
“Arrrgh, sialan!"
Andai bisa merubuhkan gedung, mungkin itulah yang akan dilakukan Cassandra. Sayangnya, Cassandra tidak punya kekuatan super jadi dia hanya bisa mengamuk di kamarnya.
“Dasar enggak becus! Dasar bego semua!”
Cassandra membanting semua barang miliknya ke lantai dan melempar bantal serta guling ke sembarang arah. Dia tak peduli semua barangnya berantakan, yang ada di pikirannya saat ini hanya satu yaitu dapat melampiaskan kemarahannya yang tak berkesudahan.
“Argh!"
Karena masih merasa kesal, Cassandra berteriak sambil memukul dinding menggunakan guling yang tadi dia lempar ke lantai. Dia melakukannya sambil membayangkan wajah Queensha yang dia benci setengah mati.
“Dasar wanita sok kecentilan. Seharusnya elo enggak menikah dengan Ghani. Dasar sialan!”
Napas Cassandra tersengal hebat, dada kembang kempis dengan rahang mengeras sempurna. Amarah masih bercokol di dadanya.
Ya, bagaimana dia tidak sebal kalau rencananya hancur berantakan, padahal dia sudah membayangkan Queensha gagal menikah dengan Ghani setelah rencana penculikan yang dilakukannya sukses besar.
Tapi, apa yang terjadi? Bukannya berhasil menculik Queensha, anak buah Cassandra malah dijadikan bulan-bulanan oleh anak buah Ghani. Yang lebih parah, sekarang mereka sudah dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan penculikan.
“Seharusnya gue menyewa orang yang lebih kompeten, jadi mereka enggak akan tertangkap anak buah Ghani. Ah, sial. Sebal!” Cassandra menggerutu keras. Saking sebalnya, dia ambil sepatu berhak tinggi miliknya, lalu dia lempar ke arah cermin besar yang ada di sudut kamar.
Terdengar suara cermin pecah dan berhamburan ke lantai. Mendengar suara cermin pecah, sang mama yang kebetulan sedang berada di balkon lantai dua bergegas datang dan mengetuk pintu kamar Cassandra. Suara pecahan terdengar kencang sehingga membuat wanita paruh baya khawatir terjadi hal buruk menimpa anak tercinta.
“Cassandra, kamu sedang apa? Kenapa ada suara cermin pecah?” Mama menggedor kamar Cassandra dengan raut wajah cemas. Dia takut putrinya melakukan hal konyol karena patah hati.
“Mama pergi sana! Aku enggak mau diganggu!” seru Cassandra dengan meninggikan nada suaranya. Meski kamarnya seperti kapal pecah, itu tidak membuat Cassadra kapok. Dia malah melempar semua make up-nya keluar jendela.
Kalau ada yang melihat kelakuan Cassandra, pasti semua orang akan berpikir kalau wanita yang bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta agak sinting. Apalagi wanita itu bukan anak kecil lagi. Dia sudah dewasa. Sayangnya, kelakuan wanita itu seperti anak tantrum yang keinginannya tak dituruti orang tuanya.
Setelah puas melempar peralatan make up-nya, Cassandra merasa sedikit puas. Tentu tak masalah baginya membuang barang remeh-temeh semacam itu. Dia bisa membelinya lagi. Harganya toh tak akan menguras kantong pribadinya.
“Cassandra! Buka pintunya, Nak. Kita harus bicara!" Mama rupanya masih bersikeras tidak pergi dan terus-menerus menggedor pintu kamar Cassandra.
Cassandra berdecak. Dia tahu betul bagaimana sifat mamanya. Kalau tidak dituruti untuk masuk ke kamar, bisa-bisa sang mama akan bermalam di depan pintu kamarnya sampai besok pagi.
__ADS_1
Karena tak mau diganggu, Cassandra memutuskan untuk mengalah. "Menyebalkan!" gerutunya seraya berjalan mendekati daun pintu.
“Astaga, Cassandra! Kenapa kamarmu seperti kapal pecah begini?” Mata Mama melotot melihat keadaan kamar Cassandra yang jauh dari kata rapi. Mungkin kata yang lebih tepat menggambarkan keadaan kamar Cassandra adalah hancur lebur. Ya, mungkin itu sebutan yang cocok untuk kamar anak semata wayangnya.
“Gampang, Ma. Nanti tinggal minta beresin si Bibik aja. Oh ya, karena aku enggak punya peralatan make up lagi, besok aku mau pergi ke mall sekalian cuci mata. Jadi Mama enggak usah tanya aku pergi ke mana karena sudah tahu jawabannya," ucap Cassandra enteng dengan nada yang ceplas-ceplos.
“Memang peralatan make up-mu ke mana?” tanya Erika penasaran.
“Aku buang keluar jendela.”
“Apa?” seru Erika dengan intonasi naik. “Sebenarnya kamu kenapa sih? Kok sampai kayak orang kesurupan begini?” Erika menyapu ruangan yang terlihat sangat berantakan. Pecahan cermin berserakan di mana-mana, aroma parfum menguar ke udara serta beberapa barang lainnya terlempar ke segala sudut ruangan.
“Mama enggak perlu tahu urusan orang deh. Daripada ribet, lebih baik Mama panggilin si Bibik dan suruh bersihin kamar aku. Habis ini aku mau tidur soalnya. Capek ingin istirahat."
“Tapi, mama butuh penjelasan. Sebenarnya ada apa? Ada orang yang bikin kamu marah?” Erika tahu betul bagaimana kepribadian Cassandra. Putrinya itu tidak mungkin marah-marah tak jelas jika tidak ada penyebabnya.
