
Pria yang bertugas menjadi pembawa acara berkata, "Bagaimana, apa mempelai wanita siap melemparkan buket bunga tersebut?"
"Siap, dong!" sahut Queensha dan Ghani hampir bersamaan. Mempelai pria dalam balutan tuxedo hitam, dasi kupu-kupu begitu sedia mendampingi istrinya, berdiri di sebelah Queensha dengan setia.
Lalu MC kembali berucap melalui pengeras suara. "Para tamu undangan, apakah kalian siap?"
"Siap!"
"Baiklah. Siap-siap di posisi masing-masing karena dalam hitungan ketiga, mempelai wanita akan melempar buket bunga miliknya. Satu ... dua ... ti ... ga ...."
Tepat pada hitungan ketiga Queensha melempar buket bunga dalam genggaman tangan ke arah para tamu undangan yang berdiri di bawah pelaminan. Dalam posisi membelakangi mereka, Queensha melemparnya sejauh mungkin dan dalam hatinya berdoa semoga orang yang mendapatkan buket bunga miliknya segera menyusul ke pelaminan. Siapa pun dia, Queensha berharap kebahagiaan akan datang menghampiri.
"Minggir, buket bunga itu punya gue!" teriak Leon di tengah kerumunan. Sahabat Ghani yang kini menjabat sebagai kepala bangsa tampak begitu antusias, ia bahkan rela mengesampingkan rasa sakit pada bagian bahu akibat terkena pukulan anak buah Gareng, demi mendapat buket bunga milik Queensha. Demi cita-citanya untuk bisa melangkah menuju altar pernikahan, ia rela melakukan apa pun termasuk menyenggol bahu orang di sekitarnya yang dirasa menghalangi jalannya.
Sekuat apa pun Leon berusaha, tapi bila Tuhan sudah turun tangan maka ia bisa apa selain ikhlas menerima takdir dari-Nya. Pun saat buket bunga tersebut tidak mengarah kepadanya dan justru jatuh di tangan seseorang yang sangat ia kenal, Leon hanya dapat memandang nanar kumpulan bunga mawar putih tersebut. Walaupun ada perasaan kecewa, tapi ia mencoba berlapang dada.
Suara riuh tepuk tangan serta teriakan para tamu undangan terdengar memenuhi ballroom hotel tatkala buket bunga milik Queensha mendarat di tangan kekar pria berwajah oriental. Tanpa ada niatan mengikuti tradisi yang dirasakan tidak masuk di akal, ia beruntung mendapatkannya.
__ADS_1
"Wuah ... selamat, Vier, sebentar lagi lo nyusul Ghani." Salah satu mantan teman SMA-nya yang tak lain merupakan teman SMA Ghani juga menepuk pelan Zavier. "Jangan lupa undang gue karena gue ingin tahu perempuan mana yang berhasil menaklukan playboy macam lo."
"Pasti tuh perempuan punya kesabaran di atas rata-rata sampai bersedia menikahi lo," timpal yang lain disertai kikikan pelan. Kedua pria tampan itu senang sekali menggoda Zavier, playboy cap Naga yang gemar gonta ganti pacar semasa sekolah dulu.
Zavier mendengkus kesal. "Banyak omong kalian! Minggir, lo berdua halangin jalan gue!" Lalu ia berjalan menghampiri meja tempat di mana keluarganya berada.
Sementara itu, Ghani tersenyum samar bahkan saking samarnya hingga tak ada orang yang menyadari jika kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia merasa bahagia karena buket bunga itu berhenti tepat di tangan adik kembarnya. Dengan begitu harapan kedua orang tuanya untuk bisa mendapat menantu perempuan kedua di keluarga Wijaya Kusuma akan segera terwujud.
"Mas, buket bunga itu ...."
"Di antara kami bertiga, hanya Zavier saja yang belum sold out. Adikku yang kedua saat ini sedang mengandung anak ketiga, sementara istriku yang cantik ini sebentar lagi mengandung anakku yang kedua. Jadi, aku berharap semoga Zavier menyusulku dan juga Zahira naik ke pelaminan."
