Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Rencana Pulang Kampung


__ADS_3

Ghani tidak semerta-merta meninggalkan Queensha sendiri di rumah sakit. Setelah kejadian kemarin yang hampir membuat Ghani hilang akal, dia tidak akan membiarkan hal buruk menimpa istrinya lagi.


Pria kelahiran 33 tahun silam menyuruh Lulu untuk segera ke rumah sakit, menemani Queensha sementara dirinya membeli soto di Bogor. Jarak ke Bogor bukanlah jarak yang dekat apalagi terjadi kemacetan di mana-mana. Akan membutuhkan waktu lama hingga dia mendapat pesanan sang istri. Oleh karena itu, dia butuh seseorang untuk menjaga istrinya.


Berlari tergopoh, Lulu mendekati Ghani yang sedang berjalan ke arah lift. "Maaf Dokter Ghani, lama datengnya. Tadi, saya mesti isi bensin dulu dan itu ngantri," ucap Lulu yang baru datang. Ghani sedari tadi memang belum pergi, menunggu sampai Lulu tiba dan memastikan istrinya ada yang menemani.


"Tak masalah. Maaf sudah merepotkanmu. Hari ini Leon shift pagi. Kamu bisa memintanya menemanimu di ruangan agar kamu ada teman ngobrol ketika Queesha tertidur," kata Ghani.


Sebetulnya Ghani merasa tidak enak harus menyuruh Lulu ke sini. Apalagi dia sempat melarang gadis itu datang menemui Queensha tempo hari, lalu sekarang dia malah meminta bantuannya. Sungguh, Ghani tak punya muka berhadapan dengan kekasih dari sang sahabat. Namun, demi Queensha, dia rela menebalkan muka.


"Jangan sungkan. Kebetulan aku memang senggang jadi bisa menemani Queensha. Oh ya, apa Queensha udah tidur?" tanya Lulu pada Ghani.


Ghani menggendikan bahu dan menjawab, "Entah. Mungkin saja sudah sebab saya segera keluar ruangan sesaat setelah dia meminta dibelikan soto mie." Lalu melirik ke arah jam branded di pergelangan tangan. "Saya pergi dulu dan jangan bilang kalau saya baru pergi pada Queensha."


"Misalkan dia bertanya padamu kenapa datang tanpa memberitahu terlebih dulu, cari saja alasan lain. Mood Queensha benar-benar hancur belakangan ini dan itu membuat kepala saya rasanya mau pecah. Bentar-bentar merajuk, marah, dan tak berselang lama tersenyum seolah tak terjadi apa-apa kepadanya," sambung Ghani. Semenjak hamil kesabarannya benar-benar diuji oleh sang istri.


Lulu tersenyum samar. Tidak mau menyinggung perasaan Ghani. "Yang sabar, Dok. Namanya juga ibu hamil. Nanti bakalan kangen lo kalau Queensha udah lahiran."


"Hmm. Kamu benar. Ya sudah, saya pergi dulu kalau begitu. Nitip Queensha, ya? Jika ada apa-apa langsung kabari saja."


Sahabat terbaik Queensha mengangguk. "Baik. Hati-hati di jalan."


Ghani menekan tombol lift menuju lobby rumah sakit. Ketika pintu lift berdenting dan terbuka, dia segera masuk ke dalamnya, meninggalkan Lulu yang masih membeku di tempat.


Setelah kepergian Ghani. Lulu masuk ke dalam ruang rawat inap Queensha. Mendengar suara derit pintu dibuka, segera menengok ke arah pintu dan mendapati sahabatnya berdiri dengan membawa kantong kresek warna hitam di tangan kanan. Dia pikir tadi suster atau dokter yang akan memeriksanya lagi.


"Lulu? Kenapa tidak bilang dulu kalau mau datang. Tau begitu aku minta Mas Ghani belikan camilan untuk menjamumu sebelum dia pergi ke Bogor."


