
Perasaan hangat ini terasa familiar sekaligus asing dalam waktu bersamaan. Masih dengan mata terpejam, Queensha semakin mendekatkan kepalanya kepada sesuatu yang terasa hangat tersebut. Mencari posisi ternyaman, berniat tidur sedikit lebih lama meski matahari sudah mengintip malu-malu.
Pagi ini Queensha merasa badannya jauh lebih lelah jika dibandingkan dengan hari sebelumnya hingga membuat wanita itu merasa begitu enggan beranjak dari ranjang. Kamar yang nyaman, kasur yang empuk serta suhu ruangan yang terasa dingin membuat ia ingin terus bergelung di bawah selimut tebal terbuat dari bahan berkualitas.
Akan tetapi, kebiasaannya bangun pagi sebelum sang surya menampakkan pesonanya membuat Queensha tak benar-benar dapat terlelap lagi. "Come on, Sha, walau tubuhmu terasa letih, tapi kamu tidak bisa bermalas-malasan. Ingat kata Mama, kalau bangun siang maka rezekimu akan dipatok ayam." Nasihat itu selalu ia camkan dalam benak hingga ia dewasa.
Queensha membuka mata secara perlahan dengan sedikit malas-malasan. Tatkala matanya yang sipit terbuka lebar, ia cukup terkejut saat mendapati dirinya terbangun dalam dekapan seorang pria. "Ya Tuhan, siapa dia?" Wanita itu nyaris saja terpekik jika tidak segera mengatupkan mulutnya.
“Bodoh. Bagaimana kamu bisa lupa kalau sekarang dirimu telah menikah lagi dengan Mas Ghani. Dasar pikun!" Queensha memukul keningnya pelan seraya merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya dia lupa jika statusnya kini telah menjadi istri dari seorang Muhammad Ghani Hanan.
Tanpa berani mendongakkan wajah menatap Ghani yang masih mendekapnya dengan erat, Queensha memilih untuk kembali memejamkan mata saat merasa pergerakan dari suaminya. Pura-pura tidur mungkin itu pilihan terbaik bagi wanita itu. Entah mengapa dia merasa begitu malu berhadapan dengan Ghani sekalipun status mereka sekarang sudah kembali menjadi sepasang suami istri.
'Semoga Mas Ghani tidak sadar kalau aku sudah bangun duluan,' ucap Queensha dalam hati, berharap suaminya itu tak menyadari jika dirinya sudah bangun.
Queensha nyaris yakin jika usahanya pura-pura tidur berhasil saat wanita itu merasa tubuh Ghani yang masih mendekapnya terguncang pelan disusul dengan kecupan-kecupan singkat yang suaminya layangkan di puncak kepalanya.
“Kok kamu mengemaskan sekali sih, Sayang?” ucap Ghani dengan suara khas orang bangun tidur.
Ghani yang Queensha kira masih tidur, rupanya sudah terjaga sejak tadi. Terbukti dari sikap pria itu yang kemudian tertawa pelan. Geli melihat tingkah mengemaskan istrinya yang masih malu-malu, padahal mereka pernah melakukan hal lain yang lebih dari sekadar pelukan.
“Ih, Mas Ghani. Jangan membuatku semakin malu, dong." Queensha berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu malu di dada bidang sang suami.
Ghani yang mendengarnya kembali tertawa pelan. Benar-benar tak habis pikir dengan apa yang baru saja Queensha katakan. “Kenapa harus malu, Sayang? Kita sudah sah menjadi suami istri jadi tak ada masalah jika kita berpelukan."
Queensha tak lagi menyahut dan terus menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ghani. Dalam dekapan pria itu ia semakin merasa tenang, seakan seluruh isi dunia berada dalam genggaman tangan.
Menyentuh ujung dagu sang istri, menatap lekat iris coklat indah nan jernih dengan lekat. “Mulai detik ini, kamu harus terbiasa terbangun dalam dekapanku karena setiap malam aku akan memeluk Bidadari cantik ini sampai matahari terbit kembali."
