Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Balasan untuk Andri


__ADS_3

Andri memasukan semua barang pribadinya ke dalam koper berukuran sedang yang akan dia bawa ke Amerika. Hanya membawa beberapa lembar pakaian dan alas kaki saja sebab orang tuanya membekali dia dengan lembaran dollar Amerika di rekening tabungan yang bisa dipergunakan untuk membeli segala keperluan selama tinggal di negeri Paman Sam.


Tiket, visa, dan paspor pun sudah dia persiapkan sebelumnya. Tak membutuhkan waktu lama baginya menyiapkan itu semua sebab izin tinggalnya di negeri orang masih berlaku sampai tiga tahun ke depan.


Melirik jam di pergelangan tangan. Tersisa dua jam lagi Andri akan meninggalkan tanah kelahirannya. "Sebentar lagi gue pergi dari negeri ini untuk selamanya. Enggak masalah enggak bisa have fun dengan tubuh Lulu, terpenting gue bebas dari cowok sialan yang katanya adalah pacar baru perempuan sialan itu. Ketika tiba di Amerika nanti, gue bisa bersenang-senang dengan cewek mana pun dengan membayangkan wajah Lulu."


Menyeringai sambil menatap pemandangan dari lantai dua kamarnya. "Ehm, gue udah enggak sabar kepingin cepet-cepet sampe di Amerika. Gue mau tebar pesona ke setiap cewek Asia ataupun cewek blonde yang gue temui di club malam."


Perhatian Andri teralihkan saat suara ketukan pintu terdengar, disusul penampakkan wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. “Kamu sudah siap, Ndri?” Suara Bu Tania mengagetkan Andri yang sedang melamun.


Mengerjapkan mata guna mengembalikan kesadaran yang sempat melayang beberapa saat. “Eh, Mama, kirain siapa. Aku udah siap kok, Ma. Sebentar lagi taksi yang kupesan bakal datang menjemput. Ada apa, tumben banget Mama ke sini? Ada yang mau diomongin sama aku?" tanya Andri saat melihat perubahan wajah sang mama.


Bu Tania mendekat, kemudian duduk di tepian ranjang. “Mama cuma kepingin lihat kamu terakhir kali sebelum terbang ke Amerika. Emang tidak boleh?"


"Ya boleh, sih. Cuma tumben banget Mama kayak begini. Emang ada apa, Ma? Coba cerita ke aku." Andri mendesak Bu Tania untuk menceritakan apa yang tengah dirasakan sang mama.


Ibu dua orang anak menarik napas panjang, menahannya sebentar kemudian mengembuskan perlahan. Dia pandangi paras anak lelakinya yang dipenuhi luka lebam. "Mama kok merasa berat sekali melepaskanmu, Ndri. Rasanya mama tidak rela kamu pergi dari rumah ini untuk selamanya. Ya, walaupun mama masih bisa menemuimu di Amerika sana, tapi entah kenapa perasaan mama tidak tenang, melepasmu sendirian di negeri orang."


"Mama semalam mimpi buruk tentang kamu, Ndri. Dan mama takut mimpi itu jadi kenyataan," sambung Bu Tania. Pada akhirnya dia menceritakan apa yang mengganjal pikirannya.


Andri tertawa pelan. Mengambil duduk di sebelah mama tersayang. "Itu cuma mimpi, enggak akan jadi kenyataan. Udah, Mama enggak usah khawatirin aku, aku akan baik-baik aja di negeri orang. Lagi pula Amerika bukan negera asing buatku. Aku pernah tinggal di sana selama 5 tahun, jadi aku udah terbiasa dengan kehidupan di sana."


"Iya, tapi tetep aja mama mencemaskanmu, Nak."


Pria yang gemar mempermainkan perasaan wanita menyentuh pundak bu Tania erat. Menatap manik coklat itu dengan intens. "Ma, aku udah besar, bisa jaga diri dengan baik. Daripada mikirin aku, mending Mama nyari destinasi wisata berlibur dengan Papa. Mumpung aku dan Mbak Lisa enggak ada di rumah, kalian bisa senang-senang berduaan. Gimana, saran aku menarik bukan?"


