
"Ghani!" seru Cassandra. Ia berjalan setengah berlari menyusul Ghani yang sudah lebih dulu tiba di parkiran. Langkah panjang pria kelahiran tiga puluh tiga tahun membuat wanita itu tertinggal jauh dengan sang lelaki.
Ia berdiri di belakang Ghani, lalu melayangkan tatapan kesal kepada pria itu. "Kamu kenapa tinggalin aku, sih. Memangnya kamu lupa jika aku ikut denganmu datang ke sini?" ujarnya ketus sebab Ghani seolah melupakan dirinya setelah melihat Queensha berdekatan dengan pria lain.
Ghani menjawab singkat. "Maaf, aku lupa." Lalu ia menundukan kepala ke arah Aurora. "Sayang, masuk ke dalam mobil. Kita pergi sekarang."
Tanpa memedulikan Cassandra, Ghani membuka pintu mobil dan membantu Aurora duduk di kursi sebelah kemudi. Tak lupa ia memasangkan seat belt, melingkari tubuh si kecil.
Api amarah semakin membara dalam tubuh Cassandra saat melihat kursi sebelah kemudi ditempat Aurora. "Loh, kenapa Rora duduk di depan? Lalu, kalau putrimu duduk di sini, aku duduk di mana dong."
Sekilas Ghani melirik Cassandra dengan ekspresi dingin. "Seseorang yang kamu sebut orang lain adalah putriku, Sandra. Ingat itu. Jadi jangan pernah mengucap kata yang sama di depanku, mengerti!" tandasnya. "Lagi pula, Rora memang biasanya duduk di sebelahku. Dia putriku dan tidak ada alasan apa pun baginya untuk dapat duduk di sampingku."
Cassandra tercengang mendengar jawaban Ghani. Detik berikutnya bibir ranum itu mengatup rapat ketika sadar telah melakukan satu kesalahan.
'Duh, gawat nih! Jangan sampai Ghani marah sama gue karena ucapan gue barusan!' Cassandra merutuki kebodohannya. Akibat emosi ia sampai menyebut bahwa Aurora orang lain. Padahal sudah jelas gadis sialan itu adalah anak Ghani, walau hanya anak angkat, tapi kehadirannya di rumah itu diakui seluruh anggota keluarga Wijaya Kusuma.
"Eugh ... iya, maaf. Aku janji enggak akan melakukan kesalahan yang sama. Tadi aku hanya terbawa emosi hingga tanpa sadar berkata demikian tentang Rora." Tersenyum palsu demi mendapat simpati Ghani. Cassandra memang pandai berakting di depan semua orang.
"Hmm, enggak masalah. Kalau kamu memang ingin diantar pulang olehku, duduklah di kursi belakang sebab aku enggak biasa membiarkan seorang wanita asing duduk di sebelahku. Namun, jika kamu keberatan, silakan pulang sendiri karena aku tak mau membuang waktu untuk hal tidak berguna," ucap Ghani ketus dengan tatapan sinis.
Napas Cassandra menjadi lebih cepat. Ia mengeraskan rahang, menahan diri untuk tidak memaki pria yang berdiri di depannya.
'Sabar, Sandra. Lo enggak boleh terpancing emosi. Lo harus bersikap like a princess yang tetap tersenyum meski sebetulnya hati lo gondok akibat ucapan Ghani. Ingat, segala sesuatu butuh perjuangan!'
Hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit, mereka tiba di depan gerbang sebuah rumah mewah bergaya Victorian. Rumah itu tampak sangat sepi, mungkin kedua orang tua Cassandra sedang pergi dinas keluar negeri. Maklum, mereka adalah pebisnis sukses yang bergerak di bidang pariwisata.
Cassandra turun dari mobil kemudian berdiri di sebelah Ghani. Sementara Aurora tetap berada di dalam mobil dengan kedua mata terpejam. Gadis itu tak berani membuka kelopak matanya selama ada wanita lain di sekitarnya.
"Terima kasih ya, Ghan, kamu udah anterin aku. Aku bahagia sekali karena bisa jalan berduaan denganmu lagi setelah berpisah selama beberapa tahun ini."
Cassandra maju ke depan sebanyak dua langkah dan bersiap mendaratkan ciuman di pipi Ghani. Akan tetapi, Ghani dengan sigap menghindar. Ia menahan bahu Cassandra sebelum wanita itu berhasil menjamah pipinya.