Queensha mencebikkan bibir. "Cih, gombal! Aku heran sebetulnya kamu belajar dari mana, kok, bisa pandai sekali menggombaliku. Apa Pak Leon yang mengajarimu bagaimana menjadi Raja Gombal dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan?"
“Loh, jadi kamu anggap aku menggombal? Aku serius, Sayang, kalau kamu itu sangat cantik. Bahkan tadi saat aku terbangun, aku sempat heran apa diriku sedang ada di surga? Bisa-bisanya orang pertama yang aku lihat pas bangun tidur adalah seorang bidadari.”
Wajah Queensha langsung merona mendengar gombalan Ghani. Buru-buru wanita kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya agar Ghani tak bisa melihat wajahnya yang telah merah padam.
__ADS_1
“Mas Ghani, ih!” gerutu Queensha di tengah persembunyiannya. “Jangan bicara seperti itu. Aku kan jadi semakin malu.”
Lagi-lagi Ghani kembali tertawa. Dengan penuh sayang kembali pria itu hujani puncak kepala Queensha dengan kecupan-kecupan hangat.
Ini menyenangkan. Keberadaan Queensha di sisinya, tingkah malu-malu wanita itu karena kedekatan mereka sekarang, benar-benar berhasil membuat Ghani tak bisa berhenti tersenyum sejak bangun tidur. Dalam hati pria itu berjanji, tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan kedua yang sudah Queensha beri. Dia akan mengisi keseharian mereka dengan keromantisan.
Puas menggoda istrinya, Ghani lalu mengajak Queensha untuk segera bersiap karena hari ini setelah sarapan mereka harus pergi mengantar Andre dan Eva ke stasiun.
Tanpa butuh waktu lama, Queensha menyanggupi. Namun, saat wanita itu hendak beranjak dari ranjang, Ghani kembali menarik tangan Queensha dan memaksanya untuk kembali berbaring.
“Mas?”
“Nanti saja deh, Lima menit lagi." Ghani merajuk bak seorang anak kecil yang meminta permen kepada ibunya.
“Mana bisa begitu. Ayah, Bunda, Shakeela serta Paman dan Bibi pasti sudah menunggu kita di bawah.”
“Jangan khawatir, Sayang. Mereka juga pasti mengerti.”
“Tapi—“
**
Lima menit yang dijanjikan Ghani, ternyata molor jadi hampir setengah jam hingga membuat Queensha kelabakan. Berkali-kali Ghani mengatakan untuk tidak perlu panik, toh mereka hanya mau sarapan dengan anggota keluarga, bukan presiden. Jadi telat sedikit, menurut Ghani bukan masalah besar. Tapi tetap saja Queensha tak bisa tenang.
Dan benar saja. Saat keduanya sudah berada di restoran yang ada di hotel tempat mereka menginap semalam, semua anggota keluarga Ghani beserta paman dan bibi Queensha sudah berkumpul di satu meja.
Arumi yang menyadari keberadaan putra dan menantunya langsung mempersilakan keduanya untuk bergabung dengan ramah. Begitu pun dengan anggota keluarga yang lain, kecuali bibi Queensha yang sejak tadi menatapnya dengan sinis.
“Perempuan, kok, jam segini baru turun untuk sarapan,” cibir Eva seraya menyantap sarapannya.
Queensha yang baru saja duduk di sebelah Shakeela jadi tersenyum kikuk. “Maaf, Bi. Tadi—“
“Alah, tidak usah memberi alasan. Sekalinya pemalas, ya, tetap pemalas. Kamu dan ibumu yang sialan itu sama-sama pemalas!"
__ADS_1
Suasana meja makan yang semula penuh dengan kehangatan, mendadak hening. Gumaman yang diucapkan Eva benar-benar berhasil membuat semuanya jadi tak nyaman dan juga serba salah. Namun, seolah tak ambil pusing dengan kekacauan yang sudah diperbuat, Eva terus mengutarakan kekesalannya kepada Queensha.
“Sebenarnya dulu kamu pernah diajarkan sopan santun sama almarhum ibumu tidak sih? Bisa-bisa di hari pertama menjadi seorang istri sudah berani membuat orang yang lebih tua menunggu lama hanya untuk sarapan bersama.”
