Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Setelah acara ijab kabul selesai, dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang digelar di gedung serba guna dekat Kantor Kelurahan. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu 10 menit saja, mereka sampai di tempat resepsi.


Orang tua Lulu sengaja menyewa gedung serba guna itu karena rumah mereka terlalu sempit kalau harus menerima banyak tamu. Apalagi banyak tamu undangan yang hadir, menyaksikan prosesi ijab kabul dua insan manusia yang telah melebur menjadi satu.


“Pak, ayo buruan. Jangan lelet,” ujar Bu Fatimah pada suaminya Pak Idris yang masih sibuk membetulkan sabuknya.


“Iya, Bu. Sebentar.”


“Kalau lama-lama nanti ditinggal mobilnya lho. Buruan, Pak.” Fatimah makin meminta Pak Idris untuk bergegas.


Akhirnya, setelah selesai mengenakan baju seragam untuk resepsi pernikahan putri kesayangan, bu Fatimah dan pak Idris segera pergi menuju mobil. Mobil itu akan mengantarkan Fatimah, Idris, Lulu, dan Leon menuju gedung resepsi. Sementara itu, Arumi, Rayyan, Ghani, Zavier serta Hanna berada di mobil lain yang sudah berangkat sedari tadi. Pun begitu dengan orang tua Leon, mereka berangkat lebih dulu bersama rombongan keluarga Arumi.


Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi bu Fatimah, pak Idris, Lulu, dan Leon sampai juga di gedung serba guna. Sudah banyak orang di sana. Salah seorang pegawai Wedding Organizer yang mengatur acara hari ini segera menyambut kedatangan mereka.


“Ayo, ayo, sebentar lagi acaranya mau dimulai,” ujar Gigi, salah satu koordinator acara.


Leon segera menggandeng tangan Lulu menuju kursi pelaminan. Gedung serba guna yang dijadikan tempat resepsi disulap dengan indah dengan dominasi warna ungu muda. Tak urung, Leon dan Lulu terkesima melihat indahnya ruang tempat resepsi penikahan mereka.


“Bagus banget dekorasinya, Mas. Kamu yang minta didekor dengan warna ungu muda?” tanya Lulu penasaran sebab setahunya Leon tak pernah tahu warna kesukaannya.


Leon menggeleng. “Aku sama sekali enggak tahu-menahu mengenai dekorasi ini. Kan untuk urusan dekorasi di tempatmu, dilimpahkan semua pada Ibu dan Bapak."


Seketika senyuman mengembang di bibir Lulu ketika menyadari sesuatu. 'Ibu selalu tau apa yang gue mau.'


“Eh, omong-omong, dekorasinya bagus juga, ya? Cocok dengan suasananya,” ujar Leon kemudian. Dia memandangi keadaan sekeliling dengan tatapan takjub. Mata berbinar bahagia, melihat dekorasi gedung yang dibuat sedemikian indah.


“Hmm, benar. Aku suka dengan konsepnya. Simple, tapi elegan." Diam-diam Lulu mengagumi sang ibu yang mempunyai selera cukup bagus.


Akhirnya, acara resepsi dimulai. Banyak tamu dari keluarga besar Lulu, baik dari keluarga pak Idris maupun bu Fatimah hadir, memberi dia restu untuk pasangan pengantin baru yang tengah berbahagia. Pun demikian dengan para tetangga sekitar rumah orang tua Lulu, buruh petik sayuran di tempat haji Kasman berdatangan demi menyaksikan momen penting yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidup Leon dan Lulu.


“Selamat ya, Lu. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah.” Bu Kiki, salah seorang tetangga Lulu datang untuk memberi selamat pada Lulu dan Leon.


“Terima kasih, Bu Kiki. Terima kasih juga sudah datang.”


“Omong-omong, suamimu ini dokter, 'kan?” tanya Bu Kiki sambil berbisik di telinga Lulu.

