
"Begitulah ceritanya. Saya terpaksa menerima tawaran Ibu tiri Bu Queensha karena terdesak, ada nyawa anak bungsu saya terlibat di dalamnya. Walaupun bertolak belakang dengan hati nurani dan tak sesuai dengan sumpah dokter yang pernah terucap, tapi saya harus melakukannya sebab nyawa anak bungsuku menjadi taruhannya. Melihat dari tingkah laku mereka saya yakin kedua orang itu tidak hanya menggertak, tapi nekad melakukan apa pun demi terwujudnya keinginan mereka."
"Jika kalian bertanya apakah saya menyesal? Tentu saja iya. Saya juga merupakan seorang ibu dan bisa merasakan bagaimana sedihnya berpisah dengan darah daging sendiri. Terlebih saya merupakan satu-satunya orang yang bisa dipercaya Bu Queensha di saat keluarga, sanak saudara menjauhinya karena hamil di luar nikah." Buliran kristal jatuh membasahi pipi. Dokter Aminah mulai terisak mengenang kembali pertemuan pertamanya dengan Queensha.
Tatapan mata dokter Aminah menerawang jauh seolah tengah tersesat pada suatu masa silam. Bayangan seorang wanita muda berpenampilan sederhana dengan kacamata tebal dan rambut panjang berponi penutupi kening datang ke rumah sakit memeriksakan kandungan tanpa ditemani siapa pun. Terlihat rapuh seakan jika tertiup angin tubuh itu hancur, berserakan di mana-mana.
Dada dokter Aminah semakin terasa sesak kala ucapan Queensha kembali terngiang di telinga.
"Saya hidup seorang diri di dunia ini, Dok. Oleh karena itu, saya takut jika harus masuk ruang operasi. Saya takut jika ternyata saat operasi berlangsung, rupanya Tuhan mencabut nyawaku. Kalau sampai terjadi lalu bagaimana dengan bayi saya? Apakah dia akan menjadi anak yatim piatu, hidup sebatang kara sama seperti saya?" ucap Queensha kala itu, mengatakan alasannya kenapa enggan untuk melakukan operasi.
Mendengar semua cerita dokter Aminah, semakin mendidihlah amarah dalam diri Ghani. Dada pria itu kembang kempis dan napas pun tersengal seolah dia baru saja lari mengelilingi lapangan bola.
"Manusia terkutuk! Rupanya mereka tidak hanya menculik Aurora, tetapi juga tega memisahkan Queensha dari darah dagingku sendiri. Aku bersumpah akan membuat mereka menerima balasan karena telah membuat hidup istriku menderita!" Tangan Ghani mengepal di atas meja hingga memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangan.
Bayu menoleh, menatap lirih kepada sang pemilik wajah rupawan yang sedang bernapas dengan cepat menahan emosi meledak di dalam dada. "Tenanglah, Ghan. Semua akan baik-baik saja. Berpikirlah dengan jernih agar kita dapat mencari cara untuk membalas perbuatan mereka."
Ghani menatap Bayu dan berkata, "Aku akan membuat mereka menyesal karena telah bermain-main denganku, Bay. Mereka belum tahu dengan siapa berurusan."
__ADS_1
Kemudian Bayu mengalihkan perhatian kepada sosok wanita paruh baya di seberang sana. "Lalu, apakah Dokter Aminah tahu siapa orang tua yang telah mengadopsi anak dari teman saya ini?"
Menggeleng kepala cepat. "Maafkan saya, Dokter Bayu. Saya sama sekali tidak tahu siapa yang telah membeli bayi itu. Dua orang jahat itu pergi begitu saja setelah memberi sejumlah uang dalam nominal yang cukup besar dengan membawa bayi tak berdosa. Itulah pertama dan terakhir kalinya saya bertemu mereka."
Suasana hening tercipta beberapa saat. Dokter Aminah mengusut sisa air mata di sudut mata menggunakan tisu, sedangkan Bayu tampak sedang berpikir keras sebab merasa masih ada kejanggalan dari informasi yang disampaikan dokter seniornya itu. Sementara Ghani sibuk mengumpat dan mencaci maki kedua manusia berhati iblis dalam hati.