Bu Tania memaksakan diri untuk tersenyum, meski sebetulnya hati masih berat melepas sang putera.


"Kalau sudah sampai sana, jangan lupa telepon mama. Oke?”


“Oke." Lantas Andri memeluk erat Bu Tania sebelum meninggalkan kediaman orang tuanya.


Tak berselang lama, taksi online yang dipesan Andri sampai juga. Pria itu lekas berpamitan pada papa dan mamanya. Bu Tania beserta suami mengantar Andri sampai ke depan teras rumah sambil melambaikan tangan pada anak lelakinya itu.


'Selamat tinggal Ma, Pa. Aku enggak akan pulang ke Indonesia. Enggak mungkin aku kembali ke sini setelah apa yang telah kulakukan pada Queensha,' kata Andri dalam hati sembari masuk ke dalam taksi online.


"Sudah bisa jalan sekarang, Mas?" tanya sopir taxi yang dijawab anggukan kepala Andri.


"Mending sekarang gue tidur. Lumayan satu jam bisa ngilangi rasa kantuk ini." Lantas Andri memejamkan mata selama driver taxi online melajukan kendaraannya.


Taksi online yang ditumpangi Andri meluncur memecah jalanan ibukota menuju bandara dengan kecepatan sedang. Semula tampak biasa aja, tidak ada hal mencurigakan. Namun, ketika hendak berbelok ke kanan, sang sopir menghentikan laju taksinya. Dia menoleh ke belakang dengan perasaan takut yang kentara di wajahnya yang pucat pasi.


“Mas, kayaknya saya enggak bisa antar Mas ke bandara,” ujar sang sopir sambil menelan ludah.


Andri yang sedari tadi tidur-tidur ayam di dalam taksi, langsung membuka matanya. “Lho, memang kenapa? Bannya bocor, Pak?"

__ADS_1


Sopir itu menggeleng. “Ini lebih parah dari bocor, Mas. Kayaknya taksi saya mau dirampok.”


Sopir itu menunjuk ke depan, tepatnya pada beberapa orang berpakaian serba hitam dan memakai masker yang menutupi mulut. Kelihatan sekali mereka sengaja memakainya agar tak dikenali oleh siapa pun saat sedang melancarkan aksi.


Mata Andri seketika membola melihat orang-orang berpakaian serba hitam. Astaga, masa belum ke Amerika saja dia sudah jadi sasaran rampok?


Tatkala melihat sekeliling, Andri sadar jalan yang dilalui memang cukup sepi. Pantas saja kawanan rampok itu berani melakukan aksinya siang-siang begini. 'Sial! Apes banget hidup gue. Baru mau kabur malah disatroni rampok!' jeritnya dalam hati.


“Heh, keluar lo! Kalau enggak keluar, gue bakar juga nih taksi biar lo sekalian mati di dalamnya!” seru salah satu kawanan orang berbaju hitam sambil memukul-mukul bagian depan taksi.


Andri menelan ludah. Dia sudah pasrah bakal dirampok. 'Beraninya main keroyok. Dasar rampok enggak tau diri!' Akhirnya, dia pun keluar dari dalam taksi.


“Pak sopir, mending pergi dari sini sekarang! Jangan bilang siapa pun kalau ketemu kami di sini! Kalau sampai mulut lo bocor, gue cari lo sampe ketemu. Ngerti?” ancam laki-laki berbaju hitam pada sang sopir taksi.


“I-iya. Saya ngerti,” cicit sang sopir taksi. Dia bergegas melajukan taksinya, menjauh dari jalanan itu.


Kini tinggal Andri di sana. Pria berengsek itu masih berpikir kalau dia dihadang karena hendak dirampok. Dia tak tahu kalau Yogi, ketua kawanan berbaju hitam itu disuruh oleh Ghani untuk membalas dendam padanya.


