
Tak terasa sudah cukup lama keluarga Leon berada di kampung halaman Lulu. Meski mulai betah, tapi masih ada acara resepsi kedua yang akan digelar dua hari ke depan. Jadi, mau tak mau baik keluarga Leon maupun Lulu harus ke Jakarta agar segala sesuatunya segera terselesaikan.
“Kopernya udah siap semua, Bu?” tanya Lulu pada Bu Fatimah--ibunda tercinta.
Kedua orang tuanya itu mengangguk hampir bersamaan.
“Beres, Lu. Tinggal berangkat aja kita," sahut Bu Fatimah pada putrinya.
“Ayah juga udah minum antimo biar enggak mabuk darat nanti. Pokoknya hayu kita jalam sekarang. Bapak enggak sabar kepingin ke kota, lihat gedung tinggi. Bosen ah liat sapi, embe, sama sawah terus." Pak Idris mulai melawak. Ayah mertua Leon terlihat antusias sekali sebab sudah sekian tahun berlalu, dia tak lagi pernah menginjakkan kakinya di kota metropolitan. Pria paruh baya itu menghabiskan waktunya tinggal di pedesaan yang cukup jauh dari ibukota.
Lulu tersenyum kecil mendengarnya. Melihat rona kebahagiaan tercipta di wajah ayah dan ibunya, dia ikut bahagia.
“Bagus deh. Aku bilang Mas Leon dulu biar dia buruan mandi, jadi kita semua bisa langsung berangkat."
Tak lama kemudian, baik keluarga Lulu dan Leon sudah siap untuk berangkat. Kepergian mereka diantar oleh keluarga besar dari pihak Lulu dan juga tetangga kanan dan kirinya.
Tiba-tiba saja, Bu Kiki yang kemarin datang ke resepsi pernikahan Lulu, segera menghampirinya. Wanita itu menggamit tangan Lulu, lalu berbisik di telinganya.
“Inget ya jangan lupa pesen ibu. Ibu pengin juga punya menantu dokter. Pokoknya kalau temen suami kamu ada yang jomlo, kamu hubungin ibu. Ini no HP ibu. Oke?” Bu Kiki mengedipkan sebelah matanya sambil mengangsurkan selembar kertas yang tertulis nama beserta no handphone-nya.
Lulu cuma nyengir dan mengangguk saja. 'Dasar emak-emak rempong. Bisa-bisanya aji mumpung, manfaatin kesempatan yang ada demi meraup keuntungan besar. Ya kali gue ngenali anaknya itu ke temen Mas Leon, gue aja kenal Mas Leon dikenalin Dokter Ghani.' Kendati demikian, dia akan berusaha mencarikan kenalan untuk putrinya Bu Kiki. Ini merupakan amanah yang harus dilaksanakan.
"Pak, Bu, kalau di jalan nanti ngerasa pegal atau kepingin buang air, bilang saja. Nanti Yogi akan berhenti, mencari POM bensin atau masjid maupun musholla untuk istirahat sebentar. Jangan menahan diri, tidak pergi ke toilet. Yang ada malah kena penyakit karena sering menahan buang air," ujar Leon pada kedua mertuanya.
"Iya, Nak Leon. Kamu tenang saja. Bapak dan Ibu pasti minta berhenti kalau emang kebelet banget," sahut Pak Idris, dijawab anggukan kepala istrinya.
Pak Imran yang berdiri di sebelah anak lelakinya, menepuk pundak Leon. "Berangkat sekarang saja, jika tak ada lagi yang ditunggu. Biar mertuamu bisa istirahat lama di hotel sebelum disibukkan dengan gladiresik resepsi pernikahan."
"Bu Fatimah, Pak Idris, mari silakan masuk." Bu Ayu mempersilakan besannya masuk ke mobil. Di depan sana ada Yogi--orang kepercayaan Ghani yang ditugaskan mengantar orang tua Lulu ke penginapan, sementara Ghani beserta keluarganya telah kembali ke Jakarta satu hari setelah resepsi pernikahan dilangsungkan.
"Yogi, saya titip Bapak dan Ibu mertua saya. Kalau mereka butuh apa-apa, tolong handle sementara."
Yogi mengangguk patuh. Walaupun mengabdikan diri sepenuhnya pada Ghani, tetapi ketika dia bekerja untuk orang lain maka tetap melaksakan titah majikan sementaranya dengan baik. Apalagi harus menjaga dua orang tua yang mengingatkannya akan mendiang ayah dan ibunya yang telah lama meninggal dunia.
***
Selang dua hari kemudian, acara resepsi kedua sebentar lagi akan segera dilangsungkan.
Hari ini Lulu didandani dengan begitu cantik oleh make up artist yang kabarnya sering merias artis-artis ibu kota. Benny, sang make up artist yang sedikit kemayu ini berulang kali memuji kulit Lulu yang mulus bagaikan bokong bayi.