__ADS_1


Lulu mengangguk. “Iya, Bu. Kenapa emangnya, Bu?” tanya Lulu penasaran.


“Ah, enggak. Saya juga mau punya menantu dokter. Kalau suamimu punya temen dokter yang masih jomlo, beritahu saya ya. Kamu tahu anak saya Fifi? Dia habis putus sama mantannya. Siapa tahu jodohnya dokter sama seperti kamu."


“Oh, begitu. Nanti saya tanyakan Mas Leon, ya, Bu. Tapi saya enggak janji soalnya cari yang seumuran dengan Fifi, jarang sekali. Kebanyakan dari teman-teman Mas Leon sudah berumur."


Bu Kiki tampak kecewa dengan jawaban Lulu. Harapan memiliki menantu dokter seperti bu Fatimah tidak terwujud.


Semakin siang maka semakin banyak tamu berdatangan untuk memberi selamat pada Lulu dan Leon. Diiringi suara merdu dari penyanyi yang ada di atas panggung, membuat resepsi pernikahan makin meriah pun syahdu.


“Omong-omong, aku laper nih. Kamu enggak kelaperan?” bisik Leon pada Lulu. Sudah lebih dari satu jam dia duduk di kursi pelaminan, wajar saja dia amat kelaparan sekarang.


“Iya sih. Aku juga laper. Tamunya masih banyak enggak, Mas?” Lulu celingukan ke arah pintu masuk yang dijaga oleh pager ayu yang bertugas menerima tamu sekaligus memberi souvenir pernikahan sebagai ucapan terima kasih atas kesediaan mereka yang hadir pada hari ini.


Leon ikut mengedarkan pandangan ke arah pintu masuk gedung seba guna. "Kayaknya lagi sepi. Gimana kalau kita makan dulu? Nanti kalau pingsan malah berabe. Lagi pula acara ini digelar sampe malem, loh."


“Yuk turun. Aku mau lihat apa aja menu kateringnya.” Lulu dan Leon pergi menuju meja yang menghidangkan makanan untuk para tamu.


“Ciyeee, yang uda resmi jadi suami istri ke mana-mana selalu berdua. Gimana nih pengalamannya setelah pengucapan janji suci pernikahan, seneng enggak? Pasti seneng dong masa iya enggak."


Suara bariton seseorang mengagetkan Lulu dan Leon. Mereka menoleh dan mendapati Zavier ada di belakangnya. Laki-laki itu asyik menikmati batagor yang ditaruh di dalam piring kecil.


Zavier terkekeh. “Dih, sensi bener. Gue cuma bercanda kali. Jangan masukin ke hati, ya?"


"Omong-omong, makanannya enak nih. Gue udah abis dua piring batagor. Dimsumnya juga enak. Kalian mesti cobain."


“Giliran gue ngambek, baru muji-muji. Dih, dasar dosen sableng. Seenak apa pun makanannya, gue enggak mau makan banyak, takut nanti kebelet boker.” Leon mencomot risoles yang terhidang di meja prasmanan.


“Kamu mau makan apa, Sayang? Mau risoles juga?” tawar Leon lemah lembut. Jika sebelumnya berkata dengan nada sinis, kala berhadapan dengan Lulu, suara Leon terdengar lembut sekali.


“Ciyeee … ciyeee … yang panggil Sayang.” Sekali lagi Zavier menggoda Leon--sahabat kakak kembarnya.


“Ah, rese lo, Vier. Gue cuma nunjukin kasih sayang ke istri apa itu salah? Daripada lo jadi obat nyamuk mending samperin Dokter Hanna sana, kasihan dia sendirian dari tadi. Jadi suami tega bener ninggalin istri sendirian," ujar Leon sinis, membalas perbuatan Zavier yang sejak tadi menggodanya terus tiada henti.


