
Lulu baru saja selesai bekerja shift pagi di restoran siap saji. Tamu-tamu yang datang hari itu lumayan ramai, mau tidak mau, Lulu harus bekerja ekstra. Usai menyelesaikan serangkaian pekerjaan yang menyita tenaga, Lulu segera menuju ke loker bersiap menyimpan barang-barang sebelum pulang. Akibat sibuk bekerja hingga dia tak sadar jika perutnya sedari tadi belum terisi membuatnya keroncongan.
"Wah, parah nih perut. Enggak bisa diajak kompromi. Jam segini masih ada bubur ayam enggak ya? Biasanya dekat indekos, bubur ayam dah tutup. Hmm, kayaknya kalau di taman kota masih buka," gumam Lulu lirih.
Spontan, Lulu teringat Queensha. Dia ingin makan bubur ayam ditemani sahabatnya itu. Sekaligus ingin mengomeli Queensha yang sudah lancang memperkenalkan dia dengan pria asing tanpa meminta izin darinya terlebih dahulu. Begitulah Queensha yang selalu repot mengurusi hidupnya padahal dia bisa mengurus dirinya sendiri.
Lulu segera memencet nomor telepon Queensha. Pada nada dering kedua, Queensha mengangkat telepon.
"Halo, Lu. Tumben banget kamu telepon aku. Ada apa?" Queensha sedang bersama Mang Aceng sopir mertuanya, menaikkan volume ponselnya. Jalanan sedikit ramai di luar sana.
"Lo lagi sibuk enggak? Ketemuan yuk, gue udah pulang nih abis shift pagi. Lo enggak ada acara, 'kan? Seharusnya sih enggak, ya, kan lo pengacara alias pengangguran enggak banyak acara." Lulu tergelak dengan pertanyaannya sendiri, membuat Queensha mengumpat.
"Sialan kamu, pakai nanya lagi ada acara apa tidak. Denger ya, acara aku banyak sekali, namanya ibu rumah tangga, enggak pernah ada berhentinya. Mau aku sebutin satu-satu? Sejak pagi aku sudah bangun tidur, mengurus Aurora dan keperluan Mas Ghani. Membuat sarapan untuk mereka meski ada-" Queensha hendak menjabarkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ibu anak satu. Akan tetapi, suara di seberang sana berhasil menghentikan ucapan wanita itu.
"Udah, stop! Berisik telinga gue denger keluhan lo. Maksud gue nelepon karena gue mau bantuin lo keluar dari semua keruwetan urusan rumah tangga. Cus, habis lo jemput Rora di sekolah, kita ketemu di taman kota. Gue mau makan bubur ayam fenomenal sekalian mau ngobrol sama lo. Bisa enggak?" todong Lulu begitu saja. Lelah sekali kalau harus basa basi terlalu lama.
"Mau ngomong apa? Kayaknya penting banget. Ehm, omong-omong kita ketemuan hampir setiap hari bahkan semalam lo hadir juga dalam pesta wedding anniversary Bunda Rumi dan Ayah Rayyan, tapi kamu masih tetep aja pengen ngobrol sama aku, sekangen itu kah kamu sama aku?" goda Queensha. Ucapan Queensha membuat Lulu memutar bola mata dengan malas.
"Dih ke-PD-an. Udah jangan berisik, pokoknya gue mau minta pertanggungjawaban lo. Awas aja, berani lo enggak dateng, gue maki-maki di depan umum." Lulu sengaja memberi ancaman kepada Queensha agar wanita itu mau menuruti permintaannya. "Di tempat biasa, ya, bangku paling ujung di bawah pohon beringin."
"Ya udah, aku sudah ada di dekat taman kota, kebetulan banget kamu nelepon. Jadi, lima belas menit lagi aku nyampe. Kalau kamu belum sampai sana duluan, aku tinggal pergi," ancam Queensha.
Lulu segera bergegas pergi menuju taman menggunakan sepeda motor. Berhubung lokasinya tidak terlalu jauh dari tempatnya bekerja, ia dapat tiba tepat waktu. Ia berlari sekencang mungkin menuju sebuah bangku besi bercat putih di bawah pohon beringin. Meskipun siang hari, selalu terasa teduh dan nyaman di sana.
