Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Salam Perpisahan


__ADS_3

"Pergilah dan temui putrimu. Namun, kamu perlu ingat jangan berbuat macam-macam jika tidak mau hukumanmu bertambah karena mencelakai orang lain!" Petugas rutan mencoba mengingatkan Mia sebelum melepaskan wanita itu menemui Queensha.


Mia memutar bola mata dengan malas. Bosan karena sejak keluar dari sel tahanan sampai kakinya yang jenjang nyaris mencapai pintu ruang besuk, petugas rutan terus menasihatinya dengan kalimat yang sama.


"Baik, saya pasti mengingatnya." Lalu Mia kembali mengayunkan kakinya menuju salah satu ruangan khusus yang digunakan untuk bertemu dengan sanak keluarga yang pergi membesuk para tahanan.


Mia menghunus tatapan penuh kebencian saat melihat pintu ruangan itu terbuka lebar. Di depan sana, Queensha sedang duduk manis dengan Yogi yang begitu setia berdiri tak jauh dari kursi tempat anak tirinya duduk. Tangan wanita itu mencengkeram ujung pakaian tahanan dengan sangat kencang guna mengurai rasa marah yang meledak-ledak.


Sementara itu, Queensha memandang datar tatkala kedua netra mereka saling beradu satu sama lain. Ia menaikan dagu ke atas, menatap remeh pada Mia seolah-olah ingin mengatakan bahwa kini dirinyalah yang memenangkan permainan. Mia, Sarman serta Lita akhirnya mendapat balasan atas semua kesalahan yang pernah mereka perbuat di masa lalu.


"Mau apa kamu datang ke sini? Apa kedatanganmu ini ingin memastikan seberapa menderitanya aku dan suamiku, iya? Jika itu memang tujuanmu menemuiku sebaiknya pergi saja dari sini karena aku tak sudi melihat wajahmu yang menjengkelkan itu! Wajah yang selalu mengingatkanku pada lelaki tua berpenyakitan yang membawaku pada awal kehancuran!" seru Mia dengan suara tinggi. Saking kencangnya berseru, petugas rutan serta Yogi yang berada di ruangan secara hampir bersamaan menoleh ke arah Mia.


Di belakang sana Yogi mengambil ancang-ancang, mengeluarkan benda tajam yang selalu ia bawa ke mana-mana dari saku jaket kulit miliknya. Ia tidak mau memberi kesempatan kepada Mia untuk menyerang Queensha terlebih dulu. Mau menjelaskan apa jika dirinya dianggap gagal melindungi Queensha, padahal Ghani telah mempercayakan wanita itu kepadanya.


Pun begitu dengan petugas rutan. Ia mempunyai tanggung jawab untuk melindungi sanak keluarga yang melakukan kunjungan. Terlebih mengetahui kalau Queensha pulalah yang melaporkan Mia atas tuduhan penculikan dan penganiayaan terhadap Aurora maka ia wajib bersiaga, jangan sampai lengah dan kesempatan itu digunakan tahanan untuk menyerang target.


Dada Queensha kembang kempis, mendiang papa tercinta dihina sedemikian rupa padahal pria yang Mia hina telah memberi segalanya demi kebahagiaan wanita itu. Namun, Mia tak mengingat semua kebaikan yang pernah Gunawan berikan kepadanya. Mia hanya mengingat segala kesusahan yang ditimbulkan Gunawan setelah pria itu divonis dokter menginap penyakit kronis yang mengharuskannya cuci darah setiap bulan.


Kedua tangan mengepal di samping badan. Ingin rasanya ia menampar wajah Mia yang cacat itu menggunakan telapak tangannya sendiri, tapi ia mempunyai rencana lain untuk membalas perbuatan Mia yang dengan sengaja menghina sang papa.


Menyunggingkan sudut bibir ke atas, Queensha tersenyum mengejek pada wanita yang telah ia anggap seperti mama kandungnya sendiri. "Oh, jadi Mama pikir kalau Papaku itu pria penyakitan yang telah membawamu pada ambang penderitaan? Ehm, sepertinya Mama lupa pada apa yang telah mendiang Papaku perbuat selama ini."


Queensha memajukan wajahnya ke depan hingga berjarak satu jengkal dari Mia. Dari jarak sedekat ini, ia dapat melihat betapa mengerikannya wajah Mia yang cacat akibat perbuatan anak buah Yogi.


"Apa Mama lupa atas semua yang Papa lakukan guna membahagiakanmu, Ma? Perlukah aku sebutkan satu per satu hal apa yang telah Papa perbuat demi membuat Mama tersenyum lebar?" ujar Queensha, kedua alisnya bergerak turun dan naik. Masih membekas di ingatan betapa bucinnya Gunawan sampai pria itu rela mengubur cita-cita anak semata wayangnya dengan istri pertama.

