
Siang itu, sinar mentari bersinar terang di atas awan. Birunya langit dan sejuknya udara sekitar menyambut kedatangan Queensha, Ghani serta si kecil Aurora. Ketiga anak manusia itu berjalan bersisian dengan Ghani membawa satu keranjang berisi kelopak bunga yang hendak ditabur di atas makan sang putri. Sementara Queensha menggandeng jemari mungil Aurora yang sepanjang jalan enggan menjauh dari mantan ibu sambungnya itu.
"Mama, sebenarnya kita mau ke mana? Kenapa tempat ini sepi sekali? Lihat, di sana banyak pepohonan menyeramkan. Rora takut ada hantu, Ma."
Queensha tersenyum tipis mendengar keluhan sang putri. Tanpa banyak berbicara, wanita itu menghentikan langkah kemudian berjongkok menyejajarkan tinggi badan mereka. Mengusap pucuk kepala si kecil penuh cinta.
"Kita akan menemui makam anaknya Mama, adik kamu. Karena suasana di sekitar sini memang sepi, tak banyak orang berkunjung gimana kalau Mama gendong aja? Biar matanya Rora bisa terpejam jika memang merasa takut," ucap Queensha lembut. Jemari lentiknya masih memainkan helaian rambut hitam panjang milik anak sambungnya itu.
Aurora mendongakan kepala demi menatap wajah Ghani, seolah meminta pendapat sang papa. Ghani menganggukan kepala memberi izin kepada anaknya itu.
Mereka kembali melangkah, menuju salah satu barisan pemakaman yang posisinya berada di bawah pohon rindang. Meskipun cuaca cukup terik, tetapi ketiganya tak kepanasan karena terhalangi ranting pohon yang menjuntai ke mana-mana.
"Apa makam ini adalah peristirahatan terakhir putri kita, Sha?" tanya Ghani tanpa mengalihkan perhatiannya dari pusara beku bertuliskan sebuah nama bayi perempuan.
"Benar. Namanya kuambil dari nama Jepang karena bayi itu hadir di rahimku ketika aku masih bekerja sebagai seorang waiters."
Ghani berjongkok di sisi makam itu, mengusap debu ringan di atas batu berlapis marmer berwarna abu-abu. Tak banyak dedaunan kering terjatuh di atas pusara dan dia yakin jika Queensha merawat dengan baik tempat peristirahatan putri mereka.
"Hai Sayang, ini papa, Nak. Maafkan papa kalau baru menjengukmu. Papa baru tahu jika ternyata kamu hadir di dunia ini. Andai saja papa mencarimu dan juga Mama lebih awal pasti kejadiannya tidak seperti ini. Sekali lagi, maafkan papa." Ghani berucap sambil menaburkan kelopak bunga di atas pusara.
__ADS_1
"Selama lima tahun, bukannya papa tidak mencoba mencari keberadaan kalian hanya saja ...." Kalimat Ghani mengambang di udara. Belum mau berkata sebelum Yogi memberitahu adakah keterlibatan Alvin dalam masalah ini. Jika seumpama Alvin tidak terlibat, bukankah dia sama saja telah menyebarkan fitnah kepada semua orang. Jadi jalan satu-satunya adalah diam sampai semua kebenaran terungkap.
Terhentinya kalimat itu membuat Queensha penasaran apa yang hendak diucapkan Ghani. Akan tetapi, sekian lama menunggu rupanya pria itu tak kunjung meneruskan perkataannya.
"Hanya saja apa? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu di belakangku?"
Menggeleng cepat dan tersenyum samar. "Belum saatnya kamu tahu. Namun, saya janji suatu saat nanti kamulah orang pertama yang kuberitahu jika semuanya sudah jelas. Untuk sementara ini, biarkan saya menyimpannya secara rapat."
Dengan acuh tak acuh Queensha menjawab, "Terserah. Kalaupun kamu enggan memberitahu, aku tidak akan rugi!"
