Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Salah Paham Lagi (Lulu dan Leon)


__ADS_3

Hanya tersisa dua hari lagi wedding anniversary yang ke-33 tahun digelar secara meriah di salah satu hotel terkenal di pusat kota Jakarta. Triplet, dibantu para menantu Rayyan dan Arumi tengah disibukkan dengan segala macam persiapan untuk menyambut pesra meriah tersebut. Mereka memastikan tidak ada satu pun yang terlewatkan sebelum acara diselenggarakan.


Seperti sekarang ini, Queensha tengah berada di kediaman mertuanya. Kebetulan Rayyan dan Arumi sedang menghadiri undangan pernikahan dari salah satu kolega Rayyan yang tinggal di Yogyakarta sehingga ia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya langsung perihal tamu undangan yang kelak akan diundang pada pesta tersebut.


"Mbak Tina, total teman-teman Bunda sama Ayah perkiraan ada berapa?" tanya Queensha pada Asisten pribadi keluarga yang sudah lama bersama Arumi dan Rayyan. Saat ini ia tengah duduk di sofa ditemani Tina, perempuan yang dulu telah membantunya mendapat pekerjaan di rumah mewah tersebut.


"Sekitar 500 orang, Mbak, itu belum termasuk saudara dari pihak mendiang Bu Nyimas dan Pak Firdaus. Bisa sampai 600 orang-an lebih," sahut Tina.


Queensha mengangguk, dia menggigit ujung bolpoin sambil berpikir berapa banyak kursi yang harus di tata dalam hotel nantinya. Tidak mungkin dia membiarkan para tamu berdiri, padahal mayoritas tamu undangan adalah setengah baya sampai paruh baya yang merupakan teman-teman Arumi dan Rayyan.


"Kalau misalkan 1000 undangan, terlalu hanyak, tidak Mbak?" tanya Queensha lagi.


Dia butuh pendapat orang lain. Biasanya Ghani yang ditanyai, tapi suaminya itu sedang masa sibuk di rumah sakit karena tuntutan pekerjaannya yang meyangkut nyawa orang lain.


"Menurut saya tidak. Kalaupun sisa kita bisa gunakan nanti sebagai tempat duduk khusus keluarga atau teman-teman Mbak Queensha, Pak Ghani ataupun Mbak Zahira," jawab Tina dengan bijak. Daripada kurang, bukankah lebih baik dilebihkan agar para tamu yang sekiranya datang membawa serta anggota keluarganya yang lain dapat tetap kenikmati acara sampai selesai.


Queensha berdecak, dia mengangguk paham. Sambil tersenyum senang dia menuliskan hasil akhir permasalahan, selanjutnya akan membahas makanan. Untuk urusan makanan, dia berencana memesan dari katering yang menanganinya saat resepsi penikahannya dua bulan lalu.


"Akhirnya selesai juga. Ternyata tidak semudah seperti yang kubayangkan. Pantas saja tanggung jawab ini dilimpahkan kepadaku dan Mas Ghani. Kalau Zahira apalagi Zavier, bisa hancur karena tak sesuai dengan rencana awal."


Setelah semua beres Queensha istirahat di sofa sembari memijat pelipisnya yang terasa pening. Entahlah akhir-akhir ini dia sering merasa sakit kepala dan tubuh terasa pegal, padahal tak banyak melakukan aktivitas apa pun. Hanya mengurusi suami dan anak serta persiapan masuk kuliah, sementara urusan pekerjaan rumah tangga ditangani oleh ART.


Queensha kembali mendapat telepon masuk dari pihak koordinir tempat di hotel yang memintanya datang untuk melihat dekorasi. Saat itu dia melihat jam yang menunjukan pukul 12 lewat.


"Ya ampun!" jerit Queensha sambil menepuk jidatnya. Saking sibuknya dia sampai melupakan tugasnya untuk menjemput putri tersayang.


Buru-buru Queensha mencari kontak Lulu, hendak meminta bantuan sahabatnya itu. "Halo, Lu. Aku minta tolong jemput Rora di sekolah. Kamu tidak sedang sibuk bekerja, 'kan?" Queensha merasa bersalah karena melupakan anak satu-satunya.


"Gila. Lo tega banget sama anak sendiri. Sampe lupa jemput Rora segala. Nyokap macam apa lo, hah!" sentak Lulu ceplas-ceplos. Dia terbiasa berkata demikian kepada sahabatnya.


"Jangan gitu, Lu! Iya iya aku salah, aku minta tolong jemput Rora, ya? Aku mesti ke hotel, mengecek persiapan di sana. Tau sendiri hanya tinggal dua hari lagi pesta perayaan pernikahan Bunda dan Ayah digelar. Aku sibuk banget, nih," tutur Queensha terdengar terdesak.


"Iya, gue bantuin lo jemput Rora. Tapi awas, jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Kasihan keponakan gue mesti nungguin nyokapnya yang udah pikun," kata Lulu sedikit menyindir.


