
Saat ini Lulu dan Leon tengah berada di dalam kereta MRT (Mass Rapid Transit). Tujuan mereka adalah Hutan Kota GBK yang ada di kawasan Jakarta Pusat. Leon sengaja memilih tempat itu karena dirasa area hijau tersebut sangat cocok untuk bersantai, melepaskan penat akibat rutinitas pekerjaan yang tak pernah ada hentinya.
Bertepatan dengan akhir pekan, moda transportasi tersebut cukup ramai sehingga kursi penumpang yang tersedia terisi penuh menyebabkan Lulu dan Leon terpaksa berdiri, berpegangan pada hand strap agar saat masinis menginjak rem dan kereta berhenti, tubuh mereka tidak terpental ke mana-mana.
Lulu tersentak saat Leon berpindah tempat, dari semula berada di sebelah kiri, kini berada di belakangnya. Dada berdebar kencang dan keringat dingin mulai muncul ke pori-pori kulit kala bayangan masa lalu tiba-tiba muncul di benaknya.
Dengan gugup dan napas tersengal Lulu berkata, "Apa yang lo lakuin? Jangan macam-macam, kalau enggak mau gue teriak sekarang!" ancamnya. Dalam keadaan seperti ini hanya kalimat itu saja yang meluncur di bibirnya.
"Jangan salah paham dulu! Gue enggak ada niatan buruk ke elo. Gue cuma mau lindungi lo dari sentuhan penumpang cowok yang ada di sini. Gue lihat lo mulai ngerasa enggak nyaman saat enggak sengaja bersentuhan dengan lawan jenis. Untuk itulah gue inisiatif untuk jagain lo," jawab Leon lirih. Dia berpegangan erat pada hand strap agar tubuhnya tidak terhuyung ke depan, menubruk tubuh Lulu.
"Jadi ... lo justru mau lindungin gue, iya?" tandas Lulu memastikan.
"Emang lo pikir gue mau ngapain? Berbuat tindakan amoral di tempat umum? Gue dilahirkan dari seorang perempuan, dan punya kakak perempuan jadi enggak mungkinlah gue tega ngelakuin perbuatan bejat itu kepada kaum wanita. Gue masih inget Tuhan, Lu."
"Udah, enggak usah banyak omong. Mending lo nikmati perjalanan kita karena pemandangan indah untuk menuju tempat wisata sangat sayang lewatkan."
Beberapa saat kemudian, Leon dan Lulu tiba di stasiun MRT Istora Mandiri. Pria yang berprofesi sebagai dokter bedah di rumah sakit milik orang tua sang sahabat turun lebih dulu lalu mengulurkan tangan ke arah Lulu, disambut penuh suka cinta oleh si wanita. Kedua orang itu berjalan beriringan menuju pintu keluar stasiun.
"Kalau capek, bilang nanti gue gendong sampe tujuan."
Lulu tertawa mendengarnya. Perasaan takut yang sempat merajai diri berangsur-angsur menghilang tergantikan oleh senyuman yang tak pernah pudar sedari tadi. "Iya, abwel," ucapnya tanpa melepas genggaman tangan Leon. Jika diperhatikan dari jauh, mereka terlihat begitu serasi. Sama-sama memiliki paras cantik dan rupawan.
Lulu melepaskan genggaman tangan Leon kemudian berlari menjauh saat dirinya dan dokter tampan itu tiba di hutan kota. Deretan gedung perkantoran menjulang ke angkasa, hamparan rerumputan nan hijau, serta kolam trembesi yang dilengkapi dengan air terjun mini dan bebatuan di mana airnya jatuh langsung ke kolam yang lebih rendah menjadi pemandangan indah yang sedap dipandang.
Tangan terbentang ke kanan dan kiri, kemudian menghirup udara segar seraya memejamkan matanya sejenak. "Eum, sejuk. Gue enggak nyangka ada tempat sebagus ini di pusat kota Jakarta. Andai gue tau, udah pasti bakal sering ke sini."
Leon yang tengah mengawasi Lulu dari arah belakang hanya bisa tersenyum. Melihat wajah semringah Lulu membuatnya merasa bahagia.
__ADS_1
"Gimana, lo suka?"
"Suka banget. Lo tau tempat ini dari mana? Kok gue enggak pernah tau ada tempat sebagus ini di deket GBK." Lulu bertanya sambil melirik sekilas ke arah Leon, sebelum akhirnya melempar pandangan pada bunga teratai indah di atas kolam ikan. Kumpulan ikan berwarna warni semakin menambah keindahan keadaan sekitar.
"Nyari di internetlah. Lo pikir gue tau tempat ini dari siapa. Ghani? Dih, yang ada dia sering minta tolong ke gue untuk cariin tempat wisata keluarga karena ingin ngajak Queensha dan Rora jalan-jalan. Dia terlalu sibuk sampe enggak punya waktu bukan si Mbah Google."
