
"Tante Ayu sama siapa ke sini? Om Imran dan Leon, ke mana?" Ghani celingukan mencari keberadaan sahabat dan papa sahabatnya. Akan tetapi, ekor matanya tak menemukan keberadaa dua pria itu di sekitar unit apartemennya.
"Tante datang sendirian ke sini. Papanya Leon tiba-tiba saja diminta jadi nara sumber pada seminar yang diadakan pihak kampus, sementara Leon masih di rumah sakit. Katanya ada operasi besar yang membuat dia pulang terlambat," jawab Bu Ayu.
"Tante memang sengaja datang ke sini karena ingin bertemu kamu dan Queensha. Apa tante boleh masuk sekarang?"
Pertanyaan bu Ayu sontak menyadarkan Ghani yang sempat nge-blank beberapa saat. Saking terkejutnya, dia sampai lupa mempersilakan sang tamu masuk ke dalam rumah.
"Maaf, Tante, aku lupa. Silakan masuk. Kebetulan istriku ada di dalam. Dia sedang menemani Rora belajar." Ghani memutar tubuhnya ke samping sedikit demi mempersilakan ibunda dari sahabatnya masuk ke dalam unit apartemen.
Setelah bu Ayu masuk, Ghani menunjukan jalan menuju ruang tamu. Sebuah ruangan yang biasa digunakan sang pemilik apartemen untuk menjamu tamunya. Rupanya, ruangan itu bukan cuma berfungsi sebagai tempat menjamu para tamunya, melainkan juga berfungsi sebagai ruang keluarga.
"Ghani, tante minta maaf ya kalau mengganggu waktu istirahatmu. Tante terpaksa menemuimu secara langsung karena hal yang mau disampaikan cukup serius. Memang bisa dibicarakan via telepon, tapi tante rasa bertemu sambil bertatap muka begini lebih afdol."
"Tidak masalah, Tan. Kebetulan aku cuma sedang nonton film saja. Oh ya, tadi katanya ada perlu juga dengan Queensha. Kalau gitu, aku panggilkan dia dulu di kamar Rora." Lalu Ghani berjalan menuju lorong yang akan membawanya pada sebuah kamar dengan bagian depan pintu terdapat gantungan bertuliskan nama Princess Aurora. Jika dalam bahasa Indonesia berarti "Putri Aurora".
Queensha refleks menoleh saat mendengar ketukan pintu disusul penampakan Ghani di ambang pintu. Air mukanya menunjukan keseriusan, mrmbuat dia bertanya apa yang menyebabkan sang suami terlihat begitu serius dibanding sebelumnya.
"Kamu kenapa, Mas? Apa kamu diminta pihak rumah sakit untuk kembali ke sana karena ada kasus gawat darurat yang hanya bisa ditangani olehmu saja?" Queensha menduga ini ada kaitannya dengan pekerjaan Ghani di rumah sakit.
"Aku baik-baik saja, Sha." Ghani berjalan mendekat kepada Queensha dan berbisik di telinga sang istri. "Di depan ada Tante Ayu. Beliau datang ke sini sengaja ingin bertemu dengan kita berdua."
Bibir setengah terbuka, menatap Ghani tidak percaya. "Ada perlu apa beliau ke sini? Kok tumben sekali menemui kita berdua, Mas."
Mengendikan kedua bahu ke atas. "Entahlah, aku pun tak tau. Sebaiknya kita temui saja beliau di ruang keluarga. Kalau hanya berdiam diri di sini, kita tak mendapat jawaban apa pun."
Ghani membungkukan punggungnya di sebelah sang putri yang sedang fokus menulis di meja belajar. "Sayang, papa pinjam Mama sebentar, ya? Jadi, Rora belajar duluan sendirian sampai papa selesai berbicara dengan Mama."
Perlahan, Aurora mendongak. Lalu senyuman lebar tercipta di wajah chubby gadis kecil itu. "Boleh, Papa. Tapi jangan lama-lama karena Rora masih mau berduaan dengan Mama."
__ADS_1
"Baik. Setelah papa selesai, papa kembaliin ke Rora lagi."
Queensha tersenyum geli. Dia berpikir jika dirinya adalah sebuah barang yang tengah diperebutkan oleh suami dan anak tercinta.
***
"Kamu temui Tante Ayu dulu. Ajak ngobrol beliau, sementara aku mau buatkan minuman dulu untuknya."
Meskipun merasa segan karena seharusnya dirinyalah yang membuatkan minuman untuk sang tamu, tetapi mengingat semua omongan Ghani, Queensha terpaksa mengiyakan apa yang diperintahkan pria itu kepadanya.
"Selamat malam, Tante Ayu. Maaf sudah membuatmu menunggu lama," kata Queensha saat tiba di ruang tamu. Lalu dia melangkah masuk ke dalam dan mrngambil tempat duduk di seberang bu Ayu.
"Malam juga, Sha. Tidak apa, toh tante juga yang salah karena datang ke sini secara mendadak tanpa memberitahu kalian terlebih dulu."
Setelah Ghani berkumpul bersama mereka, maka bu Ayu langsung menyampaikan tujuan kedatangannya ke sana.
"Sebelumnya tante mau minta maaf jika kedatanganku ke sini mengganggu waktu istirahat kalian berdua. Tante terpaksa datang ke sini karena ada hal penting yang ingin segera diselesaikan sebab masalah ini sangat mengganggu pikiranku."
Bu Ayu memandangi Ghani dan Queensha bergantian. Lalu, bibir itu kembali terbuka dan dia berkata, "Tentang Leon. Tante tau jika saat ini Leon sedang dekat dengan seorang gadis bernama Lulu."