“Mama enggak usah ikut campur!” sembur Cassandra dengan mata melotot. “Turuti saja permintaanku. Enggak usah kebanyakan cing-cong! Aku tidak menyukainya!” Cassandra sengaja menyenggol tubuh Erika saat keluar dari kamarnya.
Erika mengaduh kecil. Ditatapnya sosok Cassandra yang sudah tidak kelihatan lagi. Ia menghela napas. Entah apa yang membuat Cassandra begitu marah besar, tapi ia yakin jika masalah yang dihadapi putrinya merupakan masalah besar.
Karena tak ingin Cassandra kecewa, Erika pun melakukan apa yang disuruh putrinya itu. Dia perintahkan ART-nya untuk membersihkan kamar Cassandra agar rapi seperti sedia kala.
***
Keesokan hari, Cassandra sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja sebagai dokter. Tak seperti kemarin, mood Cassandra sudah mulai membaik. Raut wajah wanita itu terlihat sumringah seolah-olah merasa tak pernah terjadi apa pun padanya, padahal kemarin dia marah besar sampai melempar semua barang hingga berserakan di mana-mana.
Saat ini, Cassandra sedang sarapan bersama orang tuanya. Cassandra sarapan dengan menu sehat yang biasa dia makan, yaitu overnight oatmeal yang dimakan bersama buah-buahan.
Diam-diam, Cassandra melirik Erika. Ada perasaan bersalah bersemayam dalam dirinya saat teringat dia sudah bersikap keterlaluan pada sang mama kemarin malam. Namun, ia enggan mengakuinya. Keegoisan telah menutup mata hatinya.
'Ah, bodo amat, deh. Mama juga salah karena gue paling enggak suka ada seseorang ikut campur urusan orang,' batin Cassandra seraya menyuapkan makanan ke dalam mulut.
Daripada mengkhawatirkan Erika, Cassandra seharusnya lebih memikirkan nasibnya sendiri sebab anak buahnya sudah ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara. Cassandra khawatir jika anak buahnya akan membocorkan kalau dia-lah dalang di balik penculikan Queensha.
'Tetap berpikiran positif. Gue yakin mereka enggak akan buka mulut di hadapan polisi,' kata Cassandra mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Sebenarnya dia takut kalau polisi datang dan menjebloskannya ke penjara menyusul kelima orang suruhannya.
__ADS_1
“Cassandra, bagaimana pekerjaanmu? Tidak ada masalah, 'kan di rumah sakit?” tanya sang papa memecah keheningan. Sedari tadi terjadi keheningan di antara mereka membuat dia merasa bosan.
“Pekerjaan di rumah sakit oke-oke saja, Pa. Enggak ada masalah, kok.”
“Baguslah kalau begitu,” sahut Roni pendek.
“Ehm, omong-omong ...," ucap Mama tiba-tiba membuat Cassandra seketika mengarahkan tatapan pada ibunya.
Melihat sorot mata Cassandra yang menusuk, Erika jadi urung membicarakan apa yang terjadi kemarin. Suaminya memang tidak ada di rumah saat Cassandra mendadak mengamuk sampai membuat kamarnya hancur lebur.
Erika bukannya ingin mengadu pada Roni atas sikap kekanakan Cassandra. Dia hanya khawatir pada putrinya itu, siapa tahu Cassandra memiliki persoalan yang sangat berat dan membutuhkan bantuan seseorang. Itulah yang ingin didiskusikan mumpung mereka sedang sarapan bersama.
“Oh iya, bukannya Mama mau arisan ya?” ucap Cassandra, sengaja sekali mengalihkan topik pembicaraan.
“Hah? Arisan?” Erika langsung cengo karena mendadak Cassandra membicarakan arisan.
“Iya, arisan itu lho. Yang di rumahnya Tante Wardah. Biasanya Mama ajak aku, tapi aku seringnya enggak bisa ikut. Mumpung lagi senggang, aku mau kok menemani Mama,” ucap Cassandra dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
Mama tahu bukan itu yang sebenarnya Cassandra ingin ucapkan. Ada kesan tersirat dari kata-katanya, yaitu agar dia jangan sampai menyinggung apa yang terjadi kemarin malam. Bisa berabe kalau sampai sang papa tahu jika dia mengamuk seperti orang kesurupan.
Memaksakan diri tersenyum di depan semua orang. "Ah, iya. Mama lupa tentang soal itu. Boleh, nanti siang sehabis kamu shift temani mama pergi arisan, tapi ketemuannya di tempat tujuan saja sebab jarak antara rumah Tante Wardah dengan tempat kerjamu cukup dekat. Biar kamu enggak bolak-balik, nanti mapah kecapekan."
Cassandra memgangguk patuh. "Oke, nanti aku kabarin kalau sudah selesai bekerja."
Terdengar bunyi bel pintu rumah berbunyi. Sontak semua orang saling memandang satu sama lain. Tidak biasanya ada tamu berkunjung ke rumah di saat mereka tengah sarapan.
"Bik, tolong buka pintunya. Coba kamu cek siapa yang bertamu pagi-pagi begini," titah Erika pada asisten rumah tangganya.
"Baik, Bu."
Bik Fatimah, asisten rumah tangga Erika segera ke depan untuk membukakan pintu. Bola mata membulat sempurna saat melihat dua orang pria berseragam kepolisan ada di depan rumah majikannya.
“Apa Saudari Cassandra ada di rumah?” tanya salah satu pria berseragam polisi dengan suara tegas, tanpa senyuman sama sekali menghiasai wajahnya.
...***...
__ADS_1