Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Niat Baik Ghani


__ADS_3

"Muhammad Ghani Hanan! Berengsek lo!" teriak Leon saat tiba di depan pintu ruangan direktur rumah sakit tempat Ghani berada saat ini. Ia tak lagi dapat menahan diri untuk tidak berteriak di depan atasan sekaligus sahabat dekatnya itu. Tak peduli jika setelah ini ia dipecat dari jabatannya sebagai kepala bangsal Bougenville, terpenting ia dapat meluapkan kekesalannya kepada pria itu.


Berjalan cepat mendekati meja kerja Ghani. Rahang Leon mengeras, gigi gemelutuk kencang saking tak kesalnya akan kelakuan Ghani semalam.


"Lo itu apa-apaan, sih, pake ngenalin cewek sialan macam sahabat bini lo ke gue. Lo pikir gue enggak mampu cari cewek dengan spek bidadari, hah!" sembur Leon dengan napas tersengal. Pundak bergerak turun dan naik dan dada pun kembang kempis.


Ghani yang tampak sedang fokus dengan layar monitor hanya melirik satu detik saja, kemudian kembali menatap pekerjaan di depannya. Ia sama sekali tak terganggu oleh suara lengkingan sahabatnya itu.


"Gue butuh penjelasan lo! Buruan, maksud lo ngenalin cewek siala itu ke gue apa?" Leon kembali mencecar Ghani dengan segudang pertanyaan.


Ghani berdecak sebal karena pekerjaannya diganggu. Seandainya saja orang yang mengganggu pekerjannya adalah Queensha ataupun Aurora, ia tak akan sebal begini.


"Gue ngelakuin itu karena kasihan sama lo. Umur segini masih aja sendiri sementara gue, sahabat lo dari SMA udah punya bini dan anak bahkan mungkin sebentar lagi anak gue nambah. Lah lo, pacar aja kagak punya. Mau sampai kapan lo betah melajang, heh? Lama kelamaan pusaka lo bisa karatan karena kelamaan enggak dipake, ngerti?" sahut Ghani acuh tak acuh.


"Heh, Kampret! Lo pikir cuma gue doang di circle kita yang masih jomlo? Adik lo, si Zavier aja masih jomlo sampe sekarang, enggak coba lo tawarin aja tuh cewek barbar ke dia? Kenapa mesti ditawarin ke gue segala, sih?" Leon tidak terima dengan alasan Ghani. Padahal ia tidak sendirian masih ada Zavier serta satu orang lagi teman dalam lingkup mereka yang masih melajang sampai sekarang. Namun, kenapa justru dirinya yang terpilih menjadi korban kegilaan Ghani dan Queensha.


Huu, sungguh tidak adil!

__ADS_1


Ghani bangkit berdiri lalu mendekati Leon hingga berada di sebelah tubuh sahabatnya itu. Sorot mata tajam bagai seekor burung elang yang tengah memata-matai mangsanya.


Melihat tatapan tajam itu membuat keberanian Leon menguar di udara begitu saja. Tatkala Ghani melangkah ke depan maka ia akan mundur ke belakang. Setiap hentakan sepatu Ghani membuat detak jantung pria itu berdegup kencang.


"M-mau ... a-apa lo, Ghan? J-jangan berbuat konyol yang a-akan ngerugiin diri lo s-sendiri," ucap Leon terbata. Napas terasa tercekat di tenggorokan karena harus berhadapan dengan sahabatnya itu. Ia khawatir Ghani berubah menjadi sosok menyeramkan.


"Ghan, inget bini dan anak lo di rumah! Kalau lo berbuat hal konyol maka yang rugi diri lo sendiri." Leon masih terus membuka suara saking takutnya melihat sorot mata menyeramkan berasal dari Ghani--sahabat dekatnya.


Ghani memindai Leon dari atas kepala hingga ke ujung sepatu. Tubuh pria itu sedikit gemetar dengan raut muka menunjukan kegelisahan.


Pria yang mempunyai banyak penghargaan serta prestasi di dunia medis memalingkan wajah ke arah lain lalu melengos begitu saja. "Cemen! Gitu aja takut. Gue enggak ngapa-ngapain lo udah gemetaran setengah mati."