Lulu meletakkan kantong kresek di atas nakas. Rupanya kantong hitam itu berisi pentol yang dijual di depan restoran tempatnya bekerja. Pentol itu cukup terkenal di kalangan para karyawan restoran cepat saji, tempat Queensha dulu bekerja.


Gadis berusia 26 tahun menjawab, "Namanya juga kejutan, Neng. Emangnya kenapa? Lo enggak mau gue temenin gitu? Mentang-mentang lama enggak ketemu jadi sombong."


Queensha gelagapan. Dia bahkan sampai bangkit dari tidurnya. "Bukan begitu maksudku. Aku cuma kaget kenapa tiba-tiba kamu datang tanpa memberitahuku terlebih dulu. Kupikir tadi dokter atau suster yang dateng mau periksa aku. Perasaan tadi sudah diperiksa, Rara lalu kenapa dia datang lagi ke sini." Mencoba menjelaskan, jangan sampai Lulu salah paham. Dia telah kehilangan orang tuanya dan dia pula tidak mau kehilangan sahabat sejatinya hanya karena kesalahpahaman.


Lulu meletakkan dua tumpukan bantal di belakang punggung Queensha. "Bersyanda, Say. Duh, tegang banget sih muka lo. Rileks, gue enggak marah karena omongan lo barusan." Lalu dia duduk di kursi bundar di bawah ranjang pasien. "Tadi gue ditelepon Dokter Ghani. Dia minta tolong gue buat jagain lo sementara dia pergi ke Bogor."


"Sha, lo gila juga ya minta Dokter Ghani beli soto mie Bogor langsung dari Bogor. Apa enggak sekalian aja minta coto Makassar yang dibeli langsung dari kota Makassar."


Queensha mengusap tengkuknya menggunakan telapak tangan. "Mau bagaimana lagi, Lu, ini ketiga bayiku yang minta. Aku mah cuma menyampaikan saja apa yang mereka mau."


"Ehm, omong-omong kenapa Mas Ghani sampai minta kamu datang ke sini? Merepotkan orang saja. Aku jadi tidak enak hati karena merepotkanmu, Lu."

__ADS_1


Lulu mencibir dan memutar bola mata jengah. "Merepotkan apa? Sama sahabat sendiri kok merepotkan. Sangat wajar kalau Dokter Ghani khawatir kamu sendirian di sini. Ngeliat lo enggak sadarin diri akibat kejadian tempo hari bikin dia enggak hampir gila karena terus-terusan mikirin lo. Jadi, dia enggak mau kejadian itu terulang lagi makanya minta gue ke sini. Walaupun gue sempet lalai, tapi ternyata dia masih percaya sama gue," tutur Lulu panjang lebar.


"Apa yang kamu bicarakan benar juga. Mas Ghani pasti khawatir sekali padaku." Queensha menyambar pentol di tangan Lulu. Melihat sahabatnya sedari tadi menguyah makanan tersebut membuat perutnya terasa lapar. "Lu, menurutmu aku jahat tidak pada Mas Ghani?"


"Jahat gimana?" Lulu mengambil pentol di bungkusan yang sama dengan Queensha lalu memasukannya ke dalam mulut. Dua wanita itu menyantap olahan makanan terbuat dari tepung dikombinasikan daging ayam dengan lahap.


"Masalah aku yang minta Mas Ghani membelikan soto mie Bogor langsung di Bogor. Tiba-tiba saja kepingin makan soto, padahal seminggu yang lalu udah dibeliin soto mie juga oleh Mas Ghani."


"Ngaco. Jahat apaan, heh? Menurut gue, sah-sah aja lo minta Dokter Ghani beliin apa yang lo mau. Namanya juga nyidam kadang enggak tahu kalau emang lagi makan sesuatu."


"Semua suami pasti udah mempersiapkan hal itu kalau istrinya hamil dan para lelaki yang bertitelkan suami bakal lakuin itu demi kebaikan ibu dan bayinya," jawab Lulu mengemukakan pendapatnya. Queensha manggut-manggut mendengar jawaban Lulu.


