
Dengan santainya Queensha menjawab, "Benar, sebelum berangkat ke sini aku lebih dulu menemui Pak Rama untuk meminta izin kepadanya. Aku berpikir daripada menemui Mbak Puji kenapa tidak langsung menemui Pak Rama saja toh jabatannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan wanita bermulut pedas itu."
"Lagi pula kalau menemui Mbak Puji, yang ada waktuku habis terbuang begitu saja hanya untuk mendengarkan dia mengomel tak jelas. Jadi untuk menghemat waktu aku memutuskan menemui Pak Rama," sambung Queensha memberi alasannya mengapa menemui Rama sebelum pergi ke Makassar. Ia tidak mau menyembunyikan apa pun dari Ghani sebab sebentar lagi mereka akan rujuk dan membina kembali mahligai rumah tangga yang sempat kandas di tengah jalan. Namun, rupanya ia tak menyadari jika kejujurannya itu justru mematik api cemburu dalam diri calon suaminya.
Susah payah Ghani bangkit dari tidurnya. Sesekali meringis kesakitan kala bagian kakinya yang dibalut gips tanpa sengaja menyentuh anggota tubuhnya yang lain. Ia kesampingkan rasa sakit itu karena tubuhnya terasa seperti terbakar api yang semakin lama semakin menjalar ke seluruh tubuh.
"Kenapa tidak langsung pergi saja dari restoran itu? Kenapa kamu malah memilih menemui si Berengsek itu dan berduaan dengannya di ruangan sepi dan tertutup, heh! Tidakkah kamu takut jika dia memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melecehkanmu?" cecar Ghani dengan wajah merah padam. Sungguh ia tak dapat lagi menahan amarah yang telah mencapai ubun-ubun. Dalam hitungan detik Ghani berubah menjadi sosok pria yang menakutkan dan itu membuat Queensha menautkan kedua alisnya petanda bingung.
Wanita berusia dua puluh lima tahun memicingkan mata ke arah calon suaminya itu. Ia bingung mengapa tiba-tiba saja Ghani marah kepadanya kala nama Rama disebut padahal dirinya berniat baik untuk tidak menyembunyikan apa pun dari pria yang sebentar lagi berstatuskan sebagai suaminya.
"Mas Ghani, kenapa marah kepadaku? Aku menemui Pak Rama hanya untuk meminta izin bukan untuk berduaan dengannya, mengerti?" protes Queensha tidak terima Ghani memarahinya tanpa alasan yang pasti padahal ia merasa tak melakukan apa pun yang memancing emosi calon suaminya. Aneh. Sangat aneh!
Ghani mendengkus kesal mendengarnya. "Ho ... ho ... tentu saja aku marah. Kamu pikir aku akan diam saja saat mendengar wanitaku bersama lelaki lain, iya? Aku yakin lelaki mana pun di belahan bumi ini pasti melakukan hal sama ketika mengetahui wanita yang dicintainya berduaan dengan pria lain. Begitu pun denganku, Sha."
Ayah satu orang anak menaikan dagu ke atas, menatap sinis ke arah Queensha. "Sebetulnya kamu tahu, 'kan kalau aku tidak menyukai Rama. Namun, mengapa kamu tetap keras kepala menemui pria itu di saat tahu jika diriku tak pernah suka dengannya. Kenapa, Sha? Apa kamu memang sengaja memancing emosiku?" tebak Ghani memicingkan mata.
__ADS_1
Queensha cukup terkejut karena mendengar perkataan terakhir Ghani. Ia tidak habis pikir mengapa Ghani berpikiran demikian padahal tujuannya menemui Rama demi bertemu dengan kekasihnya itu, tapi mengapa malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Cukup lama mereka terdiam. Baik Queensha maupun Ghani tak ada satu pun yang mau membuka suara. Lidah terasa kelu dan mulut bungkam seolah ada tangan kasat mata yang menguncinya dengan rapat.
Queensha pandangi wajah Ghani. Di sana terlihat jelas perubahan di wajah sang lelaki. Lalu ia tersadar akan sesuatu yang membuatnya tersenyum samar detik itu juga.
"Koko Ghani tersayang, apa ... kamu sedang cemburu karena aku berduaan dengan Pak Rama?" tanya Queensha membelai pipi di wajah tampan.
Alih-alih menjawab, Ghani justru balik bertanya, "Kamu sendiri bagaimana perasaannya kalau seandainya aku berduaan dengan Cassandra atau wanita lain? Apa kamu akan marah sepertiku?"
