
Tangan Leon melambai ke udara, dengan cepat dia berkata, "Aih, enggak perlu repot-repot, aku bisa mencarinya sendiri. Kalian berdua pikir aku enggak laku sampai mesti dicarikan calon segala, iya? Asal kalian tau, pesonaku mampu meluluhlantakan pesona para kaum hawa yang ada di muka bumi ini. Jadi, enggak perlu deh kalian bantuin gue cariin calon istri."
"Iya, saking terpesonanya sampai semua wanita enggan berdekatan dengan lo. Eh, lama kelamaan lo jadi bujang lapuk," ejek Ghani seraya meraih beberapa berkas laporan yang diberikan Leon kepadanya. Dia meletakkan tumpukan berkas itu ke ruang kosong di sebelah sofa agar tidak terkena tumpahan makanan sisa masakan yang dibuat sang istri.
Sahutan bernada ejekan berhasil membuat Leon kesal. Lantas dia melempar bantal kecil yang ada di dekatnya kepada Ghani sambil berseru, "Bisa enggak, jangan asal bunyi? Di ruangan ini bukan cuma ada kita berdua, tapi juga ada Queensha. Lo udah tau keburukan gue, jangan sampai istri lo pun mengetahuinya. Sepertinya lo happy banget kalau gue menjomlo seumur hidup!" dengkusnya dengan berapi-api. Susah payah membangun image lelaki rupawan yang digandrungi banyak wanita, tapi Ghani justru mengungkap fakta yang sesungguhnya di hadapan Queensha. Benar-benar menyebalkan!
Ghani mencibir seraya meraih pangsit rebus buatan sang istri menggunakan sumpit. Lalu ia menyuapkan salah satu makanan kesukaannya ke dalam mulut. "Itu sih derita lo. Makanya kalau enggak mau gue ejek, mulai dari sekarang cari calon istri, Yon. Gue enggak mau lo hidup melajang terus seumur hidup. Kepala gue udah pusing mikirin Zavier yang belum juga sold out, sekarang mesti mikirin lo yang juga bernasib sama. Entah keburukan apa yang kalian perbuat di masa lalu sampai Tuhan belum juga mempertemukan kalian dengan tulang rusuk masing-masing."
Semakin merengutlah wajah Leon dibuatnya. "Berisik banget, sih, lo. Udah, lo enggak usah pusing mikirin gue karena gue yakin sebentar lagi Tuhan mempertemukan gue dengan seorang wanita cantik, lemah lembut, dan bisa menerima gue apa adanya. Dan terpenting bisa memahami kesibukan gue sebagai dokter sekaligus kepala bangsal."
"Tau sendiri bagaimana sibuknya kita menolong pasien, ada aja panggilan darurat saat sedang enak-enaknya beristirahat di rumah. Setiap saat dan setiap waktu mesti standby 24 jam menunggu panggilan dari rumah sakit. Gue enggak mau kita bertengkar karena merasa perhatian gue lebih condong ke pekerjaan."
"Lo bener. Hanya perempuan istimewa aja yang bersedia menjadi istri dari seorang dokter bedah macam kita, Yon," sahut Ghani sambil menatap penuh damba pada sosok istrinya. Satu di antara perempuan istimewa itu telah berhasil dia miliki dan dia berjanji akan menjaga anugerah terindah itu dengan sebaik-baiknya.
__ADS_1
Wajah Queensha memerah mendengar pujian yang dilayangkan suaminya. Wajah tertunduk, menyembunyikan rona merah muda di wajah. Tak dapat dipungkiri jika dia menyukai sikap Ghani yang semakin hari semakin romantis.
'Apes banget hidup gue, mesti lihat yang manis-manis dari tadi. Kalau begini terus, bisa diabetes gue,' raung Leon dalam hati. Kendati demikian, dia turut bahagia saat melihat sahabatnya hidup bahagia bersama pasangannya.
***
Setelah mengantarkan makanan sekaligus menemani suaminya makan, Queensha meminta izin untuk menjemput Aurora yang tengah bermain bersama Arumi dan Rayyan di rumah utama keluarga Wijaya Kusuma. Hubungan Queensha dengan Ghani semakin membaik setelah terjadi perang dingin, saling mendiamkan satu sama lain selama kurang lebih dua hari lamanya. Keromantisan pun terlihat kembali saat sepasang pengantin baru itu berpelukan erat seolah enggan mengurai pelukan mereka.
Queensha mengusap punggung suaminya dengan lembut. "Iya, Mas. Kamu tenang saja, aku pasti istirahat kalau tubuhku sudah merasa capek. Kamu juga semangat kerjanya, ya. Jangan sampai lupa minum air putih agar konsentrasimu tetap fokus."
Keduanya berpelukan dengan sangat erat seolah takut kehilangan satu sama lain. Beruntungnya saat ini mereka berada di pintu sebelah Barat, tak banyak orang lalu lalang sehingga dapat berpelukan dengan bebas tanpa perlu takut dipergoki orang lain.
Pelukan mereka harus terurai saat deru mesin kendaraan semakin mendekat. Ghani mengelus kedua pipi istrinya dengan penuh cinta. Perang dingin selama dua hari membuat dia sangat merindukan sang istri. Apalagi penampilan Queensha saat ini terlihat begitu cantik dan menggoda sampai adik kecilnya terbangu dari tidurnya yang panjang.
__ADS_1
'Sabar, nanti kita minta jatah kalau sudah ada di apartemen. Kalau di sini takut ketahuan yang lain. Nanti kena tegur Ayah dan Bunda, bisa berabe,' ujar Ghani seraya memandangi pangkal pahanya yang mulai bereaksi.
"Aku pulang dulu, ya, Mas. Assalamu a'alaikum." Queensha mencium punggung tangan Ghani dengan khidmat.
Mengusap pucuk kepala istrinya. "Wa'alaikum salam. Kalau sudah sampai rumah Bunda, jangan lupa kabarin aku."
Ghani membukakan pintu untuk Queensha, memastikan istrinya duduk dengan tenang. Setelah itu dia berkata pada pria berambut keperakan yang duduk di balik kursi kemudi. "Pak Sopir, jangan ngebut saat berkendara. Selalu perhatikan keselamatan kalian berdua."
"Baik, Pak," sahut sopir taxi singkat.
Queensha menurunkan jendela mobil. Mengeluarkan kepala, menoleh ke arah suaminya. Dia melambaikan tangan sebelum kendaraan roda empat itu menghilang dari pandangan.
...***...
__ADS_1