Queensha menyodorkan sisa pentol kepada Lulu. Kemudian menegak air putih di atas gelas hampai habis tak bersisa. Perutnya yang keroncongan kini kembali tenang setelah memakan tiga butir pentol ayam kepunyaan Lulu.


"Ehm, berarti aku tidak salah dong, ya? Semoga Mas Ghani berhasil melewati rintangan membentang di depan sana dan dia berhasil membawakan soto mie Bogor untukku dan ketiga bayiku." Queensha mengelus perutnya yang mulai membuncit. Senyuman samar tersungging di bibir kala membayangkan sebentar lagi dia bertemu dengan ketiga anak-anaknya itu. Hanya tersisa 3 bulan saja dia dapat berkumpul bersama buah cintanya.


Lulu turut bahagia melihat sahabatnya berbahagia. Akhirnya Queensha menemukan kebahagiaannya setelah melalui ujian hidup yang menyesakkan dada.


"Sha, gue mau ngomong sesuatu."


Queensha mengerutkan kedua alis. "Ngomong apaan, kok serius banget."


Lulu terdiam. Telapak tangan saling meremas satu sama lain. Terlihat jika gadis itu sedang kebingungan.


Menarik napas dalam, lalu mengembuskan perlahan. Mencoba mengumpulkan keberanian salam diri. "Gini, rencananya gue mau pulang ke kampung halaman. Tapi gue enggak sendiri. Gue bakal ajak Mas Leon untuk ngenali dia ke nyokap dan bokap gue."


Wajah Queensha sumringah mendengarnya. "Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya. Semoga semua rencana kalian lancar, ya. Apa pun rintangan yang datang menghadang bisa kalian hadapi bersama. Kamu dan Mas Leon bisa melangkah bersama ke pelaminan." Queensha ikut antusias karena sahabatnya juga ada rencana untuk menyusulnya menikah. Inilah yang dia harapkan, Lulu menikah dengan pria baik yang benar-benar tulus mencintainya.


"Aamiin ... makasih banget loh, Sha doanya," ucap Lulu meng-aamin-kan doa dari sang sahabat.


Queensha mengusap punggung tangan Lulu. "Sama-sama. Uh, aku tidak sabar ingin segera melihatmu menikah. Aku akan persiapkan kado terindah saat kamu menikah dengan Mas Leon nanti."


"Jangan lama-lama, ya, nikahnya takut kebablasan. Kalau kamu dan Mas Leon sudah siap nikah, langsung dihalalin saja. Pacaran setelah menikah itu enak lo, karena kita tidak waswas digrebek warga kalau mau ngapa-ngapain."


Lulu tersenyum simpul. Membayangkan dirinya dan Leon duduk di pelaminan, mengenakan gaun pengantin pasti sangat menyenangkan.


***


Beberapa saat kemudian Leon datang ke ruang rawat inap Queensha. Lulu tersenyum melihat kedatangan kekasih sekaligus calon imamnya itu.


"Mas, kamu udah datang." Lulu menyambut kedatangan Leon dengan sukacita. Senyuman manis mengembang di sudut bibir gadis itu.

__ADS_1


Menggenggam jemari tangan Leon, menentun pria itu masuk ke ruangan. "Sha, maaf tadi gue suruh Mas Leon datang ke sini. Kebetulan dia shift pagi jadi gue minta mampir ke sini sekalian. Lo enggak keberatan ada Mas Leon di ruangan ini, 'kan?" ucap Lulu. Memang lancang mengajak pria lain di saat Ghani tidak ada di ruangan. Namun, bukankah Ghani sudah memberi izin padanya untuk membawa Leon ke dalam ruangan jika dirinya membutukan teman ngobrol.


"Tentu saja tidak. Malah aku senang banyak teman yang menemani. Mas Leon, sini duduk!"


Leon menuruti apa yang dikatakan Queensha. "Bagaimana keadaanmu? Aku dengan kemarin Mama dan Papa datang ke sini, membesukmu. Maaf jika kedatangan mereka mengganggu waktu istirahatmu."


