Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Cemburu?


__ADS_3

"Papa, kenyang!" seru Aurora menyerahkan sisa kentang goreng ke hadapan Ghani. Hampir semua makanan yang dipesan telah dihabiskan gadis kecil itu. Tampaknya napsu makan si cantik bermata bulat meningkat setelah bertemu dengan Queensha.


Ghani tersenyum hangat pada sang putri. "Ya sudah, tidak apa-apa kalau memang tidak dihabiskan." Ia membantu Aurora minum agar tidak belepotan ke mana-mana. "Perut Rora sudah kenyang. Nah, gimana kalau sekarang kita pulang? Nenek pasti nungguin Rora di rumah."


Dengan semangat Aurora menjawab, "Oke. Tapi sebelum pulang Rora ingin ketemu Mama dulu, Pa. Boleh?" tanyanya mengerjap mata penuh permohonan.


Sekilas Cassandra melirik Ghani, berharap pria itu menolak permintaan Aurora. Gadis itu tidak rela jika pria yang dicintainya bertatap muka dengan wanita lain. Ia khawatir benih cinta di antara mereka tumbuh bila sering bertemu. Namun, Cassandra harus menelan pil kekecewaan saat mendengar jawaban Ghani.


Mengelus puncak kepala Aurora dengan penuh cinta. "Boleh, tapi sebentar aja, ya? Mama 'kan sedang bekerja, jadi enggak bisa diganggu." Walaupun sebetulnya berat mengabulkan permintaan Aurora, tapi berpikir tidak ada salahnya jika sekali menuruti keinginan putri tercinta.


Sementara itu, Cassandra tampak kesal dibuatnya. Tangan gadis itu mencengkeram erat tepian meja disusul dada bergerak kembang kempis.


'Kenapa dia mudah luluh terhadap bocah sialan ini, sih! Padahal hanya anak pungut, tapi kenapa rasa sayangnya melebihi anak kandung sendiri!' gerutu Cassandra dalam hati.


Ghani membantu Aurora turun dari kursi, kemudian mengulurkan tangan ke depan putri tercinta. Aurora tidak membuang kesempatan itu. Ia menerima uluran tangan itu, menggenggamnya lalu berjalan bersisian dengan sang papa.


"Ghani, tunggu!" Cassandra bergegas berdiri dari kursi dan menyusul Ghani yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.


Usai pergantian shift, Queensha mengganti seragamnya dengan pakaian casual. Kaos putih motif kupu-kupu dipadu celana jeans dan rambut panjangnya dicempol ala wanita Korea membuat penampilan wanita itu terlihat lebih cantik.


"Sudah mau pulang?" Suara berat Rama menghentikan langkah Queensha yang saat itu baru saja keluar gedung restoran.


Mendengar suara yang begitu familiar, Queensha menoleh. "Ah, iya, Pak. Kebetulan semua pekerjaan telah selesai dan sudah waktunya pergantian shift juga, jadi saya mau pamit pulang ke indekos," jawabnya ramah.

__ADS_1


Rama mendekat dan berdiri di sebelah Queensha. "Gimana hari pertama bekerja, lancar? Saya harap kamu betah ya kerja lagi di sini. Walaupun ada bisikan-bisikan gaib yang sering terdengar di telinga, saya harap kamu kebal dan tak memedulikan semua itu."


Queensha tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuk. Memang benar yang dikatakan Ghani barusan, Puji kembali mencibir saat mengetahui jika dirinya kembali bekerja di restoran tersebut. Namun, beruntungnya dia terbiasa sehingga menganggap semua ucapan Puji hanyalah angin lalu.


"Alhamdulillah, lancar, Pak. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."


"Oh ya, kamu naik apa hari ini? Kalau mau, saya bisa memberi tumpangan padamu. Kebetulan saya ada urusan di sekitaran indekos Lulu." Rama menggaruk tengkuknya agak grogi. "Ehm ... itu pun kalau kamu mau. Kalau tidak, ya tidak masalah."


Pertama, Queensha terlihat ragu dan kebingungan apakah ia harus kembali menerima tawaran Rama atau tidak. Namun, di saat keraguan menyelimuti diri, sekelebat bayangan wajah Ghani terlintas di pelupuk matanya. Kepingan kejadian saat pria itu mengikrarkan janji suci pernikahan berputar bagai cuplikan film seperti di bioskop.


