Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Aku Mau Kamu


__ADS_3

Mengulum senyum di wajah saat matanya yang sipit menatap sebuah pintu unit apartemen yang tertutup rapat. Lelah seharian bekerja, membuat energi Ghani terkuras habis, tetapi energi tersebut kembali terisi full saat teringat akan dua sosok wanita penting dalam hidupnya tengah menunggu dirinya di rumah.


Menekan sandi apartemen, kemudian memutar handle pintu hunian yang ditinggalinya bersama istri dan anak tersayang. Tatkala pintu unit apartemen terbuka lebar, Ghani merasakan kehangatan sebuah keluarga yang selama ini ia impikan. Di mana ada anak serta istri yang menunggunya dengan setia.


"Aku pulang!" seru Ghani dengan suara lantang.


Seruan itu membuat Aurora yang sedang menggambar di ruang keluarga bergegas mendekati sumber suara. "Yeah, Papa pulang! Rora senang Papa sudah kembali." Gadis kecil berambut kepang dua berlari kecil menuju daun pintu. Ia ingin menyambut kedatangan papa tersayang.


Ghani meletakkan lututnya di lantai, kemudian merentangkan kedua tangan ke samping kanan dan kiri untuk menangkap tubuh mungil permata hatinya dari istri tercinta. "Wohoho, hati-hati, Sayang. Jangan lari-lari, kalau kamu terjatuh dan terluka, bagaimana? Mama pasti memarahi papa karena dianggap tidak becus menjagamu."


Alih-alih meminta maaf karena sudah membuat Ghani mencemaskannya, Aurora justru cemberut. Bibirnya yang merah muda alami mengerucut ke depan. "Iih, Papa, enggak asyik, deh. Rora kan lari ke sini karena mau menyambut kedatangan Papa, tapi malah diomelin. Hu, nyebelin, deh." Si kecil itu mulai menggerutu karena niat baiknya justru tak disambut baik oleh sang papa.


Sikap menggemaskan Aurora sukses membuat Ghani terkekeh. Jari kokohnya mencubit pelan ujung hidung Aurora. Beruntungnya sebelum pulang ke rumah ia menyempatkan diri untuk mandi dan mengganti pakaian terlebih dulu sehingga ia lebih leluasa bersentuhan dengan anak tersayang tanpa perlu takut membawa bakteri, virus, serta penyakit menular lainnya kepada Queensha serta Aurora.


"Sudah, jangan merajuk lagi. Papa bukannya mau ngomelin kamu, hanya coba memperingatkanmu saja agar lebih berhati-hati saat sedang berjalan ataupun berlarian kecil seperti tadi sebab papa takut kamu terjatuh lalu terluka. Kalau terluka, bukannya Mama akan mencemaskanmu? Memangnya Rora mau buat Mama sedih seperti beberapa bulan yang lalu saat Rora dirawat di rumah sakit. Saat itu Mama sampai nangis karena sedih melihat keadaan Rora. Apa Rora mau buat Mama sedih untuk kedua kali?"


Menggeleng kepala cepat. Sepasang mata bundar berkaca-kaca saat Ghani menyinggung soal kejadian beberapa bulan lalu, pasca dirinya terbebas dari jerat tangan Mia, Sarman, dan juga Lita. Saat itu ia sangat merindukan Queensha, tetapi wanita yang dipanggilnya dengan sebutan mama tak juga datang berkunjung ke rumah sakit. Memendam rindu akan sosok Queensha membuat berat tubuh Aurora turun drastis karena napsu makannya berkurang.


"Enggak mau, Pa. Rora enggak mau membuat Mama bersedih. Rora ingin melihat Mama selalu tersenyum bahagia setiap hari," ucapnya bersungguh-sungguh.


Seandainya saja Aurora tahu bagaimana penderitaan selalu datang menghampiri Queensha dulu. Akankah ia menangis tersedu, menyaksikan betapa kejamnya takdir mempermainkan sang mama.

__ADS_1


Ghani dekap tubuh mungil Aurora dengan erat. Ada rasa menyesal dalam diri pria itu kala teringat dulu ia sempat memisahkan Aurora dari ibu kandungnya sendiri. Andai dulu ia tahu kalau Queensha adalah wanita yang telah mengandung anak kesayangannya dan merupakan korban kebejatannya dulu, tentu saja ia tak akan mungkin tega berbuat jahat kepada wanita itu.


Namun, nasi sudah menjadi bubur dan kejadian di masa lalu tentu saja tak dapat terulang kembali. Oleh karena itu, Ghani ingin menghapus semua penderitaan Queensha dengan kebahagiaan yang akan selalu dikenang sepanjang masa.


"Oke, kalau begitu kita sama-sama berusaha untuk terus buat Mama bahagia. Rora mau, 'kan, bantuin papa?" Tanpa perlu ditanya dua kali, si gadis kecil berambut panjang menganggukan kepala sebagai jawabannya.


