
Menggunakan pecahan kaca di antara tumpukan sampah kering, Sarman mencoba memutus ikatan tali yang melilit tubuh. Ia berusaha keras membebaskan diri agar dapat pergi dari bangunan terbengkalai dengan membawa serta istri dan anak semata wayangnya.
'Sial! Kenapa susah sekali!' maki Sarman dalam hati. Sepertinya ikatan tali tersebut sengaja dieratkan karena Yogi tahu akan ada masa di mana Sarman mencoba kabur dari sekapan mereka.
Kendati demikian, rupanya Sarman tidak menyerah begitu saja. Ia terus menggesekan pecahan kaca tersebut hingga akhirnya ikatan pun terlepas.
Tersenyum smirk karena usahanya tidak sia-sia. 'Akhirnya berhasil juga.'
Akan tetapi, senyuman itu meredup saat melihat Ghani yang tampak asyik menyiksa Mia. Di depan sana, Ghani menjadikan Mia sebagai bahan samsak.
Dengan wajah memerah dan pundak bergerak turun naik, Sarman menatap benci pada Ghani. 'Bajingan! Akan kubalas kau!' batin Sarman.
Tidak tahan melihat wanita yang dicintai tengah disiksa habis-habisan, Sarman meraih kembali pecahan kaca yang sempat ia lempar beberapa waktu lalu.
Membawa pecahan kaca berukuran lima belas centi, Sarman berlari kencang ke arah Ghani, kemudian mengangkat benda tersebut ke atas dan dengan kekuatan penuh ia menancapkannya ke bagian punggung tangan calon suami Queensha.
"Aargh!" Ghani menjerit kencang. Cengkeramannya di helaian rambut Mia terlepas. Refleks tubuh Ghani mundur beberapa langkah ke belakang. Darah segar mulai mengalir deras dari luka tusukan akibat pecahan kaca.
Melihat ada kesempatan di depan mata, Sarman memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Ia ingin membalas dendam kepada Ghani sebelum meninggalkan bangunan tersebut.
Kaki tangan menjejak di tanah dengan kencang, kemudian sebelah tangannya mengepal sempurna. Siku melipat ke sisi tubuh. Lengan di tarik ke belakang, kemudian ....
"Rasakan ini!" Suara menggelegar seantero ruangan. Dengan secepat kilat berlari dan langsung melesakkan kepalan tangan ke samping wajah Ghani, tepat mengenai area sekitar rahang dan pipi.
Ghani terbelalak saat tubuhnya tersungkur ke tanah. Belum usai rasa sakit akibat luka tusukan kini ia merasakan rasa nyeri di pipi sebelah kirinya.
Tidak puas hanya dengan meninju, Sarman menendang punggung dan kaki Ghani dengan kencang. Lolongan kesakitan menggema ke penjuru ruangan. Akan tetapi, Sarman sama sekali tidak terdistraksi, ia justru semakin bersemangat untuk menyiksa Ghani.
__ADS_1
"Sudah kukatakan jangan pernah mencoba menyentuh istriku! Namun, kamu tak pernah mau mendengarnya. Jadi jangan salahkan aku jika malaikat maut menjemputmu sekarang!" Amarah yang meledak-ledak membuat Sarman terus menyerang Ghani tanpa henti. Ia seperti orang yang kehilangan akan sehat.
Diserang bertubi-tubi ditambah rasa sakit akibat luka tusuk menyebabkan Ghani tak bisa memberi perlawanan. Ia terkapar tak berdaya di atas tanah seraya merasakan bagaimana kaki dan tangan Sarman bergerak hampir bersamaan menyentuh setiap anggota tubuhnya.
"Orang jahat seperti kalian memang pantas mendapatkannya! You f*cking shiit!" hardik Ghani di tengah gempuran Sarman yang menyerangnya secara membabi-buta.
Mia begitu bahagia melihat keadaan berbanding terbalik. Ghani yang sedari tadi menguasai permainan kini tak berdaya, bahkan untuk mengangkat kepalanya saja pun tidak mampu.
"Hajar terus dia, Mas! Jangan beri ampun! Kalau perlu bunuh dia sekarang juga!" Mia berteriak kencang dengan suara nyaring.
Seolah mendapat guyuran air hujan di musim kemarau panjang, Sarman semakin bersemangat untuk membuat Ghani cacat seumur hidup atau kalau perlu mati di tangannya sendiri.
Mendengar suara gaduh dan lolongan kesakitan berasal dari dalam ruangan, Deni bergegas menemui Yogi. "Bos, sepertinya keadaan di dalam ruangan tidak terkendali. Bagaimana jika kita masuk ke dalam dan memastikan apakah semuanya baik-baik saja atau tidak," ujar Deni to the point. Tak bisa basa basi jika ada keadaan genting seperti begini.
