Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Misi Terselubung


__ADS_3

Untuk memperingati hari Anak se-dunia yang jatuh pada tanggal 1 Juni, pihak sekolah tempat Aurora menimba ilmu mengadakan pentas seni khusus murid kelas 0 besar. Kelas Matahari di bawah tanggung jawab Miss Clara terpilih untuk menampilkan vocal group, menyanyikan lagu Heal The World yang dipopulerkan oleh King of Pop, Michael Jackson. Mengenakan kostum bunga matahari yang mewakili kelas Matahari, ke-20 murid taman kanak-kanak maju ke atas panggung dengan penuh percaya diri. Satu di antara dua puluh murid itu adalah Aurora, gadis kecil yang sebentar lagi menjadi kakak dari tiga adik kembarnya tampil begitu memukau.


Queensha yang duduk di barisan ketiga dari depan tampak berkaca-kaca, menyaksikan kehebatan anak pertamanya membawakan lagu berbahasa Inggris. Tak ada rasa gugup apalagi canggung saat gadis kecil itu tampil di atas panggung walau ratusan pasang mata memandang ke arahnya.


"Anak kita hebat, ya, Mas. Di usianya yang baru enam tahun sudah berani tampil di depan umum." Queensha melingkarkan tangannya di lengan Ghani yang tengah sibuk merekam sang putri dari kejauhan. Momen itu sangat sayang untuk dilewatkan.


Ghani melirik ke arah Queensha, tanpa menghentikan rekaman video-nya. "Iya, dong. Anak siapa dulu. Kalau menurutku, sepertinya kepercayaan diri Aurora menurun dari kamu, Sayang. Seingatku, dulu kamu pernah pentas juga, menari tarian tradisional saat masih sekolah."


Queensha membekap mulutnya menggunakan telapak tangan, lalu disusul kekehan pelan membuat tubuhnya bergoyang ke sana kemari. "Ya Tuhan, kamu masih saja mengingat kejadian itu, Mas. Entahlah, apakah memang sifat penuh percaya diri yang kumiliki diwariskan pada Rora atau tidak. Namun yang pasti, aku sangat bangga karena punya anak seperti Rora. Sifat manjanya berbanding lurus dengan prestasi yang dimiliki."


"Aku juga bangga, sama sepertimu. Terima kasih karena kamu tak menggugurkan kandunganmu saat mengetahui benihku tumbuh dalam rahimmu. Tidak tau bagaimana jadinya jika dulu kamu melenyapkan nyawa Rora, pasti aku akan dihantui rasa bersalah sebab tak dapat mempertanggung jawabkan perbuatanku padamu. Sekali lagi, terima kasih, Sha."


Queensha menyenderkan kepala di dada bidang Ghani. Tatapan mata menatap lurus ke depan, menyaksikan putri kesayangan bernyanyi dengan suara cempreng khas anak-anak. "Aku memang marah pada takdir yang selalu mempermainkanku, tapi aku tak sampai hati melenyapkan nyawa darah dagingku sendiri. Apalagi cuma dia yang kumiliki di dunia ini. Cuma dia harta yang paling berharga dalam hidupku."


Tepuk tangan semakin meriah ketika murid kelas Matahari selesai bernyanyi. Membungkukan badan sebagai ucapan terima kasih pada seluruh hadirin yang bersedia menyaksikan penampilan mereka hingga selesai. Setelah itu, barulah mereka turun dari panggung menuju ruangan khusus di mana Miss Claudia beserta guru pendamping menunggu.


"Aah, gue bangga banget jadi aunty-nya Rora. Bukan cuma imut, tapi dia juga pinter." Lulu menangkup kedua tangannya di depan dada. Sepasang mata terpejam dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas. Lulu benar-benar merasa puas akan performa keponakannya tersebut.

__ADS_1


"Rora emang pinter. Dari zaman masih PAUD, dia udah nunjukin banyak prestasi. Walaupun kadang susah diatur, tapi berbanding lurus dengan pretasinya selama ini. Itulah kenapa Ghani begitu sayang pada Rora meski cuma anak angkat, sahabat gue sayang ke dia seperti anak kandung sendiri," timpal Leon. Dia bukan cuma bangga pada Aurora, tetapi pada juga pada Ghani yang tulus menyayangi si kecil walau saat itu kebenaran belum terungkap.


Lulu manggut-manggut. "Pantesan aja rezeki Dokter Ghani ngalir terus kayak mata air pegunungan, ternyata inilah kunci kesuksesannya selama ini."


"Lo bener. Selain berbakti pada orang tua, sikap welas asih terhadap sesama manusia pun dibutuhkan biar Tuhan semakin sayang sama kita. Bukannya tujuan hidup di dunia untuk mencari berkah dari-Nya? Nah, maka dari itu perbanyak amalan baik di dunia biar disayang Tuhan."


