
"Aku apa, heh! Jawab dengan benar, jangan membuat papa penasaran!" bentak Pak Hardi tak sabaran.
Suara lengkingan itu sontak membuat bu Tania dan Andri tersentak kaget bahkan jantung istrinya pak Hardi hampir copot karena bentakan tersebut.
"Pa, kamu apa-apaan sih. Jangan berteriak begitu, kasihan Andri. dia baru saja siuman, tapi Papa malah bentak-bentakin dia. Bagaimana kalau dia terkena serangan jantung dan lebih lama lagi tinggal di sini? Apa Papa tega melihat anak kita menderita untuk kedua kali?" tegur Bu Tania seraya mengusap dada bidang suaminya.
"Bagaimana tidak berteriak, Ma! Anak kesayanganmu ini membuatku kesal. Berbelit-belit, padahal tinggal bilang iya atau tidak, apa susahnya. Kalau begini, papa jadi semakin yakin jika Andri betulan pelakunya."
Bu Tania melepaskan tangan di dada bidang pak Hardi lalu menyentuh tangan Andri yang tidak terkena jarum infus. "Nak, katakan pada mama sekarang juga, apa benar kamulah orang yang telah mendorong seorang wanita hamil sampai dia harus dilarikan ke rumah sakit? Mama mau dengar kebenarannya dari mulut kamu, Ndri."
Mendesah berat kemudian menatap langit-langit ruang ICU. "Tuduhan itu memang benar, akulah orang yang sudah mendorong wanita hamil itu hingga jatuh. Aku lakukan itu karena dia sudah ikut campur dalam urusan pribadiku."
"Bodoh! Apa pun alasannya, tidak diperbolehkan mencelakai perempuan hamil. Bagaimana jika saat itu kandungannya tidak terselamatkan? Apa yang akan kamu katakan pada keluarganya, hah?" Wajah Pak Hardi memerah, kedua tangan mengepal erat. Bagaimana bisa Andri tega melakukan perbuatan itu pada kaum lemah. Dia dilahirkan dari rahim perempuan, tetapi tega menyakiti makhluk bernama perempuan.
Bu Tania menggeleng, tak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan puteranya itu.
"Ndri, kamu pasti bercanda, 'kan? Kamu anak baik, mungkin kamu tega melukai seseorang," kata Bu Tania dengan tatapan tidak percaya.
"Anak baik? Cih, dia anak sialan yang gemar membuat onar. Tidakkah kamu ingat berapa kali kita dipanggil ke sekolahan karena ulah anakmu ini. Dia berkelahi di sekolah hanya karena perempuan. Memalukan!" kata Pak Hardi memberi tatapan membunuh pada sang putera.
"Itu cuma salah paham saja, Pa. Putera kita tidak bersalah dan dalam kasus ini, Andri pun tidak bersalah. Perempuan itu saja yang berbuat masalah duluan pada anakku ini. Benar begitu, Ndri?" tanya Bu Tania dengan penuh pengharapan. Rasa sayangnya terhadap Andri telah menutup mata hati wanita itu hingga dia tak lagi dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di depan sana.
Bak mendapat guyuran air hujan di musim kemarau panjang, Andri tersenyum tipis karena mamanya masih membelanya walau dia bersalah. Dia amat sangat beruntung mempunyai mama yang mudah dikibulin.
"Benar, Ma. Aku enggak mungkin berbuat kasar terhadap perempuan jika enggak disenggol duluan. Aku melakukan itu sebagai bentuk kekesalanku saja, kok. Sungguh."
__ADS_1
"Bullshiit! Papa tidak percaya begitu saja pada ucapanmu, Ndri. Bisa saja kamu membohongi kami, memutar balikkan fakta agar tidak dimarahi papa dan Mama. Tapi kita akan segera mengetahui dari rekaman CCTV yang didapat pihak kepolisian. Dengan begitu kita akan tahu, apakah ucapanmu barusan ada benar."
'Sial! Kenapa gue bisa lupa kalau sekitaran situ dipasang CCTV. Argh, gimana kalau Papa tau yang sebenarnya. Bisa mampus gue dipukulin Papa.' Andri merutuki kebodohannya karena bertindak gegabah, telah mendorong Queensha dengan kencang.
"Sementara waktu ini kamu bebas melakukan apa pun sesuai kemauanmu, tapi jangan harap bisa kabur dari tanggung jawab. Sekalipun Mamamu membantu, pada akhirnya kamu akan mendekap juga di penjara." Ada nada ancaman dari perkataan Pak Hardi. Dia tak akan membiarkan Andri bebas begitu saja setelah nyaris merenggut nyawa keempat orang dalam waktu bersamaan.
Bulu kudu merinding, membayangkan dirinya membusuk di penjaran dalam waktu yang sangat lama. Selentingan berita tentang kehidupan di penjaran kembali terngiang di telinga Andri. Penyiksaan yang dilakukan para senior tahanan semakin membuat wajah pria itu pias seketika.
