Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Sesuai Rencana Awal


__ADS_3

Duduk bersandar di sandaran sofa dengan kedua kaki saling menindih satu sama lain. Tangan memijat kening yang terasa pening. Sudah hampir tiga puluh menit duduk menyendiri di sebuah ruangan sepi tanpa ditemani siapa pun.


Ghani memutuskan kembali ke rumah sakit dan melimpahkan urusan pekerjaan kepada bawahannya. Bahkan dia absen dari rapat yang dipimpin oleh Leon, sahabat dekatnya itu karena kini pikirannya sedang kacau dan tak dapat berpikir dengan jernih. Daripada kehadirannya justru memperburuk keadaan lebih baik tak hadir dan mempercayakan semua urusan kepada sang sahabat.


Suara ketukan sepatu terdengar menggema memenuhi penjuru ruangan saat daun pintu ditutup rapat. Tampak seorang pria berwajah oriental berjalan mendekati sofa, tempat Ghani duduk saat ini.


"Kenapa lo tiba-tiba aja izin untuk enggak hadir rapat, Ghan? Kita semua menunggu kehadiran lo di ruang rapat, tapi lo justru izin enggak datang. Tahu enggak, Pak Sadam tuh sampai rela datang ke ruang meeting demi lo. Namun, harapannya musnah saat mengetahui jika lo enggak bisa hadir dengan alasan tak jelas."


Duduk di sebelah Ghani kemudian menepuk pundak sang sahabat. "Apa ini ada kaitannya dengan Queensha? Apa pertemuan kalian tak membuahkan hasil hingga membuat wajah lo murung begini?" cecar Leon.


Melirik sekilas kemudian tersenyum getir. Sorot mata kesakitan terpancar jelas dari sepasang iris coklat. Hati terkoyak, harapan dan angan berserakan tertiup angin kala mendengar bahwa darah dagingnya meninggal usai terlahir ke dunia ini.


Janin itu hadir karena sebuah kesalahan, tetapi bukan berarti Ghani tak mencintai darah dagingnya itu. Dia justru sangat menyayangi calon anaknya itu sama seperti menyayangi Aurora, putri angkatnya.


"Queensha udah tahu yang sebenarnya. Dan sesuai prediksi, dia marah besar begitu tahu jika gue memperkosanya karena pengaruh obat perangsang. Gue udah menjelaskan secara detail tanpa ada yang ditutupi, tapi dia tetap marah karena merasa gue udah menghancurkan masa depannya." Menarik napas panjang dan berat lalu kembali berkata, "Gue bisa maklum kalau dia benci ke gue. Gue emang salah dan mengakui itu semua."


"Lalu, apa lagi yang terjadi di antara kalian? Gue rasa mood lo enggak mungkin sekacau ini hanya karena hal sepele." Leon memperhatikan penampilan Ghani yang terlihat berantakan. Dasi warna navy yang melilit di leher bergeser beberapa senti dari tempat semestinya. Rambutnya yang hitam legam berantakan seakan tak pernah disisir dalam jangka waktu yang sangat lama. Benar-benar memprihatinkan.

__ADS_1


Tanpa dapat dibendung lagi, buliran kristal mengalir di sudut mata Ghani. Pria itu terisak kala mengingat pertemuannya dengan Queensha tiga puluh menit yang lalu. Pertemuan itu memang singkat, tetapi cukup menghancurkan hati Ghani menjadi serpihan kecil yang jika ditiup akan terbang terbawa angin.


Sontak Leon terkejut dibuatnya sebab setahunya Ghani bukanlah tipe pria yang lemah, dapat menangis dengan mudah hanya karena dibenci seseorang.


Mengusap pundak Ghani, mencoba menenangkan sahabatnya lewat sentuhan lembut itu. "Cerita pelan-pelan, sebenarnya apa yang terjadi antara lo dan Queensha. Kenapa lo jadi melow begini, Ghan? Ghani yang gue kenal adalah pria kuat, dingin dan tak pernah menangis lalu kenapa lo jadi lebih emosional, hem."


