
Turun dari mobil, Leon segera berlari masuk ke dalam rumah. Dia bahkan tak menghiraukan posisi mobilnya yang menghalangi jalanan masuk ke pintu utama kediaman orang tuanya. Saat ini ada hal yang lebih penting daripada memarkirkan kendaraan roda empat miliknya ke garasi mobil.
"Mama!" Leon berteriak dengan nada suara tinggi, membuat asisten rumah tangga yang membantu bu Ayu mengurusi rumah berjengkit kaget. Wanita itu nyaris saja terjatuh dari tangga almunium jika tidak segera berpegangan pada tepian tangga.
Jantung wanita paruh baya itu berdebar kencang hingga rasanya mau copot. "Terima kasih Tuhan karena masih memberiku kesempatan untuk hidup, jika tidak mungkin saat ini aku sudah dilarikan ke rumah sakit akibat membentur lantai dengan kencang."
Baru selesai mengucap, Leon sudah tiba di ruang keluarga. Di sana dia mendapati asisten rumah tangga sang mama sedang berpegangan pada pinggiran tangga almunium. Di pundaknya terdapat sehelai kain serta kemoceng di kempit di bagian ketiak. Tampaknya wanita itu sedang membersihkan figura foto dari debu yang menepel di bingkai tersebut.
"Bik, apa Mama sudah pulang?" tanya Leon to the point. Tak mau membuang waktu karena ingin segera menyelesaikan urusannya dengan bu Ayu.
Masih dengan sisa-sisa keterkejutan, wanita paruh baya yang telah lama mengabdikan diri di kediaman orang tua Leon menjawab, "Bu Ayu ada di kamar. Sekitar tiga puluh menit lalu baru saja tiba di rumah."
Menatap penuh tanda tanya kepada Leon. "Den Leon bukannya tadi pamit mau pergi kerja lalu kenapa pulang lagi. Apa ada barang tertinggal?"
"Aku ada perlu sama Mama, Bik. Sudah, aku mau ke atas dulu. Bibik lanjut aja kerjanya."
Leon berlari ke arah tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Menaiki dua anak tangga sekaligus agar cepat sampai di lantai atas.
Saat sudah sampai di depan pintu kamar bu Ayu, Leon mengetuk daun pintu, tetapi tak ada sahutan dari dalam kamar. "Mama, buka pintunya! Aku mau ngomong, penting!" tandas pria itu. Akan tetapi, tetap tak ada respon sama sekali.
Leon yang sudah terlanjur kesal sekaligus penasaran akan hal apa yang dibicarakan antara mamanya dengan Lulu, memutar handle pintu sampai terbuka lebar. Pria itu mencari keberadaan sang mama di walk in closet ataupun kamar mandi, tak menemukan sosok mamanya tersebut.
"Mama pasti di balkon. Gue mesti ke sana sekarang!" Lalu Leon keluar kamar. Menutup pintu kamar mamanya dengan rapat kemudian berjalan ke arah teras balkon di lantai dua.
Benar saja, bu Ayu sedang duduk santai sambil menikmati pemandangan danau buatan di belakang rumahnya. Danau itu sengaja dibuat pihak developer sebagai fasilitas untuk para penghuni komplek.
"Mama?"
__ADS_1
Panggilan itu mengalihkan atensi bu Ayu dari sekelompok orang yang sedang berlatih yoga. Refleks menoleh ke belakang dan melihat puteranya berdiri tegap dengan sorot mata menakutkan.
"Ada apa? Kenapa memandangi mama begitu tajam. Apa mama melakukan kesalahan hingga membuatmu marah?" tanya Bu Ayu pura-pura tidak tahu makna dari tatapan mata itu.
Leon mendekat lalu berdiri di sebelah mamanya. "Apa tadi Mama pergi menemui Lulu? Dari mana Mama tau tempat kerja dia? Apa Mama minta seseorang mencari informasi tentang gadis itu?" cecarnya tanpa jeda. Dia benar-benar takut Bu Ayu melakukan perbuatan konyol yang justru melukai Lulu.
Bu Ayu menghela napas kasar. Menduga jika Leon tak menanyakan secara rinci akan tujuan kedatangannya ke restoran kepada Lulu. Jika bertanya jelas, tidak mungkin Leon berubah jadi paparazi dadakan yang tengah mencari informasi dari sumber terpercaya.
Ibu dua orang anak membalikan badan, berjalan tanpa menoleh ke arah sang putera lalu duduk di kursi santai terbuat dari rotan yang sengaja ditaruh untuk bersantai sambil menikmati pemandangan indah dari danau buatan.
"Benar, mama pergi menemui Lulu. Mama memang sengaja menemui dia setelah mendapat semua infromasi tentang gadis itu. Maksud mama datang ke tempat kerjanya karena ingin memastikan apakah antara kamu dengan dia ada hubungan spesial. Karena mama dapat kiriman foto yang memperlihatkan kamu sedang makan bersama seorang gadis di sebuah restoran. Waktu kejadian tepat di saat kamu pamit pergi keluar rumah saat mau malam mingguan. Karena penasaran, mama minta seseorang untuk menyelidiki gadis yang tengah dekat dengan kamu," tutur Bu Ayu berkata jujur.
Leon mengambil tempat duduk di sebelah mamanya, bersiap membuka suara dan mengajukan banyak pertanyaan kepada bu Ayu.
"Kenapa Mama selalu saja mengurusi urusan pribadiku. Kenapa Mama tidak urusi saja Papa. Pikirkan menu makanan untuk menyambut kepulangannya daripada sibuk ngepoin hubungan anaknya sendiri. Ma, aku tidak mau kalau sampai Lulu sakit hati oleh ucapan Mama."