__ADS_1
"Jaga batasanmu, Sandra! Jangan karena aku baik kepadamu, kamu bisa bersikap sesuka hati. Ingat, hubungan kita hanya sebatas teman, tidak lebih. Jadi jangan pernah coba menyentuh tubuhku dengan alasan apa pun!" tandas Ghani menatap tajam dengan tatapan tidak suka. Ia pernah sekali kecolongan dan kali ini tidak mau Cassandra mendapat kesempatan untuk menjamah kembali tubuhnya. Sekalipun itu hanya sebuah ciuman, tetap saja ia tidak mau sebab ia berprinsip untuk tidak memberi pipi maupun bibirnya kepada wanita sembarangan kecuali ... wanita asing yang pernah ia renggut kesuciannya.
Cassandra sedikit terhentak dengan jawaban tersebut. Karena ini pertama kalinya mendapati Ghani setegas ini dan sedikit ketus kepadanya. Namun, ia tetap tersenyum lembut seolah tak terjadi apa pun di antara mereka.
"Maafkan aku, Ghani. Hanya saja aku terlalu excited hingga hilang kendali. Sekali lagi, tolong maafkan aku."
"Sudah tidak apa. Tidak usah dibahas lagi. Sebaiknya kamu masuk ke dalam karena aku harus pulang ke rumah. Malam ini aku akan ke rumah sakit, ada operasi yang harus kulakukan bersama Leon dan timku yang lain."
Lalu Ghani berlalu, meninggalkan Cassandra walau wanita itu belum beranjak dari posisinya saat ini. Ia menyalakan mesin mobil kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.
Kepulan asap tebal membumbung tinggi ke udara. Cassandra menatap kendaraan roda empat milik Ghani yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan.
"Untung aja gue cinta sama lo. Kalau enggak, udah gue minta orang untuk menghajar lo hingga babak belur," desis Cassandra.
***
Ghani turun dari mobil dengan menggandeng jemari mungil Aurora. Wajah si kecil terlihat berseri seperti sinar matahari yang semakin percaya diri memancarkan pesonanya di hadapan seluruh insan di muka bumi. Aurora berceloteh, menceritakan betapa bahagianya dia dapat bertemu kembali dengan Queensha.
Ghani mengembuskan napas kasar. "Lihat saja besok, Sayang. Papa enggak bisa janji soalnya akhir-akhir ini sibuk bekerja. Namun, papa usahakan kalau punya waktu luang kita ketemu Mama lagi di sana."
Bola mata coklat itu berbinar. Tubuhnya yang mungil melompat tinggi tanpa melepaskan genggaman tangan sang papa.
"Yeah! Hore, Rora akan bertemu Mama lagi. Rora sayang Papa dan Mama!" seru Aurora melompat kegirangan. Poninya yang menutupi kening ikut bergerak ke sana kemari.
Ketika Ghani dan Aurora menaiki anak tangga yang akan membawanya menuju ruang tamu, ekor mata si kecil menangkap sosok wanita paruh baya sedang menyiram tanaman. Tina dengan setia membantu majikannya merawat koleksi bunga kesayangan penuh suka cita.
"Nenek!"
Teriakan bocah perempuan membuat Arumi menoleh ke sumber suara. Wanita yang rambutnya sudah mulai berubah keperakan mengulum senyum amat lebar. Ia menyerahkan gembor atau alat untuk menyiram tanaman kepada Tina kemudian merendahkan tubuh dan menyambut kedatangan cucu tercinta.
"Nenek, Rora bahagia sekali hari ini. Tadi Papa ajak Rora ketemu Nenek Rini lalu mengajak Rora makan di restoran. Tapi ternyata saat di restoran, Rora ketemu Mama, Nek. Rora peluk Mama dan bilang kalau Rora kangen sama Mama," ucap Aurora antusias.
__ADS_1
"Oh, ya? Berarti Rora enggak akan sedih lagi dong karena udah ketemu Mama?" Arumi membenarkan anak rambut yang menutupi pipinya yang terlihat lebih tirus akibat napsu makan berkurang.
"Enggak, dong! Kan udah ketemu Mama. Tadi juga Papa bilang akan ajakin Rora lagi ketemu Mama. Tapi tunggu Papa enggak sibuk kerja."
