
Terdengar suara gebrakan meja menggema di penjuru ruangan. Kedua tangan Ghani mengepal di atas meja usai mendengar informasi yang disampaikan Yogi kepadanya.
"Dasar biadab! Pantas saja dia bersikeras ingin hadir dalam pesta yang diselenggarakan oleh Leon, rupanya wanita itu telah menyusun rencana licik untuk menjebakku. Aku tak habis pikir kenapa dia sampai tega melakukan perbuatan itu."
Dengan sedikit ragu Yogi menjawab, "Bisa jadi karena Nona Cassandra terlalu cinta kepada Anda hingga berbuat nekad demikian. Bukankah seseorang akan menjadi gelap bila sudah dipenuhi hawa napsu, ambisi dan kebencian?" ucapnya sambil meremas telapak tangan. Sudah bisa menduga jika Ghani akan marah besar usai mendengar berita ini.
Seandainya Yogi berada di posisi Ghani maka dia pun berbuat demikian. Akibat kesalahan Cassandra, Ghani telah menghancurkan masa depan seorang gadis yang tak berdosa hingga tumbuh kehidupan baru di rahim sang korban.
Mengusap wajah dengan kasar. "Jadi Alvin terpaksa melakukan itu atas desakan Cassandra?" Ghani kembali menegaskan kebenaran yang baru saja dia dengar.
Mengangguk kepala cepat. "Benar, Dokter. Dokter Alvin terpaksa menerima tawaran Nona Cassandra karena saat itu dia membutuhkan banyak uang, ingin meminta bantuan Anda merasa canggung sebab selama ini Dokter Ghani telah banyak membantunya."
Makin berkedutlah kepala Ghani mendengarnya. Sangat menyayangkan sikap Alvin yang terkesan gegabah karena bersedia bekerjasama dengan wanita licik seperti Cassandra.
"Untuk masalah ibu tiri serta adik tiri Bu Queensha, masih dalam tahap penyelidikan. Saya berharap Dokter Ghani mau bersabar dan bersedia menunggu," kata Yogi, menyampaikan informasi lain selain siapa dalang di balik kejadian lima tahun lalu.
"Hmm, ya sudah kamu boleh meninggalkan ruang ini sekarang. Jika ada informasi terbaru tentang mereka segera kabari aku."
Yogi menundukan kepala mohon undur diri dari hadapan Ghani. Kini menyisakan kakak tertua Zahira seorang diri di ruangan berukuran 6×6 meter. Jari tangan pria itu tengah sibuk memijat pelipisnya yang terasa pening.
Pandangan mata menatap bingkai foto kecil yang diletakkan di atas meja kerja. Dalam foto itu terdapat seorang gadis kecil berambut panjang dikepang dua tengah tersenyum lebar sambil membawa boneka kesayangan. Ghani ikut tersenyum dan hatinya menghangat mengingat bahwa bayi mungil yang dulu pernah dia adopsi rupanya adalah darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
Lalu ucapan Yogi kembali terngiang di telinganya. "Sandra, entah aku harus memarahimu atau justru berterima kasih karena berkat dirimu aku dapat menitipkan benihku kepada wanita baik-baik seperti Queensha. Tak tahu bagaimana jadinya jika malam itu aku justru bercinta denganmu mungkin saat ini aku meratapi kesialanku karena menitipkan benihku kepada wanita yang salah."
***
Sementara itu, Aurora masih asyik bermain bersama Queensha. Trauma berat yang dialaminya pasca insiden penculikan sudah mulai menghilang dari memori ingatannya. Kendati demikian, Aurora tetap merasa gelisah dan lebih waspada setiap kali bertemu dengan wanita asing yang belum pernah ditemuinya.
"Loh, Rora mau ke mana, Sayang?" tanya Queensha saat melihat putri kandungnya itu berjalan menaiki undakan anak tangga. Entah apa yang membuat bocah perempuan itu pergi begitu saja meninggalkan koleksi boneka, alat masak-masakan serta mainan rumah-rumahan yang berceceran di karpet berbulu raspur lembut apabila tersentuh permukaan kulit.