Zavier melangkah ke arah orang tuanya dengan gurat kemarahan yang terpancar jelas di sorot matanya. Apalagi saat senyuman menyebalkan berasal dari tante, om serta adik bungsunya Shakeela, kemarahan dalam diri pria itu semakin menjadi-jadi.
"Nyesel gue turuti kemauan Shakeela. Kalau sudah begini, pasti Aunty Rini semakin bersemangat membujuk Bunda untuk mencarikan calon istri untukku."
Hanya tersisa jarak beberapa meter lagi, langkah kaki Zavier terhenti seketika. Ia cukup terkejut akan kemunculan Leon di depannya. Kedua tangan Leon terbentang ke kanan dan kiri.
__ADS_1
"Lo mau ke mana, hem? Udah dapat bunga malah kabur begitu aja. Seharusnya lo mengucap terima kasih kepada Kakak Ipar karena melemparkan buket bunga tersebut tepat ke arah lo. Eh, bukannya berterima kasih malah melengos. Dasar adik ipar akhlakless!" celetuk Leon tanpa pernah menyaring kalimatnya. Ia sudah terbiasa berkata demikian kepada Zavier dan adik pertama Ghani sama sekali tidak tersinggung oleh ucapan pria itu.
"Kenapa, lo mau buket bunga ini? Nih, ambil aja, gue juga enggak butuh." Zavier menyerahkan buket bunga mawar putih dari tangannya ke tangan Leon. Namun, Leon dengan segera menepis tangan adik dari sahabatnya.
"Sorry, sejak kecil gue enggak diajarkan untuk merampas apa yang sudah menjadi milik orang lain. Gue emang menginginkan buket bunga itu, tetapi mengambilnya dari orang lain, gue juga ogah. Apalagi udah dipegang lo. Hii, kalau kuman dan bakteri di tangan berpindah ke tangan gue, gimana? Gue enggak mau jatuh sakit karena tertular penyakit dari lo."
"Gue memegang peranan penting di rumah sakit atau dengan kata lain merupakan orang penting di sana. Banyak pekerjaan yang harus ditangani di rumah sakit. Pasien berdatangan meminta gue mengoperasi mereka, tapi kalau misalkan gue sakit dan enggak bisa menolong mereka, bagaimana? Kasihan, 'kan, mereka kalau harus menelan pil kekecewaan. Oleh karena itu, untuk mencegah penularan penyakit di antara kita, lo simpan aja bunga tersebut dengan baik. Gue cuma memandanginya dari jauh."
"Dasar gila! Tahu lo enggak mau menerima bunga ini mending gue pergi aja dari tadi." Zavier menyenggol bahu Leon demi menyingkirkan pria itu dari pandangannya. Lalu ia melanjutkan kembali langkahnya menghampiri keluarganya.
Di sisi lain, tampak Lulu berwajah muram karena tak berhasil mendapat buket bunga pemberian Queensha. Melangkah gontai mendekati meja panjang dengan di atasnya terdapat banyak minuman serta makanan lezat yang disediakan khusus bagi tamu undangan. Tangan wanita itu terulur ke depan hendak meraih segelas orange juice, di saat bersamaan rupanya seorang pria hendak meraih gelas yang sama.
Refleks Lulu mengangkat kembali tangannya ke atas dan menoleh ke arah pria tersebut. Matanya yang bulat terbelalak sempurna saat melihat siapakah gerangan pria yang berada di sebelahnya.
"Pak Rama? Sedang apa Bapak di sini?" tanya Lulu sedikit terkejut akan kehadiran Rama di tengah pesta berlangsung. Ia tidak menduga jika atasannya bersedia hadir di acara pesta pernikahan dari wanita yang dicintainya. Ia pikir Rama tak bersedia hadir jika ingat cintanya tidak terbalaskan akibat Queensha memilih menikahi pria lain daripada mencintai Rama.
...***...
__ADS_1