Tangan Ghani mengepal. Tak sanggup mendengar lebih lama kalimat pedas yang dilayangkan Eva kepada istrinya. Queensha yang menyadari jika suaminya mulai terpancing emosi, buru-buru memberi isyarat dengan menggelenglan kepala lemah dan menatap penuh permohonan untuk tidak meladeni apa yang bibinya katakan.
Dari awal, Queensha bukannya tidak sadar jika Eva memang kurang menyukainya karena dianggap mencoreng nama baik keluarga. Kesal? Sudah pasti, tetapi sebagai yang lebih muda, Queensha memilih mengalah dan membiarkan Eva mengatakan apa pun yang ingin disampaikan kepadanya daripada memperkeruh keadaan.
Sayangnya, Ghani tidak berpikir demikian. Telinga pria itu sudah panas sejak pertama kali Eva menyindir istrinya tanpa sungkan di hadapan seluruh anggota keluarga besar.
“Bibi bisa diam tidak? Telingaku sakit sejak tadi mendengar semua omong kosongmu!" bentak Ghani hingga membuat semua orang tersentak, tetapi tidak bagi Rayyan. Pria itu tampak begitu santai, menaikmati bubur ayam yang disediakan pihak hotel.
“Kamu, berani sekali berkata kasar kepadaku! Aku ini bibi dari istrimu dan itu artinya aku adalah bibimu juga. Tapi kenapa sikapmu tidak sopan begini, hem?"
Peduli setan soal sopan santun. Dari awal bibi Queensha itu yang memulai. Jadi jangan salahkan Ghani jika memilih meladeni dengan senang hati.
“Kenapa tidak berani. Kamu bukan ibu ataupun adik perempuanku jadi tidak alasan untuk membentakmu di depan semua orang. Lagi pula, aku dan istriku tidak pernah memintamu menunggu kami. Bibi bahkan bisa sarapan lebih dulu jika memang sudah begitu laparnya.” Ghani kemudian berdecih sinis. “Heran, masalah begini saja dibesar-besarkan sampai bawa-bawa almarhumah ibu mertua yang sudah lebih dulu berpulang.”
“Mas sudah, hentikan. Bibiku pasti tidak bermaksud berkata begitu," ucap Queensha mencoba melerai.
Alih-alih membungkam mulutnya, Ghani justru kembali berkata, “Tadi Bibi berkata apakah dulu istriku pernah diajari sopan santun oleh ibunya atai tidak mengapa tidak Bibi tanya langsung saja sama yang bersangkutan daripada terus mencecar Queensha. Aku yakin semua orang yang ada di dalam sini juga tidak akan keberatan.”
"Kamu-" Mata Eva melotot, tidak suka akan sikap Ghani yang terkesan arogan.
“Sudah, cukup!” sergah Rayyan cepat, tidak membiarkan Eva kembali membuka suara.
Rayyan yang sejak tadi diam menyimak pada akhirnya turun tangan. Tak ingin situasi semakin memanas dan tak terkendali.
Eva yang dihina sedemikian rupa, tentu saja tak terima. Suami Queensha bahkan berani memintanya menyusul ibu Queensha ke alam baka.
'Sialan. Kalau bukan karena Mas Andre, sudah aku tampar wajahnya yang menjengkelkan itu.' Segala ungkapan kekesalan yang hendak Eva ontarkan terpaksa dia telan kembali saat Andre menggenggam tangannya yang ada di atas pangkuan. Seakan memberi isyarat pada Eva untuk diam jika tak ingin semakin memperkeruh suasana. Apalagi saat melihat ekspresi Rayyan yang menakutkan seolah siap menelan bulat-bulat membuat Andre ketakutan setengah mati.
“Sekarang bisakah kita mulai sarapannya?” tanya Rayyan dengan tenang, tetapi mampu membuat semua orang terdiam detik itu juga.
__ADS_1
"Saat sarapan nanti, saya harap kalian bisa tenang, menyantap makanan lezat ini dengan khusyu." Maka semua orang menikmati hidangan di atas meja dalam kesunyian.
...***...