Berhenti di anak tangga, Aurora membalikan badan dan berseru, "Rora mau ke kamar. Mama tunggu aja di situ, Rora cuma bentar kok." Kemudian dia kembali berjalan menaiki anak tangga yang tersisa.
Ijah dan Queensha saling berpandangan lalu detik berikutnya asisten rumah tangga sekaligus pengasuh Aurora mengendikan bahu, menandakan bahwa dia tak mengerti apa yang ada di kepala si kecil saat ini.
Sambil menuruni tangga, Aurora menyanyikan lagu anak-anak yang baru saja dia dapat dari guru di sekolahnya. Wajah gadis kecil itu sudah mulai kembali seperti sedia kala.
Queensha duduk di sofa dengan Aurora berada dalam pangkuannya. Si kecil penyuka boneka Barbie membuka buku gambar dan memberikannya kepada sang mama.
"Tadi pagi Rora disuruh menggambar oleh Ibu Guru, Ma. Karena Rora kangen Mama jadinya Rora buat gambar ini." Membuka lembaran buku gambar ke hadapan Queensha.
Queensha mengernyit ketika sepasang matanya melihat ada lima orang dalam gambar yang dibuat Aurora. Tiga di antaranya sudah dapat menebak jika itu adalah dirinya, Ghani dan si pembuat gambar tersebut. Namun, siapakah dua bocah kecil berjenis kelamin laki-laki yang berada di sebelah Aurora. Apakah itu adalah teman sekolahnya Aurora?
"Nah, lihatlah. Ini adalah Mama, Papa, Rora." Aurora mulai menjelaskan siapa saja yang ada dalam gambarnya itu.
__ADS_1
"Lalu yang ini siapa, Sayang. Apa mereka adalah teman baikmu di sekolah?" sergah Queensha cepat. Akibat rasa penasaran dia segera menyela ucapan Aurora.
"Bukan Mama. Mereka bukan teman sekelasku. Mereka adalah ... adik kembarnya Rora, Mama. Tampan semua, bukan?" seloroh Aurora polos.
Sontak mata Queensha terbelalak mendengar selorohan sang putri, sementara Ijah menyemburkan tawa hingga membuat mantan istri Ghani melotot kesal kepadanya.
Mengatupkan bibir meski perut masih terasa geli. "Maafkan aku, Mbak Queensha. Namun, tolong jangan laporkan masalah ini kepada Pak Ghani, saya takut dicincang hidup-hidup oleh beliau."
Queensha kembali menatap ke arah Aurora. "Sayang, kenapa kamu berpikir untuk menggambar dua anak laki-laki ini. Apa kamu melihat teman sekelasmu menggambar hal serupa sehingga kamu tertarik untuk menggambarnya juga?"
"Rora tidak melihat gambar siapa pun kok, Ma. Rora menggambar ini karena ingin Mama dan Papa memberikan adik bayi laki-laki kembar, pasti akan sangat menyenangkan bisa bermain bersama mereka." Masih memandangi wajah Queensha, Aurora kembali berucap, "Mama bisa 'kan kasih Rora dedek bayi yang lucu dan menggemaskan seperti adiknya Tiara?"
Queensha gelagapan ditanya hal begitu oleh putri tercinta. Semenjak menikah dan menjadi nyonya Ghani, tak pernah sekalipun berpikir akan melahirkan bayi hasil pernikahannya dengan sang suami sebab pernikahan mereka terjadi karena ingin memberi kebahagiaan kepada si kecil Aurora bukan karena dilandasi cinta.
"Mama, kenapa diam saja. Ayo dong dijawab. Mama mau kasih adik bayi untuk Rora, 'kan?" Merengsek seperti anak yang tak dibelikan mainan.
Tangan Queensha menggaruk kulit kepala yang tidak terasa gatal. Tak tahu harus menjawab apa sebab dia sendiri masih bingung bagaimana memberi adik untuk Aurora sementara dirinya saja ragu akankah rumah tangganya bersama Ghani bahagia sementara ada wanita lain yang sangat mencintai pria itu.
"Ehm ... kalau itu, mama ...."
"Kami pasti memberikanmu adik, Nak. Tenang saja!" seru Ghani sambil menyeringai licik.
__ADS_1
...***...