Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Akan Ada Pelangi Setelah Turun Hujan


__ADS_3

Rama tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Iya, Lu, ini saya. Kenapa, kamu kaget, ya, melihat saya di sini?" tanya pria itu.


"Beberapa hari lalu mungkin sekitar H-7 ijab kabul, ada seseorang datang ke restoran mengantarkan surat undangan kepada saya. Saat saya membukanya, ternyata surat undangan tersebut pemberian dari Queensha dan Pak Ghani. Merasa tidak enak hati jika saya tak menghadiri momen sakral dan bersejarah bagi mereka, akhirnya saya memaksakan diri untuk datang ke sini meski dengan perasaan hancur, tapi saya mencoba ikhlas menerima semua takdir Tuhan."


Lulu terenyuh mendengarnya. Ia turut prihatin dengan nasib Rama saat ini.


Ditinggal nikah seseorang yang sangat kita cintai merupakan pukulan terberat dalam hidup. Walaupun Lulu belum pernah mengalaminya, tetapi ia dapat merasakan kesakitan yang diderita Rama saat ini. Apalagi harus melihat wanita itu bersanding di pelaminan, bersenda gurau dan tertawa bersama pasangan membuat hati terasa sakit bagai disayat-sayat oleh pisau tajam.


"Pak Rama yang sabar, ya. Saya yakin suatu saat nanti Bapak pasti dipertemukan dengan seseorang yang benar-bensr tulus mencintaimu. Seorang wanita yang dapat membalas perasaan Bapak, menerimamu apa adanya. Walaupun ujian ini terasa berat, tapi percayalah akan ada pelangi setelah hujan turun membasahi bumi." Lulu berkata bijak, mencoba menghibur Rama sesuai kemampuannya.


Rama mencoba tersenyum meski dalam hati amat sangat sakit menyaksikan sendiri wanita yang dicintainya duduk bersanding dengan lelaki lain, padahal ia telah lebih dulu menyimpan perasaan kepada Queensha, tapi justru Ghanilah yang beruntung bisa mendapatkan wanita itu.


"Terima kasih sudah menghibur saya. Suasana hati sayan sedikit membaik setelah berbicara denganmu. Kamu memang orang yang enak untuk diajak berbicara, Lu." Rama memuji Lulu dengan tulus, tanpa punya niatan apa pun. "Kalau ada waktu luang, bolehkah saya mengajakmu makan? Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah menghiburku."


"Tentu saja boleh. Kabari saja kapan dan di mana kita akan makan bersama. Saya selalu siap 24 jam."


Kemudian keduanya terkekeh bersama. Pundak Rama bergerak turun dan naik walau ucapan Lulu terkesan garing, entah mengapa ia cukup terhibur oleh perkataan anak buahnya itu. Ia turut bahagia dapat melihat Rama tersenyum lagi seperti sedia kala.

__ADS_1


Di sisi lain, Zavier meletakkan buket bunga hasil berburunya selama kurang dari lima menit lamanya. Ia meletakkan buket bunga tersebut di atas meja dengan kasar. "Puas kamu melihat kakak jadi pusat perhatian semua orang? Karena kamu, kakak jadi bahan ledekan Leon dan mantan teman sekolahku sewaktu SMA dulu."


"Tahu begini, tidak akan kuturuti permintaanmu, Dek. Kamu menjadikan kakak bahan olok-olokan semua orang," sambung Zavier mengutarakan kekesalannya kepada si bungsu, Shakeela.


Zavier dan Shakeela bagai Tom and Jerry, yang selalu bertengkar setiap kali bersama. Tak ada waktu sedetik pun bagi mereka untuk tidak bertengkar.


Saat Zavier seusia Shakeela, ia tak pernah bertengkar dengan Zahira, padahal adik kembarnya itu pun berjenis kelamin perempuan sama seperti Shakeela. Namun, entah mengapa hubungannya dengan Zahira adem ayem. Akan tetapi, kenapa dengan Shakeela selalu saja terjadi adu mulut di antara keduanya. Benar-benar heran.


