
Hari yang dinantikan pun tiba. Tanpa terasa hanya tersisa beberapa jam lagi Queensha dan Ghani sudah harus pergi untuk memulai bulan madu. Segala persiapan telah selesai Ghani urus, mulai dari pesawat, paspor bahkan sampai tempat mereka menginap telah diurus oleh pria tampan tersebut.
Di kamar, Queensha pun baru saja mengemas pakaian miliknya dan juga milik Ghani ke dalam koper. Namun, entah mengapa Queensha masih begitu berat untuk pergi karena harus meninggalkan Aurora untuk sementara waktu.
Seolah bisa merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh istrinya, Ghani yang baru saja masuk kamar setelah sebelumnya menemui Rayyan untuk membahas urusan pekerjaan sebelum pria itu berangkat bulan madu, segera menghampiri sang istri dan memeluk wanitanya dari belakang.
Menghidu aroma harum berasal dari tubuh istrinya. “Kamu kenapa, Sayang? Aku perhatikan sejak tadi termenung terus. Ada apa, hm?" tanya Ghani.
Yang ditanya tak langsung menjawab. Dibanding mengungkapkan apa yang sedari tadi mengganggunya, tangan Queensha justru sibuk mengelus punggung tangan Ghani yang berada di perutnya.
“Masih tidak tega meninggalkan Aurora untuk sementara waktu bersama bunda dan ayah di sini?” tebak Ghani.
Ditodong pertanyaan itu, Queensha buru-buru menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha menyangkal tebakan Ghani meskipun hal itu benar adanya.
Sebuah tindakan yang sepertinya sia-sia karena tak peduli seberapa keras Queensha berusaha mengelak, Ghani tahu jika istrinya sedang berbohong.
Ghani membalikan badan Queensha hingga kini posisi mereka saling berhadapan. Kedua tangan menyentuh pundak sang istri, dengan lembut berkata, “Aurora akan baik-baik saja, Sayang. Di sini, ada Ayah, Bunda dan sesekali Zahira serta Shaka akan datang berkunjung membawa si Twins, jadi putri kita tak kesepian." Ghani mencoba kembali meyakinkan Queensha entah sudah untuk yang berapa kali. “Aku bisa pastikan itu."
Queensha percaya. Di bawah pengawasan langsung dari ayah dan ibu mertuanya, Aurora pasti baik-baik saja. Jangankan orang yang memiliki maksud jahat terhadap putri mereka, nyamuk pun sepertinya juga tak akan berani mendekat. Apalagi Queensha juga tahu jika Ghani tak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa Aurora. Ghani boleh saja tidak berada di sisi putri mereka setiap saat, tetapi ia tahu jika kaki tangan sang suami ada di mana-mana. Salah satu dari sekian banyak orang suruhan Ghani, Yogi jelas ada di antaranya.
“Iya, aku tahu, tapi ...." Ucapan Queensha mengambang di udara.
“Tapi apa, Sayang? Katakan yang sejujurnya kepadaku apa yang membuatmu berat meninggalkan Rora di sini bersama kedua orang tuaku? Apa kamu tidak percaya jika orang tuaku bisa menjaga Rora dengan baik?"
“Aku percaya, kok. Hanya saja, aku-"
“Kalau kamu percaya, lalu apa yang membuatmu ragu, Sayang?” kejar Ghani dengan sedikit geregetan. Queensha bukannya tak menyadari hal tersebut, sayang di detik-detik terakhir ketika wanita itu hendak menjelaskan, Queensha berubah malah berubah pikiran.
__ADS_1
“Ah, sudahlah. Lupakan saja. Aku jelaskan juga percuma, Mas Ghani tidak akan mengerti," kata Queensha seraya melengos dari hadapan sang suami.
“Ya makanya tolong kamu jelaskan supaya aku bisa mengerti,” pinta Ghani masih mencoba sabar.
Namun, alih-alih memberi penjelasan seperti yang suaminya minta dan keluhkan, Queensha justru memilih menghindar.
“Aku mau ke kamar Aurora dulu untuk berpamitan,” katanya. Ghani mengangguk mengiyakan. Sedikit pun tak berniat melarang apalagi sampai menghalang-halangi Queensha yang hendak melihat putri mereka yang sedang tidur. Besok pagi mereka sudah pasti berada di pesawat hingga Queensha tak dapat menatap wajah tenang dan damai Aurora saat tengah terlelap.
“Mas tunggu di sini saja, aku cuma sebentar," sambung Queensha, membuat Ghani yang baru saja hendak mengekori mengurungkan niatnya. Tak berani membantah perkataan Queensha karena tak ingin membuat suasana hati istrinya semakin bertambah buruk.
***
Di kamar Aurora, Queensha yang baru saja masuk mendapati putri kesayangannya itu sudah tertidur pulas. Terlihat begitu tenang dan polos hingga membuat Queensha yang kini sudah duduk di sisi ranjang tak kuasa menahan diri untuk tidak mengusap pelan pipi chubby Aurora.
Setelahnya, Queensha memandangi wajah putrinya dengan lekat. Menatap Aurora seintens ini membuat Queensha menyadari jika waktu benar-benar berjalan dengan begitu cepat. Bayi yang dulu berada diperutnya selama sembilan bulan, kini sudah tumbuh besar dan sudah padai mengatakan apa yang dia inginkan.
