Fatimah bersalah.
"Iya, aku paham. Tapi bagaimanapun juga dia adalah ibumu, orang yang udah ngelahirin kamu dengan taruhan nyawanya. Kelak, saat kamu udah jadi ibu, akan ngerasain gimana rasanya dibenci anak kandungmu sendiri. Rasanya sakit benget, Lu."
"Sini, peluk dulu!" Leon membawa tubuh Lulu lagi dalam pelukan. "Aku tau kamu enggak akan setega itu pada anak-anak kita kelak. Kamu itu calon ibu yang baik buat anak-anak kita."
"Masalah ibumu, apa enggak sebaiknya kamu coba maafin beliau dan ngelupain apa yang terjadi di antara kalian. Aku yakin, beliau menyesali perbuatannya. Lu, surgamu masih ada di telapak kaki ibu. Selagi kamu belum nikah denganku, kamu berkewjiban untuk berbakti kepada ibumu. Sekalipun dia berbuat salah, kamu masih tetap menghormatinya. Jangan sampe jadi anak durhaka!"
Perlahan-lahan, semua perkataan Leon meresap ke relung hatinya terdalam. Dia mulai menyadari kesalahannya itu.
Mengusut butiran air mata di sudut bibir. "Makasih udah mau jadi pendengar setiaku. Kamu bukan cuma pacar, tapi juga teman curhat yang baik. Aku beruntung bisa kenal kamu, Mas."
Leon mencubit kedua pipi Lulu dengan gemas. "Kembali kasih. Itulah gunanya pacar, selalu ada di saat suka maupun duka. Sekarang kamu coba minta maaf pada ibumu dan mulai berdamailah dengan beliau. Hidupmu pasti lebih tenang setelah berbaikan dengan ibumu."
***
__ADS_1
Di sisi lain, hal serupa dilakukan Idris. Meskipun kecewa dengan sikap sang istri yang tanpa sepengetahuannya berutang pada Juragan Tatang dan menjadikan Lulu sebagai jaminan, dia berkewajiban untuk menasehati istrinya jika melakukan kesalahan.
"Ibu. Kenapa sampai jadiin Lulu jaminan untuk utang-utangmu? Bapak sebagai kepala keluarga saja tidak tahu kalau Ibu pinjam uang sama Juragan Tatang. Ibu 'kan tahu Juragan Tatang kayak gimana. Lintah darat yang mengambil banyak keuntungan dari orang-orang yang berutang kepadanya," ucap Pak Idris. Ada sorot kekecewaan dari pancaran matanya. Bu Fatimah bukan lagi wanita yang dia kenal. Wanita itu telah banyak berubah seiring berjalannya waktu.
"Iya, maafin ibu, Pak. Waktu itu ibu enggak pikir panjang langsung nerima uang pemberian Juragan Tatang begitu aja," kata Bu Fatimah. Kepalanya masih menunduk ke bawah, tak berani menatap iris coklat suaminya itu.
"Lulu anak perempuan kita satu-satunya, tapi Ibu malah nyakitin dia. Apa Ibu betulan tega, jadiin anak kesayangan kita sebagai istri kelima Juragan Tatang? Kalau bapak sih ogah. Mending Lulu melajang seumur hidup ketimbang jadi bini kelima lintah darat itu." Saking ogahnya mempunyai menantu seperti Juragan Tatang, Pak Idris sampai berucap yang tidak-tidak.
"Maaf, Pak. Waktu itu ibu bener-bener gelap mata, tidak bisa berpikir panjang. Ibu pikir dengan menikahkan Lulu dengan orang kaya raya, hidupnya terjamin, tapi nyatanya tidak. Lulu malah semakin tersiksa karena nikah dengan lelaki yang tidak dia cintai."
Pak Idris geleng-geleng kepala. "Bu, harta tidak akan menjamin Lulu bahagia, malah bisa saja membuatnya menderita. Memangnya Ibu pikir jadi istri kelima dari lelaki tukang kawin macam Juragan Tatang, enak? Tidak, Bu. Tuh si Sekar, dia malah kepingin pisah dari Juragan Tatang karena tidak tahan dimadu. Lah Ibu malah nyodorin anak sendiri ke mulut buaya. Istighfar, Bu."
Fatimah terdiam. Benar kata suaminya, jika harta bukan jaminan seseorang hidup bahagia. Banyak orang kaya di kampungnya, tetapi kebanyakan dari mereka tak menikmati semua harta kekayaannya itu.
"Pak, misalkan ibu minta maaf pada Lulu, kira-kira dimaafin tidak, ya? Ibu menyesal telah membuat jarak di antara kami semakin terbentang luas."
Pak Idris mengganti pakaiannya dengan baju koko sebab sebentar lagi azan zuhur berkumandang dan itu artinya dia harus pergi ke masjid, menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
"Bapak tidak tau, Bu, soalnya kesalahanmu ini fatal sekali. Tapi, kalau kamu mau minta maaf, minta maaf saja. Siapa tau Lulu bersedia maafin kamu." Pak Idris menutup lemari pakaian usai baju koko membalut tubuhnya dan sarung membungkus kakinya yang jenjang. "Kita tidak pernah tau jika tidak mencobanya. Kalaupun memang Lulu tidak memaafkanmu, teruslah berusaha sampai dia memaafkanmu."
"Bapak mau ke masjid dulu. Ibu tolong siapkan makan siang, kasihan Lulu dan Nak Leon belum makan apa-apa sejak mereka datang. Bapak udah siapkan ikan nila di lemari es, bisa Ibu goreng untuk lauk makan kita. Buatkan sambel kesukaan Lulu juga, biar hatinya kembali tenang. A sudah, bapak tinggal dulu. Kamu bail-baik di rumah, jangan buat masalah lagi dengan Lulu. Assalamu a'laikum," ucap Pak Idris sebelum melangkah meninggalkan rumah.
"Wa'alaikum salam," jawab Bu Fatimah.
...***...
__ADS_1