Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Sebuah Firasat


__ADS_3

Usai mengantarkan Queensha pulang ke indekos, Ghani pergi menemui Zahira di kediaman sang adik. Sebelum terbang ke Makasar, ia ingin memastikan dulu keselamatan Aurora yang saat ini sedang menginap di rumah adik kembarnya.


"Kakak pertama? Kupikir siapa kok malam begini ada tamu datang berkunjung," kata Zahira. Cukup terkejut karena tidak biasanya Ghani datang ke rumah tanpa memberitahunya terlebih dulu.


"Maaf, kalau kedatanganku ke sini mengganggu istirahatmu dan Shaka."


"Ish, mengganggu apa, sih, Kak. Kebetulan aku, Mas Shaka serta Rora dan si Kembar sedang menonton televisi bersama. Kami ... baru saja selesai makan malam."


Zahira menggeser tubuhnya demi mempersilakan kakak pertamanya untuk masuk ke rumah, kemudian meminta budhe Erna menyiapkan minuman untuk tamu istimewanya tersebut.


"Tumben, Kak Ghani datang ke sini tanpa mengirim pesan terlebih dulu. Ada apa? Apa Kakak ingin menjemput Rora pulang ke rumah Bunda?" tanya Zahira penasaran.


Menggeleng kepala cepat. "Tidak, Dek. Kakak datang ke sini justru ingin menitipkan Rora kepadamu. Selama dua atau tiga hari kedepan, Kakak mau pergi ke Makasar, mengurus urusan penting di sana. Oleh karena itu, Kakak meminta tolong padamu, selama pergi biarkan Rora menginap di sini."


"Bukannya Kakak tidak percaya kepada Bunda dan Ayah, hanya saja aku merasa tidak sampai hati bila terus merepotkan kedua orang tua kita. Sudah cukup mereka repot mengurusi kita saat masih kecil dulu, masa iya setelah dewasa, aku kembali menyusahkan Ayah dan Bunda untuk merawat dan menjaga Rora selama diriku pergi. Aku ... tidak sampai hati bila harus merepotkan mereka untuk kesekian kali."


"Seandainya aku membawa pulang Rora, dia akan kesepian karena tak punya teman bermain. Kalau di sini, ada Mayumi dan Allan yang menemani sehingga putriku tak merasa sepi saat sedang bermain," sambung Ghani menjelaskan mengapa ia jauh merasa tenang meninggalkan Aurora di rumah sang adik.


Bukannya Ghani tak percaya kepada Rayyan dan Arumi, pria kelahiran tiga puluh tiga tahun silam tak mau merepotkan kedua orang tuanya itu. Ia ingin pasangan lansia yang terkenal hebat di dunia medis dapat menikmati masa pensiun mereka tanpa direpotkan oleh urusan cucu maupun hal lain.


Mengerutkan kening, Zahira bertanya, "Loh, memangnya Kakak mau pergi ke mana? Kok mendadak sekali."


Ghani tidak segera memberitahu alasannya pergi ke Makasar. Ia tengah dilanda dilema antara memberitahu Zahira atau tidak. Akan ada konsekuensi yang diterima jika salah satu dari dua opsi dipilih olehnya.


Melirik pada perut Zahira yang mulai membuncit. Kehamilan di trimester kedua membuat bagian perut sang adik mulai terlihat menonjol ke depan.

__ADS_1


Menghela napas panjang. Setelah berpikir sejenak Ghani berpikir untuk tidak memberitahu Zahira terlebih dulu. Biarlah nanti jika ada waktu dan kesempatan barulah ia bercerita kepada adik kembarnya itu.


"Maaf, kakak belum bisa menceritakan apa pun kepadamu. Namun yang pasti, urusan ini sangat penting bagiku jadi aku harap kamu dan Shaka bersedia menjaga Rora selama diriku pergi. Kamu ... mau, 'kan, merawat Rora untuk dua atau tiga hari ke depan?" tanya Ghani memastikan. Khawatir jika Zahira serta adik iparnya, Shaka keberatan akan kehadiran Aurora di tengah mereka.


Zahira cemberut dan memutar bola mata dengan malas. "Tentu saja aku bersedia, Kak. Kakak jangan berpikiran macam-macam, deh. Rora itu keponakanku jadi mana mungkin aku keberatan dengan permintaanmu ini."


Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Ghani. Sempat berpikir jika Zahira kesal karena ia terus menitipkan Aurora di sana.


"Sukurlah kalau begitu, kakak bisa tenang sekarang. Oh ya, selama kakak pergi, Queensha akan sering menemui Rora di sini. Hubunganku dengannya mulai membaik jadi jika dia ke sini, tolong jangan dipersulit."


