Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Badai Sudah Berlalu


__ADS_3

Hampir menjelang malam ketika Queensha beserta kedua orang tua Ghani tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makasar. Sudah ada mobil sewaan yang ditugaskan Yogi untuk menjemput Queensha, Arumi dan Rayyan di bandara.


Saat ini mereka berada di dalam mobil. Dalam keadaan temaram, Rayyan dapat melihat jelas raut wajah penuh kecemasan di wajah Arumi. Sangat maklum mengapa istrinya begitu sangat mengkhawatirkan anak tertua mereka sebab Triplet merupakan hadiah terindah yang Tuhan berikan kepada Arumi.


Lima tahun menikah, Tuhan tak kunjung memberi Arumi amanah hingga suami pertamanya selingkuh dengan wanita lain. Lalu saat Arumi menikah untuk kedua kali, Tuhan menitipkan tiga embrio di dalam perut wanita itu. Jadi pantas saja bila ia terlalu mengkhawatirkan satu dari empat buah cintanya bersama suami tercinta sebab ketiga embrio tersebut merupakan anugerah terindah yang Tuhan berikan kepadanya.


Rayyan mengusap pelan punggung tangan Arumi yang berada di atas pangkuan. Ketika ia menyentuh permukaan kulit sang istri, telapak tangan wanita itu berkeringat dan juga terasa dingin.


"Tenangkan dirimu, Babe. Aku yakin, Ghani pasti baik-baik saja. Putera pertama kita lelaki kuat, dia pasti mampu melewati ini semua."


"Sudah, jangan terlalu mencemaskannya. Untuk sekarang sebaiknya kamu berdoa dan memohon kepada Tuhan agar Dia menyembuhkan anak kita," sambung Rayyan berkata bijak. Tak mau bila Arumi jatuh sakit karena terlalu mencemaskan kondisi Ghani.


Arumi mengangguk pelan. Berusaha tenang walau dalam hati masih memikirkan nasib anak pertamanya. 'Tuhan, selamatkan nyawa puteraku. Kumohon sembuhkanlah dia dari segala kesakitan yang tengah dirasakannya saat ini.' Ia memanjatkan doa tulus kepada Sang Maha Pencipta.


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya mobil yang ditumpangi Queensha beserta kedua calon mertuanya tiba di pekarangan rumah sakit. Bau karbol menyeruak di indera penciuman ketiga orang dewasa tatkala mereka menginjakan kaki di tangga pertama gedung rumah sakit. Warna cat putih dipadu hijau muda menyambut kedatangan mereka.


"Dokter Rayyan, Dokter Arumi dan Bu Queensha, selamat malam." Yogi menyapa ramah kedatangan orang tua Ghani beserta calon istri dari sang bos.


Alih-alih membalas sapaan Yogi, Rayyan justru maju beberapa langkah ke depan. Dengan gerakan cepat ia mencengeram bagian atas jaket kulit berwarna hitam milik Yogi hingga kepala pria itu mendongak ke belakang. Kedua tubuh tinggi saling berhadapan, mata saling menatap satu sama lain.


"Katakan dengan jujur apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Ghani bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Rayyan lantang. Matanya memberikan tatapan membunuh kepada Yogi.


Para anak buah Yogi yang beranggotakan kurang lebih sepuluh orang bergegas mengeluarkan sebilah pisau lipat dari masing-masing saku celana lalu mengarahkannya ke arah Rayyan. Queensha dan Arumi terlihat pucat kala melihat benda tajam tersebut berada dalam genggaman tangan kesepuluh anak buah Yogi. Keduanya takut bila terjadi pertumpahan darah antara Rayyan VS Yogi dan gengnya.

__ADS_1


"Bun, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana jika terjadi keributan yang membuat Ayah celaka?" tanya Queensha seraya melingkarkan tangan di lengan sang calon ibu mertuanya.


"Bunda akan melakukan negosiasi dengan mereka. Tenanglah." Di saat seperti ini Arumi mencoba kuat walau dalam hati sejujurnya ia pun ketakutan akan keselamatan nyawa Rayyan.


Menarik napas panjang sambil memejamkan mata sejenak, kemudian Arumi berkata, "Tidak bisakah kita membicarakan masalah ini dengan kepala dingin? Saat ini kita berada di rumah sakit bila terjadi keributan maka banyak pasien yang merasa terganggu ketenangannya."


"Deni, Roni dan kalian semua, turunkan sejata! Biarkan aku menyelesaikan masalah ini sendirian. Kalian boleh tinggalkan aku sendirian dan kembali ke penginapan," titah Yogi tanpa ingin dibantah oleh siapa pun.


Deni menarik napas panjang dan menurun senjatanya lebih dulu. Menuruti perintah Yogi. "Ayo teman-teman, kita kembali sekarang!"


Arumi mengusap punggung Rayyan dan berucap dengan lemah lembut. "Lepaskan Yogi, Mas. Kamu bisa membunuhnya kalau terus mencengkeram pakaiannya. Ayo, kita duduk dulu dan baru tanyakan apa yang menyebabkan Ghani sampai dirawat di sini," bujuknya.