__ADS_1


Karena ulah Mia, Queensha hanya mampu menimba ilmu di jenjang sekolah menengah atas padahal dari ia dikaruniai otak yang cerdas dan kemudahan dalam menangkap materi yang disampaikan guru. Namun, karena ketidaksukaan Mia terhadap Queensha, akhirnya ia mengalah dan memberikan kesempatan itu kepada Lita, adik tirinya.


"Kamu ... berani menentangku?" Mia memundurkan badannya ke belakang. Menatap mata Queensha membuat nyalinya menciut. Entah mengapa ia merasa terintimidasi tatkala kedua netra ditatap lekat oleh si pemilik mata sipit.


Queensha melipat kedua tangan di depan dada. Ada perasaan bahagia melihat raut wajah ketakutan terpancar di sorot mata Mia.


"Kenapa tidak berani? Memangnya apa yang bisa orang cacat sepertimu lakukan kepadaku? Menampar wajahku? Menjambak mahkotaku yang selalu dielus suamiku tercinta? Atau ... mengurungku di bangunan terbengkalai, tak memberiku makan dan minum seharian? Kurasa, Mama pasti berpikir dua kali untuk melakukan itu kepadaku. Apalagi saat ini ada dua orang yang sedang mengawasi kita."


Queensha melirik ke arah penjaga rutan dan Yogi yang berada di belakangnya. "Aku yakin Mama tidak mungkin berani melakukan itu terhadapku, bukan? Mama pasti takut hukuman yang kelak diberikan semakin bertambah, belum lagi balasan dari suamiku tercinta saat dia tahu tubuhku yang mulus dan putih ini lecet akibat perbuatan seseorang."


"Bisa Mama bayangkan bagaimana marahnya Koko Ghaniku tersayang saat mengetahui jika Mama berani menyerangku di depan Yogi. Bukan hanya rambut Mama saja yang dijambak, wajah dibuat cacat, bisa jadi tangan dan kakimu dibuat tak berfungsi seperti suamimu yang jahat itu!" desis Queensha dengan tatapan mata tajam.


Mia terdiam, sementara Yogi tersenyum bangga akan perkataan yang baru saja ia dengar. Queensha jauh lebih berani dari apa yang ia bayangkan. Andai saja Ghani ada di sini, pria itu pasti menghujani Queensha dengan ciuman penuh kasih sayang karena wanita itu tidak hanya berani menghadapi Mia, tetapi juga memuji bosnya itu dengan sedemikian rupa.


'Kenapa aku bisa terlihat lemah di hadapan Queensha? Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Lalu dia mendapat keberanian dari mana sampai berani menentangku?' Mia bermonolog, bertanya pada dirinya sendiri.


Terakhir kali bertemu, Queensha masih seperti orang bodoh mau menuruti semua yang ia katakan. Namun, mengapa sekarang anak tirinya itu lebih berani dari sebelumnya? Mungkinkah karena kondisinya yang terlihat lemah begini membuat Queensha berani kepadanya?


"Aku tahu Mama pasti sangat membenciku sekarang karena telah menjebloskanmu ke penjara. Bisa jadi kebencian dalam dirimu semakin hari semakin bertambah mengingat betapa tulusnya Mas Ghani menyayangi dan mencintaiku sampai dia rela melakukan penyergapan terhadapmu dan suamimu yang jahat itu. Namun, tidakkah Mama sadar kalau semua yang terjadi kepadamu adalah buah dari apa yang telah kalian tanam selama ini."


"Apa Mama tidak sadar bagaimana teganya kalian memisahkan aku dengan putriku sendiri? Mama tega merekayasa cerita, meminta dokter kandungan untuk mengatakan jika bayi yang kulahirkan meninggal dunia. Mama tega menjual bayiku kepada pasangan suami istri yang sudah lama tak mempunyai keturunan."


"Di mana hati nuranimu sebagai sesama wanita, Ma? Bukankah Mama juga seorang ibu? Namun, mengapa tega melakukan perbuatan jahat itu kepadaku? Kenapa, Ma?" tanya Queensha. Bibir wanita itu gemetar, matanya mulai berkaca-kaca dan hidungnya pun terasa masam.


"Memangnya aku melakukan kesalahan apa sampai Mama nekad memisahkanku dengan Rora? Selama ini aku selalu menuruti perintahmu, bahkan aku rela mengubur cita-citaku demi keharmonisan rumah tangga Mama dengan Papa. Tapi semua yang kulakukan selalu salah di matamu."