"Nah, selagi gue dan Queensha punya kandidat calon yang tepat kenapa kita enggak coba. Apalagi gue ngerasa kalau Lulu adalah tipe istri idaman. Baik hati, mandiri, pekerja keras, dan sopan santan terhadap orang yang lebih tua. Gue yakin Tante Ayu akan setuju kalau lo jadian sama Lulu," ujar Ghani mengungkapkan pendapatnya tentu sahabat sang istri.


Leon berdecih pelan. Rasanya ia muak mendengar Ghani memuji wanita barbar macam Lulu. "Lo salah nilai dia, Ghan. Cewek sialan itu enggak sebaik dan sesopan yang lo kira. Buktinya dia langsung nuduh gue lelaki mesum yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, padahal udah dijelasin kalau ciuman itu bukan merupakan sebuah kesengajaan. Namun, dia tetep keukeh dengan pendiriannya."


"Loh, bukannya lo emang mesum. Otak lo aja isinya anu mulu," ucap Ghani yang mana membuat mata Leon mendelik tajam seolah hendak menerkam sahabatnya detik itu juga.

__ADS_1


"Sembarangan aja kalau bicara! Gue enggak semesum yang lo pikir. Gue anak baik dan polos," elak Leon tidak terima jika dirinya dikatakan mesum. Padahal ada yang lebih mesum dibanding dirinya.


Sudah cukup bermain-main dan kini saatnya Ghani berbicara secara serius dengan sahabatnya itu. Ia ingin membuka sedikit mata hati Leon agar bersedia menerima usulannya untuk mengenal lebih jauh dengan Lulu.


"Yon, tapi gue serius dengan ucapan gue barusan yang mengatakan bahwa Lulu adalah perempuan baik. Lo pasti tau banget gimana masa lalu Queensha sebelum nikah sama gue. Di saat semua orang menjauh, enggak ada satu orang pun mau ngebantu Queensha, Lululah satu-satunya orang yang mengulurkan tangan, ngebantuin istri gue dari keterpurukan."


"Dia memberi tempat tinggal, makan, serta pekerjaan untuk Queensha. Di saat istri gue bersedih, dialah orang yang menghapus air mata di antara kedua pipi istri gue. Dari situ aja kita bisa tau kalau Lulu adalah orang baik. Dia mau berteman dengan Queensha walau saat itu istri gue bukanlah siapa-siapa."


Ghani menepuk pundak Leon dan berkata dengan lembut. "Gue tau lo masih belum bisa ngelupain pengkhianatan yang dilakukan mantan cewek lo, tapi mau sampai kapan lo hidup begini? Lo anak cowok satu-satunya, harapan, dan kebangaan Om Imran. Apa lo mau ngecewain kedua orang tua lo yang udah nyimpan banyak harapan besar ke lo? Lo enggak bisa egois, mikirin diri sendiri."


Pria tampan dalam balutan kemeja panjang warna hitam menarik napas panjang, kemudian mengembuskan perlahan. "Gue emang salah karena bertindak tanpa ngasih tau lo dulu. Namun, demi Tuhan, gue enggak bermaksud menjerumuskan lo dalam sebuah neraka. Gue juga enggak akan mau ngenalin seseorang kalau belum bener-bener kenal sama dia. Kebetulan cewek itu sahabat Queensha jadi gue percaya dengan pilihan istri gue."


"Gue enggak bisa maksa lo untuk nerima rencana ini, tapi please dipikir baik-baik semua omongan yang gue ucapkan tadi. Setidaknya pikirkan juga perasaan Tante Ayu dan Om Imran serta Kak Leony, gimana perasaan mereka saat ngelihat lo masih betah melajang. Kalaupun emang lo bersikeras untuk tetap menolaknya, gue dan Queensha enggak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di tangan lo."


Percakapan mereka terhenti saat seorang perawat senior datang ke ruangan Ghani dengan membawa sebuah berkas penting yang ia kempit di bawah ketiak. Berkas itu berisi rencana kegiatan dalam menyambut ulang tahun rumah sakit yang ke-43 tahun.


Melihat sahabatnya itu sibuk bekerja, Leon memutuskan pergi dari ruangan menuju bangsal di mana ia bekerja. Masih tersisa waktu tiga puluh menit lagi, ia mau menggunakan waktu tersebut untuk menimbang keputusan tepat untuk masa depannya.

__ADS_1


...***...



__ADS_2