Perlahan cengkeraman tangan Rayyan mengendur ketika suara lembut Arumi mulai menelusup ke relung hati yang terdalam. Di saat seperti ini Arumi memang tahu betul bagaimana cara memadamkan kobaran api dalam diri Rayyan.


"Cepat katakan, apa yang terjadi dengan anakku? Kenapa dia bisa terluka?" ucap Rayyan setelah mereka semua duduk di kursi panjang terbuat dari stainless. Emosi dalam dirinya perlahan menghilang bersamaan dengan lembutnya setiap sentuhan yang diberikan Arumi kepadanya.


"Dokter Ghani terluka karena kesalahan saya. Saya lalai melindunginya saat tengah melakukan tugas penting," jawab Yogi jujur. Sama sekali tak menyembunyikan apa pun dari orang tua Ghani. Namun, tidak juga mengatakan bahwa Ghani terluka akibat perbuatan Sarman sebab ia pernah berjanji untuk menutupi kenyataan bahwa kedatangan Ghani ke Makasar guna memberi pelajaran kepada Mia dan Sarman.


"Tugas penting apa?" Kedua alis Rayyan tertaut satu sama lain.


Yogi mengamati wajah Rayyan, Arumi dan Queensha secara bergantian. Ketika pandangan mata mengarah pada wanita yang menjadi tujuan utama Ghani balas dendam, ia melihat raut kepanikan di wajahnya yang cantik jelita. Wajah wanita itu berubah pucat disertai peluh sebesar biji jagung yang bermunculan di kening lalu turun ke pelipis.


Tak sampai hati mengatakan jika Ghani terluka demi membalaskan dendam Queensha yang selama lima tahun hidup menderita akibat perbuatan mantan ibu tirinya, Mia. Terlebih ia sudah kadung berjanji untuk merahasiakan yang sebenarnya dari Rayyan dan Arumi. Biarlah ia dihajar sampai babak belur asalkan janji yang pernah terucap tidak diingkari.

__ADS_1


"Mohon maaf, saya tidak bisa menjawabnya. Biarlah menjadi tugas Dokter Ghani untuk menjawab pertanyaan tersebut sebab saya sudah berjanji untuk tidak memberitahu kepada siapa pun. Jadi, saya harap Dokter Rayyan, Dokter Arumi beserta Bu Queensha dapat mengerti."


"Lalu saya pun ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa melindungi dan menjaga Dokter Ghani sampai dia harus dilarikan ke rumah sakit." Yogi bangkit berdiri, kemudian menundukan kepala sedikit membungkuk di depan orang tua dan calon istri Ghani. Meminta maaf dengan tulus karena tak dapat menjalankan tugas dengan baik.


Rahang Rayyan mengeras merasa kesal karena Yogi tak bersedia menceritakan kronologinya secara detail kepadanya. Hendak bangkit berdiri, tetapi Arumi telah lebih dulu mencekal pergelangan tangan sang suami. Wanita itu menggelengkan kepala meminta Rayyan untuk tidak memperpanjang masalah ini. Arumi menghargai keputusan Yogi yang memilih bungkam demi menepati janji.


Rayyan menarik napas panjang dan melepasnya kasar. "Lantas bagaimana kondisi Ghani saat ini? Apa keadaannya kritis?"


"Alhamdulillah, tidak. Dokter hanya menjahit luka di tangan dan membidai kakinya yang mengalami dislokasi. Dokter pun meminta Dokter Ghani istirahat selama beberapa waktu, setelah itu dapat beraktivitas seperti biasa."


Wajah yang semula terlihat menegang kini berangsur-angsur lebih rileks. Seulas senyuman mulai muncul di bibir masing-masing. Pun begitu dengan Queensha yang sedari tadi terdiam kini dapat bernapa lega usai mendengar kabar bahwa sang suami dalam keadaan baik-baik saja.


Ketika Arumi dan Rayyan undur diri untuk masuk ke ruang perawatan guna menemui Ghani, Queensha memilih berbicara secara empat mata dengan Yogi. Ada hal yang ingin disampaikan wanita itu kepada orang kepercayaan calon suaminya.


"Mas Yogi, terima kasih karena tetap merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Mas Ghani. Aku tidak tahu apa yang akan Ayah Rayyan lakukan kepadaku kalau sampai dia tahu jika anak sulungnya celaka karena ingin membalaskan dendamku. Beliau pasti marah besar dan memintaku pergi dari kehidupan Mas Ghani dan Aurora untuk selamanya."


"Bu Queensha jangan sungkan. Ini memang sudah menjadi tugasku untuk mengunci rapat mulut ini di depan orang lain. Rahasia ini akan terus dibawa sampai saya mati. Kalaupun memang terbongkar biarlah Dokter Ghani sendiri yang menyampaikannya kepada Dokter Rayyan dan Dokter Arumi."


Queensha tersenyum lebar mendengarnya. Ia berpikir Ghani tidak salah memperkerjakan Yogi sebagai orang kepercayaannya sebab pria itu memang bisa dipercaya, setia dan teguh pendirian.


"Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih." Lalu percakapan mereka terhenti saat Arumi meminta Queensha masuk ke dalam ruangan. Ghani sudah sangat merindukan calon istrinya itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2