“Jangan cepat besar ya, Nak. Mama masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama kamu.” Gumam Queensha dengan nada lirih, syarat akan permohonan.
Dalam hati Queensha pun berjanji akan menjadi ibu yang baik untuk Aurora juga calon anak-anaknya nanti. Seorang ibu yang merawat, menjaga dan juga melimpahi mereka dengan kasih sayang.
Melirik jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Queensha pun segera bangkit dari duduk. Di kamar mereka, Ghani pasti sudah menunggu. Tak ingin membuat suaminya khawatir, Queensha pergi dari kamar Aurora dengan hati yang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Namun, sebelum meninggalkan kamar, ia membenarkan selimut Aurora dan mengecup kening putrinya sayang.
Keesokan pagi setelah drama yang cukup panjang karena Aurora yang tahu mama papanya akan pergi jauh mendadak rewel dan memaksa ingin ikut.
"Hati-hati, Mama, Papa. Cepat kembali, Rora pasti merindukan kalian berdua," berkata dengan sisa tangis. Tubuh mungil itu berada dalam gendongan Rayyan. Beruntungnya Zahira datang tepat waktu, membawa serta Mayumi karena tahu akan ada drama sebelum kakak pertamanya berangkat menuju lokasi bulan madu.
Ghani dan Queensha akhirnya berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka berdua menuju Maldives, sbuah negara yang menjadi tujuan awal mereka berbulan madu.
__ADS_1
Queensha tak tahu bagaimana keadaan di pulau tersebut karena belum pernah berlibur ke sana. Namun, selama perjalanan menuju bandara, Ghani pernah menyinggung tipis-tipis soal mereka yang akan menginap di sebuah pulau yang ada di sana.
“Jadi nanti selama kita berada di sana, begitu membuka jendala kamu akan langsung disuguhkan pantai lengkap dengan pemandangan sunsetnya, Sayang. Bagaimana, terdengar menyenangkan bukan? Aku yakin kamu akan menyukainya.”
Berbeda dengan Ghani yang tampak begitu antusias dengan perjalanan bulan madu mereka, Queensha lebih banyak diam dan mengiyakan saja apa yang suami katakan.
"Iya, Mas. Apa pun itu, selama ada kamu di sisiku pasti terasa indah."
Jujur saja, Queensha tak begitu tertarik dengan rencana bulan madu mereka. Jauh dari lubuk hati wanita itu masih menyayangkan keputusan Ghani yang memilih pergi bulan madu ke luar negeri saat di negara mereka sendiri saja masih banyak tempat-tempat dengan pemandangan menakjubkan yang belum pernah mereka berdua kunjungi.
Pernah Queensha menyarankan agar mereka pergi ke Bali atau Lombok jika memang Ghani mencari tempat dengan pemandangan bagus untuk melihat sunset, tetapi usul itu langsung ditolak mentah-mentah.
“Nanti kalau kita pergi bulan madu ke Bali atau Lombok kamu pasti akan merengek minta pulang lebih cepat karena terlalu merindukan Aurora. Namun, kalau kita ke Maldevis, kamu tidak bisa bersikap seenaknya sebab pulau tersebut berada jauh dari Indonesia. Kamu mesti melalui perjalanan yang cukup melelahkan untuk tiba di Jakarta."
Jawaban yang sedikit membuat Queensha jengkel sebenarnya.
“Sayang, sudahlah. Jangan cemberut terus. Kita ini pergi untuk berbulan madu bukan mau menjalani hukuman mati. Jadi boleh aku minta kamu untuk tersenyum? Nikmati waktu kita berdua, karena belum tentu besok-besok kita bisa kencan seperti ini.” Guna membujuk Queensha, Ghani sampai harus bersikap layaknya seperti seorang anak kecil. Mengusel-ngusel pundak Queensha bak seekor anak kucing yang meminta susu kepada majikannya.
Queensha jadi merasa bersalah saat mendengarnya. “Baik, Mas. Maafin aku, ya, tadi aku cuma sedih karena harus meninggalkan Rora," aku wanita itu kemudian.
Dapat merasaka bagaimana perasaan Queensha, Ghani segera membawa tubuh mungil istrinya dalam dekapan. Berusaha menenangkan wanita itu yang belum juga sampai ke tempat tujuan mereka berbulan madu, tapi sudah mengeluh merindukan Aurora.
“Nanti begitu mendarat kita hubungi Bunda biar kamu bisa puas bicara dan melihat Aurora lewat video call.” Janji Ghani.
Jika sesuai rencana mereka akan pergi ke Maldives yang menjadi tujuan pertama pengantin baru itu berbulan madu selama kurang lebih empat hari. Baru setelah itu terbang ke Jepang dan tinggal di sana selama empat hari juga.
Bagi keduanya, Jepang merupakan tempat yang cukup menyimpan banyak cerita karena di negara matahari terbit itulah mereka pertama kali bertemu dan juga merupakan tempat di mana Ghani menitipkan benihnya pada Queensha sampai terlahirlah Aurora. Ia ingin, menghilangkan trauma serta mengukir kisah indah yang baru bersama istri tercinta.
__ADS_1
...***...