Ya, inilah balas dendam yang sesungguhnya. Kaki dibalas kaki. Mata dibalas mata. Cuma ini satu-satunya cara bagi Ghani untuk membalas dendam pada sosok yang telah mencelakai istrinya.


***


Ghani sedang duduk sambil minum kopi dan membaca koran. Matanya tertuju pada lembaran koran guna membaca berita kriminal yang terjadi kemarin di sebuah gudang terbengkalai di sudut di ibu kota.


Seorang laki-laki ditemukan pingsan dan dalam keadaan luka berat di gudang terbengkalai. Diperkirakan laki-laki tersebut menjadi sasaran perampok yang hendak merampas barang berharga yang dia bawa saat pulang dari kantor.


Tiba-tiba ponsel Ghani berdering. Dia meraih ponsel di atas meja dan melihat nama Yogi terpampang di layar. Segera saja Ghani mengangkat telepon Yogi.


“Dia sudah sama saya, Dok." Yogi melapor pada atasannya, Ghani.


Ghani tersenyum. Dia bisa membayangkan betapa takutnya Andri yang tiba-tiba dihadang di tengah jalan. Akhir-akhir ini sedang marak orang-orang yang dirampok dan dirampas harta bendanya saat jalanan sepi. Ghani sengaja memakai modus operandi ini untuk membalas dendam pada Andri.


"Bagus, aku suka cara kerjamu. Kamu memang selalu bisa diandalkan, Gi. Aku bangga padamu." Ghani berkata bersungguh-sungguh. Ucapannya bukan hanya pujian semata, tetapi murni dari sanubari yang terdalam.


“Terima kasih, Dokter Ghani atas pujian Anda." Sudut bibir Yogi tertarik ke atas saat menerima pujian itu. Ada rasa bangga karena berhasil menjalankan tugas dengan baik.


"Oh ya, sepertinya dia mau pergi jauh, Dok. Soalnya bawa koper berukuran sedang sebanyak dua buah."


Ghani mengelus dagu. Seperti yang dia duga, Andri pasti hendak kabur agar terhindar dari jeratan polisi. Namun, itu tak jadi soal bagi Ghani karena pada akhirnya nanti, lelaki berengsek itu akan berurusan dengan polisi juga. Tentu saja setelah Ghani membalaskan dendamnya pada laki-laki itu.


“Gue tahu Andri pasti hendak kabur. Dasar pecundang! Beraninya sama cewek doang! Biadab! Bedebah!” cibir Ghani. Segala umpatan kasar meluncur dari bibir pria itu.


“Sekarang saya harus apa, Dok? Tangan dan kaki Andri sengaja saya ikat supaya dia tidak kabur. Matanya saya tutup dengan kain. Mulutnya juga saya tutup pakai lakban. Apa saya harus menghabisi dia sekarang?” tanya Yogi memastikan.


“Tidak. Jangan habisi dia. Cukup beri pelajaran padanya karena sudah mendorong Queensha. Aku ingin kamu mematahkan tangan pria itu. Tangan yang dia gunakan untuk mendorong tubuh istriku sampai terjatuh ke jalanan beraspal. Hajar dia hingga babak belur. Pokoknya buat dia semenderita mungkin."

__ADS_1


“Baik, Dok. Nanti saya hubungi lagi kalau saya sudah selesai melakukan eksekusi."


Ghani menutup telepon. Dia tersenyum puas karena rencananya berhasil. Semua ini dilakukan karena dia ingin menunjukkan pada Andri kalau bajingan itu tak boleh macam-macam padanya ataupun istri tercinta.


"Habis lo di tangan gue, Ndri."


***


Andri berusaha menjerit. Sayang, yang keluar dari mulutnya hanya erangan gara-gara mulutnya ditutup menggunakan lakban. Dia berusaha memberontak dari tadi. Namun, semua sia-sia sebab kawanan orang berbaju hitam itu mengikat kaki dan tangannya.