Dengan perasaan hancur lebur, Ghani mulai menceritakan kejadian yang dilaluinya beberapa menit lalu. Mulai dari dirinya yang datang ke restoran bertemu sahabat Queensha sampai pada saat di mana menghajar Rama, tak luput dari ceritanya. Tangisan itu semakin menjadi kala tiba di mana dia menceritakan bahwa hasil dari perbuatannya dulu menghadirkan kehidupan baru di rahim Queensha.


Akan tetapi, bayi itu tak bernasib baik. Dia meninggal dunia beberapa menit setelah dilahirkan.


"Gue merasa seperti seorang bajingan yang tak dapat menjaga amanah Tuhan. Andai saja gue bertemu Yogi lebih awal mungkin kejadiannya enggak sampai begini. Gue bisa menjaga dan melindungi bayi itu, Yon."


"Gue bisa ngerti bagaimana perasaan lo, Ghan. Walaupun gue belum berumah tangga, tapi tahu betul gimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat disayangi terlebih itu adalah darah daging lo sendiri."


"Namun, mau bagaimana lagi, bukankah semua sudah merupakan kehendak dari Sang Maha Pencipta? Semua kejadian di muka bumi ini telah ditentukan oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa bersabar dan ikhlas menerima itu."


Ghani menepis tangan Leon dengan kasar. Dia tahu betul segala sesuatu di bumi ini tak luput dari rencana-Nya. Akan tetapi, hati masih belum bisa menerima kenyataan bahwa bayi mungil berjenis kelamin perempuan meninggal dunia tanpa pernah melihat wajah kedua orang tuanya.

__ADS_1


Bangkit dari kursi dan menatap nyalang pada Leon. "Lo gampang ngomong begitu karena enggak pernah berada di posisi gue. Selama lima tahuh gue hidup menderita karena merasa bersalah telah merenggut kesucian Queensha. Lalu sekarang setelah bertemu dia, rasa penyesalan itu bukannya menghilang malah semakin menjadi."


"Gue sempat berpikir, seandainya tak meminta bantuan Alvin, sudah pasti saat ini gue hidup bahagia bersama Queensha, Rora dan anak kami. Pulang kerja disambut hangat oleh senyuman berasal dari istri dan anak-anak gue. Namun, rupanya itu hanya angan belaka, tidak akan pernah jadi kenyataan."


Leon bergeming, membiarkan Ghani meluapkan kemarahannya. Dia mendengar semua uneg-uneg pria itu tanpa ada niatan sedikit pun menyelanya. Dalam keadaan begini diam adalah pilihan terbaik untuk menghindari hal yang tak diinginkan.


Setelah merasa keadaan jauh lebih baik dari sebelumnya, Leon kembali membuka suara. "Lantas, sekarang apa yang mau lo lakukan? Tetap dengan tujuan awal, meminta Queensha rujuk sebagai bentuk pertanggung jawaban lo kepadanya?"


Menarik napas panjang, menahannya sebentar kemudian mengembuskan perlahan. Pandangan mata Ghani menatap keluar jendela pada langit cerah berwarna biru di angkasa.


"Tentu saja. Apa pun yang terjadi gue akan tetap mendekatinya, menggunakan segala macam cara demi mendapatkan Queensha lagi. Terlebih dia pernah melahirkan darah daging gue jadi mana mungkin gue melepaskannya begitu saja," jawab Ghani sedatar mungkin.


"Sebagai sahabat, gue akan terus mendukung lo selama enggak bertentangan dengan agama dan norma yang berlaku di negara ini. Gue tetap berdiri di belakang lo dan siap membantu jika dibutuhkan. Jadi, jangan pernah sungkan meminta bantuan gue."


Masih dengan wajah dingin Ghani menjawab, "Thanks karena lo selalu ada di sisi gue dalam keadaan apa pun. Gue enggak tahu harus bagaimana jika seandainya enggak ada lo. Mungkin saat ini gue kembali menegak minuman itu demi menghilangkan rasa pening di kepala."


Leon terkekeh pelan mendengarnya. "Gue bukan orang munafik, tapi menurut gue, minuman beralkohol bukan merupakan satu-satunya solusi atas semua masalah yang datang menghampiri. Lebih baik minta petunjuk kepada Sang Pencipta siapa tahu Dia memberi jalan kepada lo."

__ADS_1


...***...



__ADS_2