"Zavier! Tidak baik bicara begitu kepada adikmu. Shakeela hanya menginginkan yang terbaik kepadamu jadi dia memintamu ikut berkumpul di sana." Arumi berusaha melerai pertengkaran antara anak keduanya dengan anak bungsunya. Di hari bersejarah ini ia tak mau ada hal kecil yang merusak suasana bahagia Ghani dan Queensha.


Rayyan melototi putri bungsunya yang duduk di seberangnya. Matanya yang sipit terbelalak sempurna membuat Shakeela ketakutan. "Diam! Ini pesta pernikahan Ghani, seharusnya kalian dapat menjaga sikap dengan baik, jangan membuat keributan yang malah membuat pesta hancur berantakan. Ayah tidak akan membiarkan siapa pun merusak jalannya pesta yang telah direncanakan selama satu bulanan ini!" seru pria itu dengan dua oktaf nada suaranya. Walaupun iringan musik instrumental mengalun sepanjang acara pesta, tetapi semua orang di meja tempat Rayyan duduk, dapat mendengar lengkingan suara bernada ancaman terdengar nyaring di telinga.


Sontak semua orang terdiam, membungkam mulut rapat-rapat. Dari mereka, tak ada satu pun yang berani membuka suara.


Cukup lama terdiam, akhirnya Zavier bersuara. Ia merasa bosan berada di dekat para sesepuh serta adik nurhakim yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Semuanya, aku permisi sebentar. Mau mengambil kue dan minuman dingin sebentar." Lantas Zavier bangkit berdiri dari kursinya. Ia ayunkan kaki menuju deretan makanan dan minuman dingin yang disediakan di atas meja.

__ADS_1


Suasana cukup ramai, para tamu undangan mulai berdesakan mengambil hidangan yang tersedia di atas meja. Di antara kerumunan orang tersebut, satu di antaranya adalah Zavier. Pria itu mengambil red velvet lalu menaruhnya di piring hendak mencari tempat sepi guna menyantap salah satu makanan kesukaannya. Namun, saat melangkah Zavier tanpa sengaja menabrak bahu seseorang.


"Sorry, tidak sengaja," kata Zavier. Beruntungnya piring serta minuman yang ada di tangan tidak jatuh ke lantai maupun mengotori pakaian wanita asing tersebut.


Wanita asing berpakaian itu berkata lembut. "Tidak masalah. Lagi pula barusan saya juga salah karena berjalan tidak hati-hati sehingga menabrakmu. Maaf, ya."


"Kamu di sini rupanya. Kucari ke mana-mana ternyata ada di sini," ujar Zahira kepada sang sahabat, Hanna. Lantas pandangan matanya beralih kepada Zavier. "Kakak Kedua sedang apa di sini?" Setahu Zahira, kakak keduanya itu sedang berbincang dengan orang tua serta mertuanya. Namun, kenapa ada di sini?


"Aku kelaparan dan tenggorokanku haus makanya mengambil makanan dan minuman. Kamu mau?" Zavier menyodorkan piring kue dan gelas minuman ke atas.


"Tidak, terima kasih. Aku sedang tidak mau makan cake." Sadar jika dirinya tak hanya berdua dengan sang kakak, Zahira berniat mengenalkan mereka berdua. "Hanna, kenalkan, dia Kakak kembarku namanya Zavier. Dan Kakak Kedua, kenalkan dia Hanna, sahabat sekaligus rekan kerjaku di rumah sakit."


Zahira melangkah maju ke depan, berdiri di sebelah sang kakak. Karena tinggi badannya sebatas telinga Zavier membuat ia berjinjit demi menyeimbangkan tinggi badannya. "Hanna ini jomlo, loh, Kak. Akhlak, perangai dan sifatnya sangat baik. Sangat sesuai dengan kriteria calon menantu Ayah dan Bunda," bisik wanita itu di telinga Zavier.


Refleks Zavier melotot mendengar ucapan Zahira. Tak menduga jika adik kembarnya menggunakan kesempatan yang ada untuk mengenalkannya dengan seseorang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2