
Seperti yang telah direncanakan oleh Ghani sebelumnya, akhirnya dia memutuskan pergi menemui Queensha di tempat terakhir mereka bertemu. Dengan modal nekad dan keyakinan kuat sekuat baja, dia ingin meminta kembali Queensha menjadi pendamping hidup dan memperbaiki hubungan yang baru saja kandas di tengah jalan. Tak masalah jika Queensha menolak, tetapi dia akan terus mencoba hingga wanita itu menjadi istrinya lagi.
Turun dari kendaraan, Ghani segera mengunci mobil dan melangkah masuk ke dalam restoran. Saat sepatu mahal terbuat dari kulit asli berkualitas nomor satu menginjak lantai restoran, dia disambut hangat oleh pelayan wanita yang tak lain adalah Lulu, sahabat Queensha.
"Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?" ucap Lulu ramah. Dia belum mengetahui jika sosok pria berwajah oriental di hadapannya adalah mantan suami dari sang sahabat.
Selama tinggal di indekos Lulu, Queensha memang tak pernah sekalipun menunjukan foto Ghani sehingga rekan kerjanya itu tidak sadar bahwa saat ini tengah menyapa mantan suami sahabatnya. Seandainya saja Lulu tahu, akankah dia masih bersikap ramah dan tersenyum manis di hadapan Ghani?
Tanpa menoleh sedikit pun, Ghani menjawab, "Saya mencari pelayan bernama Queensha, apa dia bekerja hari ini?"
"Oh, Queensha. Dia ada ...." Namun, perkataan Lulu mengambang di udara saat sebuah kesadaran muncul ke permukaan. Mata memicing tajam seperti seekor binatang buas yang sedang mengamati mangsanya.
Merasa ada sesuatu yang janggal, Lulu memberanikan diri bertanya pada Ghani. "Maaf, Bapak ini siapa? Lalu, ada keperluan apa mencari sahabat saya?"
Langkah kaki terhenti kala mendengar Lulu memanggil Queensha dengan sebutan 'sahabat'. Lantas, dia membalikan badan dan membalas tatapan tajam yang ditujukan kepadanya. "Jadi, kamu sahabat istri saya?" tanya pria itu.
Hampir saja Lulu menyemburkan tawa di depan calon customer-nya itu. Perut terasa geli seakan ada ribuan tangan tak kasat mata menggelitik hingga rasanya ingin tertawa terbahak.
"Ehm ... sepertinya sekarang saya tahu siapa Anda sebenarnya," ucap Lulu mengulum bibir. Tatapan mata gadis itu sinis seolah sedang menantang lawan bicaranya. Jika tadi dia bersikap ramah bahkan memberi senyuman kepada Ghani, kali ini dia justru bersikap jutek seakan ingin menunjukan kekesalannya karena lelaki itu telah menghancurkan hidup Queensha.
Dengan ketus Lulu kembali bertanya, "Mau apa Anda menemui Queensha? Masih ingin menyakiti perasaan sahabatku, iya? Jika itu memang tujuanmu datang ke sini, lebih baik sekarang Anda tinggalkan tempat ini sebab saya tidak akan pernah membiarkan satu orang pun menyakiti Queensha. Tidak Anda, Tante Mia maupun Lita, kedua wanita Iblis yang selalu menjadi benalu dalam hidup sahabatku. Saya akan menjauhkan Queensha dari orang-orang jahat macam kalian!" tandasnya tegas.
__ADS_1
Ghani tersentak kaget, tak menduga jika dirinya akan diperlakukan seperti ini oleh seseorang yang sama sekali tidak dia kenal. Ini pertama kalinya mereka bertemu, tetapi kenapa emosi Lulu meledak-ledak bagai lava pijar yang siap meluluhlantakan segala yang ada di sekitarnya? Apakah selama berpisah dengan Queensha, wanita itu menceritakan kemelut rumah tangga mereka kepada orang lain?
Menghela napas panjang, Ghani kemudian berkata, "Sepertinya kamu salah paham. Kedatangan saya ke sini justru ingin menyelesaikan masalah bukan untuk menyakiti hati Queensha. Jadi, bisakah kamu memberitahu saya di mana Queensha saat ini berada?" ucapnya bersungguh-sungguh.
Lulu tidak serta-merta memberitahu keberadaan Queensha di mana. Gadis itu malah menatap iris coklat Ghani, menyelami keindahan sepasang mata sipit, mencari setitik kebohongan di sana. Akan tetapi, dia tak menemukan kebohongan apa pun di bola mata indah itu.
"Baiklah, kali ini saya percaya pada Bapak. Namun, saya tetap akan mengawasi kalian. Siapa tahu di tengah jalan Bapak khilaf dan melakukan kesalahan yang sama," sahut Lulu mengalah.