Arumi melirik sekilas ke arah Ghani. Lalu kembali mengelus kedua pipi Aurora dengan lembut. "Kalau memang Papa enggak bisa ajakin kamu, Nenek bisa kok temanin Rora ketemu Mama. Nanti kita minta Kakek Rayyan, gimana? Kakek Rayyan pasti menuruti semua permintaan kita. Kakek Rayyan kan orangnya baik, tidak pernah menolak ajakan nenek." Sengaja meninggikan suara pada kalimat terakhir. Ada nada sindiran dari setiap kalimat yang terucap.
Kepala mengangguk cepat. Dengan semangat 45, Aurora menjawab, "Mau, Nek! Ayo, ajak Kakek Rayyan ketemu Mama di restoran. Rora udah enggak sabar ingin ketemu dengan Mama lagi."
Mencolek ujung hidung mancung menggunakan jari telunjuk. "Oke, sekarang kamu masuk dulu, ya? Nanti, kalau Kakek sudah pulang, baru kita ajakin Kakek."
Aurora melepaskan tubuhnya dari dekapan Arumi. Kemudian lebih dulu masuk ke dalam rumah dengan berlari kecil. Arumi mengulas senyuman senang saat melihat cucu tersayang kembali riang seperti sedia kala. Meski sisa insiden penculikan beberapa hari lalu masih membekas di benak Aurora, tetapi keceriaan gadis itu sedikit demi sedikit mulai terbit kembali.
Ghani berkata saat Arumi mengayunkan kakinya yang jenjang. "Tapi aku tidak memberi izin pada Bunda membawa putriku pergi menemui Queensha."
Membalikan badan dan menatap tajam ke arah Ghani. "Memangnya kamu siapa, bunda? Kamu hanya anak bunda, Ghani, bukan suami apalagi Ibunya bunda. Jadi terserah bunda dong mau ngajakin Rora pergi ke mana pun. Lagi pula, bunda juga punya hak atas diri Rora sebab selama ini bunda punya andil besar membesarkan anak itu. Jadi, jangan pernah larang bunda!"
"Tapi Queensha bukan wanita baik-baik, Bun. Dia wanita gampangan. Baru beberapa hari pisah denganku, dia sudah dekat dengan pria lain," cicit Ghani. Kepala pria itu menunduk. Kelopak mata terpejam, merasa sesak di dada.
Suasana yang semulai hening tiba-tiba berubah ramai. Terdengar suara tawa Arumi yang terkesan mengejak putera tertuanya.
"Loh, memangnya kenapa kalau Queensha dekat dengan pria lain? Bukankah di antara kalian sudah tak punya hubungan apa-apa lagi? Kamu bukannya menjatuhkan talak kepada wanita itu beberapa hari lalu. Apa kamu melupakannya?" tanya Arumi sinis. "Lantas, kenapa sekarang kamu terkesan marah saat mengetahui Queensha didekati pria lain. Statusnya sekarang single, jadi tidak masalah dong kalau dia berdekatan dengan lelaki lain. Kecuali ... jika dia masih istrimu, wajar saja kalau kamu marah padanya."
Arumi melangkah maju ke depan. Ia memindai anak pertamanya itu dengan seksama. "Omong-omong, kenapa suaramu terdengar kesal saat mengatakan soal Queensha. Apa ... kamu cemburu karena wanita yang tak pernah dianggap olehmu rupanya sangat berarti bagi pria lain?"
Ghani berdecak kesal mendengarnya. "Omong kosong! Mana mungkin aku cemburu padanya, Bun. Bunda ini ada-ada saja."
Arumi manggut-manggut. "Oh, begitu rupanya. Kalau emang kamu tidak cemburu, seharusnya kamu biarkan saja dia dekat dengan pria lain. Perjalanan hidup Queensha masih panjang, sangat disayangkan jika dia menghabiskan waktu hanya untuk hidup sendirian. Queensha berhak bahagia, hidup bersama seseorang yang tulus mencintainya."
"Bunda yakin, akan ada seorang lelaki yang bisa menerima Queensha meski statusnya seorang janda. Dan ... bunda turut berbahagia jika memang setelah kamu mengurus surat perceraian kalian, dia menikah dengan pria lain. Pasti Queensha bahagia, lepas dari pria egois macam putera pertamaku lalu mendapat pria berhati malaikat, yang mau menerimanya apa adanya."
...***...
__ADS_1