Dokter Aminah mendongakan kepala kala mendengar Bayu memanggil namanya. "Dokter, jika memang bayi itu masih ada lalu bayi siapakah yang dimakamkan di TPU Jeruk Nipis?" tanya Bayu mengutarakan apa yang masih mengganjal di hatinya.
Masih dengan napas tersengal, dokter Aminah menjawab, "Bayi itu ditemukan oleh salah satu perawat yang berjaga di bangsal anak tepat beberapa jam setelah Bu Queensha melahirkan. Kondisinya cukup memprihatinkan sehingga tim medis angkat tangan. Dokter menyatakan bayi itu meninggal sesaat setelah Bu Queensha melahirkan bayinya. Agar terkesan menyakinkan, saya menutup mulut rekan sejawatku, perawat yang berjaga di bangsal anak sehingga mereka mau bekerjasama dengan saya."
***
Mengulurkan tangan ke depan dokter Aminah, Bayu berucap, "Terima kasih atas semua informasi yang telah Dokter Aminah sampaikan. Informasi ini sangat berarti bagi kami."
Dokter Aminah menerima uluran tangan itu. "Hanya itu yang dapat saya lakukan sebagai cara untuk menebus kesalahan di masa lalu. Meskipun tak dapat mengembalikan senyuman Bu Queensha, tapi setidaknya dapat memberi titik temu jika memang kalian sedang menyelidiki di mana keberadaan bayi itu."
Wanita paruh baya itu melirik kepada Ghani. "Pak Ghani, saya selaku dokter kandungan yang pernah menangani istri Anda meminta maaf karena tak kuasa menolak permintaan Bu Mia. Sungguh, saya terpaksa menerima tawaran itu karena takut terjadi hal buruk menimpa anakku."
__ADS_1
Dengan wajah datar tanpa ekspresi Ghani menjawab, "Walaupun saya kesal akan sikap Anda yang secara tisak langsung turut andil menyakiti perasaan istriku, tapi saya hargai kejujuranmu yang mau berkata apa adanya tanpa menyembunyikan apa pun."
"Sebagai ucapan terima kasih karena telah menjadi dokter kandungan terbaik bagi Queensha, selalu menolongnya selama menjalani masa kehamilan maka saya pastikan tidak akan menyeret nama Anda jika suatu hari nanti dua manusia biadap itu ditangkap dan diserahkan kepada pihak berwajib."
Ghani berdiri di hadapan dokter Aminah lalu tanpa diduga oleh siapa pun, pria itu membungkukan sedikit punggungnya sambil berkata, "Terima kasih karena Anda tidak hanya menjadi dokter terbaik bagi Queensha, melainkan juga menjadi pendengar dan teman curhat bagi istri saya."
Dua pasang mata berkaca-kaca mendengar betapa tulusnya Ghani mengucap kata terima kasih. Bayu bahkan tak percaya jika temannya yang terkenal dingin dan terkesan arogan mau merendahkan diri di hadapan orang lain.
Setelah berpamitan, Ghani dan Bayu undur diri dari hadapan dokter Aminah. Kedua pria itu memutuskan pulang ke rumah karena matahari sudah mulai kembali ke peraduan. Kedua pria itu khawatir jika Queensha dan Ayu mencemaskan keadaan mereka karena hampir seharian ini tak memberi kabar sedikit pun.
"Ghan, jadi rencana kamu selanjutnya apa? Mau mencari keberadaan ibu mertuamu itu atau bagaimana?" tanya Bayu yang saat ini sedang mengendarai mobil Ghani. Dia sengaja mengambil alih kemudi karena yakin jika saat ini pikiran Ghani sedang kacau, tak dapat berpikir dengan jernih.
"Tanpa kuberitahu pun kamu sudah tahu jawabannya, Bay. Selagi menunggu orang suruhanku mencari keberadaan mereka, aku akan melakukan tes DNA dan setelah itu memberitahu Queensha jika terbukti Aurora adalah putri kami," ucap Ghani sambil memasukan gawai ke saku celana. Dia baru saja mengirim pesan pada Yogi untuk membantunya mencari di mana keberadaan Mia, Sarman dan juga Lita. Ketiga orang itu pasti mendapat balasan karena telah menyakiti Queensha dan juga Aurora.
Mengangguk cepat. "Semoga segala urusanmu cepat selesai, Ghan. Datanglah kepadaku kapan pun kamu mau aku selalu siap membantumu."
...***...
__ADS_1