Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
"Memaafkanmu? Tidak Semudah itu, Sha!"


__ADS_3

Ghani duduk di sisi ranjang rumah sakit, mengelus pipi tembem Aurora dengan lembut. Setelah melewati perdebatan yang cukup sengit, akhirnya Ghani memutuskan menemui putrinya yang masih belum sadarkan diri. Timbul rasa penyesalan dalam diri karena tak becus menjaga anak tercinta hingga kejadian ini menimpa Aurora.


"Kamu sudah mengecewakanku, Sha. Aku percaya padamu, tapi kamu justru merusak kepercayaan itu," bergumam lirih sambil mengusut sudut matanya yang berair. Dia tidak kuasa melihat putrinya menderita.


Apalagi saat kedua mata yang bundar itu terpejam, si kecil mengingau memanggil nama sang papa. Remuk sudah hati Ghani, membayangkan betapa takutnya Aurora saat penyekapan itu terjadi. Seandainya saja Queensha memberitahu, sudah bisa dipastikan para penjahat itu menerima ganjaran atas semua perbuatan yang mereka lakukan terhadap Aurora.


"Jangan takut, Sayang. Papa pasti menjagamu dengan baik. Tidak akan ada satu orang pun yang melukaimu lagi. Papa janji, Nak."


Ketika Ghani melandaikan kecupan di kening, bibir si kecil bergerak perlahan, mengigau lirih, "Papa, tolong Rora! Rora takut, Pa ...."


Ghani mengusap puncak kepala Aurora secara perlahan. "Sst, kamu aman sekarang, Nak. Jangan takut ya, Sayang. Papa ada di sini menemanimu."


Bagai sebuah mantra, bibir mungil Aurora mengatup kembali. Tubuhnya yang sempat gemetar hebat tenang seperti semula. Untuk kesekian kali, Ghani merutuki keputusannya membiarkan Queensha menjemput Aurora seorang diri. Andai saja dia menuruti permintaan sang putri menemani Queensha pergi ke sekolah, mungkin saat ini Aurora sedang duduk manis di kamar, bermain bersama boneka beruang dan mengerakan pensil warna, mewarnai pemandangan indah hasil karyanya sendiri bukan malah terbaring lemah di atas pembaringan.


"Pak Ghani ...."


Ghani segera mengusap sudut matanya yang sempat meneteskan air mata. Kemudian menoleh ke belakang. Api amarah yang sempat padam kini kembali membara saat melihat sosok perempuan menjadi penyebab putrinya dirawat di rumah sakit.


Bangkit dari kursi dan melangkah mendekati Queensha. "Mau apa kamu ke sini? Belum puas melihat penderitaan putriku? Atau kamu masih ingin menguras tabunganku di bank untuk diberikan kepada ibu dan adik tirimu, iya? Kalau itu maumu, lakukanlah! Saya tidak akan melarangmu karena semua itu memang merupakan hakmu."


Queensha menggeleng lemah. "Bapak salah paham. Aku ke sini hanya ingin menemani Rora, tidak lebih. Aku-"

__ADS_1


Belum selesai Queensha berkata, tangan Ghani sudah lebih dulu terangkat ke udara. "Rora tidak butuh Mama seperti kamu, Sha. Yang dia butuhkan hanyalah ketenangan, bukan kehadiran perempuan bodoh yang suka bertindak sembrono," skaknya.


"Kamu sadar tidak, akibat perbuatanmu nyaris saja nyawa putriku melayang sia-sia. Kamu hampir saja merenggut separuh jiwaku, Sha. Kamu sadar tidak, heh?" Berkata dengan napas tersengal. Jika tidak ingat kalau Queensha adalah perempuan, dia sudah pasti melesakkan sebuah pukulan keras di wajah istrinya. Namun, Queensha beruntung karena dia terlahir sebagai seorang perempuan yang mana tidak boleh disakiti sehingga wanita itu tak perlu merasakan sakitnya dihajar oleh Ghani.


"Maafkan aku. Semua musibah yang terjadi pada Rora, itu karena kesalahanku. Namun, tidak bisakah Bapak memberi izin padaku untuk menemani Rora selama dirawat di rumah sakit? Aku ingin menjaga dan merawatnya." Queensha menangkup kedua tangan di depan dada. matanya berkaca-kaca, menatap suaminya penuh pengharapan.


Ghani tertawa miris. "Meminta maaf? Mudah sekali kamu berkata begitu setelah apa yang menimpa Rora. Nyawa Rora hampir melayang dan kamu dengan mudahnya meminta maaf padaku? Cih, tidak semudah itu, Sha!"


"Apa kamu pernah berpikir, akibat perbuatan Mama dan Adik tirimu bisa meninggalkan kenangan buruk di memori ingatan Rora? Bagaimana jika setelah dia sadar, putriku trauma dan dia berubah menjadi pendiam, mengurung diri dan ketakutan saat bertemu orang asing. Apa kamu berpikiran sejauh itu, heh? Aku yakin, kamu tidak mungkin berpikir begitu."