"Mas Leon, jangan bilang begitu. Mas Zavier enggak mungkin setega itu pada istrinya. Bisa saja Dokter Hanna-nya sendiri yang enggak mau diajak ke sini karena males atau memang enggan berdesakan dengan tamu lain. Jadi orang jangan berburuk sangka dulu dengan orang lain, enggak baik." Lulu coba memberi nasihat sedikit untuk suaminya.

__ADS_1


“Noh dengerin apa kata Lulu. Dia pengertian, enggak kayak lo,” cibir Zavier.


Leon cuma memberengut. Sebal juga dia karena Lulu lebih memihak Zavier. Dia semakin sebal ketika tanpa sengaja melihat senyuman mengejek tercipta dari sudut bibir Zavier.


Tak mau merusak suasana hati pengantin baru, Zavier mengalihkan perhatian Leon yang saat itu terlihat kesal kepadanya.


"By the way, lo jadi bikin resepsi di Jakarta juga?" tanya Zavier seraya memasukkan potongan batagor ke dalam mulut.


“Tentu aja jadi. Gue udah bilang ke orang tua Lulu. Selain resepsi di sini, keluarga gue bakal menggelar resepsi di Jakarta. Lo tahu sendiri teman bokap dan nyokap gue berjibun banget. Belum lagi rekan sesama dokter, beuh satu gedung ini kagak bakalan mampu menampung sebegitu banyaknya tamu. Takutnya kalau enggak diundang bisa jadi gosip."


“Aduh, enggak kebayang nanti pasti capek banget.” Lulu menghela napas berat. Belum apa-apa, Lulu sudah mengeluh.


“Iya sih, pasti capek. Tapi asal bersamamu, capek itu bakal hilang kok, Sayang.” Leon memeluk bahu Lulu dari samping.


"Mas Leon, malu dilihat orang!" tegur Lulu. Kendati demikian, dia tidak menurunkan tangan kekar Leon di bahunya.


Zavier yang seperti obat nyamuk, cuma bisa memutar bola mata dengan malas. Dasar pengantin baru, selalu saja ada alasan untuk bermesraan di depan orang lain. Khusus untuk Leon, pasti dia sengaja melakukannya untuk balas dendam karena dia sempat menggodanya barusan.


“Gue cabut deh. Daripada lihat orang sayang-sayangan. Bye!” Zavier melenggang pergi masih sambil mengunyah batagor.


Leon dan Lulu tertawa melihat tingkah adik kembar Ghani yang terkenal akan kegemarannya gonta ganti pasangan semasa sekolah dulu.


“Aduh, Mas, Mbak, ayo balik ke kursi pengantin. Banyak yang mau foto lho. Udah selesai, 'kan, makannya?” Tiba-tiba saja Gigi yang menjadi koordinator acara datang untuk menjemput Lulu dan Leon.


“Bentar. Bentar. Aku mau makan donat dulu.” Lulu mencomot donat mini dan segera mengunyahnya.


“Nanti ada sesi syuting video juga. Kalau bisa, riasannya di-touch up lagi ya, Mbak. Biar makin kinclong pas disyuting.”


“Oke. Oke.” Lulu mengacungkan jempol. Meskipun dalam hati kesal karena wajahnya harus dirias lagi, tetapi dia menuruti apa kata Gigi. Sifat Lulu yang sedikit tomboy membuat dia tak nyaman dengan polesan make up di wajah.


“Oh ya, Mas-nya juga dirias dikit ya. Mas-nya udah ganteng, tapi makin ganteng lagi kalau pakai bedak dikit. Gak apa-apa, kan? Biar videonya makin bagus.”


“Hmm, terserah. Aku ngikut gimana baiknya," sahut Leon pasrah.


“Ya sudah, ayo naik ke pelaminan lagi. Di sana ada rekan saya menunggu kalian. Saya pergi dulu, mau ngurus katering di belakang.” Gigi pergi setelah mengutarakan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


Lulu dan Leon hanya menatap Gigi dari belakang. Setelah selesai makan, mereka kembali ke kursi pengantin untuk menyambut para tamu yang masih berdatangan.


...***...


__ADS_2