Queensha terhenyak saat nama sahabatnya disebut. Rasa takut dalam diri wanita itu perlahan muncul ke permukaan. Takut jika bu Ayu akan menyalahkan dirinya karena telah lancang mengenalkan seseorang kepada putera kesayangan.
"Tante sudah mengetahui semua informasi tentang gadis itu. Bahkan tante pun sudah bertemu dengannya. Kesan pertama bertemu dia, tante ... menyukainya. Kepribadian Lulu begitu memukau dan tante rasa sangat cocok bersanding dengan Leon, anak tante yang terkadang bersikap slengean hingga tak jarang membuat darah tinggiku naik secara mendadak."
"Jadi ... Tante Ayu pernah bertemu Lulu. Di mana?" tanya Queensha dengan bola matanya membulat sempurna. Dia sangat terkejut mendapati bahwa sahabatnya bertatap muka secara langsung dengan ibu dari pria yang hendak dijodohkan kepadanya.
Dengan santai bu Ayu menjawab, "Di tempat kerjanya. Kami berbincang cukup lama dan tante bisa menarik kesimpulan bahwa Lulu adalah perempuan baik yang memang cocok menjadi menantuku."
"Lalu apa hubungannya antara Tante bertemu Lulu dan kami berdua?" Ghani yang sedari tadi terdiam ikut berbicara. Dia pun sama terkejutnya dengan Queensha, tetapi tidak se-shock sang istri.
__ADS_1
Bu Ayu kembali memandangi pasangan pengantin baru di depannya lalu dia berucap, "Karena tante mau minta bantuan kamu dan Queensha untuk menjodohkan mereka berdua. Kalau cuma tante saja yang bergerak, itu tidak akan maksimal. Tante butuh bantuan orang terdekat Lulu maupun Leon untuk menyatukan mereka berdua."
Lagi dan lagi Queensha dibuat terkejut. Bahkan jantungnya terasa jatuh ke bawah karena saking terkejutnya.
"Mendekatkan Lulu dengan Mas Leon. Apa aku tidak salah dengar?" Queensha menatap tidak percaya pada perempuan paruh baya di hadapannya.
Mengangguk cepat. "Ya, mendekatkan mereka berdua. Gunakan segala macam cara untuk membuat hubungan Leon dan Lulu semakin lengket. Tante percaya 100% kalau kalian bisa melakukannya."
"Bagaimana, kalian bisa, 'kan, bantuin tante?" Bu Ayu menatap penuh pengharapan kepada dua sosok di depannya.
Queensha menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Kalau diusahakan, bisa. Namun, apa Mas Leon tidak keberatan jika kami terus mendorongnya agar lebih dekat lagi dengan Lulu? Aku takut Mas Leon akan marah jika kami terlalu ikut campur soal asmaranya."
"Tidak akan keberatan sama sekali. Bahkan, Leon pasti mengucap banyak terima kasih pada kalian berdua."
Bu Ayu senyum-senyum sendiri kala membayangkan wajah Leon yang terlihat lebih ceria semenjak berkenalan dengan Lulu. Firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa anak bungsunya itu tengah berbahagia dan sumber kebahagiaan Leon berasal dari Aluna Humairah.
"Bagaimana Tante Ayu bisa begitu percaya jika Leon tidak keberatan kalau aku dan istriku mendorongnya agar lebih dekat dengan Lulu?" Kali ini giliran Ghani yang berbicara.
"Karena tante dapat melihat jika sebetulnya Leon punya perasaan kepada Lulu. Hanya saja dia belum menyadari tentang perasaannya itu. Dia ... terlalu bodoh sampai tak sadar kalau telah jatuh cinta pada sahabatnya istrimu."
Ghani manggut-manggut. Mengakui bahwa Leon memang bodoh soal urusan cinta. Kalau tidak bodoh lalu kenapa dia sampai tak sadar telah diselingkuhi oleh mantan kekasihnya dulu.
"Jadi, gimana? Apa ... kalian mau bantuin tante? Kalau misi kita berhasil, tante akan beri kalian tiket liburan selama lima hari ke Korea Selatan agar bisa selfie di kolam renang Sono Calm Jeju dengan latar belakang laut dan matahari terbenam mirip seperti di drama King The Land, itu, loh. Kalian bisa mengunjungi berbagai tempat wisata di Korsel secara gratis. Menarik, bukan?" Bu Ayu menaik turunkan kedua alisnya. Tak masalah jika harus mengeluarkan uang tabungan dan menjual perhiasan demi masa depan anak kesayangan. Menurut bu Ayu, ini merupakan kesempatan langka yang tak mungkin terulang kedua kali dalam hidupnya.
Keheningan menyelimuti ketiga orang dewasa itu. Ghani dan Queensha tampak sedang berpikir keras, menimbang keputusan terbaik atas tawaran yang diberikan bu Ayu, sementara ibunda Leon tengah menanti dengan harap-harap cemas. Meski dalam hati yakin jika Ghani dan Queensha bersedia membantunya, tetap saja dia cemas takut pasangan pengantin di depan sana menolak tawarannya.
Ghani dan Queensha saling menatap satu sama lain, kemudian dua pasang mata mengedip disusul anggukan kepala samar.
Secara hampir bersamaan Ghani dan Queensha menjawab, "Baik, kami setuju!"
__ADS_1
Bu Ayu mengulum senyum lebar, puas dengan jawaban Ghani dan Queensha. "Oke, mulai sekarang kita bekerja sama menyatukan mereka berdua. Tante harap, kita dapat bekerja sama dengan baik hingga usaha kita membuahkan hasil. Leon dan Lulu menyusul kalian ke pelaminan."
...***...