Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Motif Terselubung


__ADS_3

Untuk pertama kalinya setelah meninggalkan kediaman Wijaya Kusuma, Queensha kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur milik putri tercinta. Dia sedang membacakan dongeng Putri Salju, salah satu dongeng kesukaan Aurora.


"Akhirnya Putri Salju hidup bahagia bersama pangeran." Itulah akhir kisah dari dongeng Putri Salju dan Tujuh Kurcaci yang Queensha bacakan untuk Aurora. Gadis kecil itu tidak pernah merasa bosan meski sudah berulang kali Queensha, Arumi maupun Ghani membacakan dongeng yang sama setiap sebelum tidur.


Queensha mengulum senyum saat melihat kelopak mata Aurora terpejam. Ia letakkan buku dongeng dalam genggaman tangan ke atas nakas lalu membenarkan posisi tidur sang putri.


Mengusap puncak kepala lalu mencium kening Aurora dengan penuh cinta. "Selamat tidur anak mama tersayang. Semoga mimpi indah ya, Nak. Jangan pernah merasa sendiri sebab mama akan selalu berada di dekatmu." Membenarkan selimut tebal yang sedikit tersingkap hingga kain bermotif boneka Teddy Bear itu menutupi ujung kaki sampai sebatas dada.


Duduk di kursi sambil memandangi bocah perempuan kecil yang sedang tertidur. "Mama tidak menduga jika Tuhan memberi kesempatan kepadaku untuk bisa bertemu lagi denganmu, Nak. Sungguh, ini merupakan anugerah terindah yang tak pernah mama bayangkan sedikit pun. Mama pikir kita tak akan pernah bertemu selamanya, tapi ternyata Tuhan justru kembali mempertemukan kita di waktu dan tempat yang tak pernah diduga."


Menghela napas berat lalu menatap bingkai foto kecil di dinding. "Mama bersyukur karena pada saat kita terpisah, kamu justru diadopsi oleh Papa kandungmu sendiri."


"Sepandai-pandainya Mama Mia menyusun rencana untuk memisahkan kita, tetap saja akan kalah dengan takdir dan kuasa dari Sang Maha Pencipta. Terbukti atas campur tangan ketiga orang jahat itu kamu justru dirawat oleh Papamu sendiri. Padahal selama ini mama sulit sekali menemukan pria itu, tapi kenapa kamu lebih dulu bertemu dengannya? Kalau bukan karena takdir, lalu apa?"


Queensha bergumam sambil menatap keindahan gemerlap bintang di malam hari. Sinar rembulan tampak begitu indah menyinari bumi.


"Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengembalikan senyuman yang dulu sempat menghilang dariku. Karena Engkau pulalah aku dapat bertemu dengan putriku, Aurora. Aku berjanji tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang telah Engkau beri."

__ADS_1


***


"Selamat pagi, Mbak Queensha. Bagaimana, apa semalam mimpi indah?" Ada motif terselubung di balik pertanyaan itu. Akan tetapi, Queensha tak menyadari ada makna lain dari pertanyaan yang diajukan Ijah kepadanya.


"Pagi, Mbak Ijah. Ehm, enggak mimpi indah sih hanya saja tidurku jauh lebih nyenyak tadi malam." Queensha tak berbohong, dia merasa tidurnya semalam lebih berkualitas di banding sebelumnya. Mungkin karena beban dan rasa bersalah yang berada di pundak terangkat semua membuat wanita itu dapat merasakan kembali bagaimana rasanya dapat tidur nyenyak tanpa perlu terbangun akibat mimpi buruk.


Ijah tampak manggut-manggut mendengar jawaban mantan majikan yang mungkin sebentar lagi menjadi majikannya untuk kedua kali jika Ghani berhasil meluluhkan hati Queensha.


Tanpa rasa canggung sedikit pun, Queensha membantu Ijah menyiapkan sarapan untuknya dan nona kecil di rumah itu. Untuk menu sarapan kali ini Ijah sengaja menyiapkan nasi goreng seafood lengkap dengan mentimun, tomat dan salada. Namun, khusus untuk Aurora, asisten yang terkadang merangkap menjadi pengasuh si kecil membuatkan telur dadar ala Jepang.


