
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Ghani merayakan ulang tahunnya yang ke-33 tahun bersama istri dan anak tercinta. Tidak hanya itu saja, pesta ulang tahun kecil-kecilan itu dihadiri Leon dan juga Lulu, sahabat dari sang istri.
"Bro, gue ucapin selamat ulang tahun. All the best for you. Moga apa yang lo harapkan bisa terwujud tahun ini." Leon memeluk tubuh Ghani dengan erat. Menepuk-nepuk punggung Ghani pelan seraya memanjatkan do'a terbaik untuk sahabatnya itu.
"Makasih banyak, Yon." Ghani membalas tepukan Leon. Tersenyum tulus dan matanya nyaris berkaca-kaca. Namun, segera dia halau agar tak membasahi pipi. Bagaimana jadinya jika semua orang mengetahui bahwa dia menangis pada momen bahagia kali ini.
Ketika pelukan itu terurai, Lulu maju selangkah ke depan dan berkata, "Dokter Ghani, ini kado dari kami berdua. Maaf jika benda di dalam sini tidak sesuai keinginanmu. Aku dan Leon bingung mau kasih kado apa sebab kamu sudah punya segalanya."
Ghani menerima bingkisan kado tersebut. "Tak peduli dengan isi dari kado ini, terpenting niat baik kalian berdua dan aku sangat menghargainya. Terima kasih."
Queensha yang baru saja selesai membantu bik Anah menata makanan, minuman serta camilan untuk semua orang menghampiri suaminya, Leon, dan juga sang sahabat. "Kebetulan kalian sudah datang, yuk makan malam bersama. Khusus malam ini, aku minta Bik Anah membuatkan makanan yang banyak jadi kalian bisa makan sepuasnya."
Aurora yang berdiri tak jauh dari sang papa melompat kegirangan. Rambutnya yang dikepang dua dengan poni menutupi kening ikut bergerak. Seruan lantang membahana ke segela penjuru ruangan.
"Hore, Rora bisa makan pangsit rebus sepuasnya." Kedua tangan anak perempuan itu terangkat ke udara. Aurora tampak begitu bahagia karena malam ini bebas menyantap salah satu makanan kesukaannya selain paha goreng.
Hal serupa ditunjukan Leon. Sahabat sejati Ghani menunjukan ekspresi bahagia sama seperti Aurora. "Kakak Iparku yang satu ini memang paling the best. Xie xie sao zi."
Ghani berdecih. "Cih, dasar penjilat."
Lulu dan Queensha hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum melihat kelakuan dua pria tampan di depan sana.
***
"Ya Tuhan, salmon saus chimichurri ini lezat sekali. Siapa yang membuatnya?" tanya Leon disela kegiatannya menyantap hidangan di depan mata.
__ADS_1
"Bini gue, kenapa? Jangan bilang lo mau nyuruh bini gue buatin makanan yang sama dalam jumlah yang besar. Gue lengserin lo dari jabatan sekarang kalau berani kasih perintah ke Queensha," jawab Ghani sinis seraya menyeruput mie umur panjang buatan istri tercinta.
Chang shou mian atau lebih dikenal dengan mie umur panjang dapat diartika sebagai simbol yang melambangkan harapan hidup yang panjang bagi seseorang yang sedang merayakan ulang tahun. Biasanya dihidangkan bersama dengan telur dan kaldu ayam.
"Yaelah, sensi banget jadi orang. Hati-hati darah tinggi karena terlalu sering ngomel." Leon kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut. "Gue nanya begini karena hidangan ini beda banget dari makanan yang pernah gue makan sebelumnya. Bumbu dan rasanya pas, enggak berlebihan. Cocok banget di lidah gue."
Lulu mengangguk tanda setuju. "Betul banget. Walaupun aku belum pernah mencobanya, tapi masakan Queensha kali ini benar-benar lezat."
"Kalian terlalu berlebihan memujiku. Aku hanya mengikuti langkah demi langkah dari video yang kutonton di Youtube," jawab Queensha merendah. Meskipun mendapat pujian bertubi-tubi, dia tetap menundukan wajah ke bawah sebab di atas langit masih ada langit.
Acara makan malam telah selesai. Ghani dan Leon duduk bersantai di balkon apartemen sambil membicarakan urusan pekerjaan dan hal lain yang sekiranya dapat didiskusikan bersama sang sahabat, sementara Queensha dan Lulu menemani Aurora menonton kartun kesayangan.
"Lu, aku perhatikan kamu dan Mas Leon semakin akrab saja. Apa kalian sudah jadian?"
Jemari tangan yang semula masuk ke dalam bungkusan chiki terhenti di udara. Pertanyaan Queensha sukses membuat dia kebingungan.
"Serius? Hubungan kalian sudah sejauh ini? Astaga, aku tidak menyangka progres kalian begitu cepat. Baru beberapa bulan kenal sudah semakin dekat. Berarti tak lama lagi kalian jadian lalu menikah, menyusul aku dan Mas Ghani. Wah, aku tak sabar menunggu momen itu datang." Sepasang mata Queensha berbinar kala membayangkan sahabatnya mengenakan gaun pengantin putih sepertinya dulu, pasti akan sangat menyenangkan menjadi bridesmaid.