Ghani mengelus helaian rambut anak tersayang sambil menciuminya sesekali. "Anak pintar. Ya udah, sekarang kita masuk, yuk. Bantuin Mama masak di dapur."


Sepasang ayah dan anak berjalan bersisian, bergandengan tangan menuju dapur di mana Queensha berada saat ini. Aroma menggoda berasal dari masakan buatan Queensha menjadi sambutan pertama bagi mereka. Tiba-tiba perut keduanya berbunyi saat aroma lezat makanan menggelitik penciuman mereka.


"Wangi. Mama pintar masak, ya, Pa? Rora bisa makan banyak kalau Mama terus masak yang enak-enak," celetuk Aurora sambil terus mengayunkan kakinya yang mungil.


"Jangankan Rora, papa juga pasti banyak makan, nih. Bisa-bisa berat badan papa naik karena dimasakain makanan yang enak-enak terus," sahut Ghani tak mau kalah.


"Kamu sudah pulang, ternyata. Maaf, aku tidak sempat menyambut kepulanganmu. Tadi aku terlalu fokus masak jadi tidak mendengar suaramu, Mas." Queensha melangkah mendekati dua orang yang begitu berarti dalam hidupnya. Ia mengulurkan tangan ke depan, mencium punggung tangan Ghani sebagai baktinya sebagai seorang istri.


"Iya, tidak apa. Kebetulan tadi Rora menyambut kepulanganku," kata Ghani, mencium kening istrinya penuh cinta. Ia perhatikan penampilan Queensha yang jauh berbeda dari sebelumnya.


Jika biasanya Queensha mengenakan kaos lengan pendek dan celana pendek di bawah lutut untuk pakaian sehari-hari, kali ini ia mengenakan dress di atas lutut sehingga memperlihatkan pahanya yang putih, mulus tanpa cela sedikit pun. Rambut panjang hitamnya dicempol ke atas, anak rambutnya dibiarkan begitu saja di sisi telinga. Polesan make up flawless memberi kesan natural. Kendati demikian pemandangan indah di depan sana sukses membuat Ghani terkesiap selama beberapa detik.


'Gue enggak salah, 'kan, kalau perempuan yang ada di depan gue adalah Queensha? Masha Alloh, cantik banget bini gue. Enggak nyangka kalau dia dandan, aura kecantikannya semakin bersinar. Apa ini efek dari duit yang gue kasih ke dia tadi? Kalau bener, gue bakal rajin kirim duit biar dia semakin rajin perawatan di salon.'

__ADS_1


Ghani jadi semakin bersemangat, mencari rezeki untuk keluarga kecilnya. Tak mengapa kalau harus berjam-jam lamanya berdiri di sebelah meja operasi, mengenakan baju operasi lengkap dengan alat pelindung diri serta memegang peralatan operasi sekian jam lamanya demi istri tercinta jika nafkah yang diberikan bermanfaat untuk Queensha.


Queensha tertunduk malu kala dipandangi sedemikian rupa. Kurang percaya diri dengan penampilannya saat ini. Namun, ia telah bertekad untuk merubah penampilannya agar terlihat semakin cantik, memesona demi pria yang berstatuskan sebagai suaminya ini.


"Mas Ghani mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Queensha mengusir kegugupan. Bisa mati berdiri kalau terus menerus ditatap intens oleh suaminya.


Melihat rona merah muda di kedua pipi, terlintas ide jail untuk mengerjain Queensha. Lantas Ghani menarik pinggang istrinya dan berbisik di telinga wanita itu. "Aku mau kamu, Sha." Mengakhiri kalimat terakhir dengan meniup leher jenjang itu hingga membuat bulu kudu sang empunya merindung seketika.


'Mati sajalah aku kalau terus begini,' gerutu Queensha dalam hati. Rasanya ia tak lagi mampu berdiri terlalu lama dalam posisi sedekat ini.


Ghani terkikik geli dibuatnya. "Aku cuma bercanda, Sayang." Pria itu melepaskan tangannya di pinggang ramping Queensha. Sebelum pulang ke rumah, aku sempatkan diri untuk mandi dulu agar saat tiba di rumah bisa leluasa bercengkrama dengan Rora. Mungkin aku mau ganti baju, setelah itu baru makan malam bersama. Kamu siapkan saja semua makanan itu di atas meja, aku akan ke kamar sebentar."


"Perlu aku siapkan pakaiannya?"


"Tidak perlu. Kamu lanjutkan saja perkerjaanmu, nanti aku ke sini lagi setelah semuanya beres."


Queensha memandangi punggung tegap itu dengan tatapan sendu. Kembali teringat jawaban Ghani saat dirinya memberi pertanyaan "mau makan dulu atau mandi dulu". Di luar dugaan Ghani justru menginginkan dirinya.


'Sepertinya malam ini aku harus mencoba pakaian kurang bahan itu. Ya, aku harus melayani Mas Ghani malam ini. Kuanggap ucapannya tadi adalah kode kalau dia sedang ingin bercinta.'


...***...

__ADS_1



__ADS_2