Queensha tersenyum. Akhirnya satu permasalahan telah selesai. "Thank you, Bestie. Next time, aku ajak kamu makan di restoran lagi seperti bulan kemarin sebagai ucapan terima kasihku. Ya sudah, aku tutup dulu. Bye, Lu!"


***


"Bantu gue jemput anak gue, gue yakin Queensha lupa jemput Aurora." Tanpa basa basi, Ghani langsung berkata saat sambungan telepon terhubung. Siang itu dia baru saja keluar ruang operasi dan tengah ditunggu petinggi rumah sakit guna membahas rencana program kerja selama dua tahun ke depan.


"Kenapa enggak dijemput sendiri?" tanya dari seberang yang sepertinya sama-sama sibuk.


"Lo tahu gue sibuk, Yon. Gue baru aja selesai ngelakuin tindakan dan sekarang sedang ditunggu di ruang rapat. Udah buruan, jemput anak gue di sekolah. Kalau enggak, gue pecat lo dan jabatan kepala bangsal gue serahkan ke Yusuf, rival lo yang menjengkelkan itu." Berharap dengan sedikit ancaman Leon bersedia membantunya.


Leon berdecak kesal. "Ngancem mulu, kek emak gue. Iya, jemput Rora sekarang. Puas!"

__ADS_1


Sambungan terputus, Ghani meletakan ponselnya setelah mematikan data. Dia kembali memeriksa berkas yang ada ditangan sambil berjalan cepat menuju ruang rapat. Namun, saat Ghani sedang menunggu di depan pintu lift, seruan seseorang mengalihkan perhatiannya.


"Dokter Ghani, keluarga pasien atas nama Tuan Kusnandar meminta pasien dibawa pulang secara paksa. Katanya mereka terkendala biaya dan tak sanggup melanjutkan perawatan di rumah sakit." Suara perawat wanita terdengar nyaring di telinga. Tampak terlihat jelas kalau dia sedang panik setengah mati.


Ghani mendengkus kesal. Baru saja dia selesai menangani satu pasien, kini dihadapkan dengan kasus yang lain. "Kamu sudah beritahu keluarga pasien belum kalau akan ada resiko jika tidak dilakukan tindakan operasi. Kankernya sudah memasuki stadium 4, dan hanya itu cara satu-satunya mengangkat kanker tersebut agar tidak berkembang biak."


"Sudah, Dok. Saya dan rekan yang lain sampai lelah memberi nasihat kepada keluarga pasien. Namun, tampaknya mereka bersikeras untuk keluar dari rumah sakit ini."


Ghani mengangguk. Tak ada cara lain selain menemuinya secara langsung. Terpaksa menunda rapat selama lima sampai sepuluh menit.


Sementara itu, di tempat berbeda, Lulu tengah melajukan motor matic-nya di tengah jalanan ibukota. Siang itu dengan sangat terpaksa menuruti permintaan Queensha. Beruntungnya hari itu dia sedang libur bekerja sehingga bisa menantu sahabat baiknya itu.


"Anak baru satu aja udah dilupain, gimana kalau 12 coba? Bisa-bisa terpencar di mana-mana. Harusnya dia belajar banyak dari Bumernya yang bisa mengurus anak kembar tiga sekaligus untuk jaga-jaga, siapa tau dia hamil kembar juga seperti suaminya itu." Sepanjang jalan tak hentinya mengomel. Bibirnya yang dipoles lipstick orange terus mengoceh tak jelas.


Titik lokasinya terakhir kali tidak terlalu jauh dengan sekolah Aurora, dalam 5 menit Lulu sampai di depan gerbang sekolah itu. Namun, tidak dijumpai satu siswa pun di sana.


Lulu mematikan mesin motor sambil melepas helm yang menutupi kepalanya. Dia turun lalu kepala celingukan mencari batang hidung Aurora.


"Aduh, Rora di mana, ya? Kok enggak ada, sih."


Tidak mungkinkan, bocah itu diculik? Bisa habis Lulu di tangan Ghani, apalagi Queensha pasti memusuhinya karena dianggap tidak becus menjaga keponakannya.


Lulu menggelengkan kepala akan pikirannya. Bersamaan dengan itu, teriakan cempreng mengintrupsi.


"Aunty Lulu!" teriak Aurora langsung memeluk kaki Lulu.


"Aurora nunggu lama ya?" tuturnya mengajak mengobrol.


"Iya! Mama sama Papa belum jemput Rora. Rora lama nunggu, Aunty. Rora takut diculik makanya disuruh ke ruang guru sama Miss Niken." Bibir gadis kecil itu mengerucut merasa kesal akan sikap Ghani dan Queensha yang membuatnya menunggu.


"Udah dong, jangan ngambek lagi! Nanti cantiknya hilang, loh. Ehm, gimana kalau kita jalan ke depan? Aunty belikan es cendol sambil ke parkiran motor."


Wajah yang semula murung berubah ceria seketika. Minum es cendol panas-panas begini, pasti lezat dan Aurora menyukainya.


"Aurora udah mau pulang?" tanya Lulu saat melihat wajah gadis itu sudah kembali ceria.