Lulu meletakkan bungkusan chiki yang masih tersisa setengahnya di atas meja lalu meraih gelas bening berisi air putih kemudian meneguknya hingga tandas. "Iya udah, tapi sampe sekarang Leon belum ada tanda-tanda mau nembak gue. Gue jadi bingung, sebetulnya dia tuh ada rasa enggak sih ke gue. Takutnya perhatian dan kebaikannya selama ini hanya atas desakan dari lo dan Dokter Ghani, bukan berasal dari lubuk hatinya yang terdalam."
Queensha mengernyitkan kedua alis. "Loh, kenapa bawa-bawa aku dan Mas Ghani. Kami memang pernah mendesak Mas Leon untuk dekatin kamu, tapi itu dulu. Sekarang aku dan Mas Ghani tidak pernah ikut campur lagi dalam urusan pribadi kalian. Aku biarkan Mas Leon melakukan apa pun yang dia mau."
Ucapan Queensha memang benar adanya bahwa dia dan sang suami tak lagi terlibat dalam kisah asmara dua anak manusia tersebut. Terakhir kali Ghani terlibat saat dirinya memanas-manasi Leon agar pria itu segera bertindak sebelum mengenalkan Lulu kepada saudaranya. Setelah itu, Ghani membiarkan Leon bertindak sendiri karena dia tahu kalau sahabatnya itu telah termakan ucapannya.
"Kamu serius, Sha? Berarti bentuk perhatiannya selama ini ke gue murni dari diri dia sendiri, tanpa dorongan siapa pun. Begitu?"
__ADS_1
Queensha mengangguk. "Berdasarkan apa yang kamu sampaikan barusan, aku yakin 100% kalau ternyata Mas Leon tuh sebetulnya cinta sama kamu hanya saja mungkin dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya ke kamu."
Queensha memutar tubuhnya menghadap Lulu. "Lu, seumpama Mas Leon nembak, kamu mau terima dia tidak?"
Mulut Lulu terkunci rapat. Lidah terasa kelu, tak mampu berkata. Dia sendiri masih bingung bagaimana menjelaskan pada Leon tentang masa lalunya seumpama mereka kelak jadian. Mungkinkah Leon bersedia menerima dia apa adanya.
Sementara itu, di tempat berbeda seorang pria berusia sekitar 27 tahun sedang duduk di sofa dengan menyilangkan kedua kaki. Kedua tangan terbentang di sandaran sofa.
"Gimana, apa lo udah dapat apa yang gue minta kemarin?"
"Sudah, Boss. Perempuan itu tak lagi tinggal di indekosnya yang lama semenjak tahu kalau Boss pindah keluar negeri," sahut orang kepercayaan Andri.
Sudut bibir Andri tertarik ke atas. Dia tersenyum smirk mendengar jawaban orang kepercayaannya itu. "Pantesan aja gue datang ke indekosnya, dia enggak lagi tinggal di sana ternyata dia pindah setelah gue pergi dari negera ini. Pinter juga dia ternyata. Lalu, lo udah dapat informasi tentang cowok sialan yang ngegebukin gue?"
"Pria itu bernama Leon Radeyya Hamiz. Bekerja sebagai dokter bedah di rumah sakit Harmoni International Hospital. Pernah belajar di Jepang selama hampir 10 tahun lamanya. Anak kedua dari 2 bersaudara. Ayahnya seorang dosen, sementara ibunya hanya ibu rumah tangga yang punya rumah kontrakan lima pintu di kawasan Jakarta Selatan. Kakak perempuannya-"
Tangan Andri terangkat ke udara. "Stop! Gue cuma butuh informasi tentang cowok berengsek itu. Gue enggak peduli dengan anggota keluarganya yang lain."
Orang kepercayaan Andri menunduk. "Maaf, Boss."
"Hmm. Karena lo udah susah payah cari informasi tentang dua orang itu, gue enggak akan buat perhitungan sama lo. Anggap aja upah atas kerja keras lo selama ini," ucap Andri santai. "Udah sana, pergi! Gue enggak tubuh lagi bantuan lo. Sisanya akan gue transfer secepatnya."
Usai kepergian orang kepercayaannya, Andri memajukan tubuhnya ke depan hingga kedua kaki jenjang berbalut sepatu berada di atas lantai. Tangan kokoh yang pernah menjamah tubuh sintal Lulu meraih gelas seloki di atas meja. Menyesap perlahan cairan warna merah pekat hingga habis tak bersisa.
"Dulu lo pernah lolos dari tangan gue, tapi sekarang enggak lagi. Lo akan berada dalam genggaman tangan gue, dan enggak bisa kabur lagi. Dan untuk lelaki sialan itu, gue pastiin lo dapetin balasan atas apa yang pernah diperbuat ke gue." Tersenyum devil seraya memikirkan cara untuk membalaskan dendamnya kepada Lulu dan Leon. Dua manusia itu patut mendapat balasan karena telah menyinggungnya.
__ADS_1
...***...