Sesampainya di taman, Lulu melihat Queensha sudah berada di sana duluan. "Beneran lo nyampe duluan, berarti tadi udah deket, dong?"
"Ish, kamu kok tidak percaya padaku, sih. Tadi, 'kan aku bilang habis jemput Rora sekalian mau beliin dia baju renang di mall. Rora udah rewel minta berenang terus. Mau tak mau aku mesti nuruti permintaannya, kebetulan di dekat sini ada mall jadi sehabis ini, gantian kamu temenin aku."
"Beres. Itu mah gampang. Ntar gue minta si Ahmad datang ke sini ambil motor biar gue bisa nebeng lo. Panas banget nih cuacanya bikin gue keringetan," sahut Lulu.
__ADS_1
"Sha, gue ngajak ketemuan karena mau minta pertanggungjawaban." Lulu mulai menyampaikan tujuannya mengajak Queensha ketemu.
"Hah, pertanggungjawaban apa?" Queesha membelalakkan matanya.
"Tentang kejadian semalam. Lo lancang banget ngenalin gue sama cowok mesum, apalagi enggak pakai izin ke gue."
Lulu mengerucutkan bibirnya membentuk ekspresi lucu, membuat Queensha tergelak mendengar protes sahabatnya. Dia selalu suka menggoda Lulu, terutama untuk urusan laki-laki, supaya Lulu segera bertemu jodohnya. Akan tetapi, dasar Lulu yang tidak peka, dan orangnya sangat sulit menerapkan standar pria idaman yang akan menjadi imam masa sepan, Lulu selalu menolak laki-laki yang disodorkan Queensha.
"Yaelah, begitu saja marah. Sudah, tidak perlu marah nanti cepat tua, loh." Queensha merebahkan kepala di pundak Lulu. Ia nikmati setiap momen kebersamaannya dengan sang sahabat. Berada di bawah pohon beringin di saat cuaca panas dan terik begini membuat ia merasa damai, tenang, dan tentram.
"Tapi, Sha, gue-"
Baru saja hendak melanjutkan kalimatnya, seorang pedagang rujak buah yang baru datang sedang berhenti tak jauh dari mereka duduk. Queensha terpana melihat buah-buah segar di dalam box kaca mirip akuarium kecil. Wanita cantik itu segera memanggil penjual rujak buah.
"Bentar, aku ke sana dulu. Kita pause dulu obrolannya." Lantas Queensha mendekati penjualn rujak keliling di depan sana. "Bang, tolong bikinin satu porsi rujak buah dong."
"Siap, Neng. Buahnya komplit?"
"Ada dong. Mau berapa mangga mudanya?" tanya Abang penjual rujak.
"Satu saja, tapi yang super kecut."
"Siap, atuh Neng." Penjual rujak tersebut segera mengupas buah dan memotong-motongnya di atas piring. Lulu terheran-heran, karena Queensha sebelumnya tidak suka makanan yang kecut-kecut.
Lulu mengernyitkan kedua alis petanda bingung. “Sha, lo serius makan mangga muda? Kok lo kayak lagi ngidam, sih. Pesannya rujak sama mangga yang super kecut. Hati-hati sakit perut, nanti diomelin Dokter Ghani, loh." Ia mencoba memperingatkan sahabatnya itu.
Alih-alih menyahuti ucapan Lulu, Queensha hanya tersenyum. Dia sendiri tidak tahu kenapa saat melihat mangga muda, air liurnya mendadak membanjir. Membayangkannya saja sudah membuat Lulu menelan saliva.
Setelah si Abang mengantarkan rujak mangga muda, Queensha segera memakannya dengan lahap. Lagi-lagi Lulu merasa aneh dengan sikap sahabatnya. Sikap Queensha ini benar-benar seperti sedang ngidam.