"Saat ini Queensha berada di ruang khusus staf karena jam kerjanya telah usai. Kalau mau, saya bisa mengantarkanmu ke sana. Tapi saya tidak bisa membawamu ke sana secara terang-terangan, akan sangat beresiko jika atasanku tahu dan melaporkannya kepada pemilik restoran."
Lulu mengayunkan kakinya beberapa langkah ke depan. Mendekatkan dirinya di telinga Ghani dan berbisik, "Gedung ini punya dua akses pintu masuk. Pertama pintu masuk utama yang diperuntukan khusus bagi para pelanggan dan pintu kedua yang berada di sebelah gedung. Bapak bisa masuk lewat jalur tersebut, tapi usahakan jangan sampai ketahuan orang. Nanti saya tunggu Bapak di depan pintu belakang."
Ghani menuruti perintah Lulu. Dengan sangat hati-hati pria itu melangkah dan tak jarang menoleh ke belakang memastikan dirinya tak diikuti oleh siapa pun. Sepanjang jalan, jantung pria itu berdegup tak beraturan. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuh.
"Masuklah sebelum ada orang lain melihat keberadaan Bapak di sini." Ghani mengangguk patuh dan segera mengikuti ke mana langkah kaki Lulu melangkah.
'Suara itu kenapa terdengar familiar di telingaku. Mungkinkah itu Queensha yang sedang berbicara dengan seseorang? Namun, kenapa suara lawan bicaranya seperti suara laki-laki?' batin Ghani ketika sayup terdengar suara dua insan manusia terlibat perbincangan hangat.
Setelah yakin bahwa Queensha memang sedang berbicara dengan seorang lelaki, secepat kilat Ghani berlari menuju ruangan bertuliskan 'staf only'. Tubuh pria itu terasa panas karena hati tidak rela jika sang mantan istri beramah tamah dengan pria lain.
Mata Ghani menatap nyalang Rama yang sedang merangkum wajah Queensha. Kemarahan semakin memuncak kala melihat posisi mereka begitu intim hingga tak ada jarak yang memisahkan.
__ADS_1
"Jangan sentuh istriku!" teriak Ghani penuh emosi. Dia berlari, menghempaskan kedua tangan Rama yang masih setia merangkum wajah Queensha.
"Berengsek! Bajingan kamu! Berani-beraninya menyentuh tubuh istriku!" Ghani mengepalkan telapak tangan, kemudian melesakkan tinjuan ke wajah Rama secara membabi buta.
Rama yang terkejut dengan kedatangan Ghani hanya membeku di tempat tanpa mampu melawan. Wajah Ghani merah padam, dadanya pun kembang kempis disertai deru napas memburu. Melihat itu semua, rasanya sulit bagi Rama menangkis semua pukulan yang ditujukan kepadanya.
Seperti orang kesetanan, lagi dan lagi Ghani melayangkan sebuah pukulan keras ke perut Rama hingga pria itu terjajar ke belakang, nyaris menabrak dinding. Meringis kesakitan seraya memegangi perut dan wajahnya yang sudah babak belur.
Queensha dan Lulu terkesiap selama beberapa saat. Akan tetapi, Queensha lebih dulu bangkit dari keterkejutannya itu. Lantas dengan sigap dia berdiri di hadapan Ghani.
"Berhenti memukulnya, Pak!" teriak Queensha.
Tangan Ghani mengepal di udara, menahan diri agar tidak meninju lawannya yang sudah terkapar tak berdaya. Rahangnya gemetaran, merasakan emosi bercampur cemburu yang semakin lama menjalar ke seluruh tubuh.
"Kenapa kamu menghentikanku, Sha? Seharusnya kamu biarkan aku menghabisi lelaki berengsek yang gemar melakukan pelecehan terhadap karyawannya."
"Berengsek? Gemar melakukan pelecehan? Bapak ini ngomong apaan sih. Pak Rama sama sekali tak berniat melecehakanku. Dia hanya ingin memastikan kondisi tubuhku saja apakah sedang demam atau tidak," tutur Queensha
"Kondisi tubuh? Maksudmu, tadi dia-" Ghani menatap lekat pada Queensha. Wanita itu membalas tatapan mantan suaminya dengan mata melotot. Seketika tubuh Ghani lunglai. Lutut terasa tak lagi mampu menopang berat badannya. Lantas, lelaki itu berjalan perlahan mendekati kursi panjang yang tadi diduduki Queensha dan Rama.
Mengusap wajah kasar menggunakan telapak tangan. "What the fu*k! Kenapa lo bisa ceroboh begini sih, Ghan. Lihat, apa yang baru saja lo lakukan terhadap atasannya Queensha." Ghani merutuki kebodohannya karena bertindak gegabah, langsung menghajar Rama yang sebenarnya tak mempunyai niat melecehkan mantan istrinya itu.
__ADS_1
...***...