"Sakit hati kenapa? Mama tidak bicara apa-apa, kok. Mama cuma pingin tau bagaimana perasaannya sama kamu, itu saja."
"Lalu, jawaban Lulu, gimana?" tanya Leon penasaran. Informasi ini cukup menarik perhatiannya.
"Dia memang tidak punya perasaan apa pun kepadamu. Namun, dari perkataan yang disampaikan dan bagaimana cara dia memuji kamu, feeling mama mengatakan sepertinya dia punya rasa sama kamu walau cuma segini." Bu Ayu menunjuk ujung jari kelingkingnya ke hadapan Leon. "Tapi mama yakin, perasaan itu semakin lama akan semakin bertambah kadarnya. Asalkan kamu terus memupuknya terus menerus."
Leon mencibir. "Mirip tumbuhan saja mesti dipupuk segala."
Tanpa diduga bu Ayu melayangkan pukulan ke lengan sang putera. "Dikasih tau orang tua ngeyel. Mama ini sedang memberi wejangan kepadamu, Yon, dengarkan baik-baik."
Lantas bu Ayu memasang wajah serius, membuat Leon tak jadi mengaduh meski pukulan itu terasa menyakitkan.
__ADS_1
"Dalam sebuah hubungan, memupuk rasa cinta itu hukumnya wajib sebab jika tidak maka perasaan itu akan pudar dengan sendirinya. Memangnya kamu pikir, rumah tangga mama dan papa bisa langgeng sampai sekarang karena apa, coba? Itu semua karena kami memupuk rasa cinta di hati masing-masing agar tetap bersemi walau pernikahan kami sudah berjalan hampir 37 tahun."
"Kalau kamu bertanya dengan cara apa kami memupuknya maka jawabannya adalah dengan cara pergi berduaan ke suatu tempat atau memberi kejutan kecil untuk pasangan sebagai wujud kasih sayang kita kepada masing-masing. Nah, mama mau kamu gunakan tips yang kami gunakan untuk menumbuhkan rasa di hati Lulu agar dia semakin suka sama kamu. Mama jamin, cepat atau lambat dia bakal klepek-klepek sama kamu."
"Mama ... tidak keberatan kalau aku dekat dengan dia?" Leon bertanya dengan sedikit ragu. Tatapan matanya seolah menunjukan ketidakpercayaan kalau sang mama justru memberi tips dan trik menambah kadar cinta pada seseorang.
Kali ini bu Ayu kebingungan sendiri mendengar perkataan anak lelakinya itu. "Keberatan kenapa? Perasaan mama, tidak ada keburukan dalam diri gadis itu hingga membuat mama harus menolak kedekatan kalian berdua."
Bu Ayu menjeda sebentar ucapannya. Lalu memandang lekat pada iris coklat mata Leon. "Mama sedikit banyak tau tentang gadis itu, termasuk tentang dia yang punya masa lalu. Meskipun mama tak tau apa masa lalunya, tapi mama bisa menerima itu semua sebab di dunia ini tidak ada seseorang yang hidup tanpa punya masa lalu."
"Kalaupun memang masa lalu gadis itu cukup kelam, mama coba untuk menerimanya. Yang penting kamu bahagia berada di sisinya."
Bu Ayu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Mama memang keras mendidik kamu. Tak jarang memukul, menjewer, dan memperlakukanmu seperti anak kecil, tapi mama sayang banget sama kamu, Nak. Mama ingin kamu bahagia, hidup bersama seseorang yang kamu cintai dan mencintaimu dengan tulus."
Leon terpana. Baru kali ini melihat bu Ayu begitu tulus dengan ucapannya. Pria jangkung dan berhidung mancung merasa tersentuh akan perhatian yang diberikan sang mama.
Seakan mendapat dorongan seseorang, Leon bangkit berdiri lalu membungkukan sedikit badannya kemudian memeluk tubuh sang mama dari sebelah. "Terima kasih karena Mama begitu perhatian kepadaku. Aku pikir Mama akan memarahi Lulu karena dia dari keluarga kurang mampu."
Bu Ayu terkekeh. Tangannya menepuk-nepuk lengan yang melingkar di tubuh. "Anak nakal. Mana mungkin mama memarahi anak gadis orang. Mama punya anak perempuan dan kalau ada orang memarahi Kakakmu, Leony, maka mama akan marah besar. Pun begitu dengan ibunya Lulu. Beliau pasti memarahi mama balik karena tidak terima putri kesayangannya dimarahi tanpa alasan yang pasti."
"Yon, mama menyukai Lulu dan mama harap dia menjadi menantu di keluarga ini. Jika kamu menaruh hati kepadanya, tolong kejar dia dan jadikan dia pendamping hidupmu. Lulu itu gadis baik, sopan, dan juga mandiri sangat pantas untuk kamu perjuangkan. Jadi, teruslah mengejar dia. Tunjukan rasa cinta dan kasih sayangmu kepadanya. Mama doakan, semoga Tuhan menjodohkan kalian berdua."
Leon semakin mempererat pelukan. Tangan kekar itu melingkar di bagian atas badan sang mama. Dia berikan kecupan sayang di pipi ibunda tercinta.
"Leon sayang Mama," ucap Leon dengan suara manjanya mirip anak kecil berusia lima tahun. Dia sering menyebutkan namanya sendiri saat sedang berbicara dengan orang tuanya. Tidak menggunakan kata saya ataupun aku.
...***...
__ADS_1