Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
It's Wedding Day


__ADS_3

Hanya tersisa tiga jam lagi, prosesi ijab kabul akan segera dilangsungkan. Keluarga Ghani telah tiba di hotel bintang lima sejak pukul lima subuh tadi, sementara Queensha ditemani Lulu, telah berada di hotel sejak kemarin sore. Arumi memesan tiga kamar presidential suite untuk Queensha serta keluarga dari pihak mendiang Gunawan. Walaupun Queensha tak lagi diakui menjadi bagian keluarga dari pihak Gunawan maupun mendiang sang mama, tetap saja Rayyan mengundang sanak saudara calon menantunya untuk hadir dalam momen sakral tersebut karena bagaimanapun hak untuk menikahkan Queensha ada pada pamannya.


Beberapa waktu lalu, atau lebih tepatnya dua minggu sebelum acara digelar, Queensha mengajak Ghani serta kedua calon mertuanya bertandang ke kediaman paman serta bibinya yang berada di Bandung. Tujuan kedatangan wanita itu untuk memberitahu perihal pernikahannya yang kedua sekaligus meminta Andre menjadi wali nikah, menggantikan tugas Gunawan.


"Begitulah ceritanya. Jadi saya harap, Pak Andre dan Bu Eva bersedia hadir dalam prosesi ijab kabul dan resepsi pernikahan putera putri kita. Walaupun saya tahu dari pihak keluarga sudah tak sudi lagi berurusan dengan Queensha karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarga, tapi kalian punya tanggung jawab untuk mengantarkannya menuju gerbang pernikahan," ujar Rayyan dengan tegas. Nada bicara pria itu terdengar dingin dan mengintimidasi membuat keluarga dari pihak saudara Queensha ketakutan melihat sosok pria paruh baya yang ada di depan mereka.


Namun, tidak dengan Eva, bibinya Queensha. Wanita paruh baya itu menunjukan sikap ketidaksukaannya akan kedatangan Queensha. "Dasar keponakan tidak tahu diri. Sudah melempar aib ke wajah keluarga kini meminta suamiku menjadi wali nikahnya. Tampaknya urat malu dia sudah putus sampai berani datang ke sini untuk meminta doa restu," gumamnya lirih. Ia kesal karena tiba-tiba saja Queensha muncul kembali dengan membawa berita yang cukup mengejutkan.


Rayyan yang mendengar gerutuan Eva, langsung memasang wajah menyeramkan. Tatapan mata pria itu tajam bagai seekor burung elang yang mengintai mangsanya di daratan. Ia tidak suka jika calon menantunya dijelek-jelekan orang lain. Sekalipun itu adalah saudaranya Queensha sendiri, ia tetap tidak menyukainya.


"Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, terpenting adalah bagaimana dia memperbaiki dirinya sendiri dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama." Tatkala mengucap kalimat tersebut, pandangan mata Rayyan tak mau lepas dari Eva. Ada nada sindiran dari setiap kalimat yang terucap dari bibirnya.


Mata Eva melotot, tidak menduga Rayyan akan menyindirnya secara halus. Ia bersiap membuka mulut hendak menyahuti ucapan calon besannya itu. Namun, Andre telah lebih dulu menyela sang istri.


"Pak Rayyan benar, tanggung jawab untuk menikahkan Queensha ada pada saya. Setelah kepergian Gunawan maka saya satu-satunya orang yang bisa wali nikah bagi keponakan saya. Kapan acara itu diadakan? Saya harus mengambil cuti dulu agar bisa hadir dalam prosesi ijab kabul nanti."


Kembali mata Eva terbelalak. Rahang wanita itu mengeras disertai kepalan tangan di samping badan yang memperlihatkan buku-buku kuku.

__ADS_1


Andre berbisik di telinga Eva. "Sudahlah, jangan berdebat. Sebaiknya kita turuti saja permintaan mereka toh Pak Rayyan ada benarnya kalau aku masih mempunyai tanggung jawab untuk menjadi wali nikah Queensha. Setelah tugasku selesai maka kita tidak akan berhubungan lagi dengan Queensha. Kita ... bisa hidup damai tanpa diganggu oleh keponakanku."


Eva menekuk wajah dan memajukan bibirnya ke depan. Ia amat kesal atas keputusan Andre yang bersedia menggantikan Gunawan menjadi wali nikah Queensha. Akan tetapi,ia segera merubah ekspresi wajahnya tatkala ucapan Andre mulai menelusup ke sanubari yang terdalam,


"Ehm, baiklah. Untuk kali ini aku setuju denganmu. Tapi ini pertama dan terakhir kalinya kita direpotkan oleh keponakanmu itu. Kedepannya, aku tak sudi berhubungan lagi dengan dia."