"Kamu tenang saja, mama akan berusaha semaksimal mungkin untuk membebaskan kamu dari jeruji besi," kata Bu Tania, mencoba menenangkan sang putera. Beruntungnya saat itu Pak Hardi telah meninggalkan ruang perawatan hingga dia leluasa berbincang dengan anak kesayangan.
Di tengah rasa cemas melanda, Andri memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Walaupun hati kecil meragukan kemampuan sang mama, tetapi tak ada salahnya percaya pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
"Makasih, Ma. Mama emang ibu yang paling the best."
Sementara itu, di kediaman Wijaya Kusuma, tampak Ghani sedang duduk bersantai di teras halaman belakang rumah orang tuanya. Dia ditemani Rayyan, ayah tercinta tengah menyesap minuman hangat buatan asisten rumah tangga. Sesekali terlibat percakapan ringan, membahas soal rumah sakit dan rencana pernikahan Zavier yang akan digelar satu bulan dari sekarang.
"Jadi Hanna betulan mau nikah sama Zavier, Yah? Jangan sampai Hanna ragu dengan keputusannya sendiri."
"Kalau tidak yakin, untuk apa ayah dan Pak Anwar mempersiapkan pernikahan ini, buang-buang waktu saja."
"Ya, siapa tau Dokter Hanna menyesali keputusannya menikah dengan adikku yang playboy itu. Tack record-nya tentang perempuan tak bisa dikalahkan siapa pun, termasuk aku, Leon, dan juga Shaka. Dia paling banyak punya mantan pacar dibandingkan kami bertiga."
Rayyan menghunus tatapan tajam, tetapi Ghani bersikap cuek seakan-akan tak sadar jika saat ini dirinya tengah diperhatikan dengan begitu lekat oleh sang ayah.
"Itu cuma masa lalu. Lagi pula sekarang adikmu sudah tobat. Dia tak lagi berpacaran dengan siapa pun semenjak lulus SMA. Diputus cinta oleh seseorang yang dicintai, membuat dia tersadar akan kesalahannya di masa lalu. Oleh karena itu, dia berjanji untuk tidak berpacaran lagi meski banyak perempuan yang mengantri menjadi kekasihnya." Rayyan membela anak keduanya sesuai informasi yang didapat dari istri dan anak perempuannya bernama Zahira.
__ADS_1
Telepon genggam Ghani bergetar di tengah kegiatannya bersantai ria bersama ayah tersayang.
Karena penasaran, akhirnya Ghani meraih benda pipih tersebut kemudian menggeser tombol hijau hingga terdengar suara berat seseorang di seberang sana.
"Maaf mengganggu. Dokter Ghani, saya ingin memberitahu jika target telah siuman dan kini telah dipindah ke ruang perawatan. Dokter pun memberitahu jika kondisi vitalnya dalam keadaan cukup baik, hanya saja perlu melakukan pemeriksaan CT scan dan MRI untuk memastikan tingkat keparahan cidera di kepalanya," ujar Yogi.
"Hmm, bagus kalau dia sudah sadar. Kini saatnya dia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya pada istriku. Terus awasi gerak gerik si Berengsek itu selama ada di rumah sakit."
"Baik, Dokter."
Ghani meletakkan kembali telepon genggam itu ke atas meja bundar di depannya. Senyuman smirk tersungging di bibir pria itu.
"Ada kabar apa dari Yogi? Apa orang yang mencelakai menantuku sudah sadarkan diri?" tanya Rayyan saat tanpa sengaja melihat senyuman devil di wajah sang putera. Dari sorot mata, Rayyan bisa melihat tatapan penuh dendam anak pertamanya itu.
"Tebakan Ayah benar. Lelaki sialan itu memang sudah sadar. Dengan begini, proses hukum segera berjalan dan dia akan membusuk di penjara dalam waktu yang sangat lama," jawab Ghani.
Rayyan tersenyum puas mendengarnya. Ketika mendengar Queensha didorong oleh anak dari salah satu pemilik perusahaan yang mengikuti lelang tender pembangunan rumah sakit milik keluarga Wijaya Kusuma, dia segera mem-blacklist perusahaan pak Hardi karena tidak sudi memberi pekerjaan pada orang yang telah mencelakai menantu perempuannya, Queensha. Apalagi proposal yang diberi pak Hardi tak sesuai dengan keinginan sehingga membuat ayah empat orang anak itu memberi proyek tersebut pada perusahaan lain, yang lebih berkompeten meski terbilang perusahaan kecil dan merintis, tetapi dia yakin pembangunan rumah sakit akan berjalan lancar sebagaimana mestinya.
"Tapi kamu perlu mempersiapkan rencana lain karena ayah yakin, keluarga mereka tak semudah itu menyerah. Mereka pasti menghalalkan segala macam cara untuk bisa membebaskan Bajingan itu."
"Ayah tenang saja, aku dan Yogi sudah merencanakan plan B jika seandainya plan A gagal."
Rayyan manggut-manggut. "Hm, bagus. Ini baru yang namanya lelaki sejati, membela istri sampai titik darah penghabisan. Ayah bangga padamu, dan juga ketiga adik-adikmu yang lain."
...***...
__ADS_1