Queensha terkejut, tetapi tersenyum lebar. Tanpa memberitahu jawabannya, seharusnya ia sadar kalau Ghani memang tengah dilanda rasa cemburu kepada pria yang menjabat sebagai atasannya di tempat kerja.
Ganti Ghani terkejut. "Jadi kamu tidak akan cemburu buta kepadaku? Secara tidak langsung bukankah kamu membiarkanku berdekatan dengan lawan jenis."
Queensha mengulum senyum, entah dengan cara apa lagi menyakinkan Ghani bahwa ia begitu mencintai pria itu. Kalau tidak, untuk apa ia bersedia meninggalkan pekerjaannya hanya untuk merawat dan menjaga Ghani selama dirawat di rumah sakit. Ia korbankan semuanya agar dapat bersama lelaki yang telah memberinya seorang putri cantik yang diberinama Aurora Syafiatunnisa.
__ADS_1
Lima jari lentik membelai dada Ghani. Menenangkan, memberi kelembutan, mencoba menurunkan emosi anak tertua dari pasangan Rayyan dan Arumi. "Bukannya membiarkan, hanya saja aku ingin memposisikan diri kapan harus dapat mengendalikan diri dan kapan berubah menjadi singa betina yang menyeramkan. Kalau aku terus cemburu buta bukannya justru menguras energi saja. Daripada energiku terbuang sia-sia alangkah baiknya digunakan untuk mengerjakan suatu hal bermanfaat seperti memasakan masakan kesuakaanmu dan putri kita, Rora. Itu ... jauh lebih berguna, bukan?"
"Lagi pula, aku dan Pak Rama tak mempunyai hubungan apa pun. Aku menganggap dia sebagai atasanku saja, tidak lebih." Queensha menatap sendu pada sosok di sebelahnya. "Sayang, kamu tahu 'kan kalau aku sulit sekali jatuh cinta. Sekalinya aku jatuh cinta maka selamanya mencintai pria tersebut."
'Walaupun banyak lelaki di luaran sana mengharapkan cintaku, tetapi sampai kapan pun cinta dan hatiku hanya untukmu seorang. Jadi, berhentilah memikirkan sesuatu yang justru memperburuk keadaanmu. Dari sini kamu mengerti kalau aku tidak akan pernah berpaling darimu," ucap Queensha memberikan pengertian dengan perlahan.
"Namun, bagaimana jika suatu saat kamu bosan dan merasa jengah akan sikapku yang terkadang tak dapat mengendalikan diri saat sedang marah? Apa kamu tetap bertahan di sisiku? Jujur, aku takut kamu pergi meninggalkanku begitu saja, Sha." Ghani berkata lirih seraya menghela napas. Tak sanggup bila harus berpisah dengan satu-satunya wanita yang sangat ia cintai.
"Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Namun, aku akan berusaha untuk mengerti keadaanmu, menerima sisi buruk yang ada dalam dirimu. Perlahan, aku pasti dapat menyesuaikan diri sama seperti Bunda Arumi yang mampu bertahan hidup berumah tangga dengan Ayah Rayyan. Sekeras apa pun sifat ayahmu, buktinya rumah tangga mereka langgeng sampai sekarang."
"Aku yakin jika kita bisa saling percaya satu sama lain dan terbuka kepada pasangan maka pernikahan ini kekal abadi untuk selamanya." Queensha tersenyum, menyentuhkan bibirnya di bibir sang lelaki berparas rupawan. "Aku cinta kamu, Mas. Cuma kamu dan akan selalu kamu ... selamanya. Sudah, ya, jangan cemburu lagi. Aku tidak mau ribut karena hal sepele."
Ghani menghela napas panjang dan berat. "Kalau memang tidak mau kita terus bertengkar maka berhentilah bekerja. Tinggalkan restoran itu dan fokuslah pada persiapan pernikahan kita. Aku akan menanggung semua kebutuhanmu."
Tampak Queensha berpikir sejenak, menimang jawaban apa yang akan ia berikan kepada Ghani. Kalau boleh jujur, sebetulnya ia sulit melepaskan pekerjaan tersebut apalagi di sana ada sahabat yang selalu mendukungnya di saat tersulit sekalipun, Lulu selalu ada di sisinya. Selain itu, ia pun tak mau dianggap wanita matre yang ingin mengeruk semua harta kekayaan Ghani dengan memanfaatkan pria itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
__ADS_1
Namun, untuk menolak rasanya tak sanggup. Sungguh, Queensha bingung sendiri jalan mana yang harus ia tempuh saat ini.
***