“Ya ampun, kulit kamu kenyal-kenyal mirip squishy, lho, Jeng. Asyik untuk ditoel-toel,” ucap Benny sambil mencubit kulit Lulu. “Beneran nih enggak pake suntik macem-macem? Enggak pernah ke klinik kecantikan juga?"
__ADS_1
“Benerlah, Sis. Enggak punya waktu dan juga enggak ada anggaran buat ke klinik. Sayang uangnya dipake buat perawatan. Mending dikirim ke kampung, bisa buat bantu-bantu makan orang tua," jawab Lulu jujur. "Saya cuma perawatan pake skin care yang dijual di toko pinggir jalan doang, Sis. Itu pun beli yang harga murah, biar bisa nabung walau seperak dua perak."
“Gen kamu bagus juga ya. Tadi saya ngerias ibu kamu juga kulitnya masih bagus lho. Padahal umurnya udah lima puluhan katanya.”
“Iya, Sis. Mungkin karena keturunan juga, ya." Lulu terkekeh, menanggapi ucapan Benny.
Setelah dirias dengan begitu cantik, Lulu memakai gaun yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Gaun itu berwarna putih gading. Konsep untuk resepsi kali ini adalah putih suci. Makanya semua orang yang hadir harus memakai baju putih sebagai dress code-nya, tak terkecuali mempelai pengantin.
“Oh my ghos. Kamu cantik banget, Neko chan!” Leon berkata dengan tatapan memuja tatkala dirinya datang untuk memastikan istrinya telah selesai dirias.
“Make up-nya bagus, 'kan, Mas?” Benny sempat-sempatnya flirting pada Leon waktu melihat pengantin pria yang hari ini kelihatan tampan dan menawan, memakai setelan warna putih.
“Bagus kok. Makasih ya udah merias istri saya.” Pandangan mata Leon terus tertuju pada istrinya. Dari sorot mata itu menunjukan betapa dia sangat mencintai Lulu.
“Eh, Mas-nya butuh di-touch up dikit deh mukanya. Bentar ya. Biar bagus waktu difoto.” Benny langsung mengambil bedak lalu menepuk-nepuk pipi Leon yang sebenarnya mulus-mulus saja, tidak perlu di-touch up. Itu hanya alasan Benny saja agar dapat berdekatan dengan Leon.
“Acaranya mau dimulai deh. Kita udah dipanggil tuh.” Lulu yang tahu Benny sengaja mencuri kesempatan supaya bisa pegang-pegang suaminya, segera menggamit lengan Leon dan buru-buru keluar.
“Make up artist-nya genit banget. Kelihatan banget dia naksir kamu tuh. Nyebelin deh,” bisik Lulu dengan bibir manyun pada Leon.
Leon ketawa. “Yah, biasalah. Namanya juga ketemu cowok ganteng, mata pasti jelalatan ke mana-mana. Maklum, suamimu ini gantengnya enggak ketulungan jadi banyak yang naksir."
Seketika Lulu memukul pelan lengan Leon. “Dasar GR. Awas ya kalau macam-macam, enggak aku kasih jatah. Biar si Adik kedinginan," kata Lulu sedikit mengancam.
Dengan memelas Leon berkata, "Neko chan, janganlah bicara begitu. Aku enggak bakalan macam-macam di belakangmu, sungguh."
"Hmm, ya. Ini peringatan pertama dan terakhir kali buatmu. Jangan bermain api di belakangku! Udah mendingan sekarang kita buruan ke depan, dari tadi dicariin ketua panitian, tuh.” Lulu bergegas menuju kursi pelaminan yang sudah disiapkan oleh Wedding Organizer yang mengurus resepsi mereka hari ini.
Setelah mendapat sedikit pengarahan, resepsi pernikahan kedua Lulu dan Leon akhirnya digelar juga. Resepsi kedua ini dilangsungkan di sebuah hotel bintang lima. Keluarga Leon sengaja menyewa tempat ini mengingat banyaknya relasi dari keluarga Leon. Sebagai salah satu keluarga terpandang, tak berlebihan rasanya kalau ayah Leon memilih tempat ini.
Lulu mencoba tak merasa keder melihat betapa mewahnya resepsi penikahan keduanya ini. Dia tahu keluarga Leon memang termasuk keluarga berada dan punya banyak relasi di berbagai bidang, bahkan tadi dia sempat melihat ada penyanyi tanah air yang menyalaminya. Entah bagaimana orang tua Leon mengenal penyanyi tersebut yang lagunya sering dia dengar di Spotifay.
Saat duduk sambil menunggu tamu, mata Lulu tiba-tiba tertuju pada sosok yang amat dikenalnya. Sosok itu melambaikan tangan, membuat Lulu langsung tersenyum riang.
“Akhirnya, Queensha dan Dokter Ghani datang. Ada Auorora juga,” bisik Lulu pada Leon sambil menujuk kedatangan Queensha sekeluarga.