Zahira mengangguk patuh, sedikit banyak mengetahui kisruh rumah tangga Ghani dengan Queensha. Akan tetapi, ia belum tahu jika sebetulnya Queensha adalah ibu kandung dari keponakan tersayang. Dan tentunya tidak juga tahu jika Aurora adalah putri dari kakak kembarnya itu.


***


"Aneh, kenapa perasaan gue enggak nyaman begini, sih. Sebenarnya apa yang akan terjadi kepada gue?" Tangan gadis itu memegangi jantungnya yang terus memompa kencang dari biasanya. Entah mengapa sejak kemarin siang perasaan Lita tidak tenang, seolah akan terjadi sesuatu menimpanya. Namun, ia sendiri tak tahu apa yang akan menimpanya di kemudian hari.


Di saat Lita sedang termenung, Mia yang kala itu tengah berbincang di ruang tamu bersama Sarman dibuat penasaran dengan apa yang dilakukan anak semata wayangnya itu.


"Mas, aku temani Lita sebentar. Kalau kamu ngantuk dan mau tidur, duluan saja nanti aku menyusul."


Sarman mengalihkan perhatiannya dari layar televisi di depannya ke arah Lita. Ia memandangi buah cintanya dengan sorot mata penuh tanda tanya.


"Ya, kamu temani saja Lita. Aku tak masalah jika kamu tinggal sendirian," sahut Sarman.


"Kamu kenapa, Ta? Mama perhatikan sejak tadi sore melamun terus. Apa kamu kesambet penunggu pohon pisang di belakang rumah?"

__ADS_1


Suara Mia berhasil mengembalikan kesadaran Lita yang sempat menghilang beberapa saat. Gadis itu mengerjap mata beberapa kali, kemudian menoleh ke sumber suara.


"Mama? Mengagetkanku saja!" keluh Lita seraya beringsut, memberi ruang untuk Mia duduk di sebelahnya.


"Lagian, kamu ngapain duduk sendirian di luar? Kenapa tidak bergabung bersama mama dan Ayahmu? Ingat Lita, sekarang mama dan Ayahmu sudah rujuk. Itu artinya kamu harus menghormati dia sebagaimana kamu menghormati Gunawan dulu."


Lita mendesis. "Untuk apa rujuk dengan cowok kere seperti dia, Ma? Memangnya dia dapat memberikan apa kepada kita selain sengsara. Buktinya sejak aku masih kecil hidup kita belangsat bahkan untuk membeli beras saja sulit. Eh, sekarang Mama malah balikan dengannya."


Mia mengepal kedua tangan di samping kanan dan kiri. Ucapan itu benar-benar menusuk ke hati yang terdalam. Dulu ia memang sangat membenci Sarman, tapi entah mengapa getaran halus itu kembali muncul dalam dirinya setelah melalui banyaknya lika liku kehidupan hingga puncaknya ia bersedia menikah lagi dengan mantan suaminya itu.


"Jaga mulutmu, Lita! Bagaimanapun dia ayah kandungmu, wajib kamu hormati."


Mia menumpangkan kaki kanannya di paha sebelah kiri. Udara sekitar terasa panas walau embusan angin menerbangkan anak rambut yang menutupi wajahnya.


"Kamu belum jawab pertanyaan mama. Sedang apa di sini?" tanya Mia kesal.


Lita mengerucutkan bibir ke depan, kesal karena Mia lebih membela Sarman daripadanya. "Aku sedang berpikir akan terjadi hal besar apa menimpa kita di kemudian hari. Perasaanku tidak nyaman, selalu gelisah dan membuatku tak fokus melakukan apa pun. Aku takut hal buruk menimpa kita semua."


Mia yang tak pernah percaya apa pun hanya tertawa lepas. Perut terasa gatal seakan ribuan tangan tak kasat mata menggelitiknya.


"Omong kosong! Jangan terlalu percaya dengan begituan, Lita! Percaya deh sama mama, kalau itu hanya perasaanmu saja." Mia mendekati Lita dan menatap lekat iris coklat sang putri. "Kalaupun terjadi hal buruk menimpa kita, mama yakin, Sarman dapat melindungi kamu dan mama."


"Ayahmu itu hebat, kebal terhadap apa pun. Jadi, percayalah tak mungkin terjadi hal buruk menimpa kita berdua." Mia menepuk kedua pipi Lita pelan. "Daripada melamun, lebih baik kamu tidur. Lihat, sudah jam sebelas malam. Anak gadis tidak baik tidur larut malam."


...***...

__ADS_1


__ADS_2