Dengan sedikit ragu, Lulu memberanikan diri melirik ke samping dan tersenyum lebar mendapat Leon yang sedang sibuk menyaksikan suguhan menarik di atas panggung. Bumi tempatnya berpijak seakan berhenti berputar saat pemilik lesung pipi menoleh ke arahnya.


Lulu terkejut lalu rona merah menjalar hingga ujung telinga. Buru-buru dia menunduk, sebelum Leon melihat pipinya memerah. 'Lulu, bego banget sih jadi orang! Bisa-bisanya lo curi-curi pandang ke arah Leon. Gimana kalau ke-GR-an dan anggap lo suka ke dia? Argh, dasar bodoh! Lulu bener-bener bodoh!' Ingin rasanya Lulu menghilang, bersembunyi dari bumi ini karena kedapatan tengah mencuri pandang ke arah Leon.


Satu per satu hiburan ditampilkan. Mulai dari vocal group, drama, puisi, dance dan masih banyak lagi suguhan menarik persembahan dari seluruh murid kelas 0 besar hingga tidak terasa sudah tiga jam berlalu dan acara pun berakhir tanpa ada kendala sama sekali.


Ghani, Queensha, Lulu serta Leon menunggu kehadiran Aurora di depan pintu masuk aula sekolah. Suasana masih terlihat ramai meski waktu sudah menunjukan pukul 12.15 menit waktu setempat.


Lulu menyodorkan kipas portabel yang dia miliki kepada Queensha dengan harapan dapat mengurangi rasa gerah melanda sahabatnya itu.


"Gue penasaran, kira-kira siapa yang bakal jadi suaminya Lulu. Dia bukan cuma baik, tapi juga perhatian. Gue yakin pasti banyak cowok yang bakalan ngincer dia saat dia udah mulai buka hatinya," celetuk Ghani ketika ekor matanya menangkap gerakan Lulu yang memberi kipas angin kepada sang istri.

__ADS_1


Leon mengernyitkan kening hingga memperlihatkan guratan halus di sana. "Maksud lo, gimana?"


"Bodoh! Kayak begini aja mesti gue jelasin. Nih ya, denger baik-baik. Pasang telinga lo lebar-lebar. Lulu itu orangnya baik banget sampe dia rela ngasih barang miliknya ke bini gue. Padahal bisa aja dia pakai barang itu sendirian dan pura-pura enggak lihat kalau Queensha lagi kegerahan. Tapi, dia buru-buru ngasihin kipas itu ke Queensha. Kalau enggak baik, sebutan apa yang cocok untuk dia?"


"Tipe cewek macam Lulu banyak yang nyari. Cuma sayang karena trauma masa lalu, dia nutup hatinya untuk para kaum Adam di dunia ini, tapi saat hatinya udah dibuka, gue yakin akan banyak pria antri demi dapetin dia. Nah, kalau lo suka dia, buruan dikejar jangan sampe nyesel karena dia keburu diambil orang."


"Dulu gue sempet kepikiran untuk jodohin Lulu dengan Xavier, tapi sayang Bunda dan Ayah udah kadung ngejodohin dia sama Hanna, sahabatnya Zahira. Coba kalau enggak, gue pasti embat Lulu biar jadi anggota keluarga Wijaya Kusuma." Ghani mencoba memprovokasi Leon, berharap sahabatnya itu bersikap sedikit lebih agresif. Dengan begitu misi selesai sebelum ketiga anak-anaknya lahir ke dunia agar dia dapat babymoon bersama istri tercinta.


Leon mendelik tajam, seolah-olah ingin menelan hidup-hidup sahabatnya itu. "Lulu mana mau sama adek lo, Ghan. Zavier itu playboy yang banyak nyakitin perasaan cewek, enggak cocok bersanding dengan Lulu."


"Lalu, Lulu cocoknya sama siapa? Lo? Dih, lo aja enggak gentle jadi cowok. Bersikap baik dan kasih perhatian terus menerus, tapi giliran ditanya suka atau enggak, bingung. Cowok plin plan macam lo, enggak pantes juga bersanding dengan Lulu. Masih mendingan adek gue, kali. Muka good looking, bibit unggul pula. Lah lo, muka aja pas-pasan!" sindir Ghani tersenyum smirk. Dalam hati bahagia saat menyadari ekspresi wajah Leon yang mulai berubah.


'Bagus, terus makan umpan gue biar lo gumoh. Setelah gumoh baru dah lo ketar ketir mikirin cara untuk deketin Lulu. Awas aja kalau sampai dia enggak beraksi juga, gue bakalan jodohin Lulu sama adik sepupu gue si Haidar. Peduli amat dengan hadiah yang ditawarin Tante Ayu. Daripada Lulu jatuh di tangan cowok sembarangan, mending gue jadiin ipar dari sepupu gue.'


Tangan mengepal sempurna di samping badan. Rahang mengeras dengan tubuh mulai terasa panas. 'Ghani sialan! Seharian ini emosi gue dimainin si Ghani. Emang kampret banget nih orang!' umpat Leon dalam hati.


...***...

__ADS_1


__ADS_2