Leon mengikuti pandangan Lulu. Benar saja, Ghani, Queensha, dan Aurora sedang mengantri untuk bisa bersalaman dan berfoto bersama sang mempelai. Setelah giliran mereka tiba, Lulu segera memeluk Queensha.
“Gue kangen banget sama lo,” ucap Lulu dengan nada tulus pada sahabatnya.
“Aku juga. Tahu tidak waktu Mas Ghani kirimin video ijab kabul kamu, aku sampe nangis lho. Aku sedih karena tidak bisa hadir di saat kamu menikah, tapi juga haru, akhirnya kamu sold out juga."
__ADS_1
“Barang kali sold out," canda Lulu. "Tapi terpenting sekarang lo udah dateng. Makasih, udah bersedia hadir di pesta pernikahan gue. Kehadiran lo amat berharga bagi gue.”
Lulu tersenyum. “Omong-omong, perut lo makin gede aja. Capek enggak jalannya?”
Queensha mengelus perutnya yang membuncit. Jujur saja, napasnya sedikit ngos-ngosan tiap harus berjalan. Namun, dia tidak boleh berkeluh kesah atas keadaannya di hadapan Lulu.
Queensha sudah melewatkan acara di kampung halaman sahabatnya itu. Dia tak mungkin melewatkan acara resepsi kedua ini. Makanya meski capek dan kakinya amat pegal, tapi Queensha berusaha menutupinya demi bisa ikut berbahagia untuk sahabatnya.
“Kalau boleh jujur, tentu aku capek banget. Apalagi perutku makin besar, buat duduk aja susah.”
“Ya ampun, gimana kalau kamu duduk aja?” Lulu malah mempersilakan Queensha agar duduk di kursi pelaminan.
Queensha langsung ketawa. “Ya ampun, Lu. Ada-ada saja kamu. Ya janganlah. Yang nikah tuh kamu, bukan aku. Aku cuma mau ngucapin selamat padamu dan Mas Leon. Happy wedding untuk kalian berdua."
"Ya udah, aku turun ya. Masih ada yang antri di belakang aku tuh.” Queensha akhirnya turun dari pelaminan setelah memeluk erat sahabatnya.
Setelah selesai bersalaman, Queensha, Aurora, dan Ghani menikmati hidangan di resepsi. Waktu makan bersama, dia melihat Rama bersama mantan teman kerjanya duduk berkeliling, menyantap makanan yang disediakan pemangku hajat.
Dua pasang mata tanpa sengaja saling memandang lalu Rama tersenyum serta mengangguk kepala. Setelah itu menyibukkan diri, berbincang bersama yang lain. Tak mau terlalu lama memandangi istri orang sebab rasanya tak elok bila dirinya masih mengharapkan istri orang.
Queensha berjalan menghampiri mantan teman kerjanya. Ke sana kemari demi menyapa mereka. Lalu, sesuatu tak diharapkan terjadi. Tiba-tiba saja, darah mengalir di antara kedua paha.
“Sha, kaki lo kenapa?"
Refleks Queensha melirik ke bawah. Matanya melotot saat melihat darah segar mengalir deras di bawah sana.
Tubuh Queensha mematung dengan degup jantung tak beraturan. Napasnya pun kembang kempis merasakan kesakitan yang luar biasa.
"Tolong!"
Teriak histeris menggema di antara alunan musik terdengar syahdu, membuat beberapa orang di sekitar Queensha menoleh hampir bersamaan.
"Sha! Astaga, Sayang. Kamu kenapa?" Ghani berhambur mendekati istrinya. Wajahnya terlihat pucat pasi bagaikan mayat. Padahal dia belum menjadi mayat, dan masih bernapas hingga sekarang.
Aurora yang berada di sebelah sang paoa ikutan panik. "Bunda kenapa, Pa? Apa Mama kesakitan lagi?” Aurora langsung memegang perut ibunya dengan ekspresi khawatir.
“Mas, sakit.” Queensha segera duduk di kursi terdekat dengan tubuh hampir limbung.
“Kita harus selekasnya ke rumah sakit. Bentar, aku cari bantuan dulu.” Ghani segera berteriak memanggil Zavier agar membantunya untuk memapah Queensha keluar dari gedung resepsi.
“Tolong sampaikan pada Lulu, kalau aku pamit duluan. Maaf tidak bertemu dengannya dulu sebelum pulang,” kata Queensha pada Zahira yang dijawab anggukan kepala. Bisa-bisanya Queensha berkata demikian di saat dirinya sedang kesakitan.
__ADS_1
Zahira mengangguk. Setelahnya, dibantu oleh Zavier, Queensha pun dipapah untuk keluar dari area gedung. Kepergiannya itu diikuti tatapan cemas dari tamu yang hadir di acara resepsi.
...***...