Yogi yang baru saja meneguk es kopi miliknya segera meletakkan wadah dalam genggaman tangan ke atas meja dan berlari sekencang mungkin menuju ruangan di mana Ghani tengah menyiksa Mia. Pikirannya langsung tertuju kepada pria yang pernah menyelamatkan nyawa sang ayah walau akhirnya ayah tercinta kembali ke hadapan Sang Pencipta.
Rahang Yogi mengeras. Dada pria itu kembang kempis dengan napas terengah. Tanpa diketahui oleh Sarman, pria itu melesat cepat seraya menghantamkan balok kayu ke punggung sang tawanan.
"Argh!" teriak Sarman merasakan sebuah benda keras mengenai bagian belakang tubuh. Akibat dihantam Yogi, ia terpaksa melepaskan lilitan tali yang membelit tubuh Mia.
Sarman menoleh ke belakang demi melihat siapa yang berani menyerangnya secara tiba-tiba. "Siapa yang-"
Belum juga Sarman menyelesaikan perkataannya, sebuah pukulan kembali melayang ke arahnya. Namun, kali ini bagian perutnyalah yang menjadi sasaran.
"Berani-beraninya kamu menyakiti Dokter Ghani!" Yogi berdiri di depan kaki Sarman dengan tatapan tajam. Ia melirik sekilas ke arah Ghani dengan napas terengah.
Saat melihat tubuh Ghani berada dalam pangkuan Deni, amarah dalam diri semakin meledak. Lalu ia kembali menatap Sarman dengan kilatan api membara.
__ADS_1
"Kamu telah melukai punggung tangan Dewa Penolongku. Kenapa kamu tega melakukan itu, hah? Tidakkah kamu sadar akan perbuatanmu barusan telah merugikan banyak orang?"
"Ada banyak orang di luaran sana membutuhkan pertolongan Dokter Ghani. Dengan tangan itu dia telah menyelamatkan banyak nyawa, salah satunya adalah ayahku. Jika kamu melukainya, bagaimana dia menolong orang lain, hah?" sentak Yogi terengah.
"Aku tidak peduli! Sekalipun dia mati biarkan saja, anggaplah itu balasan karena telah menyakiti istriku," sahut Sarman sambil merintih kesakitan.
"Bedebah! Yang seharusnya mati itu adalah kamu, bukan Dokter Ghani!" bentak orang kepercayaan Ghani seraya memukul wajah, perut dan kaki Sarman, membalas perbuatan sang tawanan.
Aura Yogi menjadi gelap, segelap cuaca di luar sana, padahal beberapa saat lalu sinar mentari bersinar cerah. Gemuruh petir mulai bersahutan seolah memberi petanda bahwa akan terjadi hal buruk hari ini.
Mia tersentak melihat betapa mengerikannya Yogi. Kegelapan, kengerian pada diri pria itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Yogi berjongkok, mencengkeram pergelangan tangan Sarman. Tenaga dalam yang ada dalam diri ia keluarkan. Wajah Sarman memerah dan ia memandang ngeri pada tangan Ghani.
Bunyi kemeretak terdengar sedikit demi sedikit. Bersamaan dengan jeritan Sarman akibat tulang-tulang di pergelangan tangannya mengalami dislokasi dan bisa dikatakan patah. Masih belum puas, kemudian ia menginjak telapak tangan Sarman dengan sepatu hitam miliknya. Bukan hanya itu saja, ia pula memukulkan balok kayu ke kaki sang tawanan berkali-kali.
"Inilah balasannya karena kamu sudah menyakiti Dokter Ghani. Tangan Dokter Ghani terlalu berharga untuk kamu sakiti, wahai Manusia Biadab!"
"Aaa! Aaa!" Sarman tak bisa berhenti menjerit. Tulang-tulang jemarinya tak lagi dapat digerakan.
"Roni, lukai wajah Mia menggunakan pisau. Buatlah wajahnya cacat agar Sarman semakin menderita karena tidak dapat melindungi istrinya!" titah Yogi tegas.
Kepala Sarman menggeleng. Air matanya mengalir. Dari sepasang mata itu seolah ingin meminta Yogi menghentikan aksinya untuk melukai sang istri.
Akan tetapi, Yogi yang sudah terlanjur marah tak dapat menggunakan hati nurani dan pikirannya. Ia turuti bisikan setan untuk terus membuat perhitungan dengan Mia dan Sarman.
Roni menjalankan perintah Yogi tanpa melakukan kesalahan sedikit pun. Hari ini, semua perbuatan jahat yang telah Mia dan Sarman lakukan terhadap Queensha dan Ghani telah mendapat balasan. Sementara Lita dibiarkan begitu saja. Yogi tak sampai hati bila turut menyiksa Lita sebab selama ini wanita manja itu hanya menuruti apa kata kedua orang tuanya.
__ADS_1
...***...