Tersadar bahwa saat ini ia memang bukan lagi istri Ghani jika menurut agama, tetapi dilihat dari segi hukum, status pernikahan mereka masih sah sehingga wanita itu tidak bisa sembarangan jalan berduaan dengan lawan jenis. Walaupun Ghani telah lebih dulu selingkuh, tetapi ia tak mau nama baiknya tercoreng dan dianggap sebagai wanita murahan karena dengan mudah menerima ajakan pria lain.


Maka Queensha menggeleng dan tersenyum. Membuat Rama terlihat kecewa atas penolakan tersebut.


Rama menarik napas panjang. Menatap sendu pada sosok wanita di depannya. Kecewa? Sudah pasti iya. Namun, mau bagaimana lagi toh Queensha menolak ajakannya. Jadi, mana mungkin ia memaksa diri agar wanita itu bersedia menerima ajakannya.


Lalu, Queensha mendongakan kepala. Dengan lirih berkata, "Maafkan saya, kalau dirasa lancang menolak ajakan Bapak. Saya hanya tidak mau merepotkan orang lain. Itu saja." Wanita itu mengelak sebab jika berkata jujur pasti kebenarannya yang pernah menjadi nyonya muda Ghani terbongkar di depan semua orang dan itu melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama.


Rama mengangguk dan tetap memulas senyum termanis yang pernah dimiliki. Tidak memperlihatkan kekecewaan di hadapan Queensha, meski hati terasa seperti disayat pisau yang sangat tajam.


"Nope! Maybe next time saya bisa anterin kamu lagi seperti kemarin." Rama menarik napas panjang dan tersenyum sangat lirih. Walaupun berkata tidak masalah, tetapi sorot matanya memancarkan betapa ia sangat kecewa kepada Queensha.


Queensha membenarkan posisi tas yang bertengger di pundak. "Kalau begitu saya permisi dulu. Saya masih harus memesan ojek online sebelum berbarengan dengan jam pulang kantor."

__ADS_1


Wanita cantik berwajah oriental mulai mengayunkan kaki jenjang yang dibungkus sepatu kets warna merah muda. Namun, mendadak ia terpeleset hingga terjerembab ke belakang. Tangannya terangkat ke udara, mencari apa pun untuk dijadikan pegangan. Akan tetapi ia gagal.


"Aku menangkapmu!" Dengan sigap Rama mencengkeram pinggang langsing Queensha hingga tubuh wanita itu tidak sampai membentur lantai.


Refleks, Queensha melingkarkan kedua tangannya di leher Rama, lalu keduanya saling beradu pandang. Dunia terasa berhenti berputar saat melihat jelas betapa cantiknya wajah Queensha meski hanya dipoles make up tipis dan lipstick merah muda di bibirnya yang tipis.


Detak jantung Rama berdetak semakin kencang. Dari jarak sedekat ini ia bisa merasakan aroma parfum kesukaan Queensha yang membuat pikiran pria itu melayang ke awang.


"Cantik," gumam Rama tanpa sadar. Belum pernah melihat kecantikan alami dari seorang Queensha Azura Gunawan dari jarak sedekat ini. Ia memeta setiap pahatan wajah cantik Queensha tanpa ada satu celah pun terlewatkan.


Tubuh Queensha menggeliat. "Pak Rama, bisa tolong lepaskan tubuh saya?" ucap wanita itu lirih. Memalingkah wajah karena tidak berani bersitatap dengan iris coklat milik Rama.


"Hah? Oh, ya, ya, melepaskan tubuhmu. Ehm ... baiklah, aku akan melepaskannya sekarang."


Lantas Queensha mulai melepaskan kedua tangan yang melingkar di leher dan perlahan berdiri tegak sambil merapikan kaos yang sedikit berantakan.


"Maaf sudah merepotkan Bapak. Namun, saya ucapkan terima kasih sudah menyelamatkan saya. Kalau begitu, saya duluan. Permisi."


Rama masih terpaku dengan moment mendebarkan yang berlangsung selama beberapa detik lalu. "Tidak hanya lemah lembut, dia juga cantik, baik hati dan apa adanya. Aku jadi semakin menyukainya."


Tanpa disadari Queensha maupun Rama, rupanya ada dua pasang mata menatap dengan sorot mata yang sulit diartikan ke arah mereka. Si pria menatap dengan perasaan tak menentu. Ada rasa panas di hati saat melihat Queensha disentuh pria lain. Sementara si wanita menatap penuh tanda tanya.


"Sayang, kita pulang sekarang!" Tanpa memberi kesempatan kepada si kecil, pria itu segera menggendong tubuh mungil itu dalam dekapan. Melangkah dengan langkah panjang. Dada mulai bergerak kembang kempis seakan tengah menahan sesuatu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2