"Mbak Queensha, biarkan kami saja yang membuatnya. Mbak tinggal duduk di sana menunggu sampai makanan ini matang," tegur Tina saat baru saja selesai memberikan kopi untuk satpam yang berjaga di depan pintu gerbang.


"Alah, biasanya juga aku bantuin kalian masak. Mbak Tina tidak perlu sungkan kepadaku sebab aku merasa bahagia karena bisa sedikit meringankan pekerjaanmu dan Mbak Ijah," sahut Queensha mulai membalikan telur dadar pesanan Aurora. "Sudah, daripada kalian bengong sebaiknya lakukan hal lain. Misalkan menata piring, peralatan makan di atas meja dan tak lupa menuangkan susu putih untuk putriku, Aurora."


Kedua wanita setengah baya saling beradu pandang. Terdengar janggal ketika Queensha memanggil Aurora dengan sebutan 'putriku' sebab seingat mereka saat masih berstatuskan istri Ghani, dia tak pernah sekalipun menyebut nona muda mereka dengan sebutan itu. Akan tetapi, detik berikutnya mereka menutupi perintah Queensha dan mengenyahkan sejuta pertanyaan yang hinggap di kepala.


Tiga puluh menit berlalu, semua hidangan telah tersedia di atas meja makan. Kepulan asap putih menguar di udara, aroma kelezatan dari setiap olahan makanan itu tampak begitu menggoda dan membuat perut keroncongan.

__ADS_1


"Mama, ayo makan! Rora udah lapar banget nih," rengek Aurora seraya menggoyangkan badannya di tangan Queensha. Gadis kecil itu memang tak pernah sabar jika sudah melihat salah satu makanan kesukaannya yaitu telur dadar ala Jepang. Entahlah, segala hal yang berbau Jepang selalu menarik perhatian gadis itu. Mungkin karena dulu dia tercipta saat mama papanya berada di Jepang membuat gadis itu tergila-gila akan negeri yang terkenal menara Tokyo-nya itu.


Queensha melirik beberapa detik lalu menarik kursi di depannya hingga terdengar derit menggema di penjuru ruangan. "Ya sudah, ayo kita makan sekarang. Rora pasti udah enggak sabar ingin mencicipi makanan ini, 'kan?" ucapnya. Jemari lentik itu menunjuk olahan telur di atas piring menggunakan sumpit.


Dengan antusias Aurora menjawab, "Iya, Mama. Telur dadar itu lezat sekali dan Rora ingin segera memakannya."


Tanpa membuang waktu terlalu lama, Queensha menuangkan nasi serta lauk pauk ke atas piring dan memberikannya kepada Aurora. Sambali menyantap nasi goreng, sesekali dia memperhatikan apakah putri kecilnya itu makan belepotan atau tidak.


"Mama, nasi goreng seafood 'kan kesukaan Papa, gimana kalau kita ke rumah sakit dan membawakan sarapan untuk Papa? Papa pasti kelaparan setelah lelah bekerja. Boleh, ya, Ma?" desak Aurora di sela kegiatannya menyantap hidangan di atas meja makan.


"Sayang, tapi bagaimana kalau ternyata kita ke sana, tapi ternyatq Papa dalam perjalanan pulang ke rumah? Nanti yang ada sia-sia saja kita datang ke rumah sakit jika ternyata Papa sudah tidak ada di sana. Kan kasihan Pak sopir kalau bolak balik mengantarkan kita."


Aurora berdecak kesal. Lalu dia menaruh sumpit ke atas piring. "Enggak, Mama. Papa enggak bakalan pulang ke rumah, 'kan tadi Rora telepon Papa dan tanya jam berapa mau pulang. Kata Papa siang karena masih ada urusan pekerjaan. Nah, makanya Rora ajakin Mama ke rumah sakit. Kita bawain sarapan untuk Papa agar Papa semangat lagi kerjanya. Boleh ya, Ma? Please?" Kedua tangan mungil tertangkup di depan dada. Matanya yang bulat mengerjap penuh permohonan. Sikap Aurora tampak begitu menggemaskan di mata Queensha. Kalau sudah begini mana tega Queensha menolak permintaan sang putri.


Menarik napas panjang dan berat. "Baiklah, kita pergi ke rumah sakit. Tapi sebelum itu habiskan dulu makanan dan susumu."


"Siap, Mama!" jawab Aurora penuh semangat.

__ADS_1


...***...


__ADS_2