Ghani hanya mengulum senyum di wajah. Melihat Queensha cemberut seperti sekarang ini dengan bibirnya yang ranum mengerucut ke depan, membuat pria itu semakin semangat untuk merebut kembali apa yang pernah menjadi miliknya. Ya, dia akan berusaha sekuat tenaga meluluhkan hati Queensha dan menjadikan wanita itu istrinya lagi. Istri yang tidak hanya di atas kertas melainkan istri yang sesungguhnya.
Usai berziarah di makam putrinya, Ghani mengajak serta Queensha dan Aurora mengunjungi salah satu rumah rekan sejawatnya yang dulu pernah praktek bersama di rumah sakit kota tersebut. Hubungan Ghani dengan rekan sejawatnya itu cukup dekat dan hingga detik ini mereka masih berkomunikasi, menanyakan urusan pekerjaan dan kesibukan masing-masing.
"Astaga, Ghani? Apa kabar? Lama sekali kita tak jumpa." Bayu menyambut hangat kedatangan Ghani di gubuknya yang sangat sederhana itu. Hati terasa bahagia karena dapat berjumpa kembali setelah lima tahun tak bersua.
"Alhamdulillah, kabarku baik-baik saja. Sorry kalau kedatanganku ke sini mengganggu istirahatmu."
Bayu berdecak kesal dibuatnya. "Kamu tuh ngomong apaan sih, Ghan. Kita temanan sudah lama, janganlah terlalu sungkan kepadaku." Lalu pria itu mengalihkan pandangan pada Queensha dan gadis kecil berusia empat tahun yang tengah terlelap dalam dekapan ibu sambungnya itu.
__ADS_1
Bayu beralih menatap Ghani seakan meminta penjelasan pria itu kenapa temannya datang ke sini dengan membawa serta wanita dan anak perempuan bermata bulat. Lama tak bertemu, Ghani tak banyak menceritakan kehidupan pribadinya. Mereka memang masih sering berkomunikasi, untuk masalah pribadi, lelaki berwajah oriental itu tak pernah menceritakannya kepada siapa pun.
Merasa dirinya tengah diintrogasi, Ghani berucap dengan bahasa isyarat. 'Nanti aku ceritakan. Tapi untuk sekarang, bisakah kamu memberiku tempat tinggal sementara?'
Bayu mengangguk tanda setuju karena merasa kasihan pada Aurora yang terlelap dalam pelukan Queensha. Lantas dia mempersilakan Ghani serta Queensha masuk ke dalam rumah dan dia juga meminta sang istri menyiapkan kamar kosong untuk para tamu mereka. Sementara Ghani menunggu Queensha mengeloni Aurora, dia berbincang secara empat mata dengan Bayu.
"Bay, aku datang ke sini bukan hanya ingin mengunjungimu, tetapi juga meminta bantuanmu menyelidiki sesuatu. Kudengar dari istriku jika dia pernah melahirkan seorang bayi di rumah sakit tempatmu bekerja. Dari cerita yang disampaikan, ada beberapa kejanggalan dan aku merasa perlu menyelidikinya. Namun, aku tak dapat melakukannya seorang diri. Aku butuh bantuan seseorang dan orang itu adalah kamu."
Kening Bayu mengerut petanda bingung. "Bantuan apa yang kamu maksud?" Lantas Ghani membisikan sesuatu di telinga Bayu.
"Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi aku tidak bisa janji karena sudah lima tahun berlalu dan bisa saja semua berkas itu hilang atau bahkan tersimpan di gudang penyimpanan. Namun, aku akan berusaha membantumu demi pertemanan kita."
Wajah Ghani semringah mendengarnya. Untuk pertama kali Bayu melihat sosok lain dari seorang Muhammad Ghani Hanan, sosok lelaki dingin yang sangat jarang sekali tersenyum. Tapi hari ini dia seakan mendapat undian lotre karena dapat melihat senyuman itu.
"Thanks, Bay. Kamu memang teman terbaikku. Aku janji akan membalas semua kebaikanmu ini suatu hari nanti," ucap Ghani bersungguh-sungguh.
...***...
__ADS_1