Rayyan tersenyum jahat dengan menghunus tatapan tajam. 'Kalau bukan calon besan, sudah kurobek mulutnya. Enak saja menghina ibu dari cucuku tersayang.'


"Acara ijab kabul sekaligus resepsi pernikahan diadakan pada hari Sabtu, tanggal 29 Juli 2023. Akomodasi dan penginapan selama kalian berada di Jakarta akan saya tanggung jadi Pak Andre, Bu Eva beserta yang lain hanya menyiapkan diri saja untuk menjadi saksi pada momen sakral putera dan putri kita."


Dan di sinilah Queensha berada, di salah satu kamar presidential suite yang kelak menjadi saksi bisu akan meleburnya dua insan manusia di malam panjang pasca ijab kabul dilangsungkan.


"Nona Queensha tenang saja, saya akan merias wajah Anda dengan riasan flawless, tetapi tetap membuatmu terlihat sangat cantik meski tanpa polesan make up tebal. Saya yakin semua kaum Hawa yang hadir dalam prosesi ijab kabul nanti merasa iri akan kecantikan Anda," sahut MUA seraya mengerlingkan wajah.


Queensha tersenyum dan mengangguk puas. Ia percaya 100% jika wanita yang telah dimintai tolong Rini akan menjalankan tugasnya dengan baik sesuai permintaannya. Di sebelah Queensha ada Lulu, tampak dia juga sedang dirias. Pada momen bersejarah ini menjadi pengiring pengantin wanita.


"Udah, Sha, lo enggak perlu cemas. Serahkan aja semuanya kepada mereka. Gue yakin mereka dapat bekerja secara profesional," sahut Lulu menimpali. Ia genggam tangan Queensha yang menjuntai ke bawah, merengkuhnya dengan erat seakan ingin memberi sedikit kekuatan kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


Tatkala tangannya menyentuh permukaan kulit lembut bagai kain sutra, Lulu merasa telapak tangan Queensha terasa dingin dan ia yakin sekali sahabatnya tersebut sedang dilanda kegugupan. Lantas ia kembali berkata, "Rileks, Sha. Jangan terlalu tegang, nanti yang ada lo malah semakin gugup. Sekarang, coba pejamkan mata lalu tarik napas panjang dan dalam. Rasakan setiap udara yang masuk ke dalam paru-paru. Setelah itu, embuskan perlahan dan yakin kalau semua akan berjalan sesuai harapan kita."


Queensha mengangguk patuh. Lantas ia mulai melemaskan tubuhnya agar tidak tegang. Setelah itu barulah ia memejamkan mata, menghirup udara sekitar secara perlahan sementara MUA yang dipercaya Rini menjalankan tugas sesuai arahan Queensha.


Di tempat yang berbeda, seorang wanita berambut panjang hitam tergerai tengah duduk di kursi kemudi. Satu buah handsfree berada di telinga kanan, tampaknya ia sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang.


"Bagaimana, apa kamu sudah mendapat kesempatan untuk menculiknya? Ingat, waktu kita tidak banyak dan aku mau kamu secepatnya membawa wanita itu ke sini. Aku tidak mau membuang waktu terlalu lama hanya sekadar menunggumu."


"Masih belum, Nona. Namun, saya pasti dapat membawa wanita itu pergi sesuai rencana kita. Beri saya waktu sebentar lagi maka semua berjalan dengan baik."


"Baik. Aku tunggu kabar selanjutnya. Oh ya, jangan sampai ada orang lain melihatmu pergi dengan membawa wanita itu pergi. Mengerti?"


Di seberang sana pria dalam balutan pakaian serba hitam dengan topi abu-abu yang hampir menutupi wajahnya menjawab, "Mengerti, Nona."


"Ya sudah, aku matikan dulu teleponnya. Kerjakan tugas dengan baik jika tidak mau keluargamu ada dalam masalah."


Sambungan telepon berakhir. Ia memandangi wajahnya di kaca spion yang ada di tengah mobil. Tersenyum smirk dengan dagu terangkat ke atas.

__ADS_1


"Sebentar lagi lo mati dan itu artinya enggak ada lagi yang bisa menghalangi gue untuk bisa memilikinya."


...***...


__ADS_2