“Hmmmphh! Hmmmph!”


Andri masih berusaha mengeluarkan suara. Tiba-tiba saja sebuah tangan terasa di pipi. Tangan itu meraih lakban dan menariknya agar terlepas dari bibir Adri.


Andri menghela napas lega begitu mulutnya tidak tertutup lakban. Matanya memang masih belum bisa melihat gara-gara ditutup kain hitam. Tapi, keadaannya lebih baik daripada dia tak bisa bicara sama sekali.


“Siapa sebenernya kalian? Kalau kalian mau harta gue, ambil semuanya. Gue bisa ngasih apa pun asalkan kalian lepasin gue. Gue harus selekasnya pergi ke bandara sebelum gue ketinggalan pesawat,” ucap Adri dengan gaya sok.


Yogi yang melihat Andri petantang-petenteng padahal tengah disandera, jadi merasa sebal. Dia segera menjambak rambut Andri sampai laki-laki itu mengaduh kesakitan.


“Jangan banyak bacot lo! Lo pikir orang kaya cuma lo doang di dunia ini, heh! Dasar sombong!” seru Yogi dengan mata melotot. Terlihat jelas pancaran amarah dari sepasang mata itu. Bertahun-tahun bekerja dengan Ghani, tak pernah sekalipun bosnya itu bersikap sombong di hadapannya, padahal jika diukur dari segi kekayaan, orang tua Ghani tak kalah kayanya dengan orang tua Andri.


“Aduh, aduh. Sorry. Lepasin kepala gue. Ini sakit banget," pinta Andri memohon.


Yogi mendorong kepala Andri jauh-jauh. “Lebih baik tutup mulut lo daripada nyawa lo melayang. Ngerti!"


“Sebenernya apa salah gue sama kalian? Kenapa kalian ngelakuin ini sama gue?” tanya Andri belum mengerti mengapa dirinya disekap.


“Lo enggak usah banyak bacot. Enggak usah banyak tanya juga. Yang jelas, kesalahan lo ada banyak. Dan lo harus mempertanggung jawabkan semuanya.”


“Apa maksud lo?” Andri benar-benar tidak paham apa yang sebenarnya terjadi.


“Tapi ada satu hal yang mesti gue lakuin ke lo sekarang." Menyerigai hingga membuat bulu kudu Andri meremang. Walaupun sepasang matanya ditutup kain hitam, tetapi aura kebengisan Yogi dapat dia rasakan dengan mata tertutup.


“Hah? Apa emangnya?” Karena Andri tak bisa melihat, dia tidak tahu sewaktu Yogi mengambil ancang-ancang kemudian menarik kaki ke belakang dan menendang tubuh sang tawanan ke belakang.


"Argh!" Andri mengerang. Dia tak menyangka akan ditendang sampai terjengkang. Kepala terantuk sesuatu sampai berdarah.


Ketika Andri lengah, Yogi melepas ikatan di belakang tubuh pria itu.


“Tangan lo udah ikut andil bikin orang celaka. Karena itu, lebih baik tangan lo ini gue patahin aja biar enggak ada lagi korban berjatuhan." Yogi mengambil pemukul kasti yang tadi dibawahnya dan seketika mengayunkannya ke arah tangan Andri


“Arrrrggghhh!!” Spontan saja Adri berteriak karena tangannya dipukul secara membabi-buta oleh Yogi. Tidak hanya dipukul, Yogi pun menginjak punggung tangan tawanannya itu menggunakan kaki yang dibungkus sepatu boots hingga sebatas mata kaki.


'Mampus! Ini balasan karena lo udah buat istri Dokter Ghani celaka. Dasar bedebah! Lo pantas mati, Berengsek!' Ada kepuasan tersendiri melihat penderitaan Andri.

__ADS_1


...***...


__ADS_2