Namun, jawaban Aurora tetap gelengan kepala. Lulu menghela napas, bersabar menghadapi tingkah keras kepala keponakannya yang mirip sekali dengan Ghani.


"Ya sudah, kamu habisin dulu es cendolnya sambil lihat orang lalu lalang. Setelah itu baru pulang ke rumah. Mama udah nungguin Rora soalnya."


Kedua wanita itu duduk bersebelahan dengan masing-masing tangan memegang gelas plastik berisi es cendol. Namun, kegiatan itu terhenti saat mendengar suara berat seorang pria.


"Aurora!" panggil Leon berlari ke arah Aurora. Dia langsung menggendong gadis kecil itu sambil menatap Lulu dengan tajam.


Sontak Lulu terkejut, dia memegang tangan Aurora dengan erat. Takut-takut Leon orang yang jahat.

__ADS_1


Leon dan Lulu saling pandang dengan tatapan tajam. Dalam pikiran pria itu, Lulu adalah penculik karena membawa Aurora ke tempat parkiran sepi dan memberinya es cendol. Bukankah seorang penculik sebelum menangkat targetnya akan memberi makanan ataupun minuman demi memuluskan aksinya.


"Ngapain lo pegang tangan Rora segala! Lepasin enggak!" bentak Leon.


"Yang seharusnya lepasin Rora itu, elo. Bukan gue, Berengsek!" Lulu balik membentak.


Leon mengeraskan rahangnya keras sampai menonjol keluar. "Jauhi Rora sekarang juga atau gue akan telepon polisi!" Pria itu mengancam kemudian mencengkram tangan Lulu untuk melepaskan genggamannya di lengan Aurora.


"Seharusnya gue yang melaporkan lo ke polisi! Lo siapa seenak jidat comot anak orang!" Lulu tidak terima dirinya diperlakukan kasar oleh pria mesum yang telah mencuri ciumannya.


"Gue orang tua Aurora, kenapa? Jangan berani-beraninya sama anak gue ya!" Leon mengecup kening Aurora untuk menunjukan pada Lulu bahwa dia benar-benar orang tua Aurora.


Berhubung Lulu sudah mengetahui siapa ayahnya Aurora, tentu saja dia tidak percaya jika Leon adalah papanya. Dia justru merasa kalau Leon tengah melecehkan Aurora karena itu, dia langsung merebut Aurora dari gendongan Leon.


Namun, Leon tidak menyerahkan tubuh Aurora begitu saja. Sayangnya, Lulu pun tidak mudah menyerah. Dia segera menginjak kaki Leon sehingga Aurora lepas dari tangannya.


Lulu beranjak pergi, tapi langkahnya beku saat melihat polisi berdiri berjejer sambil menatap penuh intimidasi.


'Sial! Mau ngapain polisi datang ke sini. Enggak mungkin mereka betulan nangkap gue, 'ka?' tanya Lulu. Dia hendak melangkah mundur, tetapi Leon berdiri di belakangnya dengan senyuman smirk.


"Menyerahlah, Bu. Kami akan membawa Anda secara baik-baik," tutur salah satu pria berseragam polisi. Mereka segera datang usai mendapat panggilan telepon dari Leon. Lokasi sekolah dengan kantor polisi hanya berjarak 50KM jadi bisa datang dengan cepat sekali mengedip.


"Saya tidak bersalah, Pak. Seharusnya Bapak menangkap orang di belakang saya!" Lulu menunjuk Leon, tapi Leonlah yang membawa polisi itu mana mungkin dipercaya.


Saat itu, Leon mengambil Aurora dari gendongan Lulu. Lalu salah satu polisi itu menangkap Lulu dan memborgol kedua tangannya. Tentu saja Lulu memberontak karena dia merasa tidak bersalah.


"Pak, saya bukan penculik. Namun, pria mesum itulah penculiknya. Aurora adalah keponakan saya!" teriak Lulu mencoba melarikan diri.


Suaranya yang keras menarik perhatian beberapa orang yang melintas di parkiran, apalagi sampai ada polisi di sekitar. Mereka sontak melindungi anak-anak mereka dan menyembunyikannya di balik punggung.


Lulu tidak digubris, polisi itu tetap membawanya pergi walaupun beberapa kali terkena tendangan bebas wanita tersebut.


"Uncle Leon, Aunty Lulu mau dibawa ke mana?" tanya Aurora sembari menatap wajah Leon dari bawah dagu.


Leon bingung, mengapa Aurora bisa tau nama wanita yang dia anggap penculik.


"Dia jahat, mau nyulik kamu, Sayang."


Setelah itu, Aurora langsung minta turun dari gendongan Leon. Dia bergegas lari mengikuti polisi yang membawa Lulu.


Leon membuntuti di belakang, tapi dia segera berhenti saat mendengar pernyataan keluar dari mulut Aurora.


"Pak polisi, Aunty Lulu adalah sahabat Mamanya Rora dan Uncle Leon adalah sahabatnya Papa Rora. Jadi, bisa lepasin Aunty Lulu sekarang?" ucap Aurora dengan ragu-ragu.


...***...

__ADS_1



__ADS_2