"Kalau otakmu dapat digunakan dengan baik maka kamu tidak mungkin mengambil keputusan tanpa melibatkan saya sebagai suamimu. Saya tidak mempermasalahkan uang yang sudah kamu ambil di rekening bank. Terserah mau kamu apakan, itu urusanmu karena kewajiban saya hanyalah memberi nafkah kepadamu. Namun, saya tidak suka sikapmu yang terkesan gegabah dan tak menghargai saya sebagai seorang suami. Bagaimanapun, saya adalah kepala keluarga dan uang itu kamu gunakan untuk menebus Rora, yang mana gadis kecil itu adalah putri saya. Ngerti kamu?" tandas Ghani dengan menekan setiap kalimat yang terucap dari bibirnya.


Tubuh Queensha mematung sepersekian detik. Dadanya terasa diremat saat mendengar penuturan Ghani barusan. Dia memang tidak mencintai lelaki yang pernah menjadi majikannya itu. Namun, perkataan Ghani bagaikan ujung tombak yang sangat runcing, menusuk dan menembus hingga ke sumsum tulang belakang.


"Astaga, Ghani. Kamu apa-apaan sih, Nak. Tidak baik bicara begitu kepada istrimu!" tegur Arumi yang baru saja masuk ke ruang perawatan VVIP bangsal anak.


Sepuluh menit yang lalu, Arumi dan Rayyan baru saja keluar dari ruang rapat. Hari ini mereka meminta semua kepala bangsal melaporkan hasil kinerja masing-masing pegawai dan menyampaikan keluh kesah selama menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Pasangan suami istri itu ingin menciptakan lingkungan kerja sehat, nyaman sehingga dari mereka tak ada satu orang pun merasa tertekan bekerja di rumah sakit milik mendiang Mei Ling. Untuk itu Rayyan memanggil kepala bangsal menghadiri rapat tersebut.


"Babe, dari sini mau langsung pulang atau mampir dulu ke suatu tempat?" Rayyan menyentuh pundak istrinya dengan penuh cinta. Walaupun usia sudah tak lagi muda, mereka masih terlihat mesra seperti pengantin baru.


"Mampir dulu ke toko bakery langgananku sebentar. Aku ingin membeli beberapa cake untuk di rumah. Kebetulan nanti malam akan ada Rini dan Rio datang ke rumah. Tidak enak jika tak menyuguhkan apa-apa," sahut Arumi.

__ADS_1


"Baiklah. Sesuai permintaanmu, kita mampir sebentar ke toko bakery, setelah itu baru pulang." Lantas, mereka mengayunkan kaki menuju ruangan direktur yang ada di lantai tertinggi gedung rumah sakit tersebut. Namun, saat menunggu di depan lift yang akan membawa mereka ke lantai atas, sayup terdengar beberapa orang perawat membicarakan tentang Aurora.


"Kamu sudah dengar tidak berita tentang Aurora yang sedang dirawat di rumah sakit? Dengar-dengar sih katanya saat dilarikan ke rumah sakit, Aurora dibawa seorang perempuan yang mengaku bahwa dia adalah baby sitter-nya. Namun, mereka semua heran karena perempuan itu tampak begitu mencemaskan Aurora. Seperti seorang ibu yang sedang mencemaskan anaknya. Padahal Aurora adalah anak majikannya."


"Iya, aku pun dengar begitu. Bahkan perempuan itu sempat keceplosan, mengatakan bahwa Aurora adalah putrinya. Aneh saja, bagaimana bisa dia mengaku sebagai Ibu dari Aurora, sedangkan kita semua tak pernah mendengar kabar pernikahan Pak Ghani."


"Alah, palingan juga itu cuma akal-akalan baby sitter Aurora saja. Sengaja berkata begitu biar terkenal di kalangan pekerja rumah sakit. Secara, Pak Ghani itu keren, kaya dan sukses semua perempuan pasti bermimpi dapat bersanding dengan pria tampan macam atasan kita."


Tanpa mereka sadari, rupanya Rayyan dan Arumi mendengar percakapan kedua wanita berseragam putih. Pasangan suami istri itu sengaja bersembunyi di balik pot bunga berukuran orang dewasa demi mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Babe, sepertinya rencana kita ke toko bakery ditunda dulu. Ada hal penting yang harus dipastikan terlebih dulu sekarang." Tanpa menunggu jawaban Arumi, Rayyan segera menggenggam tangan sang istri masuk ke dalam lift. Pria itu menekan tombol angka lima, di mana Aurora tengah dirawat.


Maka di sinilah mereka berada, di ruang perawatan cucu tercinta. Arumi segera mendorong daun pintu ketika tanpa sengaja mendengar percakapan antara anak dan menantunya dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.


Sontak, Ghani dan Queensha menoleh ke sumber suara dan mereka cukup terkejut akan kehadiran Arumi serta Rayyan di ruang perawatan Aurora.


"Ayah, Bunda? Sedang apa kalian di sini?" tanya Ghani kepada orang tuanya.


Alih-alih menjawab pertanyaan Ghani, Arumi justru membeliakkan matanya yang indah kepada sang putera. "Kenapa kamu bicara begitu kepada menantu bunda? Apa kamu lupa nasihat yang sering diucapkan Ayah kepadamu dan juga Xavier?" tanyanya dengan sinis.


......***......

__ADS_1


__ADS_2