"Alhamdulillah, sehat. Benar, kemarin Tante Ayu dan Om Imran datang ke sini. Mereka membawakan banyak buah-buahan untukku. Kedatangan mereka sama sekali tidak menggangguku. Kebetulan aku memang sedang santai."


Lantas ketiga orang dewasa itu berbincang hangat, membahas soal rencana Lulu yang akan mengajak Leon pulang ke kampung halamannya. Raut kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.


Telepon genggam Lulu berdering saat mereka sedang asyik mengobrol. Mengeluarkan benda pipih dari saku celana, tampak nama orang tuanya muncul di layar ponsel.


Lulu minta izin sebentar untuk mengangkat telepon dari orang tuanya. "Sha, Mas Leon, aku keluar bentar. Ibu nelepon nih," ucap Lulu kepada mereka berdua.


"Iya, Lu," jawab mereka berdua bersamaan.


Setelah pintu ruangan ditutup, menyisakan Queensha dan Leon d ruangan itu tersebut. Maka Queensha mulai berbicara secara empat kata dengan sahabat dari suaminya itu. Queensha menitipkan Lulu pada Leon dan meminta pria itu untuk menjaga dan melindungi Lulu dgn segenap jiwa raganya krn Lulu bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara senasib sepenanggungan.


"Kamu tenang saja, aku pasti menjaganya dengan baik. Aku ucapkan terima kasih, berkat kamu dan Ghani, akhirnya aku menemukan wanita idamanku. Wanita tangguh, kuat, dan tegar sesuai kriteria calon istriku."


Queensha terkekeh. Kepingan kejadian beberapa bulan lalu melintas di benaknya. "Itu gunanya teman. Aku ikut bahagia kalau kalian akhirnya membawa hubungan ini ke pelaminan."


"Aku denger dari Lulu, katanya dia mau ngajak Mas Leon ketemu ibu dan ayahnya, ya? Selamat ya kalau memang benar adanya."


Leon menundukan wajah. Dia jadi salah tingkah karena mau bertemu orang tua Lulu.


"Aku doakan yang terbaik buat kalian berdua. Ingat kata-kataku barusan, jangan pernah sakiti Lulu sebab jika Mas Leon menyakitinya maka Mas Leon berurusan denganku. Aku akan minta Mas Ghani menghajar wajah Mas Leon sampai babak belur karena telah melukai perasaan sahabatku," kata Queensha sedikit mengancam.


Menelan saliva susah payah. Tampang Queensha semakin hari semakin menyeramkan. Wajah Ghani saja sudah membuat bulu kudunya merinding, ditambah Queensha sekarang semakin membuat dia ketakutan setengah mati.


"Iya, Sha. Aku janji sama kamu. Aku tidak akan menyakiti atau bahkan melukai Lulu. Aku cinta sama dia jadi aku bakal membahagiakan dia seumur hidupku," ucap Leon bersungguh-sungguh.


"Bagus kalau gitu. Aku pegang janjimu, Mas."


Percakapan mereka terhenti ketika Lulu masuk lagi ke dalam. Air mukanya terlihat tegang, tak seceria beberapa waktu yang lalu.


Queensha mengulurkan tangan, disambut Lulu dengan baik. "Ada masalah apa? Apa Ibumu buat ulah lagi?" Mengerti jika hubungan Lulu dengan sang ibu kurang baik.


"Biasa, Ibu. Mancing emosi gue mulu. Kali ini bahkan ngancem bakal nyusul gue ke kota kalau enggak buru-buru pulang ke kampung. Mau enggak mau, gue percepat kepulangan gue ke kampung halaman."


Lalu Lulu melirik ke arah Leon. "Mas, kamu enggak keberatan kita pulang minggu depan? Ibu rese mulu, nih, nanyain kapan aku pulang. Telingaku panas lama kelamaan."

__ADS_1


"Enggak sama sekali. Semakin cepat malah semakin baik. Ya udah, nanti aku urus surat cutiku ke Ghani, biar langsung di ACC dia secepatnya."


...***...


__ADS_2