__ADS_1
'Lah, tuh bocah nikmat banget makan tuh rujak dan mangga mudanya. Gue jadi ngilu sendiri ngeliatnya,' batin Lulu dalam hati seraya memperhatikan setiap potongan buah-buahan segar itu masuk ke dalam mulut.
Mereka pun berbincang hangat. Lulu tidak ikut makan rujak, tapi dia memesan bubur ayam yang juga sudah ditunggu sedari tadi. Menu yang absurd untuk siang hari, tapi begitulah Lulu. Mau pagi, sore, siang, malam, kalau dia sedang ingin bubur ayam, pasti dia akan memburunya.
Di tengah obrolan mereka, Queensha menceritakan tentang Leon yang didesak untuk segera menikah oleh mamanya.
"Mas Leon orangnya tidak terlalu jelek alias good looking. Badannya tinggi, hidung mancung, dan tubuh proporsional, pokoknya idaman setiap wanita di muka bumi ini."
"Mamanya Mas Leon sering mengeluh kenapa anaknya tidak kunjung menikah, padahal dari segi mana pun sudah matang untuk berumah tangga. Karena hal itu, Tante Ayu mendesak Mas Leon untuk segera nikah. Maksudku dan Mas Ghani, kenapa kalian tidak coba saling mengenal satu sama lain. Mengenal karakter masing-masing. Paling tidak, kalian bisa berteman daripada bermusuhan seperti sekarang. Coba deh, kalian lakukan pendekatan naik ke step satu level lebih tinggi dari sekarang." Queensha sengaja berhati-hati menjelaskan keinginannya takut Lulu tersinggung.
Lulu berdecak kesal. "Jadi lo suruh gue deket-deket sama dia? Cowok mesum yang hobinya mengambil kesempatan dalam kesempitan? Ogah!"
Queensha meletakkan wadah mika di atas pangkuan. Ia menatap Lulu dengan lekat. "Untuk sekarang, lebih baik singkirkan dulu rasa bencimu kepadanya. Mas Leon bukan pria mesum seperti yang kamu sangka. Alasan lain kenapa ingin mengenalkanmu dengan Leon karena dia adalah sahabat Mas Ghani, mereka teman satu circle. Mas Ghani kenal dia sejak SMA dulu."
"Tujuan mengenalkan kamu dengan Mas Leon hanya sekadar untuk saling mengenal saja, kok. Kalaupun memang tidak cocok kalian bebas untuk berpisah, tapi paling tidak sekarang cobain dulu deh kenalan dengannya."
Lulu terdiam sebentar, sepertinya usulan Queensha ini masuk akal juga karena selama ini dia hanya mengenal Leon dari luarnya saja.
"Lo yakin merekomendasikan Leon? Maksud gue, bukan karena lo kasihan ngeliat gue ngejomblo, 'kan?" Lulu menyingkirkan keraguan dalam dirinya dengan mengajukan pertanyaan kepada Queensha.
"Aduh, Lulu, kenapa kamu jadi sensi gini? Bukan itu maksud aku. Aku tak memungkiri, kalau ngenes juga liat kamu yang masih sendiri ke mana-mana. Namun, bukan itu tujuan utamanya. Aku pengen kamu segera ada yang melindungi dan menjadi sandaran bagimu di saat kamu bersedih."
Queensha mengusap pundak Lulu dengan penuh perhatian. "Aku akan selalu ada di sisimu, tapi kalau kamu punya pasangan, itu jauh lebih baik karena kamu dapat berbagi suka maupun duka dengannya. Lu, aku cuma mau yang terbaik buat kamu."
Lulu tampak berpikir keras, menimbang apakah harus menerima usulan Queensha atau tidak. Cukup lama terdiam, akhirnya dia berkata, “Hmm, oke. Gue pikirin dulu, deh, baiknya kayak gimana. Nanti kalau udah yakin baru hubungin lo."
Queensha langsung merangkul Lulu dengan erat. Hanya mendengar Lulu mau mempertimbangkan saja usulannya, dia sudah bahagia apalagi saat melihat sahabatnya itu bersanding dengan Leon mungkin seisi dunia terasa berada dalam genggaman tangan.
...***...
__ADS_1