__ADS_1


Queensha tak dapat lagi membendung air matanya. Buliran kristal itu meluncur di antara kedua pipi. Tubuh wanita itu gemetar hebat, dada terasa sesak seolah-olah ada batu besar menghimpitnya. Di depan Mia, ia keluarkan semua uneg-uneg yang dipendam selama ini.


"Saat Papa pertama kali mengatakan ingin menikah lagi, hatiku berbunga-bunga karena berpikir akan mendapat kasih sayang dari seorang ibu usai ditinggal pergi mendiang Mamaku selamanya. Banyak angan dan impian yang ingin kuwujudkan setelah Papa menikahimu. Namun, setelah ikrar suci pernikahan dan Papa membawa kalian ke rumah, bukan kebahagiaan yang kudapat melainkan penderitaan yang datang silih berganti."


"Dulu aku dimanja dan diperlakukan layaknya seorang putri raja, tapi setelah kalian datang aku menjadi babu di rumah orang tuaku sendiri. Benar-benar menyedihkan. Di saat orang lain melanjutkan kuliah, aku justru bekerja membanting tulang karena orang tuaku sendiri tak lagi mampu mencukupi kebutuhanku. Sampai akhirnya aku memutuskan bekerja di Jepang menjadi seorang pelayan guna membantu biaya pengobatan Papa."


"Saat musibah besar datang menghampiri, lagi dan lagi Mama menghasut Papa untuk mengusirku dari rumah sebab merasa kehadiranku hanya menjadi aib bagi keluarga. Lalu setelah aku melahirkan seorang bayi perempuan yang dianggap aib keluarga, Mama pula memisahkan kami hingga aku berpikir dia telah meninggal dunia. Kenapa Mama sekejam itu kepadaku?"


Luruh sudah air mata Queensha detik itu juga. Segala kesakitan, kepedihan dan kesedihan yang ia alami ditumpahkan di hadapan Mia. Tak mengapa jika Mia menganggap dirinya lemah asalkan ia dapat menguatarakan semuanya, itu sudah lebih dari cukup.


"Selama ini aku diam karena masih menganggapmu sebagai ibu tiriku, sosok wanita yang bersedia membesarkanku hingga dewasa. Akan tetapi, setelah kutahu kejadian yang sebenarnya, tentu saja aku tidak bisa tinggal diam. Oleh karena itu, aku meminta Mas Ghani memberi pelajaran kepadamu untuk memberi efek jera. Tapi ternyata tinggal di penjara tak serta membuatmu sadar akan semua kesalahan di masa lalu."


"Dan kini aku sadar jika Mama selamanya tak akan pernah berubah. Apa pun yang kulakukan, tidak mungkin membuatmu sadar karena Iblis telah bersemayam dalam dirimu. Jadi rasanya percuma saja memberi pelajaran kepada Mama karena selamanya kamu tetap menjadi orang jahat."


Queensha menatap nanar Mia. Ia berkata di sela isak tangisnya yang menyayat kalbu. "Jika memang aku, Mas Ghani maupun Yogi tak mampu menyadarkanmu maka biarlah tangan Tuhan yang bekerja. Aku cukup menyaksikan bagaimana semesta bekerja."


Menghela napas panjang lalu mengusut sisa air mata di sudut mata. Melirik sekilas jam dinding di ruangan itu. Waktu menunjukan pukul tiga sore lebih lima belas menit, itu artinya ia sudah hampir tiga puluh menita berada di ruangan yang sama dengan Mia. Penerbangan ke Jakarta pukul lima sore dan ia harus kembali ke rumah sakit sebelum semua orang menunggunya terlalu lama.


"Hari ini aku kembali ke Jakarta, memulai hidupku yang baru tanpa ada bayanganmu di belakangnya. Karena aku ingin hidup tenang dan damai, kuputuskan untuk melepas semua ikatan yang ada di antara kita berdua. Bukan karena aku tak sudi mempunyai ibu tiri jahat sepertimu, tapi aku berpikir alangkah baiknya memutus hubungan yang pernah terjalin di antara Mama denganku."


"Toh lagi pula selama ini Mama tak pernah menganggapku sebagai anak jadi kurasa ini jalan terbaik bagi kita semua." Queensha bangkit berdiri, kemudian merapikan sebentar penampilannya. "Kuharap pintu taubat masih terbuka lebar agar Mama, Om Sarman dan Lita dapat memperbaiki diri, menjadi manusia yang lebih baik lagi."


"Aku pergi dulu, Ma. Selamat tinggal." Queensha membalikan badan. Menggigit bibirnya dengan kuat, menahan diri untuk tidak menangis lagi. Setelah itu barulah melangkah perlahan meninggalkan Mia yang masih membeku di tempat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2