"Walaupun sibuk, tapi dia punya waktu untuk keluarga. Menurut gue ... itu wow banget, loh, bisa menyeimbangkan antara urusan pekerjaan dan keluarga. Sangat jarang ada cowok modelan begitu."
"Jadi menurut lo, cowok yang bisa bagi waktu antara kerjaan dan keluarga adalah cowok keren?" Perkataan Leon dibalas anggukan kepala Lulu. "Ehm, kalau gitu gue mau juga jadi cowok model begitu ah, biar dibilang keren sama lo. Kapan lagi dipuji cewek cantik macam lo."
Seketika wajah Lulu memerah, tersipu malu. 'Nih cowok kesambet apaan, kok, muji gue secara langsung. Bikin gue deg-degan mulu.'
"Kita ke sana, yuk. Ada spot bagus untuk foto." Tanpa pikir panjang, Leon segera menarik tangan Lulu menuju coffetea house, berjarak sepuluh meter dari posisi mereka saat ini.
"Lo berdiri di sini, biar gue yang fotoin." Leon mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas kecil miliknya, sedangkan Lulu segera mencari pose yang pas dengan latar belakang gedung perkantoran.
Lulu menengadahkan tangan ke depan Leon. "Sini handphone-nya, gue mau kita foto berdua. Dari tadi lo mulu yang fotoin gue kini giliran lo ikut di dalamnya."
Leon tak langsung menuruti permintaan Lulu. Dia justru menatap tidak percaya kepada gadis di hadapannya.
"Lo yakin mau foto berdua sama gue? Enggak takut gue apa-apain?"
Lulu menggeleng kepala cepat. "Kalau emang lo mau ngapa-ngapain, udah dari pertama kali kita kencan lo berbuat tak senonoh ke gue. Banyak kesempatan bagi lo untuk melecehkan gue, tapi buktinya lo justru perlakuin gue dengan baik. Lo rela berdesakan dengan penumpang lain demi pastiin tubuh gue enggak disentuh lelaki mana pun."
"Dan gue yakin kalau lo adalah pria baik yang sangat menghormati perempuan." Lantas Lulu menunduk. Telapak tangan mencengkerem satu sama lain. Apa yang dia ucapkan barusan bukanlah isapan jempol semata. Leon bukan lelaki berengsek seperti mantan kekasihnya.
"Makasih, lo udah enggak lagi anggap gue cowok mesum yang gemar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ya udah, kalau gitu kita foto berdua."
__ADS_1
Leon meminta tolong pada pengunjung yang melintas untuk membantunya memfotokan dirinya dan Lulu. Leon dan Lulu mencoba berbagai gaya sampai memori handphone sang lelaki penuh oleh foto kebersamaan mereka berdua.
***
Ketika mentari kembali ke peraduan, Leon dan Lulu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Tubuh terasa letih seharian berjalan berkeliling kota Jakarta menaiki transportasi umum. Kendati demikian, hati tak dapat berbohong jika keduanya menikmati waktu bersamaan mereka.
"Yon, terima kasih udah ngajaki gue jalan. Hari ini gue seneng banget."
"Kembali kasih. Gue ikutan bahagia kalau lo bahagia. Lain kali kalau gue libur dan lo juga enggak ada shift, kita jalan lagi ke tempat yang lain. Masih banyak tempat wisata di ibu kota dan daerah sekitarnya belum kita eksplorasi. Lo ... mau ikut gue menjelajahi tempat wisata tersebut?" tanya Leon ragu-ragu.
Kedua netra saling memandang. Ada sorot mata penuh pengharapan dari sepasang mata indah di sebelahnya. Lulu tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan, petanda bahwa dia bersedia menemani Leon mengelilingi berbagai tempat wisata menarik di sekitar mereka.
"Masuk gih, keburu gerbangnya dikunci."
"Iya, gue masuk duluan. Sekali lagi makasih."
"Hmm, sama-sama."
Lulu melepas seat belt yang melingkar di tubuh, lalu hendak membuka pintu. Namun, suara Leon menghentikan niatannya.
"Lu, jangan lupa mimpiin gue. Gue pingin kita ketemuan lagi di alam mimpi," kata Leon penuh percaya diri.
Wajah Lulu kembali memerah, kemudian mengangguk pelan. Dia pun ingin bisa bertemu lagi dengan Leon.
"Lo hati-hati di jalan. Jangan ngebut karena gue ... enggak mau lo kenapa-napa."
Leon tersenyum kemudian mengelus-elus puncak kepala Lulu. "Have a nice dream, Neko-chan."
__ADS_1
...***...